Maybe I Love You

Maybe I Love You
10. Why?



Jaeha meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah memeriksa beberapa dokumen kantor, ini memang hari liburnya tapi ia masih harus mengerjakan beberapa laporan penting.



Jaeha keluar dari ruang kerjanya berniat membuat secangkir kopi untuk menghilangkan rasa lelahnya,



“yuuhuuuuuu! Hahahaha!”



Jaeha menengok ke arah kolam renang, ia melihat Sena tengah asik membersihkan kolam renang dengan bibi Hanmi. Sejak Sena ada di rumahnya suasana jadi lebih hangat dan lagi jadi lebih ramai dari biasanya, Jaeha baru sadar akan hal itu sekarang.



“apa dia anak sekolah dasar? Aku tidak tau kalau dia akan berubah jadi seperti ini, rasanya kalau mengingatnya dulu tidak mungkin dia akan seperti ini.”



Byuuurrrr!!



“nyonya!” bibi Hanmi berteriak spontan,



Jaeha menahan tawanya meskipun sulit melihat Sena tercebur karena tingkah lakunya sendiri.



“nyonya, ayo!”



Bibi Hanmi mengulurkan tangannya pada Sena, tapi senyum jail muncul di wajah gadis itu. begitu menerima tangan bibi Hanmi, Sena langsung menariknya agar masuk juga ke dalam kolam.



“nyonya!” melihat Sena tertawa puas membuat bibi Hanmi juga tertawa, Seol anak kedua bibi Hanmi yang tiba-tiba datang juga ikut tertawa melihat ibunya yang basah kuyup.



Jaeha menghampiri mereka membuat bibi Hanmi dan Eunseol kaget, dengan segera bibi Hanmi naik meninggalkan Sena yang masih di kolam renang.



“jangan salahkan bibi. Aku yang menariknya.”



“aku tidak akan menyalahkan siapapun, aku hanya senang suasananya sedikit berubah.”



Sena melihat paman Bong mendekat ke arahnya, “sudah siap?”



“sudah nyonya!”



“apa yang siap?” tanya Jaeha



“aku akan belajar mengemudi dengan paman Bong!”



“kau?! Belajar mengemudi?! Bukannya kau pernah membuat mobil kakekmu rusak parah. Aku tidak yakin paman bong akan selamat!”



Perkataan Jaeha membuat paman bong sedikit bergidik ngeri, “apanya yang rusak parah! Kau melebih-llebihkan! Itu hanya penyok bagian depan. aku hanya ingin belajar lagi karena sudah lama tidak mengemudi! Jadi semua akan baik-baik saja.”



“biar aku saja yang mengajarinya.” Ucap Jaeha tiba-tiba



“kau mau mengajariku? Kau yakin kau akan baik-baik saja?” Sena merasa aneh karena Jaeha menawarkan diri untuk mengajarinya.



“kau berniat mencelakaiku?”



“tidak ada yang tau!”



Sena berniat keluar dari kolam, tapi Jaeha segera menghentikannya.



“kenapa?”



“bibi bisa kau ambilkan handuk.” Bibi Hanmi segera masuk mengambilkan handuk untuk Sena diikuti Seol.



Gadis itu menyadari arah pandangan Jaeha, ia menutup bagian dadanya yang tercetak jelas jika ia keluar dari kolam renang. “dasar mesum!”



Jaeha mebawa mobilnya ke jalanan yang sepi, sebenarnya ia tidak bisa tenang karena takut hal buruk akan terjadi padanya nanti. Tapi daripada dia harus membiarkan orang lain celaka lebih baik dirinya sendiri yang celaka.



“kau sudah siap?”



Gadis itu mengangguk, “aku tidak akan mengajarkan hal dasar karena kau bilang kau sudah tau. Jadi sekarang injak pedal gas pelan-pelan, ingat pelan-pelan. Sekarang lakukan.”



Mobil melaju dengan tenang, Jaeha berpegangan kuat pada sabuk pengaman raut wajahnya jelas menunjukkan rasa was-was dan tidak tenang.



Gadis itu melihat ekspresi wajah Jaeha yang terlihat was-was, “lihat aku bisa kan? aku sudah bilang aku hanya perlu mengulangnya lagi! Jadi jangan terlalu berlebihan!” begitu kembali melihat ke arah depan, matanya terbelalak kaget.



Ciiiiittttt!!



Sena tiba-tiba mengerem mendadak membuat kepala mereka terantuk, nafas gadis itu naik turun ia menelan ludahnya dengan berat.



“aaaarrrrgghhh!” Jaeha memegang bagian belakang lehernya



“YA!!! Sudah kubilang injak remnya pelan-pelan! Kau sengaja melakukannya kan?!”



“tidak! Aku tidak sengaja melakukannya sungguh! Aku melihat anak kecil tiba-tiba saja menyebrang jadi aku langsung menginjak remnya!”



“anak kecil? Tidak ada anak kecil yang menyebrang! Bilang saja kau sengaja!”



“ada! Jelas-jelas aku melihatnya! Dia tidak mati kan?” Jaeha melihat Sena yang terlihat benar-benar panik membuat Jaeha keluar dari mobil untuk melihatnya. Jaeha melihat kesekelilingnya tapi tempat ini benar-benar sepi.



“tidak ada siapapun di sini. Mungkin itu hanya halusinasimu saja.” Jaeha memakai kembali sabuk pengamannya.




“mana ada hantu di siang bolong begini! sekarang kita mulai lagi, injak gasnya pelan-pelan.”



“ok pelan-pelan. Aaaaahhh!”



“ya ya ya! Pelan-pelan!”



“ok jangan tegang, pelan-pelan! Aaahhhh!”


Tapi kali ini Sena tidak bisa konsentrasi setelah kejadian tadi, gadis itu tidak bisa menginjak pedal gasnya dengan stabil. Membuat Jaeha benar-benar ketakutan.



“ya ya ya ya! Lampu sinyal nya, lampu sinyal!”



“kenapa lampu sinyal---“



“cepat nyalakan!”



“jangan berteriak! Aku jadi bertambah tegang!” Sena mencoba menenangkan dirinya,



“ini pertama kalinya aku mengajarkan mengemudi dengan orang seperti ini!”



“aku bilang berhenti berteriak! Apa kau langsung bisa menyetir saat belajar pertama kali?! Aku baru saja menabrak seseorang bagaiamana bisa aku tenang!”



“sudah kubilang tidak ada siapapun tadi! Ya ke kiri, ke kiri!” Jaeha memegang stir membuat mobil yang mereka tumpangi tak bisa berjalan lurus.



“kenapa ke kiri!? Aaaaahhh!!”



“ke arah kiri saja!”



“tapi ini jalan lurus! Kenapa harus ke kiri?!”



“hentikan mobilnya!”



“aku tidak bisa berhenti!”



“aku ingin mobilnya berhenti!!!!!!!!!”



**



Hari ini Sena berencana pergi bersama Minho dan anak-anak ke pulau Nami. Kebetulan ini musim gugur anak-anak pasti akan menyukainya.



“kau sudah siap?”



“sudah, aku akan segera keluar.”



“baiklah, aku tunggu di mobil.”



Sena tergesa-gesa menuruni tangga karena sudah tidak sabar ingin segera pergi dengan anak-anak panti.



“kau mau kemana?”



Langkah gadis itu terhenti melihat Jaeha yang kini turun menghampirinya.



“kau mau kemana pagi-pagi begini?”



“aku akan pergi seharian ini. mungkin aku pulang malam.”



“aku tanya kemana?!” tanya Jaeha dengan wajah seriusnya



“kenapa kau ingin tau? Bukannya kau yang bilang tidak akan ikut campur dalam urusanku.” Sena kembali melangkah pergi tapi tangannya di genggam Jaeha, gadis itu melihat pergelangan tangannya perasaan aneh itu muncul lagi.



“karena aku suamimu! Aku harus tau!” entah karena alasan apa jantung Sena mulai berdetak cepat tak karuan, tapi gadis itu tetap berusaha tenang.



“apa kau kerasukan sesuatu? Aku rasa kau aneh akhir-akhir ini.” Sena berusaha melepaskan genggaman Jaeha tapi genggamannya sangat kuat.



“bagaimana jika nanti tiba-tiba ibu atau nenekmu datang dan menanyakan kau di mana?”



“kau akan ke kantorkan? Bilang saja aku sedang pergi menemui Sujin. Lagi pula ini hanya sehari. Aku rasa kau terlalu berlebihan.”



“aku tidak berlebihan, katakan kau akan pergi kemana? Setidaknya aku harus tau!”



“Jaeha kau aneh!” Sena melepaskan genggaman Jaeha dengan paksa dan itu membuat pergelagan tangannya terasa sakit



“kau sendiri yang bilang kau tidak akan ikut campur segala urusanku, tapi sekarang kau malah ingin tau. Aku bahkan tidak pernah bertanya kau pergi kamana dengan siapa aku bahkan tidak peduli!”



“kau sungguh tidak ingin tau? Kau benar-benar tidak peduli?” Sena terdiam sesaat, seolah meyakinkan pilihan hatinya yang sebenarnya ingin tau segalanya tentang Jaeha, ia sangat ingin tau semuanya. Tapi ia hanya ingin tau setelah ingatannya kembali tentang masa lalunya bersama Jaeha, barulah ia akan bertanya banyak hal tidak sekarang.



“iya aku tidak peduli, aku tidak ingin tau.” Sena meninggalkan Jaeha yang masih termenung. Jaeha juga tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini dirinya ingin tau segala aktivitas gadis itu, apa yang ia lakukan, kemana gadis itu pergi, dengan siapa dan bertemu siapa. Baginya itu benar-benar terasa aneh tapi dia tidak bisa menghentikan keinginannya untuk tau.