
Setelah minum-minum dengan Leon sampai tengah malam Rico baru bisa tidur jam tiga dini hari, ia benar-benar tidak bisa tidur karena mengingat kembali masa lalunya saat ia menikah dengan Mera. Acara yang sempat tegang karena Mera tak kunjung mengucapkan kata setuju akhirnya berakhir bahagia juga, Rico juga ingat adegan paling penting saat itu, yaitu ciuman setelah disahkan menjadi sepasang suami istri, dimana Mera memintanya mencium di kening saja ketimbang bibir tapi Rico tak memperdulikan permintaan konyol itu dan malah mencium bibir Mera. Itu adalah ciuman pertama mereka, lembar demi lembaran memori dikepalanya terbuka, membuat Rico kadang menangis, tertawa, sebuah malam yang terasa sangat panjang.
Pagi harinya lingkaran hitam terlihat cukup jelas di bawah mata Rico, ia pun berinisiatif membuat kopi untuk menghilangkan kantuk yang masih terasa, kopi hitam.
“Kau suka kopi hitam?” Tanya Mera yang sedang mengambil jus jeruk dari kulkas
“Tidak juga, hanya sebagai penghilang rasa kantuk.”
“Oh iya, nanti jam delapan aku akan pergi ke bandara. Sujin memintaku untuk mengantar kepergiannya ke Brazil, kau bisa jaga Arthur kan?”
“Bulan madu?” Mera mengangguk. “Lalu kau bagaimana?”
“Aku kan diantar supir, kau jaga Arthur saja di rumah. Badannya sedikit hangat jadi aku tidak bisa membawanya pergi.”
“Sudah dikompres?”
“Sudah, aku tinggal minum obat saja.”
“Baiklah, aku akan menemani Arthur. Apa tidak perlu ke dokter?”
“Kita lihat saja kondisinya, kalau panasnya tidak turun kita harus membawanya ke dokter.” Seorang pelayan datang mengatakan kalau sarapan pagi hari ini sudah siap, Mera meminta pelayan tersebut untuk pergi membangunkan Leon.
Setelah mengantar Mera dan Leon sampai pintu rumah Rico kembali ke kamar Mera untuk menjaga Arthur, setelah kenyang minum susu Arthur kembali tertidur. Rico mendekat untuk mengecek suhu tubuhnya, “Syukurlah, panasnya turun. Kau pasti kelelahan karena kemarin seharian berada di luar. Tidur yang nyenyak, Nak.”
Rico kembali menguap, ia tak merasakan efek apapun dari kopi yang ia minum tadi pagi. Matanya terasa begitu berat setelah melihat Arthur yang tertidur nyenyak, Rico memilih menyerah ia membaringkan tubuhnya di sofa, pandangan matanya terfokus menatap langit-langit kamar.
“Aku harus mempersiapkan diri lagi. Kapan aku harus mengatakannya? Aku sangat berharap kalau kau akan memberikan kesempatan kedua untukku Mera. Aku tidak bisa hidup tanpamu, aku ingin kita hidup bersama dengan bahagia. Aku benar-benar minta maaf.” Kelopak matanya tertutup, lambat laun kesadaran Rico menghilang. Ia hanya tak ingin bermimpi saja untuk bisa kembali bersama, yang ia inginkan mimpi itu bisa jadi kenyataan. Sebuah doa yang selalu ia panjatkan disetia harinya, berdoa untuk bisa kembali bersama sebagai sebuah keluarga utuh dan bahagia.
“Sena!” Sujin melambaikan tangannya begitu melihat Mera memasuki bandara.
“Kau masih saja memanggilku Sena!”
“Aku tidak perduli! Lho, mana Arthur?”
“Dia agak demam, jadi aku tidak mengajaknya untuk ikut.”
“Pasti dia kelelahan ya gara-gara kemarin, semoga jagoan kecil kita cepat sembuh.”
“Hyunjae mana? Orang tuamu juga kenapa tidak ada?”
“Hyunjae sedang pergi menukarkan uang, Ayah Ibu sudah pulang ke Korea. Mereka bilang aku bukan anak kecil lagi yang harus diantarkan kepergiannya, benar-benar!” Mera tertawa geli mendengarnya, perbedaan yang benar-benar jauh.
“Eh, sakit tidak?” Bisik Sujin dengan malu-malu
“Belum?” Sujin mengangguk malu, Mera tertawa karena tidak percaya, “Aku pikir kau akan menyerang Hyunjae duluan! Kenapa belum?”
“Dari pagi sampai sore acaranya begitu melelahkan. Tenagaku serasa di kuras semua, kami langsung saja terlelap tidur tanpa memikirkan apapun. Jadi bagaimana, sakit tidak? Katanya sampai menangis juga, apa iya?”
“Sakit. Aih, kau akan merasakannya sendiri nanti. Sakitnya itu... sakit yang berbeda.”
“Berbeda bagaimana?” Sujin jadi semakin penasaran
“Kau kenapa jadi polos begini sih?”
Hyunjae datang menyelamatkan Mera dari pertanyaan selanjutnya, Hyunjae berterima kasih pada Mera karena sudah bersedia datang untuk mengantarkan kepergian mereka. Ia juga meminta maaf karena harus meninggalkan Arthur demi memenuhi permintaan Sujin.
“Hati-hati! Semoga libura kalian menyenangkan!” Setelah Sujin dan hyunjae sudah tak terlihat mera memilih untuk segera pulang, ia tidak bisa pergi terlalu lama apalagi Arthur sedang dalam kondisi tidak sehat. “Back to home!”
Begitu sampai rumah Mera buru-buru naik ke lantai atas menuju kamarnya, ia memang percaya pada Rico tapi tetap saja Mera tak tenang, ini pertama kalinya juga Arthur sakit Mera merasa wajar saja bagi seorang Ibu untuk merasa terus khawatir ketika anak mereka sakit.
Suasana kamar sepi, Arthur masih tertidur pulas Mera juga melihat Rico yang ikut tertidur di sofa. Ia tak tau apa yang sudah Rico lakukan semalam sampai harus bergadang dan membuatnya sangat mengantuk hari ini, tapi Mera tak mau mengganggu pria itu. Yang penting Arthur aman dan tidak terjadi apapun.
‘Tidak mungkin! Ini pasti hanya halusinasiku saja kan?’ Rasa penasaran itu membuat Mera semakin mendekat, saat benda itu benar-benar terlihat jelas pikiran Mera mulai kacau.
‘Tidak mungkin! Cincin ini... kenapa terlihat sama seperti punya Jaeha?’ Mata Mera mulai berkaca-kaca, perasaannya jadi tak karuan. Semuanya jadi bersangkut paut, fakta-fakta dan perasaan yang ia rasakan selama berada dekat Rico dan juga cincin ini, ‘Apa-apaan ini?’ Mera tak bisa menjelaskan perasaannya yang kacau balau.
Mera menatap wajah Rico yang masih terlelap tidur, ‘Tapi ini wajah orang lain! Ini pasti hanya cincin yang sama, Rico juga pernah menikah. Tapi...’
“*Dibalik cincin milikmu ada namaku, dan dibalik cincinku ada namamu.”
“Benarkah? Coba aku lihat!”
“Ada kan*?”
Air mata Mera sudah mengalir, ia tidak mau kalau dugaannya jadi sebuah kebenaran. Tapi perasaannya sudah terlanjur kacau! Ia harus tau kebenarannya, ia harus melepas cincin itu dan melihat bagian dalamnya. Jika benar... jika dugaannya memang benar, entah apa yang harus dia lakukan.
Saat waktu beranjak sore Rico baru terbangun, ia kaget sendiri karena ternyata dia tidur begitu lama. Rico segera melihat arthur tapi ternyata tidak ada di dalam tempat tidurnya, “Mera pasti sudah pulang.”
Rico bertambah kaget lagi karena ia melihat cincin pernikahannya. Ia ingat samalam memakai cincin itu saat ia mabuk! “Apa Mera menyadarinya? Perasaanku jadi tidak enak...”
“Arhtur~ Om membeli baju baru untuk— lho, Arthur dan Mera kemana?” Tanya Leon karena hanya melihat Rico di kamar Mera.
“Aku tidak tau, saat aku bangun mereka sudah tidak ada. Apa mereka tidak ada di bawah?”
“Aku pasti tidak akan pergi ke kamar. Arthur padahal sedang demam tapi malah di bawa kemana? Cepat cari mereka, aku akan mengganti pakaianku dulu.”
Saat baru saja keluar dari pintu belakang Rico melihat Mera yang sedang berjalan kembali ke rumah, Rico merasa lega tapi juga khawatir karena cuaca masih sangat dingin. “Apa Arthur baik-baik saja? Cuaca mulai mendingin kenapa kau bawa Arthur keluar?” Kata Rico sambil berjalan menghampiri Mera.
Perempuan itu hanya diam sambil terus menatap Rico yang berjalan mendekatinya. “Apa kau sangat mengkhawatirkan Arthur?”
“Tentu saja, dia belum sembuh benar, panasnya juga baru saja turun.” Rico mengecek suhu tubuh Arthur, “Semoga panasnya tidak naik lagi, ayo masuk ke dalam!” Mera tetap berdiam diri, “Mera, ayo masuk!”
“Apa kau sangat menyayangi Arthur?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku menyayanginya.”
“Lalu, apa terus mempermainkanku, membohongiku, membuatmu merasa bahagia?!”
Rico terkejut, perasaan tidak tenang yang ia rasakan ternyata karena hal ini. Mera pasti sadar dengan cincin di tangannya saat ia tertidur, Rico seperti terkena pukulan hebat di dadanya, ia merasa sesak mendengar Sena melontarkan kata seperti itu. Rico tak bermaksud mempermainkannya, tidak pernah ada niatan seperti itu sedari awal.
“Kau senang dengan kepura-puraan ini kan? Dari dulu bahkan sampai sekarang kau selalu senang berpura-pura dan menyembunyikan sesuatu! Kenapa? Apa kau masih belum puas sehingga harus berpura-pura menjadi Rico?!!!” Mera menarik topeng wajah Rico hingga sekarang Mera benar-benar melihat Jaeha. Tangisnya tak bisa terbendung begitu wajah Jaeha yang sesungguhnya begitu dekat dengannya. Emosinya terasa meluap-luap.
Leon buru-buru mendekat begitu mendengar suara Mera, sekarang ia melihat Mera sedang menangis, begitu juga Arthur yang ikut menangis dalam pelukan Mera.
“Aku tidak bermaksud mempermainkanmu, tidak pernah! Baik dulu maupun sekarang aku tidak pernah ada niatan untuk mempermainkanmu Mera. Kau harus percaya padaku, aku hanya ingin kembali bersamamu maka dari itu aku memilih jalan seperti ini.”
Mera ingin marah, mera ingin mengeluarkan kekesalannya yang terpendam sangat lama tapi ia tidak bisa. Perasaannya sendiri begitu membingungkan, tangisan keras Arthur membuat Jaeha khawatir begitu juga dengan Leon.
“Mera, Kakak yang menyuruh jaeha untuk berpura-pura menjadi rico. Jangan salahkan Jaeha! Lihat, Arthur menangis... kita kembali ke dalam dan selesaikan masalah ini baik-baik. Jangan luapkan emosimu seperti ini, Arthur jadi ketakutan.”
“Pergi dari sini... pergi dari rumah ini!”
“Mera... kenapa kau seperti ini? Jaeha hanya ingin kembali padamu, biarkan dia mengatakan bagaimana perasaannya yang sesungguhnya padamu. Kau juga harus mengatakan bagaimana perasaanmu yang sebenarnya. Jaeha berniat baik, dia bukan bermaksud untuk mempermainkanmu, dia—“
Mera tak ingin mendengarkan kata-kata apapun lagi, ia sudah tidak sanggup menghadapinya.
“Mera!!” Meskipun Leon tetap memanggil namanya Mera tidak akan berbalik kembali.