
Zurich, Swiss
Sena terbangun ia melihat ke sekelilingnya dengan bingung, ia pikir masih ada di pesawat tapi ternyata bukan. Sekarnag ia sudah berada di atas kasur empuk, sudah ada di tempat lain.
“Kau sudah sadar?”
Dengan pengelihatan yang masih buram Sena melihat seorang laki-laki berjalan mendekatinya, jelas dia bukan Ayahnya karena suaranya saja terdengar lebih muda.
Ia duduk di samping tubuh Sena yang masih terbaring, tangannya menyentuh kening Sena sekedar memeriksa suhu tubuh Sena setelah di seharian tertidur.
“Tubuhmu masih panas, harusnya kau tidak usah pergi kalau sedang sakit. Tidak baik untukmu kalau kau memaksakan diri.”
Pria itu kembali meletakkan handuk basah di kening Sena sebagai alat kompres.
“Siapa kau?” Sena kini bisa melihat jelas pria yang kini sedang menatapnya, ia orang Korea, tapi kenapa bisa masuk ke kamarnya dengan bebas?
“Aku Leon Kim, aku Kakak mu lebih tepatnya Kakak tirimu.”
“Ap-apa?”
“Apa Ibu dan Ayah belum menceritakannya? Aku putra Kim Han Soo dari istri pertamanya, aku sangat ingin bertemu denganmu karena aku sangat ingin punya adik perempuan. Aku tinggal bersama dengan Ayah dan Ibumu sejak 4 tahun lalu.”
Sena masih belum mengerti apa yang pria bernama Kim Leon ini bicarakan, ia masih sibuk merasakan pengelihatannya yang masih terlihat berputar dan kepalanya yang terus berdenyut karena sakit kepala yang terus saja menyerangnya sejak pesawatnya lepas landas dari Korea.
“Aku mengerti, sekarang lebih baik kau istirahat lagi nanti kita lanjut bicara setelah kau merasa baikan. Aku tidak mau membuat sakitmu jadi lebih parah.”
Sena melihat Leon keluar dari kamarnya, ia tidak memikirkan hal lain saat ini ia hanya ingin memejamkan matanya yang begitu berat untuk terbuka, pikirannya tentang Jaeha membuat sakit fisik dan batin. Meningalkan pria itu sendirian membuatnya tidak tega, tapi ia harus melakukannya karena Helena akan membuat Jaeha juga bahagia. Sena pun akhirnya memilih kembali memejamkan mata.
Leon berpapasan dengan Nenek Nam setelah keluar dari kamar Sena, “Apa dia sudah bangun?”
“Sena sempat sadar tapi sepertinya ia masih terlihat pusing, badannya juga masih panas dan sekarang ia kembali tidur.”
“Tolong jaga dia seperti adikmu sendiri, aku mohon padamu.”
“Nenek tidak perlu memohon seperti itu, aku akan menjaganya karena dia adalah adikku. Aku sangat ingin bertemu dengannya, tapi aku tak mengharapkan dalam situasi dan kondisi seperti ini. Tapi apa Sena benar-benar ingin bercerai dari Jaeha?”
“Sena sudah mengambil keputusannya untuk pergi dari Korea. Dengan kepergeriannya kau bisa menebaknya sendiri bukan?”
“Tapi Sena tidak akan mudah melupakan Jaeha, kenapa dia harus mengorbankan cintanya sendiri demi kebahagiaan orang lain?”
“Aku sendiri tidak tau ada yang seperti itu dalam diri Sena. Dia sudah dewasa tapi kenapa cobaannya harus seberat ini?”
Jaeha kembali ke rumahnya ia melihat sekeliling yang keadaanya kini kembali sepi seperti dulu saat Sena belum datang ke dalam kehidupannya, ia kembali melangkahkan kakinya ke kamar Sena yang sudah kosong, ia melihat tempat tidur Sena dimana perempuan itu sering tertidur, Jaeha terduduk, ia menyandarkan punggungnya di samping tempat tidur.
Jaeha tak bisa menahan air matanya yang terus terjatuh dari pelupuk matanya, ia ingat setiap waktu yang ia habiskan bersama dengan Sena, bagaiman ia bisa memberikan hatinya pada Sena semuanya ingatannya itu membuatnya benar-benar frsutasi! Kebahagiaan kemari yang ia rasakan semuanya sirna, kebahagiaan yang Sena berikan untuknya semuanya terlahap habis oleh rasa bersalah dan kesedihan yang ia rasakan. Setiap kali terbayang wajah Sena yang tersenyum, air mata Jaeha tak bisa terbendung, ia tak kuasa menahan tangis. Senyuman perempuan itu adalah sumber luka yang ia rasa.
“Kau di mana?”
Kalimat itu lah yang selalu ia keluarkan sejak tadi, Suho bahkan tidak bisa menemukan di mana Sena ia tau pasti Sena menyuruh orangnya untuk menghapus jejak kepergiannya membuat Jaeha semakin terpuruk. Sena sudah membenciku, Sena sebenarnya membenciku, Sena tak ingin lagi bersamaku, Sena berbohong padaku, Jaeha selalu mengatakan itu di depan siapapun dan disaat ia sedang sendirian.
Jaeha menangis terisak ia terus menyesali dirinya sediri karena tak punya keberanian, ia yang selalu berpikir kalau sena tidak akan pernah meninggalkannya, semuanya akan baik-baik saja, pikiran itu membohonginya, “Kau harusnya menungguku, Kau harusnya mendengarkanku saat aku akan mengatakan kalau aku sangat mencintaimu. Kau harus mendengarkan alasanku kenapa aku menyembunyikan semuanya darimu. Aku akui aku memang salah, aku menanggap semuanya akan baik-baik saja aku menganggap semuanya akan segera berakhir aku berniat segera mengakhirnya tapi kenapa kau begitu cepat pergi tanpa menunggu lebih dulu?! Kau salah paham Sena...”
Ini lebih sakit daripada apa yang dia rasakan dulu saat Helena meninggalkannya pergi, ini benar-benar terasa lebih menyakitkan. Ia bodoh, dirinya memang bodoh. Ia dipermainkan oleh perasaannya sendiri, perasaan bimbang dalam membuat pilihan membuatnya terjatuh dalam luka yang dalam, tak bisa tagas dan tak mendengarkan apa yang orang lain sarankan membuatnya merasakan luka yang teramat sangat sakit.
Ia menyesal, ia menyesal... ia menyesal kenapa dalam kebersamaan mereka saat itu ia tak menyatakan tentang perasaannya pada Sena, mengatakan kalau ia mencintainya, sangat mencintainya. Tapi yang ia lakukan hanya menunda dan terus menunda, yang ia lakukan hanya membuat luka dan menambahkan luka. Ia benar-benar bodoh.
“Aaaarrggghhh!”
“Kau sudah bertemu Leon?”
“Sudah, tadi dia datang ke kamarku. Apa dia benar Kakakku?”
“Benar, dia putra Ayahmu dari istri pertamanya. Dia sangat senang saat tau kau akan datang ke sini dia sangat ingin bertemu denganmu. Tap tak seharusnya dia senang bukan?”
Sena tak terlalu menanggapi pertanyaan itu, “Apa dia sudah menikah?”
“Belum, dia masih belum ingin menikah. Dia masih ingin sendiri dengan segala kesibukannya di perusahan yang dikelolanya di Amsterdam.”
Sena mengangguk ia kembali menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya,
“Kau yakin ingin bercerai dengan Jaeha? Kau tidak kasihan padanya?” Hwaran menatap perut Sena
“Aku hanya orang ketiga diantara mereka, aku akan melakukannya, aku tau diri Bu.”
“Tapi Ibu bisa melihat Jaeha sangat mencintaimu, mungkin saja dia lebih memilihmu dari pada Helena. Kenapa kau tidak menunggu sedikit lagi?”
“Jaeha mencintainya Bu, itu faktanya. Ia tidak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku, sama sekali tidak pernah. Bagaimana aku bisa yakin kalau dia mencintaiku? Aku hanya tempat persimpangan sementaranya saja Bu. Yang ia ingikan hanya agar aku bisa terus tinggal di sisinya, apa dia berniat mebuatku terus terluka? Apa Ibu ingin aku seperti itu?”
“Kau yakin dengan hal itu? Bagaimana jika Jaeha benar-benar mencintaimu?”
“Ibu aku tidak ingin tinggal di sini, Jaeha akan menemukanku ia pasti tau kalau aku pergi menemui Ibu.”
“Apa kau takut Jaeha akan pergi mencarimu saat kau sendiri yakin kalau Jaeha tidak pernah mencintaimu?”
Sena terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Ibunya “Fikirkan dulu sebelum mebuat keputusan. Kau tidak tau perasaan Jaeha yang sebenarnya seperti apa karena kau tidak menanyakan langsung padanya. Kau harus ingat satu hal ada bayimu yang akan membutuhkan sosok seorang ayah, setelah ia besar nanti dia akan butuh ayah kandungnya.”
“Aku bisa mencari Ayah tiri untuknya yang sebaik Ayah Hansoo.”
“Sena~”
“Ibu juga memilih bercerai dari Ayah bukan? Lalu Ibu bisa bertemu dengan pria baik seperti Ayah Hansoo. Kenapa aku tidak bisa seperti Ibu?”
“Ibu tidak ingin kau mencontoh hal itu dari Ibu! Ibu—“
“Tapi semua sudah terlanjur, semuanya sudah terlambat! Jaeha menyembunyikan semuanya, dia tidak jujur padaku, ia tidak mengatakan kalau dia mencintaiku, aku lelah Bu, aku lelah mencintainya seorang diri dan terluka seorang diri juga. Tolong jangan mencoba untuk merubah keputusanku lagi. Aku sudah yakin dengan semuanya, tolong jangan meggoyahkanku Bu.”
Keras kepala seorang Kim Sena mungkin menurun dari Ayah kandungnya, sifat yang satu itu sungguhlah sangat sama, berharap tidak ada hal yang mirip tapi ternyata ia mewarisi sifat keras kepala dari Ayahnya. Hwaran tak pernah bisa mengubah keputusan mantan suaminya dulu berkaitan dengan hal apapun itu, dan sekarang pun ia tak bisa melakukan hal yang sama pada Sena.
**
Minho duduk gelisah di ruangan kantornya, ia sedang menunggu kabar dari orang suruhannya mengenai keberadaan Sena. Suara pintu diketuk membuat Minho langsung merespon agar orang itu segera masuk.
“Bagaimana?”
“Jejak kepergiannya sepertinya sudah di hapus, kami masih melakukan pencarian. Tapi besar kemungkinan Sena pergi menemui Ibunya.”
“Swiss kah... aku tidak tau di mana rumah Ibunya. Carikan alamatnya dan kirimkan orang ke sana, cukup aku tau apa dia di sana atau tidak.”
“Baik.” Orang itu pun pergi
“Sena, kau bilang keinginanku akan segera terkabul... ya, kau melakukan apa yang aku mau. Kau meninggalkan Jaeha tapi tidak kembali ke dalam pelukanku dan kau malah pergi semakin jauh. Tapi aku akan tetap mengejarmu, sebelum aku mendengar kata penolakan atau bahkan melihatmu menangis saat kau menolakku nanti.”
---#---
Maafkan karena selalu banyak typo 😔 saking emosionalnya pas ngetik. 😂 makasih udah mampir.. jangan lupa likenya ya 😉😘