
Jaeha terbangun dari tidurnya, matanya mengerjap beberapa kali, melihat ke arah kiri dan kanan, merasa asing dengan tempat ia terbangun. “Bukankah ini kamar Suho Hyung? Kenapa aku ada di sini?”
“Kau sungguh tidak ingat?” Suho masuk ke kamarnya sambil membawa segelas air, ia kemudian menyerahkannya pada Jaeha.
“Aku tidak ingat. Kenapa aku ada di sini Hyung?”
Suho menghela nafas panjang, “Kau datang ke rumahku lalu menangis tanpa henti sampai kau tertidur. Dan tanganku sangat pegal karena aku harus menggendogmu masuk ke dalam rumah tepatnya ke dalam kamarku.”
“Aku?” Jaeha melihat pantulan dirinya di kaca, kedua matanya memang bengkak.
“Sebenarnya ada apa? Kenapa kau sampai menangis seperti itu? Aku baru pertama kali melihatmu seperti tadi.”
“Hyung... boleh aku menginap di sini?”
“Mwo? K**apjagi? Wae?”
“Aku mohon!” Pinta Jaeha dengan wajah memelas, “Aku tidak tau harus tinggal di mana lagi.”
“Di rumah Helena.” Ucap Suho dengan enteng
“Helena di rumah sakit, dan aku tidak mau tinggal di tempatnya.”
“Wae? Dia istrimu. Tapi kenapa Helena di rumah sakit? Apa yang terjadi padanya?”
Jaeha diam sejenak, ia kembali menitikkan air matanya, “Aku adalah orang yang paling jahat, tidak bertanggung jawab, tidak berguna, aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku belum pernah merasakan sesakit ini sebelumnya. Aku...” Jaeha terisak, “Jika sampai terjadi sesuatu pada Sena aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.”
“Apa lagi ini? Aku tidak mengerti! Sena dan Helena... mereka berdua kenapa sebenarnya?”
“Sena... dia hampir melukai dirinya sendiri. Itu karena aku Hyung, karen aku! Aku tidak berguna! Aku bukan suami yang baik, aku melukai perasaannya, aku berbohong padanya!”
“Dan itu semua karena Helena?”
Jaeha mengangguk, air matanya semakin deras mengalir. Ia menceritakan kenapa ia memilih Helena dan melupakan janjinya pada Sena. Suho dibuat jengkel tapi ini bukan saat yang tepat untuk marah-marah pada Jaeha. Dia prihatin sebenarnya, tapi ini juga salah Jaeha sendiri.
“Aku sudah katakan padamu, kau harus segera mengambil keputusan siapa yang akan kau pilih! Kenapa kau sangat keras kepala?!”
“Aku bingung Hyung! Apa yang harus aku katakan pada Helena? Apa yang harus aku katakan pada sena? Mereka akan terluka! Aku tidak ingin kehilagan sala satu diantara mereka, jika aku mengatakan yang sejujurnya, bagaimana jika orang yang paling ingin aku jaga pergi meninggalkanku karena kekecewannya Hyung! Dan lagi Helena sedang dalam bahaya, mana mungkin aku diam saja Hyung!”
Untuk sisi Helena semalam Suho bisa maklum, ia mengerti, ia juga akan melakukan hal yang sama. Tapi seharusnya Jaeha pulang semalam dan langsung menjelaskannya pada Sena, dia tak perlu sampai harus menginap di rumah sakit segala, ‘Ah, andai aku bisa mengatakannya.’
“Lalu siapa yang ingin kau pertahankan? Orang yang paling kau cintai, siapa diantara mereka berdua?”
Jaeha tak menjawab,
“Menurutku sekarang Sena lah yang paling terluka. Jika dia sampai ingin menyakiti dirinya sendiri aku pikir Sena lah yang paling terluka hatinya karena perbuatanmu. Helena bisa mengerti kenapa kau menikah dengan orang lain, sudah sejak lama kau berpisah dengannya aku yakin dia bisa mengerti. Tapi Sena, perasaanmu terhadapnya sudah bukan lagi sebatas teman masa kecil yang menganggap kalau ini hanya cinta monyet. Semakin kau sering bersamanya semakin besar pula kau bisa melupakan persaanmu terhadap Helena. Kau mencintainya, benarkan?” Jaeha hanya diam, ia mencerna semua perkataan Suho ke dalam otak dan hatinnya. Perkataannya menusuk, membuat hatinya berasa nyeri.
“Kecemburuanmu pada setiap pria yang berusaha mendekati Sena, bahagiamu saat bersamanya, kekhawatiranmu padanya saat ia tidak bersamamu, saat ia menghilang dari pandanganmu, rasa sakitmu dan air matamu ketika melihatnya terluka, apa itu bukan cinta?”
Disela tangisnya, Jaeha kembali teringat bagaiman rasa cemburunya pada Minho, kebersamaan yang mereka lalui bersama, di Jepang, di panti asuhan, kenangan saat mengajari Sena mengemudi, kekhawatirannya saat Sena tidak bisa dihubungi, saat perempuan itu tidak ada di rumah, bagaimana ia begitu merindukan Sena saat di Amerika, senyum manis yang selalu Sena berikan padanya, janjinya pada orang tua Sena dimana ia berjanji tidak akan menyakiti Sena dan akan terus menjaganya, semua tiba-tiba terlintas begitu saja, membuat persaan dihatinya semakin menguat kalau ini benar-benar cinta.
“Bicara padanya baik-baik, aku yakin sena juga mencintaimu.”
“Bagaimana Hyung bisa yakin?”
**
“Sena!” Bibi Hanmi dan Paman Bong langsung berdiri dari duduknya, mereka menghampiri Sena yang sudah tersadar.
“Oh, syukurlah.” Bibi Hanmi menangis terharu,
“Ini... di mana?” Sena masih linglung, wajah Bibi Hanmi dan Paman Bong saja masih belum terlihat jelas olehnya.
“Ini di rumah sakit. Semalam kau sangat kesakitan, tapi untung lah dia tidak apa-apa. Dia masih bisa di selamatkan.”
Sena tak bisa untuk tak meneteskan air matanya, tangannya yang masih lemah berusaha menyentuh perutnya. “Aku bukan ibu yang baikkan?”
“Sena, jangan berkata seperti itu. Dia kuat karena kau juga kuat.” Bibi Hanmi tersenyum menenangkan Sena.
“Aku bahkan tidak tau kalau dia sudah ada di sini.”
“Mwo? Kau tidak tau kalau kau hamil?”
“Aku... aku baru tahu kemarin malam.” Saat Sena hendak pulang, seseorang memanggilnya dan memberitahu kalau ada darah di kaki Sena, seorang perawat yang kebetulan ada di sana buru-buru menyuruh Sena untuk melakukan pemeriksaan sebelum terlambat. Akhirnya Sena menurut dan dia tau kalau ternyata dia sedang mengandung.
“Sudahlah lupakan, yang terpenting sekarang kau harus banyak beristirahat, dia masih lemah jadi kau harus menjaganya dengan baik.”
Sena terisak, ia rasanya sedikit terhibur karena seseorang kini akan selalu menemaninya. Ia seperti mendapat kekuatan baru. ‘Maaf aku tidak bisa mengontrol emosiku dengan baik dan membuatmu terluka, terima kasih kau masih mau bertahan bersamaku. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu, jadi, aku mohon bertahanlah. Menjadi kuat bersamaku. Kita berdua.’
“Kita akan segera menjadi Kakek dan Nenek.” Ucap Paman Bong dengan senyum bahagianya
“Kita memang sudah pantas menjadi Kakek dan Nenek.” Sena ikut tersenyum
“Tapi Sena, bagaimana dengan keluargamu dan Jaeha? Apa yang harus kami lakukan?” Tanya Paman Bong, sebenarya ia ragu untuk menanyakan ini karea Sena baru siuman. Bibi Hanmi saja sampai menyikut lengan Paman Bong.
“Untuk keluargaku, biar aku yang memberitahu mereka saat waktunya sudah tepat. Untuk keluarga Jaeha, aku tidak akan memberitahu mereka. Begitu juga Jaeha.” Sena menatap memohon pada Bibi Hanmi dan Paman Bong, “Tolong jangan beritahu Jaeha kalau aku hamil, ini akan membuatnya semakin terbebani, aku mohon. Dan jangan beritahu dia juga kalau aku sedang di rumah sakit!”
“Beban apa Sena? Kenapa kau bicara seperti itu?! Tidak ada anak yang akan menjadi beban bagi orang tuanya, mereka adalah kebahagiaan yang tiada tara yang pantas untuk dimiliki. Mereka bukan jadi beban.”
“Jangan beritahu Jaeha sampai aku memutuskan bagaimana hubungan kami kedepannya.”
Paman Bong dan Bibi Hanmi saling menatap satu sama lain, “Sena maksudmu bagaimana? Kau tidak bermaksud untuk...”
“Entahlah.”
“Sena, kami mohon pikirkan baik-baik lagi keputusanmu. Semua masalah ada jalan keluarnya, kami tidak tau masalah apa yang sedang kalian hadapi tapi Jaeha sangat terpukul dan ia sangat menyesal.”
“Dia tidak akan memilihku.” Ucap Sena sambil melihat ke arah jendela, Paman Bong dan Bibi Hanmi malah semakin bingung.
‘Aku bukan wanita yang kuat. Aku lelah, aku cape. Dengan perasaan ini dan realita yang ada aku rasa aku akan mati jika harus bertahan lebih lama lagi.’
---#----
*Bahasa Korea
Mwo? Kapjagi? Wae? \= Apa? Tiba-tiba? Kenapa?