
Niat Jaeha ingin melanjutkan lebih, tapi kini mereka malah berakhir di dapur dan Jaeha pun kini tengah memasak sosis asam manis yang diinginkan Sena. Saat ciuman mereka semakin panas sayang sekali harus terhenti karena suara perut Sena yang keroncongan begitu jelas terdengar, Jaeha juga tak tega kalau harus melanjutkannya saat sena sedang lapar.
“ini dia!” Jaeha menghidangkan sepiring besar sosis asam manis di hadapan Sena.
“selamat makan.” Jaeha membiarkan Sena memakannya lebih dulu, “pelan-pelan itu masih panas.”
“kau yakin tidak perlu pakai nasi?” Sena mengangguk, baginya ini saja sudah cukup
“kau seharusnya bilang kalau belum makan, kenapa malah berbohong.” Sena tak menjawab tapi tempo makannya sedikit melambat.
“kenapa juga tadi kau menangis? Jantungmu juga berdegup kencang sekali.” Sena menelan sosisnya dengan susah payah, Sena ingat aktivitas mereka tadi seharusnya Sena tak perlu malu karena bukan pertama kali tapi jika ingat lagi tetap saja membuat pipinya panas.
“wajarkan!”
“yang mana yang wajar? Menangis? Aku bahkan belum mulai apa-apa!”
Sena menatap Jaeha serius, “belum mulai!? Ciuman bahkan rabaan tadi kau bilang belum mulai?!” Sena menusuk sosisnya dengan kejam membuat Jaeha sedikit ngeri
“aku... aku hanya bercanda. Kenapa kau masukkan ke hati sih? Jawab pertanyaanku, kenapa kau menangis, apa terjadi sesuatu?”
“tak ada, mungkin hanya terbawa suasana.”
“apakah suasana tadi semelow itu? harusnya kan panas dan bergairah?” Sena memberikan tatapan tajamnya pada Jaeha, tapi pria itu hanya tersenyum polos seolah tak mengatakan apapun. Tatapan Jaeha kini tertuju pada leher Sena, ia melihat sena memakai kalung.
“kalung itu dari siapa?”
Deg!
“bukannya kau bilang kau tak terlalu suka pakai kalung kecuali untuk acara tertentu saja.”
“ini... ini dari Sujin. Hadia karena aku kosmetiknya laku keras.”
“oh, padahal kau bukan model, bukan idol, bukan juga seorang selebriti... ck hebat juga.”
“karena aku cantik?” Sena melakukan wink pada Jaeha, melihat itu Jaeha seolah merasa mual dan pura-pura muntah.
“hehehehe”
Jaeha tak berniat melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda tadi, ia lebih membiarkan Sena istirahat malam ini. “selamat malam.” Jaeha mengecup kening Sena
“hm, selamat malam.”
Kini Sena duduk di depan meja riasnya, ia memegang kalung tersebut dengan tatapan dingin tangannya meremas kuat kalung tersebut, “aku akan mengikuti permainanmu, Minho.” Meskipun ia tau akhirnya dia yang akan terluka, ia memilih pura-pura tak tau apa-apa.
**
Sena sedang berbelanja di supermarket, ia berencana memasak beberapa menu kesukaan Jaeha untuk makan malam sekalian berunding tentang hadiah yang akan di berikan untuk orang tua Jaeha di acara ulang tahun pernikahan mereka 2 hari lagi.
“selada, hmmm ah ini sepertinya bagus.”
Ponsel Sena berdering, ia melihat Jonghyun yang menghubunginya. Dengan segera sena mengangkat panggilan tersebut.
“hallo! Ada apa oppa?”
“Sena,”
“hm? Ada apa? jangan buat aku penasaran, ini soal Jaeha dan helena kan? cepat katakan!”
“Sena, kau yakin akan baik-baik saja?” mendengar kalimat itu, membuat jantungnya terpompa dengan cepat, darahnya berdesir hebat.
“katakan!”
“Jaeha...” Jonghyun berhenti bicara, “sekarang kau di mana?”
“aku di supermarket, cepat katakan oppa!”
“aku akan bicara jika kau sudah sampai di rumah.”
“aku mohon katakan saja sekarang! aku akan baik-baik saja.”
“Sena!” saat itu juga ia mencari asal suara yang memanggilnya
tapi tetap bisa di dengar oleh Jonghyun
“apa kau bilang? Helena?!”
Helena menghampiri Sena yang kini tengah terdiam, “kebetulan sekali kita bertemu di sini.” ucap Helena sambil tersenyum.
Seakan berada di alam bawah sadarnya, Sena tak menjawab ia hanya terdiam sambil menatap Helena membuat perempuan itu bingung, ia mengibas-ngibaskan tangannya menyadarkan Sena.
“oh, maaf.” Sena tersadar dan langsung mematikan ponselnya
“kau baik-baik saja? wajahmu sepertinya terlihat pucat.”
Pandangannya memang sedikit berkunang-kunang, “aku baik-baik saja.”
“kau tidak baik, kau saja sampai keringatan seperti itu. mau mampir ke rumahku?”
“tidak usah, aku langsung pulang saja.”
Helana memegang tangan Sena, “istirahat sebentar di rumahku, aku takut terjadi sesuatu kalau kau mengemudi dalam keadaan seperti ini.”
Sena akhirnya mengalah, ia kini berada di rumah Helena sedang duduk di ruang tamu menatap ke setiap sudut ruangan. “ini obatnya,” Helena menyerahkan segelas air minum pada sena.
Glek!
“banyak sekali belanjaanmu, kau memasak untuk siapa?” tanya Helena
“hanya...”
“untuk pacarmu ya?”
“pacar?” tanya Sena kaget
“kurasa kau belum menikah, kau bahkan tak memiliki cincin pernikahan.” Sena melihat jari manisnya, ya dia masih belum memakainya setiap hari masih jadi kebiasaannya. Di sisi lain Helena semakin yakin kalau sena benar-benar tak mencintai Jaeha, dalam hati ia tersenyum bahagia.
Raut wajah Sena berubah menjadi dingin, “aku sudah menikah.”
Helena sedikit terkejut dengan pengakuan Sena, tak dipungkiri ia merasakan sakit di hatinya ketika sena mengakui kalau dia sudah menikah, cemburu? Jelas, ia cemburu.
“tapi aku tak mencintainya.” Ada rasa sakit tersendiri saat Sena mengatakan kalimat itu, ia tak punya pilihan lain karena ini sudah menjadi pilihannya untuk mengikuti permainan yang direncanakan oleh Minho untuknya.
Helena tersenyum dalam hati, kini ia percaya bahwa Sena benar-benar tak mencintai Jaeha apalagi Sena bicara langsung pada dirinya sendiri, kenapa ia tak harus percaya?
“lalu kenapa kau menikahinya? Bukankah itu menyiksamu?”
“kami di jodohkan, itu saja.” Sena tak ingin banyak bicara lagi
“aku juga mengalaminya, rasanya benar-benar tidak enak dan itu sangat menyiksa. Meninggalkan orang yang kita cintai hanya demi menuruti keinginan keluarga yang egois.” Helena berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju jendela menatap pemandangan di luar sana.
“mungkin bagi sebagian orang, cinta bisa datang menyusul walaupun awalnya kita tidak mencintai pasangan kita. Tapi bagiku tidak, tidak seperti itu.” Sena diam, ia hanya menyimak meskipun ia merasa ingin benar-benar pergi dari tempat ini.
“sebenarnya aku sudah menikah, tapi aku bercerai dengan suamiku. Setiap hari yang kurasakan hanya kesakitan, ketidak nyamanan, kesepian, karena aku tak memiliki perasaan cinta pada suamiku. Yang setiap hari aku ingat hanya dia... orang yang saat ini sedang aku cari.”
“setiap momen yang kami lewati selalu terputar kembali di setiap harinya, saat kami naik bianglala bersama dan ia menciumku dan mengatakan kalau dia mencintaiku tepat saat kami berada di puncak.”
Sena mencengkram kuat ujung bajunya, ingat bagaimana Jaeha menciumnya waktu itu saat berada dalam bianglala, jadi sebelumnya Jaeha juga melakukan hal seperti itu pada Helena? Bagaimana bisa sena berpikir kalau Jaeha melakukan itu hanya untuk dirinya?!
“Sena! Sena!”
Sena akhirnya tersadar setelah helena menyentuh tangannya, “kau baik-baik saja? maafkan aku karena aku jadi banyak bercerita padamu.”
“tak apa, aku baik-baik saja! tapi rasanya aku harus segera pulang, aku juga harus melakukan sesuatu di rumah.”
“oh okay,” Helena mengantar Sena sampai ke pintu “hati-hati di jalan!”
Tanpa terasa, air mata itu jatuh begitu saja, dengan segera Sena menghapus air matanya “untuk apa kau menangis! Jangan menangis Sena!”
Sena segera menghubungi Jonghyun, sayangnya ponselnya tidak bisa dihubungi. “oppa kau kemana?!” sekali lagi tapi hasilnya tetap sama
“perasaaanku benar-benar buruk!”