
“Rico?”
“Sebenarnya aku adalah—“
🎶I want you, i want you want you, i want you, i want you want you🎶
“Sebentar, ada telepon.” Rico menggerutu kesal karena setelah mengumpulkan keberanian sebegitu banyak sekarang harus buyar karena panggilan telepon!
“Sujin! Ada apa?”
Rico benar-benar kesal karena ternyata itu hanya telepon dari Sujin. Perempuan itu selalu mengganggu moment kebersamannya dengan Mera sejak dulu
“Menikah? Kau akan menikah dengan Hyunjae minggu besok?”
Rico memeriksa ponselnya begitu mendengar kabar itu, tapi Hyunjae belum memberitahunya sama sekali soal rencana pernikahan itu. ‘Sahabat macam apa dia?’
“Di Belanda? Kenapa harus jauh-jauh? Kenapa tidak di Korea saja?”
...
“Aaww~ manis sekali sahabatku ini. harusnya kau tidak perlu melakukan itu, aku merasa jadi orang yang sangat spesial.”
...
“Aku merasa jadi seorang penghasut tau! Kalau kau akan menikah di sini aku pastikan akan datang.”
...
“Iya, aku pasti akan membawa Arthur. Aku harap dia tidak rewel saat di pesta pernikahanmu nanti.”
...
“Iya, iya. Selamat untuk pernikahanmu sahabat baikku, aku menunggumu di sini.”
...
“Iya, bye!”
Sambungan telepon berakhir.
“Temanmu akan menikah?”
“Iya, dia bilang akan menikah di sini agar aku tidak perlu menempuh jarak yang jauh. Aku merasa tidak enak karena mereka menikah di sini demi aku, tapi aku juga merasa senang untuk itu dan juga pernikahan mereka.” Mera tersenyum bahagia,
“Aku akan memperkenalkanmu pada Sujin dan Hyunjae nanti.”
“Apa aku boleh ikut?”
“Tentu saja, kenapa tidak boleh? Kau kan harus menjagaku dan Arthur.”
“Baiklah aku akan ikut.”
“Teman-temanku dari Korea pasti akan datang, aku juga hanya tau beberapa teman Hyunjae dari—“ Senyum Mera seketika lenyap, Rico menyadari perubahan itu. ia bisa tau apa yang ada dipikiran Mera sekarang, itu adalah tentang dirinya.
“Mera, kau baik-baik saja?”
“Aku harus memakai baju seperti apa ya minggu depan? Udara pasti semakin dingin kan? Kita cari inspirasi yu, sayang!” Mera mengambil Arthur lalu menggendongannya, ia berjalan keluar kamar meninggalkan Rico sendirian.
“Apa aku harus tetap melanjutkannya? Apa aku harus tetap jujur? Aku sebenarnya tidak ingin kau menjauh dariku jika aku jujur nanti. Apa kau benar-benar sudah tidak ingin melihatku? Aku merasa lebih baik aku tidak jujur daripada kau akhirnya semakin menjauh dariku.”
Leon melonggarkan dasinya begitu sampai di rumah, ia langsung menghampiri keponakannya yang sedang digendong oleh seorang pelayan. “Di mana Mera?”
“Nona tadi pergi keluar. Sepertinya pergi ke dekat peternakan.”
“Lalu Rico, di mana dia?”
“Saya tidak melihatnya Tuan.”
Leon memilih untuk menyusul Mera ke peternakan, tidak biasanya sore-sore seperti ini Mera keluar rumah. Biasanya Mera akan menghabiskan waktunya bersama Arthur atau memilih untuk tidur. Dari kejauhan ia melihat Mera yang sedang berdiri di dekat pagar kayu, Leon pun berlari sambil memanggil nama adiknya.
“Kenapa kau keluar? Kau tidak kedinginan?” Mera menggeleng, “Ada apa? Kenapa kau terlihat sedih?”
“Sujin, temanku akan menikah di sini seminggu lagi. Dia memintaku untuk datang, karena dia menikah di sini juga demi aku agar aku bisa datang bersama Arthur.”
“Lalu? Bukannya kau harusnya senang dengan pernikahan temanmu itu?”
“Aku senang, aku sangat senang akhirnya mereka bisa menikah juga. Tapi... apa dia akan datang juga?” Pandangan Mera masih menatap langit yang berwarna jingga, tapi pandangan sedih itu membuat perasaan Leon tidak enak. Keindahan warna langit itu menjadi seakan tak berarti. “Apa dia akan datang juga? Jika aku pergi apa aku akan bertemu dengannya? Aku rasa aku tidak akan bisa berpura-pura kuat lagi.” Leon bisa melihat air mata Mera yang mengalir.
“Aku sudah janji kalau aku datang, tapi begitu ingat aku merasa aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku tidak ingin datang... Kakak, aku harus bagaimana?” Mera benar-benar menangis.
“Kau akan terus menghidarinya?” Mera tak bisa bicara, “Yang membuatmu begitu tersiksa itu karena pilihanmu sendiri. Kakak tidak bermaksud menyalahkanmu, Kakak tau kau terluka karena perbuatannya. Tapi Arthur, tetap tidak akan bisa merebut posisi Jaeha. Arthur hanyalah Arthur, begitu juga dengan Jaeha. Kau tidak bisa hidup hanya dengan Arthur saja, Arhtur juga tidak bisa hidup hanya bersmamu saja. Suatu hari nanti dia pasti akan menanyakan siapa Ayahnya, dimana Ayahnya. Apa kau akan membohongi Arthur juga?”
“Dia bahkan tidak mencariku, dia sudah tidak perduli padaku. dia pasti sangat membenciku. Jika begini apa aku harus mengemis padanya? Aku sudah dilupakan! Jika dia masih mencintaiku dia akan mencariku, dia akan berusaha mencariku dia akan menemuiku. Tapi kenyataannya?”
Leon memeluk Mera, “Jika dia ada di sini, apa kau akan memaafkannya? Jika dia meminta untuk kembali padamu apa kau akan kembali padanya? Apa kau akan memberikannya kesempatan kedua?”
Mera tak bisa menjawabnya, ia hanya bisa terus menangis dalam pelukan Leon.
“Yang belum terjadi tidak usah terlalu dipikirkan, kadang kemungkinannya bisa meleset dan tidak sesuai dengan prediksi yang sudah kita pikirkan, lakukanlah apa yang harus kau lakukan, ikuti apa kata hatimu. Kau sudah dewasa Mera, Kakak yakin kau akan mengambil keputusan yang terbaik untuk semua orang. Apa yang kau lihat, apa yang kau pikirkan dan apa yang kau dengar belum tentu semuanya benar.”
Tengah malam Leon mengetuk kamar Rico, saat pintu terbuka bau alkohol begitu kuat dari dalam kamar. “Kau masih sempat-sempatnya mabuk di rumahku.”
“Aku merasa lebih tenang.”
“Kau mendengarnyakan tadi? Lalu menurutmu bagaimana?” Leon mengambil satu kaleng minuman dari meja, ia pun ikut minum. Jaeha memang mendengar pembicaraan Leon dengan Mera tadi sore, sebenarnya Jaeha lebih dulu sampai dari pada Leon. Tapi karena melihat Leon yang terburu-buru menemui Mera jadinya Jaeha lebih baik sembunyi.
“Bagiamana apanya?”
“Kau bisa menyimpulkannya sendiri, Mera masih mencintaimu dia masih mengharapkanmu.”
“Kalian itu sama saja! Aku pikir keputusanmu sudah bulat dan kau benar-benar berani tapi ternyata dugaanku salah. Lalu soal pernikahan temanmu, kau akan datang sebagai siapa?”
“Apa aku harus datang?”
Leon menghela nafas kesal, “Ya ampun~ ternyata kau masih belum menemukan keputusanmu soal itu. Kau memang tidak bisa bertindak tegas ya?”
“Kemungkinannya Mera akan lari jika bertemu denganku di pesta pernikahan itu, dia akan menghidariku, jika kami saling bertemu pun... entahlah, banyak pikiran negatif berkumpul di kepalaku sekarang.”
“Alkohol tak bisa membuat pikiran kita jadi lebih baik, malah jadi semakin tidak waras. Tapi alkohol bisa membuat kita berkata jujur.”
Dikamar terpisah, Mera sedang menemani Arthur yang kembali terbangun di tengah malam. “Apa Ibu harus pergi? Jika Ibu pergi, jika Ibu bertemu dengan Ayahmu apa yang harus Ibu lakukan?”
Mera menitikkan air matanya tapi ia tetap tersenyum karena sekarang Arthur sedang melihatnya. Ia tak ingin memperlihatkan wajah sedihnya pada Arthur, ia hanya ingin Arthur melihat Ibunya bahagia.
**
Begitu hari itu tiba, Sujin terus mengiriminya pesan yang mengingatkan Mera untuk tidak telat datang ke acara paling peting dalam hidupnya. Kadang Sujin mengirimkan perhuruf membuatnya Mera ingin membantingkan ponselnya sendiri karena berisik.
“Iya aku akan datang. Pengantin wanita diam saja, oke? Aku sedang mengurus Arthur sekarang!”
Setelah persiapan Arthur selesai sekarang tinggal Mera yang mempersiapkan diri, ia mengambil sebuah dress polos warna peach dari lemari, setelah memakai pakaian Mera mulai berdandan di depan cermin. Tak ada yang berubah, tetap simple tapi terlihat cantik dan segar.
Setelah selesai Mera turun ke lantai bawah untuk segera berangkat ke tempat acara, “Mana Rico?” Mera mengambil alih Arthur dari gendongan Leon.
“Entahlah, aku tidak melihatnya sejak pagi. Memangnya dia jadi ikut?”
“Aku tidak bertanya lagi sih, tapi dia bilang akan ikut.”
“Maaf membuatmu menunggu.” Rico datang dengan setelan jas formalnya, saat melihat Rico berpakaian seperti itu Mera kembali ingat dengan Jaeha. Hatinya kembali berdesir, ia menanyakan pada Sujin apa Jaeha akan datang tapi Sujin tidak tau soal itu, Sujin sendiri juga tidak menanyakannya pada Hyunjae.
“Kakak kenapa?” Tanya Mera saat mendengar Leon menghela nafas,
“Hm? Tidak ada. Ya sudah sana berangkat, hati-hati ya?”
Leon pikir Jaeha akan memilih datang ke pesta itu sebagai dirinya sendiri, tapi ternyata pilihannya malah jatuh untuk datang sebagai Rico bersama dengan Mera. Jaeha pasti punya jalannya sendiri, pikir Leon.
Begitu masuk ruang tunggu pengantin Sujin langsung heboh begitu melihat kedatangan Mera, meskipun Mera menyuruhnya jangan lagi memanggil Sena tapi Sujin tak menghiraukannya. “Ya ampun gantengnya~ dia sangat lucu! Muah!” Arthur yang tertidur sama sekali tak terganggu oleh kehebohan Ibunya dan Sujin, ciuman beruntun yang diberikan Sujin dipipi chubynya pun tak membuat Arthur merasa terganggu.
“Oh iya, kenalkan ini Rico. Em, sebut saja dia temanku.”
Sujin memperhatikan Rico dari atas sampai bawah, matanya jeli menatap Rico membuat pria itu sedikit ketakutan karena tatapan itu membuatnya berpikir kalau Sujin akan langsung tau kalau dirinya adalah Jaeha.
“Salam kenal, aku Sujin. Terima kasih karena sudah mau datang dan menemani Sena.”
“Salam kenal. Selamat untuk pernikahanmu.”
Setelah perkenalan itu Sujin membisikkan sesuatu pada Mera.
“Dia tidak datang?”
“Iya, katanya dia sedang ada urusan. Dia hanya mengirimkan hadiah untuk kami.” Mera memang kecewa, pikiran negatifnya tentang Jaeha mulai berdatangan memasuki pikirannya tapi ia tidak boleh terbawa suasana.
“Acaranya sebentar lagi akan di mulai. Tolong dipersiapkan ya!” Kata salah seorang staf.
“Kalau begitu aku akan menunggumu di aula, kau sangat cantik!”
Sujin memeluk Mera dengan penuh haru, “Terima kasih karena sudah datang.”
Mera tidak diperbolehkan pulang oleh Sujin sebelum acaranya selesai, untunglah Arthur tidak rewel jadi Mera bisa tenang mengikuti acaranya sampai selesai sepenuhnya. Begitu acara benar-benar usai Sujin mengambil alih Arthur, keluarga Sujin juga terlihat senang dengan kehadiran Arthur.
“Terima kasih ya Sena sudah mau datang.” Kata Hyunjae
“Aku yang tidak enak karena... ah, bagaimana aku harus mengatakannya ya?” Mera tertawa kikuk,
“Tidak apa-apa. Kami semua setuju untuk menikah di sini, Sujin sangat ingin kau datang, kalau di Korea kan kau tidak mungkin bisa mengajak Arthur. Dia benar-benar mirip dengannya ya?”
“Kau benar, itulah kenapa aku—“
“Sena! Sepertinya Arthur ingin minum susu.”
“Permisi ya?” Hyunje mempersilahkan Mera untuk pergi, pria itu mendekati Rico yang duduk tak jauh darinya.
“Ternyata kau di sini?”
Rico tersentak kaget karena nada bicara Hyunjae yang terlihat kesal, tapi Rico membalasnya dengan senyuman kepura-puraan.
“Ini kau kan? Jaeha.” Kedua mata Rico membulat tak percaya, bagaimana Hyunjae bisa tau kalau Rico adalah Jaeha? “Kau pikir aku sudah mengenalmu berapa lama? Sujin yang memberitahukannya padaku kalau dia merasa tidak asing denganmu, belum lagi ini!” Hyunjae merekatkan bagian yang sedikit terbuka dari topengnya. “Kau ceroboh!”
Rico menghela nafas, “Kalian adalah pasangan yang teliti.”
“Jadi hasilnya masih nol?”
“Aku masih berusha. Apa semua akan baik-baik saja jika aku jujur?”
“Jika kau tidak jujur, seumur hidup kau akan menyesalinya. Kami semua mendukungmu untuk kembali pada Sena. Setelah kau jujur bisa jadi tidak akan berjalan baik, tapi jika perasaanmu benar-benar tulus dan tersampaikan, Sena bisa berubah pikiran. Sena juga mencintaimu meskipun dia sakit dalam luka. Kau hanya harus percaya diri.”
“Apa dia benar-benar mencintaiku?”
“jika dia tidak mencintaimu Arthur tidak akan ada di dunia ini.” Jaeha tak suka mendengarnya, tapi mungkin Hyunjae ada benarnya juga. “Percaya dirilah, beranikan dirimu.”
Semua orang menyuruhnya untuk percaya diri dan juga memberanikan diri, memang itu adalah salah satu poin penting baginya untuk jujur. Tapi kenyataannya, memberanikan diri sendiri dan bersikap percaya diri kalau semua akan baik kembali suatu hari nanti rasanya begitu sulit. Nasihat mudah masuk, tapi sulit untuk dipraktikan.
----------------------------------------
adakah yang kesal karena jalan ceritanya berbelit-belit? 😅 atau kalian menikmati saja alurnya??