
Sena mengambil dua lembar roti untuk sarapan, ia lebih memilih sarapan roti pagi ini. entahlah, ia merasa akan memuntahkan isi perutnya kalau ia sarapan nasi. Jaeha pun ikut bergabung dengan Sena sebelum berangkat kerja.
“apa yang kau cari?” tanya Jaeha ketika melihat Sena sedang mencari-cari sesuatu.
“selai strawberry.”
Jaeha berhenti mengoleskan selainya, ia menatap Sena dengan tatapan bingung. “selai strawberry? Kau tidak salah ucap bukan?”
Sena menggeleng, “wae?”
“kau ingin selai strawberry?” Sena mengangguk mantap sembari kesal dengan Jaeha yang terus bertanya padanya.
“Bi! Di mana selai strawberrynya?”
“seingatku kau tidak suka dengan selai strawberry. Dari kecil kau tidak suka dengan makanan olahan dari buah strawberry. Kecuali buahnya langsung, susu, jus, juga yogurt. Susu juga kau sering pilh-pilih.”
Sena ingat. Bukan... lebih tepatnya ia baru sadar kalau ia ingin selai strawberry! Bukan selai coklat kesukaannya, tapi selai strawberry. “aku hanya ingin mencobanya! Katanya selai strawberry itu enak. Kenapa? tidak boleh?!”
“bukan itu maksudnya... aku hanya merasa aneh saja.” Bibi Hanmi datang memberikan selai strawberrynya, dengan mata berbinar Sena segera mengoleskan selai strawberry tersebut. Ia langsung memakannya dengan lahap. Jaeha memandangi Sena dengan aneh, tapi sudahlah... hal biasa yang sering terjadi pada setiap orang.
“kau ada waktu malam ini?” tanya Sena dengan mulut penuh roti, perkatannya hampir tidak jelas terdengar.
“kenapa memangnya?"
“Sujin memintaku mengajakmu ke acara perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya.”
“oh itu. Hyunjae juga mengajakku ikut bergabung. Kau mau pergi?”
Sena mengambil kembali roti untuk yang ke tiga kalinya, “tentu, mereka sudah seperti keluargaku sendiri.”
“aku akan pulang cepat, kita berangkat bersama.”
Sena hanya mengagguk-angguk, ada sedikit perasaan senang bisa pergi bersama dengan Jaeha malam ini. moodnya selalu berubah-ubah tidak jelas akhir-akhir ini, kadang ia tidak suka berada dekat dengan Jaeha, melihat wajahnya pun ia tidak mau, kadang ia sangat merindukan Jaeha, ingin selalu bersamanya, ia tidak bisa konsisten. Ia tak pernah seaneh ini sebelumnya. benar-benar aneh, dan entah karena apa.
Jaeha mendekat, membuat Sena berhenti mengunyah. Jari panjang Jaeha mendekati sudut bibirnya, mengelap sisa selai strawberry yang menempel di sana. “sekarang kau baru tau kalau selai strawberry itu enak, hm?” ucapnya sambil tersenyum
“kurasa kau bertambah gemuk.” Ucap Jaeha kemudian
“mwo??!!!!!!”
Jaeha tertawa melihat reaksi Sena, pipi yang menggembung karena mulutnya penuh roti, mata bulat melotot yang tengah menatapnya kesal saat ini benar-benar lucu, sangat tidak cocok.
“neo!!!” Sena sudah berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri Jaeha, ia ingin memukul pria di hadapannya itu karena sudah mengatainya gemuk. Ia tidak terima!
“hahahahhaha, maaf, maaf. Kau benar-benar lucu saat sedang marah seperti sekarang.”
Melihat Jaeha tertawa, Sena mengurungkan niatnya. Ia ikut merasa senang melihat Jaeha tertawa seperti itu, kapan terakhir kali Jaeha sebahagia ini saat bersamanya?
Sena kembali duduk, ia kembali mengambil rotinya yang belum habis. “kau... janjikan kita berangkat bersama malam ini?” ucap Sena sambil menunduk
“wae? Kau benar-benar ingin berangkat bersamaku?”
“ki-kita kan suami istri, aku rasa akan aneh jika kita berangkat sendiri-sendiri.”
“Sena...” Sena menatap Jaeha, keduanya menatap satu sama lain, “kau takut aku ingkar janji lagi kan?” Sena tidak menjawab. Tapi benar apa yang ditanyakan Jaeha, ia takut. Ia takut kalau Jaeha akan mengecewakannya lagi.
“kali ini aku akan menepati janjiku, akan kau usahakan pulang cepat, jadi kita bisa pergi bersama.” Melihat Jaeha tersenyum, Sena pun ikut tersenyum juga. Hangat, perasaannya tiba-tiba saja terasa hangat.
Jaeha melirik jam tangannya, ia kemudian berdiri menghampiri Sena lagi, sedetik kemudian Jaeha mencium kening Sena dengan penuh rasa sayang. Refleks, Sena memejamkan matanya menikmati ciuman hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Selepas ciuman itu Jaeha berjongkok, “berdandanlah yang cantik malam ini.”
Pipi Sena merona merah, ia mengangguk sembari menahan senyum. “aku pergi dulu. Hati-hati di rumah. Jika kau ingin pergi, harus diantar Paman Bong. Mengerti?” Sena mengagguk menurut.
Jaeha akhirnya berbalik pergi meninggalkan Sena, hanya menyisakan wangi maskulin yang membuat Sena betah untuk menghirup udara pagi ini sebanyak mungkin.
**
“sudah jadi!” ia mengelap keringat di pelipisnya, ia sudah berusaha sangat keras untuk membuat dosirak untuk Jaeha. Ia belum pernah membuatnya, ia kembali merenung saat ia ingat bagaimana dulu kehidupan rumah tangganya dengan Jaeha sangat singkat, juga sembunyi-sembunyi. Ia ingin menebusnya kali ini, ia ingin Jaeha kembali padanya. ia tidak akan meninggalkannya lagi. Tidak akan.
“sekarang aku harus mandi, dan berdandan yang cantik. Oh tidak, aku harus membereskan ini dulu.” Helena mulai memberesekan peralatan masak yang kotor, bertindak sedikit diluar kesepakatan, tidak apa bukan?
“kalau kita melihat contoh dari pakaian, sepatu, desain dan yang lainnya... kurasa targetnya pemasarannya harusnya antara umur 25 sampai 35 tahun, dan untuk para trendsetter—“ Suho tak melanjutkan pembicaraannya,
“ck, apa aku tidak ada di sini? atau aku sedang berbicara pada batang pohon?” ia melihat Jaeha tengah menatap layar ponselnya sejak tadi, ia merasa tidak ada gunanya ia bicara sejak tadi membahas produk baru yang akan di luncurkan.
“Jaeha, kita sedang—“
“jajangmyeon.”
“mwo? Kenapa jadi jajangmyeon?”
“aku ingin jajangmyeon.” Jaeha menatap Suho dengan mata memelas, “Hyung pesankan jajangmyeon untukku, kita bahas ini lagi nanti, oke?”
“neo wae irae? Tiba-tiba kau ingin makan jajangmyeon?”
“entahlah, melihat ini aku jadi ingin sekali makan jajangmyeon.” Jaeha memperlihatkan gambar di ponselnya. Suho mengeluarkan ponselnya, ia harus menuruti perminataan bosnya itu. jika tatapan itu sudah muncul Jaeha tidak akan berhenti merengek padanya, ia sudah tau.
“aku sudah memesannya. Aku akan keluar dulu menemui Manajer Ma.” Jaeha mengangguk mengerti. Sudah beberapa bulan ini dia tidak makan jjajangmyeon, ia bisa tahan. Tapi sekarang, ia benar-benar ingin memakannya.
Helena kini sampai di depan gedung perusahaan Jaeha, ia dengan yakin melangkah masuk, ini untuk pertama kalinya, dan ia merasa sangat senang. Setelah menaiki lift, Helena akhirnya sampai juga di lantai 20 tempat ruangan Jaeha berada.
“permisi, apa Jaeha ada di dalam?”
“apa anda sudah punya janji?” Helena menggeleng, ia datang ke sini pun tidak memberi tahu Jaeha.
“mohon maaf, jika anda tidak membuat janji lebih dulu anda tidak bisa menemui beliau.”
“tapi aku—“
Tepat saat itu Jaeha keluar, “Jaeha!”
Jaeha benar-benar kaget karena Helena berani datang ke kantor, apa yang harus dia lakukan?
Helena menghampiri jaeha, ia memperlihatkan bekal makan siang yang ia bawa. “aku boleh menemuimukan? Aku membuatkan ini untukmu.”
“masuk.” Ajak Jaeha langsung.
Ia mempersilahkan Helena untuk duduk, tak lama Jaeha pun juga ikut duduk. “kenapa kau datang ke kantor? Kau bahkan tidak bilang padaku lebih dulu!”
“aku ingin memberimu kejutan. Aku buatkan bekal makan siang untukmu.” Helena membuka kotak makan tersebut, ia menyimpannya di meja, di hadapan Jaeha. “cobalah! Aku baca kalau para istri sering melakukan ini untuk suaminya. dan aku ingin melakukannya juga untukmu.”
“Helena, aku berterima kasih untuk kerja kerasmu membuatkan makan siang untukku. Tapi lain kali kau jangan datang ke kantor, setidaknya hubungi aku dulu, apa kau mengerti?”
“kenapa? kenapa aku tidak boleh datang ke kantor? Kau tidak tinggal bersamaku lalu bagaimana aku bisa memberikanmu ini?”
“kita bisa bertemu di luar, itu mudah.”
Tepat saat itu Suho masuk membawa jajangmyeon pesanan Jaeha, ia benar-benar kaget melihat Helena kini duduk bersama dengan Jaeha.
“aku akan menyimpannya di meja kerjamu.” Suho kemudian pergi meninggalkan kembali mereka berdua,
“baiklah, aku tidak akan datang lagi ke kantor.” Helena tau maksud perkataan Jaeha, meskipun ia sakit hati karena pasti hanya Sena yang diijinkan untuk datang tapi ia harus mengerti, ia harus tetap pura-pura tida tau apapun.
“tapi malam ini kau harus menginap di rumahku, aku tidak akan datang lagi ke kantor asal kau menginap di rumahku malam ini!”
“aku tidak bisa, malam ini aku ada acara.”
“kau bisa datang jam berapapun. Selesai acara itu kau harus datang. jika tidak aku akan datang lagi ke kantor.”
“baiklah.”