Maybe I Love You

Maybe I Love You
35. Nenek...



Jam 6 pagi Bibi Mija sedang membereska belanjaan di dapur, ia baru saja datang dari pasar, tiba-tiba saja Bibi Mija mendengar pintu utama rumah tertutup.


“siapa yang datang pagi-pagi begini? Nyonya biasanya belum bangun.” Sambil melirik jam, ia pun pergi untuk melihat.


Setelah sampai di ruang tamu, “Sena?!”


“Bibi!” keduanya berjalan mendekat, Bibi Mija akhirnya memeluk Sena begitupun sebaliknya,


“aku sangat merindukanmu, kau baik-baik saja kan?”


“aku baik-baik saja,” Sena berputar di depan Bibi Mija, membuat wanita berumur 50 tahunan itu tersenyum senang karena Sena baik-baik saja.


“Bibi sendiri?”


“Nenekmu memperlakukanku dengan baik, bagaimana mungkin aku tidak baik.”


Sena tersenyum senang, “oh ya, bagaimana keadaan Nenek?” Sena mengikuti Bibi Mija kembali ke dapur


“sepertinya tekanan darahnya naik lagi, hampir setiap hari selalu mengeluhkan pusing.”


Sena ikut membantu Bibi Mija, “apa belum diperiksa? Nenek tidak memanggil dokter?”


“Nenekmu berkata kalau itu akan sembuh dalam beberapa hari, sepertinya Nenekmu ingin pergi menemui Kakekmu karena sedang sakit juga di London.”


“hmm, kalau Nenek sakit bagaimana bisa pergi menemui Kakek? Aku akan mengajaknya ke dokter hari ini.”


“aku tidak menyangka kau akan datang sepagi ini? bagaimana dengan suamimu?”


“ada Bibi Hanmi di rumah.” Ucap Sena sambil menunduk, Bibi Mija sadar perubahan ekspresi wajah Sena, tapi Bibi Mija memilih untuk diam saja tak ingin menanyakan apapun.


“kau ingin sarapan apa Sena?”


“terserah Bibi, tapi aku sudah membelikan sarapan kesukaan Nenek.” Sena memperlihatkan belanjaannya pada Bibi Mija.


Dengan pelan Sena membuka pintu kamar Neneknya, ia melihat Neneknya masih tertidur dengan pulas. Mendadak ia ingin menangis setelah menatap wajah Neneknya itu, tapi Sena menahannya, ia memilih naik ke kasur dan ikut berbaring. Pikirannya melayang jauh, masa lalu, sekarang, bahkan masa depan, bagaimana ia nantinya, bagaimana takdirnya, semua bermunculan di dalam kepalanya.


Nenek Nam akhirnya terbangun, ia memegang tangan yang kini tengah memeluknya, “ireonaseoyo, Halmeoni?”


akhirnya Nenek Nam melihat wajah cucu kesayangannya itu, Nenek Nam kemudian bangun, “Sena?”


“aku pulang Nenek!”


Nenek Nam malah memukul lengan Sena, “argh! Nenek kenapa memukulku?”


“'aku datang Nenek.' Harusnya kau bilang seperti itu!”


Sena malah cemberut, Nenek Nam mendekati Sena kemudian memeluknya, “cucuku ini, sepertinya sudah kembali ingat dengan Neneknya.”


“apa yang Nenek bicarakan? Aku selalu ingat Nenek.” Sena pun akhirnya memeluk Nenek Nam.


“baiklah, Nenek sa~ngat merindukanmu.” Semakin erat pelukan Nenek Nam, maka semakin erat pula pelukan dari Sena ia tak bisa membendung kesedihannya saat Nenek Nam mengelus punggungnya dengan penuh kasih sayang,


“Sena kau, kau... kenapa kau menangis sayang?” Nenek Nam ingin melepas pelukannya tapi Sena tak mengijinkannya,


“tidak, aku hanya rindu saja dengan pelukan Nenek. Sudah lama sekali aku tidak memeluk Nenek sehangat dan setenang ini.”


Nenek Nam masih tetap khawatir, “kau benar baik-baik saja? jangan bohong! Jangan menyembunyikan apapun dari Nenek.”


Sena menggeleng, “tidak ada, aku tak menyembunyikan apapun. Lagi pula apapun yang aku sembunyikan Nenek juga pasti akan tau, cepat atau lambat.”


Nenek Nam kembali mengusap punggung Sena, “yasudah, jangan menangis lagi. Nenek akan selalu memberikan pelukan hangat dan nyaman ini untukmu, hanya untukmu.”


“bagaimana dengan Kakek?”


“Kakekmu?! Dia sudah puas, tenang saja.” pelukan mereka terlepas, Nenek Nam mengusap sisa air mata di pipi Sena. Ketika melihat wajah Neneknya sebenarnya sena ingin menangis lagi, lebih lama. Batinnya masih belum bisa tenang, tapi ia harus merasa cukup, batinnya cukup lega setidaknya untuk saat ini.


“kau tunggu di ruang makan, Nenek akan membersihkan diri dulu.”


“baik Nek...”


**


“aku ingin Jaeha! Aku tidak bisa menunggu lagi!” teriak Helena pada Minho


“kau harus bersabar! Dia akan menjadi milikmu tapi tidak sekarang!”


“lalu kapan?! Setiap hari aku ingin bersamanya, aku ingin memeluknya, aku ingin melayaninya! Aku ingin dia!”


“kau harus ingat dia sudah menikah—“


“tapi aku istri pertamanya! Aku istri yang paling dicintainya! Kau bilang dia tidak mencintai adikmu tapi kenapa saat aku sedang sakit dia tidak ingin menemaniku semalam saja! dia pergi tanpa memperdulikanku!”


“bukankah dia bilang ada urusan? Kenapa kau tidak percaya saja padanya?!”


“tengah malam? Urusan apa di kantor sampai harus dikerjakan tengah malam?!”


“jika kau tidak tau urusan pekerjaan kantor lebih baik kau diam! Jika kau ingin jaeha kembali maka kau harus bersabar, jika kau tergesa-gesa maka jaeha bukannya akan kembali padamu tapi dia akan semakin menjauh darimu! Jika kau tidak ingin itu terjadi maka lakukan semuanya dengan cara perlahan. Situasinya sekarang sudah berbeda kau mengerti?!” Minho sendiri sudah tak sabar, ia ingin Sena dan Jaeha segera bercerai, ia ingin melihat rumah tangga mereka berakhir tapi ia harus melakukan semua rencananya dengan tenang.


“lalu apa yang harus aku lakukan?” Helena akhirnya mengalah, ia hanya ingin Jaeha kembali padanya, ia akan mengikuti semua yang Minho rencanakan meskipun ia harus bersabar sampai saatnya tiba.


**


Jaeha baru kembali dari kantor, ia pergi ke dapur lebih dulu untuk mengambil segelas air sebagai pereda hausnya.


“sepertinya belum, aku belum melihat Sena dari tadi.”


Jaeha menyimpan gelasnya lalu ia pergi ke lantai atas lebih tepatnya ke kamar Sena, “Sena ini aku! kau belum bangun?” ucap Jaeha dari luar kamar Sena


Tok! Tok! Tok!


Sama sekali tak ada jawaban, Jaeha mulai terserang rasa panik setelah beberpa kali ia memanggil sena tapi terus tak ada jawaban, entah kenapa ketika Sena tak menjawab panggilan darinya dengan segera Jaeha selalu saja panik, ia takut Sena menghilang atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan olehnya. Dengan segera ia membuka pintu kamar Sena yang untungnya tidak dikunci, suasana kamar yang gelap membuat Jaeha tak bisa melihat apa pun.


Sambil menyalakan lampu, “Sena ini sudah jam—“ ia melihat ranjang Sena kosong, kasur yang sudah tertata rapih, sisa wangi parfum Sena masih bisa tercium oleh Jaeha, perasaan paniknya semakin bertambah. Jaeha mencoba mencari Sena di seluruh ruangan rumah bahkan sampai ke gudang tapi tetap tidak ada hasilnya.


Jaeha kembali ke dapur menemui Bibi Hanmi, “Bi, kau yakin Sena belum bangun?”


“aku yakin, aku belum melihat Sena pagi ini. Kenapa? apa Sena tidak ada di kamarnya?”


“aku sudah mencarinya tapi dia tidak ada!”


“coba kau hubungi dia dulu, mungkin dia sedang joging atau sedang jalan-jalan pagi. Tenang jangan panik.”


Sayangnya ponsel Sena tidak aktif membuat Jaeha ingin membanting gelas yang kini ada di sampingnya, ‘


kau... kenapa kau membuatku seperti ini Sena? Apa yang kau mau? Kau membuatku... membuatku...’


“selamat makan!” ucap Sena, ia sudah tak sabar untuk memakan masakan buatan Bibi Mija.


“Sena, Nenek baik-baik saja kenapa kau membelikan bubur?”


“Bibi Mija bilang tekanan darah Nenek naik karena Nenek memikirkan Kakek yang sakit, orang sakit harus makan bubur.”


“Sena, Nenek tidak di rawat, Nenek masih bisa jalan, kenapa harus bubur?”


Sambil mengunyah Sena berkata, “bubur itu bagus sebagai menu sarapan. Dan juga Nenek harus ikut denganku ke dokter, Bibi Mija bilang Nenek tidak mau diperiksa, untunglah aku datang hari ini.”


“tapi Sena, Nenek—“


“Nenek bilang tidak akan menolak apa yang aku minta! Nenek tidak lupa itu kan?”


Nenek Nam tersenyum pasrah, “baikalah, Nenek memang selalu kalah jika kau sudah keras kepala seperti ini.”


Sena tersenyum menang, diam-diam ternyata Nenek Nam memperhatikan Sena sejak tadi, “Sena, apa kau jarang berolah raga?”


“kenapa memangnya?”


“kau terlihat lebih berisi, nafsu makanmu juga sepertinya...”


“biarlah, agar aku tak terlihat menjalani kehidupan yang berat, biar orang lain berpikir kalau hidupku bahagia.”


“apa maksudmu? hidup berat bagaimana? Kau juga bahagia bukan? Ada-ada saja kau ini.” Sena tak enak hati mendengar pertanyaan itu dari mulut Neneknya.


“hehehehe, tapi aku tak terlalu gendutkan?”


“tidak, masih normal. Asal kau sehat saja.” ucap Nenek Nam sambil menaruh potongan tumis gurita ke mangkuk nasi Sena,


Bibi Mija datang membawa semangkuk nasi ke meja tepat di samping Sena membuat ia heran, “aku tidak minta tambah nasi.”


“ini untuk suamimu.”


Deg! Jantungnya mulai bermasalah, untuk apa dia datang kemari? Batin Sena


“dia terlihat khawatir saat menanyakanmu ada di sini atau tidak.”


Nenek Nam langsung menatap cucunya itu, “Sena, kau tidak memberitahu jaeha kalau kau datang ke rumah Nenek?”


Sena tak menjawab, ia lebih memilih menunduk, “kalian...?”


Tepat saat itu Jaeha datang ke ruang makan, ia terlihat tenang saat sudah melihat Sena ada di dalam jangkauan pengelihatannya, ia benar-benar ingin memeluk Sena saat itu juga meskipun Sena sama sekali tak melihatnya.


“Jaeha, ayo duduk! Kita sarapan bersama.”


“baik Nek,”


Jaeha duduk disamping Sena, perempuan itu masih tetap tak melirik Jaeha ia hanya fokus pada nasi di mangkuknya, Jaeha berusaha tetap biasa saja.


“maafkan Sena yang masih belum dewasa, dia bilang dia tidak memberitahumu lebih dulu kalau dia akan ke rumahku. Maaf membuatmu khawatir.” Ucap Nenek Nam


“tidak apa-apa Nek, Sena tiba-tiba pasti sangat merindukan Nenek. Aku mengerti kenapa dia pergi pagi sekali.”


“kau memang suami yang pengertian.” Sena sangat ingin marah mendengar pujian itu untuk Jaeha, ia tiba-tiba saja kesal pada Jaeha. Karena masalah Helena? Sudah pasti, tapi rasanya lebih dari itu.


“aku sudah selesai makan.” Sena berdiri ingin meninggalkan meja makan,


“sayang kau belum menghabiskan sarapanmu, bukankah kau masih lapar?”


“aku sudah kenyang,” ucap Sena dengan senyum palsunya, ia langsung pergi meninggalkan Nenek dan Jaeha tanpa menoleh sedikitpun.


“Jaeha, apa kalian sedang ada masalah?”


Sebenarnya dari sebelum pergi ke rumah Nenek, Jaeha sudah tak enak hati ia merasa bersalah ia sudah menjadi seorang pembohong soal masalah hubungannya dengan Helena, ia yang sudah menikah lebih dulu tanpa orang lain tau ia sudah membohongi semua orang termasuk Ibu dan Ayahnya. Bagaimana jika mereka tau? Apa yang harus ia pilih? Ia ingin Sena, tapi bagaimana dengan Helena? Ia tak bisa menyakiti Helena juga.


“Jaeha!” Nenek Nam memanggil Jaeha karena tak kunjung menjawab


“ah, tidak Nek. Mungkin mood Sena sedang buruk, beberapa hari ini dia memang sering seperti itu.”