Maybe I Love You

Maybe I Love You
79. Would You Marry Me?



Leon, Jaeha, Mera dan Arthur, mereka kini sedang berdiri di depan rumah menunggu kedatangan keluarga mereka. Jadwal penerbangan disesuaikan agar kedua keluarga bisa datang secara bersamaan.


Jaeha menggenggam tangan Mera agar perempuan itu bisa merasa lebih tenang, ia sadar sehari sebelum hari ini tiba Mera selalu terlihat tidak tenang, gerak gerik tubuhnya, ekspresi wajahnya, bahkan senyum yang perempuan itu berikan pun bisa terasa begitu hambar bagi Jaeha. Pria itu juga tau kalau Mera masih merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan, meninggalkannya tanpa tau yang sebenarnya, apalagi tak memberitahukan soal kehamilannya, meskipun Jaeha sudah berulangkali mengatakan kalau Mera tak perlu terus memikirkannya tapi nyatanya kata-kata itu tidak mempan.


“Tidak apa-apa, keluargaku sangat bahagia karena hari ini tiba. Berikan senyum terbaikmu, ya?” Bisik Jaeha, Mera pun mengangguk, tangannya semakin erat menggenggam tangan Jaeha untuk mendapatkan ketenangan yang ia butuhkan saat ini.


Empat mobil hitam sudah masuk ke dalam gerbang, satu mobil berhenti menurunkan Nenek Nam dan Kakek Choi, di susul mobil kedua menurunkan Hwaran dan juga Hansoo, Mera tersenyum bahagia melihat keluarganya kembali datang untuk berkumpul bersamanya. Kakeknya yang super sibuk pun membatalkan jadwal kerjanya demi hari ini. Mobil selanjutnya menurunkan Nenek Jung dan Kakek Park, air mata Mera mulai menggenang begitu Nenek dan Kakek Jaeha terseyum hangat padanya, ia benar-benar merasa bersalah. Apalagi ketika Ibu dan Ayah Jaeha turun dari mobil yang terakhir, air mata Mera tak bisa dibendung lagi.


Mirae langsung bergerak menghampiri Mera dan langsung memeluknya, pelukan yang terasa sangat hangat dibandingkan disaat pertama Mirae memeluknya, Mirae yang memberikannya kehangatan seorang Ibu disaat ia tak bisa merasakan hangatnya pelukan seorangan Ibu dari Hwaran saat itu. Mera menangis bahagia bisa merasakan pelukan itu lagi, pelukan yang bisa lebih membuatnya merasa nyaman.


“Maafkan aku... aku sungguh-sungguh minta maaf pada Ibu.” Kata Mera disela isak tangisnya,


“Tidak perlu minta maaf, Ibu mengerti situasimu saat itu. Meskipun memang Ibu kecewa kenapa kau harus pergi tapi Ibu bersyukur kau mau kembali bersama dengan Jaeha. Menjadi putriku lagi, menjadi bagian dari keluarga kami lagi. Ibu sangat bersyukur karena hari ini, hari yang sudah kami nantikan sejak lama akhirnya datang juga. Terima kasih, Mera.”


Semua orang yang menyaksikan terisak penuh haru kebahagiaan, harapan yang mereka inginkan, sebuah do'a yang selalu mereka pinta akhirnya bisa terwujud, harapan untuk kebalinya sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya, berakhir dengan sebuah senyuman bahagia bukan dengan sebuah penyesalan dan tangis.


“Mana cucu Ibu?” Tanya Mirae, Mera menunjukkan Arthur yang sedang digendong oleh Leon. Pria itu memberikan hormat dan memperkenalkan dirinya.


“Kau sudah tumbuh sebesar ini,” Mirae membelai lembut pipi Arthur, “Terima kasih, terima kasih karena kau mau bertahan untuk menemani Ibumu, maafkan nenekmu ini untuk semua kesalahannya. Ini pertama kalinya kita bertemu secara langsung, Nenek sa~ngat merindukanmu.”


Arthur yang semula hanya diam saja memperhatikan neneknya kini memberikan tawa riangnya, dan hal itu membuat semua orang tersenyum bahagia. Tangan mungilnya meronta-ronta menggapai Mirae, Jaeha berkata kalau Arthur minta digendong.


“Tentu saja! Terima kasih kau sudah mau menyambut Nenek dengan tawa bahagiamu.” Mirae berbalik untuk memperlihatkan pada keluarganya kalau Arthur bersedia untuk digendong olehnya, ia benar-benar bahagia. Nenek Jung, Kakek Park dan juga suaminya menghampiri Mirae untuk bisa mendekati Arthur, bayi itu menatap mereka dengan tatapan bingung ada beberapa orang baru yang ia lihat hari ini, dengan tatapan polosnya baby Arthur menatap ibu dan ayahnya, dengan anggukan Jaeha dan Mera seakan meyakinkan Arthur kalau mereka adalah keluarganya juga.


“Apa nenek buyutmu ini boleh menggendongmu?” Baby Arthur yang awalnya diam kini meronta minta digendong oleh Nenek Jung, Arthur mulai berceloteh ketika Kakek buyutnya mengajaknya berbicara, membuat semua orang terpesona.


Leon berdehem agar semua orang bisa memperhatikannya, “Nah karena semua sudah berkumpul, bagaimana kalau kita langsung pergi ke tempat acara yang sesungguhnya?”


“Yang sesungguhnya?” Tanya Mera


“Iya.”


“Bukannya kita akan makan malam di rumah?”


“Surprise!” Semua orang tersenyum penuh arti, terkecuali Mera yang masih kebingungan. Melihat senyum semua orang Mera jadi kesal sendiri, ia tau arti senyuman itu.


“Oh! Apa hanya aku seorang diri di sini yang tidak tau?” Mera menatap tajam pada Jaeha, tatapan tajam itu selalu membuat Jaeha bergidik ngeri.


“Kejutan, hehehe. Arthur, juga tidak tau kok, kau tidak sendirian.”


“Hish!”


Mereka tiba di sebuah hotel mewah yang ternyata sudah dipesan jauh-jauh hari oleh Jaeha dan Leon, dekorasi sederhana menghiasi sebuah aula yang berukuran sedang, beberapa meja bundar dengan kursi empat untuk orang sudah tertata rapih begitu juga dengan perlengkapan yang lainnya. Beberapa dekorasi bunga segar menambah aroma wangi alami di dalam ruangan, kejutan yang memang membuat Mera cukup kagum, sederhana tapi terkesan mewah.


Acara makan malam berlangsung dengan suasana yang nyaman, beruntung Arthur juga tidak rewel bayi kecil itu seakan mengerti dengan situasi. Membiarkan Ibunya makan untuk mengsi tenaga untuk acara selanjutnya.


Begitu acara makan malam selesai, Jaeha meminta ijin pada semuanya untuk pergi ke toilet. Arthur kini duduk dalam pangkuan Kakeknya, Tuan Park. Bayi kecil itu masih tetap anteng dengan mainannya.


“Ekhem.” Leon tiba-tiba berdiri, ia bertindak seperti layaknya seorang MC. “Nyonya dan Tuan sekalian, saatnya kita akan beranjak ke acara selanjutnya. Acara yang paling ditunggu-tunggu, yaitu acara hiburan!”


“Hiburan?” Tanya Mera, “Apa Kakak mengundang penyanyi atau band? Atau orkestra?”


“Pemeran utama perempuan lebih baik diam saja.” Mera lagi-lagi dibuat kesal, “Baiklah, mari kita sambut penyanyi terbaik kita!”


Lampu tiba-tiba saja padam, derap langkah kaki terdengar begitu jelas di dalam keheningan. Lampu yang padam kini menyala tapi hanya dibagian depan saja, begitu melihat siapa penyanyi yang dimaksud Mera benar-benar dibuat terkejut karena itu adalah Jaeha. Dia berdiri di depan dengan beberapa orang penari.


Lagu intro mulai diperdengarkan.


🎵 *Cinta, oh baby, gadisku


Kau adalah segalanya bagiku


Sangat cantik, bersinar, pengantinku


Hadiah dari Tuhan


Apakah kau bahagia?


Airmata yang jatuh dari matamu yang gelap


Sampai rambut hitammu yang memutih cintaku, sayangku


Ucapan aku cinta padamu


Aku ingin melakukannya setiap hari untuk seumur hidup


Would you marry me?


Mencintaimu dan menghiburmu, aku ingin hidup dengan cara ini


Setiap kali engkau tertidur, aku ingin engkau bersandar di lenganku


🎵*


Semua orang tersenyum bahagia dengan penampilan Jaeha, sedangkan mera tidak tau kalau Jaeha bisa bernyanyi sebagus ini. Kejutan yang membuatnya begitu terpukau!


🎵*Would you marry me?


Maukah engkau mengizinkan hatiku memilikimu?


Aku akan berada di sisimu untuk seumur hidup (i do)


Mencintaimu (i do)


🎵*


Jaeha menatap penuh arti pada Mera, setiap pandangannya tak pernah tertuju pada tempat lain, hanya pada Mera. Hanya untuk meyakinkan perempuan yang paling ia cintai itu.


🎵*Menghiburmu saat turun salju maupun hujan (i do)


Aku akan melindungimu, cintaku


Aku memakai tuxedo


Kita berjalan dengan menyamakan langkah kita


Diantara bulan dan bintang, aku bersumpah


Aku tidak berbohong, aku tidak beromong kosong


Putri yang kucinta


Tinggallah bersamaku


Walaupun kita sudah tua


Aku akan melewatinya dengan senyuman


Would you marry me*?


🎵


Leon mengulurkan tangannya, meminta Mera untuk ikut bersamanya. Saat Mera sampai Jaeha langsung menyambut tangan Mera, Jaeha menari mengililingi Mera dengan senyuman yang terselip sebuah rasa malu karena ia baru pertama kali melakukan hal seperti ini.


🎵*Melewati kesulitan dan kesusahan ( I do)


Aku akan terus bersamamu (I do)


Menempuh hari – hari kita bersama (I do)


Aku akan berterima kasih kepadamu, cintaku


Menyetujui cincin yang bersinar di tanganku ini


Yang telah aku persiapkan sebelumnya


Dengan perasaan yang sama seperti hari ini


Would you marry me?


Aku akan berada di sisimu untuk seumur hidup (i do)


Mencintaimu (i do)


Menghiburmu saat turun salju maupun hujan (i do)


Aku akan melindungimu, cintaku


Aku tak bisa memberimu apa – apa kecuali cinta


Itulah semuanya, sulit untuk menghitungnya


Walaupun aku bodoh dan tak sebanding denganmu


Aku akan melindungimu, my love


Maukah kau berjanji padaku, satuhal saja


Bahwa apapun yang terjadi, kita akan saling mencintai satu sama lain*


🎵


Jaeha mengeluarkan sebuah kotak dari balik saku jasnya, ia membuka kotak tersebut yang berisikan sebuah cincin permata indah.


🎵Maukah engkau menikah denganku?


🎵


Air mata mera tak bisa ditahan lagi, dengan senyuman bahagianya Mera menjawab, “i will.”


Tepuk tangan bahagia bergemuruh, perasaan bahagia dan rasa syukur membuat semua orang menangis penuh haru. Bahkan Arthur pun yang masih balum mengerti apa-apa ikut heboh.


Jaeha memasangkan cincin tersebut di jari manis Mera kemudian menciumnya, begitu Jaeha berdiri Mera langsung memeluknya dengan erat, begitu juga dengan Jaeha. “Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Kata Mera,


Setelah mendengar itu Jaeha semakin erat memeluk Mera seolah pelukan itu sebagai pertanda kalau Jaeha tidak akan membiarkan Mera untuk pergi lagi dari hidupnya, “Aku lebih mencintaimu.”



Mereka pernah menikah satu kali, tapi lamara kali ini benar-benar terasa berbeda bagi mereka. Bukan dari sebuah paksaan, melaikan dari keinginan masing-masing, bukan sebuah kepura-puraan tapi sebuah keaslian yang tidak ada bandingannya. Rasa cinta yang benar-benar ada, bukan yang dibuat-buat untuk menipu setiap orang, senyuman bahagia yang sebenarnya bukan sebuah senyum yang dipaksakan.


Bahagia itu, bisa didapat bersama dengan orang yang kita cintai dengan sepenuh hati.


Betul tidak?


----------------------------------------


**Eng ing eng!!!!!!


PENGUMUMAN, PENGUMUMAN!!


Hari sabtu besok Maybe I Love You sampai pada episode terakhir 👏👏👏🎉🎉🎉


akhirnya aku bisa menyelesaikan novel keduaku 🎉🎉😆 setelah ragu apa bisa nyampe tamat atau enggak karena imajinasiku sempat buntu tapi akhirnya 300 sekian halaman bisa kuselesaikan juga.


untuk para pembaca yang sudah like, vote, bahkan menjadikan novel ini sebagai pavorit, aku ucapkan terimaaaaaaaa kasih banyak, sebanyak-banyaknya ❤❤❤❤


jangan lupa episode terakhir hari sabtu ya.. jangan lupa like nya, oke? 😗😗 aku sayang kalian.. saranghaeyo!! 💕💕**