
Sena sudah berdandan cantik dan siap untuk pergi ke Panti Asuhan Cahaya Bulan, hadiah darinya dan Jaeha sudah pergi lebih dulu dengan mobil lain. Sena menatap kamar Jaeha yang gelap, si pemilik kamar belum kembali sejak hari itu, hari di mana Jaeha bersikap aneh padanya. Sena mencoba menghubungi Jaeha pun tak diangkat juga, sebenarnya Sena ingin pergi ke perusahaan untuk melihat sendiri apakah Jaeha baik-baik saja atau tidak tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan itu, ia lebih memendam rasa khawatir dan gelisahnya seorang diri.
“Sena kau tidak sarapan dulu?” tanya Bibi Hanmi saat Sena turun dari lantai atas
“tidak usah, aku tidak lapar. Bibi tolong masak makanan kesukaan Jaeha ya? Siapa tau dia pulang hari ini sebelum rapat.” Bibi Hanmi mengangguk
Bibi Hanmi melihat Sena mengambil kunci mobil dari dalam laci, “Sena, kau mau bawa mobil sendiri?” Sena mengangguk
“diantar Paman Bong saja ya?”
“Bi~” Sena memegang tangan Bibi Hanmi “jika aku terus diantar supir bagaimana aku bisa cepat lancar mengemudi? Aku tau Bibi khawatir, tapi tenang saja aku akan berhati-hati di jalan.”
“kau belum punya SIM, bagaimana jika ada razia?”
“aku punya jalan lain. Aku pergi dulu ya.”
“ya sudah, hati-hati Sena!”
Sebenarnya Minho menawarkan diri untuk menjemput Sena, tapi Sena tidak mau di jemput Minho meskipun pria itu tetap bersikeras untuk menjemputnya. Sena lebih menyarankan untuk janjian di suatu tempat dan pergi bersama.
Sesampainya di panti asuhan, Sena dan Minho di sambut meriah oleh anak-anak panti. Mereka saling mengucapkan terima kasih untuk hadiah yang mereka dapatkan.
“kami juga ingin mengucapkan terima kasih pada suamimu untuk hadiah pianonya.” Ucap Seolhyun
“Piano?” tanya Sena heran, seingatnya Jaeha tak membeli piano. Sedangkan Minho benar-benar tak menyukai situasi ini, tapi ia harus bersikap normal.
“benar, baru saja mereka mengantarkannya dan mengatakan kalau itu dari suamimu, park Jaeha. Anak-anak sangat menyukainya apalagi Mina.”
Sena pergi melihat piano yang dibelikan Jaeha, ia melihat Mina sedang memainkan piano tersebut dengan senyum bahagianya. Ia tak tau Jaeha begitu perhatian, ia ingat dulu pernah bicara kalau Mina dan Sora sangat suka bermain piano, tak disangka Jaeha akan melakukan hal mengejutkan seperti ini.
“Eonni!” Sora turun dari tempat duduk dan berlari menghampiri Sena
“kau suka hadiahnya?”
Anak itu mengangguk, “aku dan Hari bisa bermain piano bersama sekarang, aku juga ingin bermain untuk Sora, dia pasti sangat menyukai hadiah ini.”
Sena terharu ia dulu tak bisa membelikan piano itu untuk Sora, tapi sekarang, Jaeha lah yang membelikan piano tersebut. “tentu, Sora pasti akan menyukainya. Kau mau memainkan satu lagu untuk kami dan Sora?” pinta Sena
“tentu saja! ah dan aku ingin berterima kasih juga untuk Jaeha Ahjussi untuk hadiahnya. Apa Ahjussi tidak datang?”
Sena mengangguk, “Ahjussi sedang sibuk di kantor, aku akan menyampaikan ucapan terima kasihnya nanti.” Mina tersenyum senang
“aku akan memanggil anak-anak untuk berkumpul di sini.” ucap Seolhyun
Sejak rapat di mulai Jaeha benar-benar tak bisa konsetrasi, rasanya rapat hari ini benar-benar kacau, emosinya tak bisa stabil bahkan bawahannya pun sampai pada bergosip tetang mood Jaeha hari ini.
Suho yang baru kembali dari luar kaget karena Jaeha kini tengah minum anggur di siang hari, di kantor pula. Dengan segera Suho merebut botol anggur itu sebelum Jaeha menuangkannya ke dalam gelas.
“kau sudah gila?! Ini di kantor! Kenapa kau minum anggur?” Suho menempatkan botol anggur itu di meja kecil, jauh dari Jaeha
“Hyung, apa yang aku mau?”
“kenapa kau tanya padaku? Kau yang merasakannya sendiri, dasar aneh!”
“aku ingin Sena!”
“kau sudah memilikinya, kau mau apanya lagi?”
“memilikinya? Tubuhnya?”
“Jaeha! Apa sebenarnya maksudmu? apa kau sedang bertengkar dengan Sena?”
“aku ingin lebih dari itu hyung, tak tau sejak kapan tapi aku ingin lebih dari tubuhnya. Aku—heuk!” Jaeha merasa mual, ia berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya
“kau bahkan belum makan apa-apa tapi sudah berani minum anggur! Ini lah akibatnya.”
Tak lama Jaeha keluar dari toilet, Suho menghampirinya untuk memberikan obat yang langsung di minum Jaeha.
“kau ingin makan apa? biar aku pesankan.”
“tidak perlu, aku ingin istirahat sebentar. Kau bisa urus semuanyakan Hyung untuk hari ini?” ucap Jaeha sambil berjalan ke ruang istirahat pribadinya
“iya, tak ada acara penting lagi untuk hari ini.”
“aku menyerahkannya padamu Hyung!”
“Jaeha,” Jaeha berhenti melangkah “apa Sena marah padamu saat kau melakukan itu padanya?”
“itu?” Jaeha berbalik menatap Suho “apa maksudnya dengan itu?”
“kau bilang kau sudah mendapatkan tubuhnya, apa Sena marah padamu?”
Untuk beberapa saat Jaeha terdiam, ia ingat bagaimana Sena tak pernah marah setelah melakukan aktivitas suami istri, “memangnya kenapa?”
“aku yakin Sena bukan orang yang akan menyerahkan semuanya begitu saja.”
“sudahlah Hyung, kepalaku sangat pusing.”
“tungg Jaeha!”
Sena terus mencoba menghubungi Jaeha beharap Jaeha bisa datang ke sini walaupun hanya satu menit saja, “kenapa ponselnya tidak aktif juga? Suho juga tak mengangkat panggilanku apa mereka masih sibuk?”
Saat ingin menghubungi Jaeha kembali Sujin tiba-tiba menghubunginya.
“hey Nyonya Park!”
“ada apa? kau sepertinya sedang kesal.”
“kau benar-benar mengacuhkanku ya? aku pikir kau akan menghubungiku lagi tapi sudah dua hari kau sama sekali tak melakukannya! Sebegitu sibuknyakah dirimu sampai melupakan aku sahabatmu dan rencana kita?!”
“maksudmu? memangnya kapan aku bilang akan menghubungimu?”
“apa Jaeha tidak memberitahumu? Waktu itu aku menghubungimu tapi diangkat oleh Jaeha, aku bilang padanya agar kau menghubungiku lagi tapi ternyata tidak. Aku sendiri juga selalu lupa sih, karena aku sangat sibuk membantu Hyunjae dalam peluncuran produk barunya.”
“Jaeha melakukannya?!”
“heem.”
“tapi dia tidak bicara apapun padaku, tidak mungkin juga dia marah karena kau menghubungiku kan?”
“kecuali jika dia menganggapku sebagai pria yang bersuara wanita. Sudahlah, aku ingin mengatakan soal masalah donasi yang kita bicarakan dari penjualan make up. Ternyata kita mendapatkan hasil yang melebihi perkiraan, dan lagi aku tidak bisa menentukan sendiri akan di berikan kemana donasi itu, aku ingin minta pendapatmu juga.”
“hmmm, sekarang aku benar-benar tidak bisa berpikir apapun soal masalah donasi itu. aku ingin kau mencari saja orang-orang yang memang sangat membutuhkannya.”
“apa kau sedang ada masalah dengan Jaeha?”
“dalam dua hari ini dia benar-benar berbeda, jarang bicara, jarang pulang, jika aku salah aku tidak tau salahku di mana.”
“mungkin dia stress masalah kerjaan, tak usah terlalu di pikirkan.”
“ya sudah aku harus kembali membantu Seolhyun dan yang lainnya.”
“ya sudah. Aku akan mencari apa yang kau sarankan tadi, bye!”
Tepat saat Sena berbalik untuk kembali saat itu juga Minho datang membuat mereka hampir saja bertabrakan.
“akh!” karena kaget ponsel Sena terjatuh, Minho berjongkok untuk mengambilnya
“maaf karena membutmu kaget, aku pikir kau hilang tapi ternyata kau di sini.”
Sena mengambil ponselnya dari Minho, “terima kasih, aku tidak pergi ke mana-mana, hanya saja Sujin baru saja meneleponku di dalam sangat berisik jadinya aku keluar.”
Minho memandangi leher Sena membuat sena merasa tak nyaman, “ada apa?”
“kau tak memakainya?” awalnya Sena bingung, tapi ia teringat dengan kalung yang di berikan Minho.
“ah! Itu... itu aku...”
“padahal aku sudah mengirimkan pesan agar kau memakainya hari ini.”
“pesan?”
“iya, pesan. Kau pasti sudah membacanyakan?”
Sena merasa tak ada pesan masuk apapun dari Minho, ia memeriksa kembali kotak masuknya tapi memang tak ada pesan apapun dari Minho kecuali tadi pagi.
Sena mulai berpikir, ia mulai larut dalam analisisnya. Jaeha yang tak mengatakan pesan Sujin padanya, Jaeha yang tiba-tiba bersikap dingin dan acuh padanya, ‘
seolma...’
Sena ingat bagaimana ia menjelaskan pada Jaeha kalau kalung itu hadiah dari Sujin dan Jaeha percaya dengan perkataannya.
‘kenapa begini? Kenapa bisa begini?! Ini salahku!’
“aku harus kembali!”
Minho menahan Sena, “kemabali? Kemabali kemana?”
“aku harus pulang!”
“di sini belum beres kau sudah mau pulang?!”
“sampaikan permintaan maafku pada mereka!” Sena melepas cengkraman tangan Minho dan segera pergi, meninggalkan Minho yang kini terdiam tak bisa mengejar Sena.