Maybe I Love You

Maybe I Love You
12. Karena Kamu (Aku Tersadar)



Dua hari kemudian, Minho menghubungi Sena karena tidak bisa menepati janjinya untuk hari ini.



“LA?”



“hm, ada hal penting di sana jadi aku harus pergi. Maaf aku membatalkan janji kita hari ini.”



“aku memang terkejut kau tiba-tiba bilang akan pergi. Padahal aku sudah hampir siap.”



“aku akan menggantinya setelah aku pulang nanti.”



“arraseo, josimhae!”



Setelah sambungan terputus Sena turun untuk mengambil cemilan, karena tidak jadi pergi Sena lebih memilih menonton film di dalam kamarnya.



sejak kepulangannya dari Pulau Nami dan Jaeha menanyainya banyak hal sampai-sampai dirinya emosi membuat suasana di rumah ini jadi kurang mengenakan baginya, ia kesal pada Jaeha, masih. tapi ia juga punya perasaan yang mengatakan agar tak bersikap seperti itu pada Jaeha, tapi ia tak tau harus mulai dari mana untuk menormalkan kembali suasana seperti semula?!



begitu Sena lewat tiba-tiba bibi Hanmi menyerahkan telepon rumah pada gadis itu, “ada telepon untukmu nyonya.”



Sena menerimanya, “dari siapa?”



Bibi Hanmi tidak menjawab, “yeoboseyo!”



“yeoboseyo!” Sena tidak mendengar jawaban dari sebrang sehingga mengulangi pertanyaannya lagi



“yeobo--“



“Sena-ya.”



Suara lembut yang memanggilnya barusan membuat kedua mata gadis itu memerah, tubuhnya mematung dengan ekspresi yang sulit diartikan..



“bagaimana keadaanmu nak? Kau baik-baik saja kan?”



Sena tak menjawab. ini bagaikan sambaran petir di siang bolong untuknya.



"Sena-ya, ini... ini ibu. ibu... ibu minta maaf padamu Sena--"



“jangan menghubungiku lagi!”



“Sena, tunggu sebentar—“



Sena menutup sambungan teleponnya dan segera berlari keluar, dan pada saat itu Jaeha baru kembali dari kantor setelah lembur semalaman.



“kau mau kemana?”



Tapi Sena tidak menjawab seolah ia tidak mendengar dan tidak melihat Jaeha yang baru saja datang.



Jaeha melihat bibi Hanmi keluar dengan khawatir, “ada apa? apa yang terjadi padanya?”



“seorang wanita menghubunginya, tapi nonya langsung menangis setelah menerima teleponnya. Aku sangat khawatir.”



Jaeha langsung berlari mengejar sena, ia menemukan Sena di taman bermain gadis itu duduk di sebuah ayunan ia tau Sena sedang berpura-pura kuat padahal Sena sangat ingin menangis saat ini,



'dasar bodoh' batin Jaeha



Jaeha melangkah menghampiri Sena, Jaeha melihat beberapa kali Sena mengusap pipinya yang basah oleh air matanya.



Jaeha menatap Sena yang menunduk, cukup lama Jaeha memperhatikan Sena dalam posisi seperti ini sampai akhirnya gadis itu mendongak menyadari keberadaan dirinya.



Sena baru tersadar kalau Jaeha ada di hadapannya, dengan cepat kedua tangannya menghapus sisa air matanya.



“kau sudah pulang?” tanya Sena dengan suara paraunya.



“sampai kapan?”



“mwoga?”



“sampai kapan kau akan mengabaikan ibumu?”



“apa itu jadi urusanmu? Lagi pula kau bilang aku harus menganggap ibumu sebagai ibuku sendiri, itu sudah cukup untukku.”



“lalu kenapa kau menangis? Bukankah kau merindukannya?”



“aku tidak merindukannya, aku membencinya aku sama sekali tidak merindukannya! Apa yang harus aku rindukan dari orang yang sama sekali tidak memperhatikan putrinya!? Apa??!!!” Sena yang awalnya tidak ingin marah pada Jaeha kini tak bisa mengontrol emosinya lagi.



Jaeha sebenarnya jengkel dengan sifat keras kepala Sena tentang ibunya, tapi kalau Jaeha bersikap emosi keadaannya akan semakin bertambah buruk.



“kau yakin ibumu tidak pernah peduli padamu? tidak pernah memperhatikanmu? Atau kau sendiri yang egois dan keras kepala?”



“buktinya saat aku memintanya datang dia tidak pernah datang, saat aku kecelakaan dia sama sekali tidak muncul untuk memberikan perhatian dan kasih sayangnya padaku. Apa aku harus mati lebih dulu agar dia bisa datang menemuiku?”



“jaga bicaramu! Kau pikir ibumu benar-benar tidak pernah menemuimu? Kau pikir ibumu benar-benar tidak pernah peduli padamu? kau yakin disetiap hari ulang tahunmu nenek lah yang memberikanmu hadiah? Kau yakin ibumu tidak pernah datang saat kau kecelakaan, kelulusanmu ataupun di pernikahan kita?”




“dia datang! dia datang melihatmu di setiap momen penting dalam hidupmu. Kado yang selama ini kau terima di setiap ulang tahunmu itu adalah pemberian ibumu. Dia juga datang di acara pernikahan kita. Aku sudah bertemu dengannya.”



“aku bilang kalau kau ingin menghiburku lebih baik kau pergi karena aku tidak membutuhkannya apa kau tuli?!”



“aku sedang tidak bercanda dan aku tidak sedang menghiburmu, tapi aku mengatakan kebenarannya agar kau tidak salah paham pada ibumu dan agar kau tidak lagi membencinya!”



“kalau dia memang datang kenapa dia tidak menemuiku? Kenapa dia selalu bersembunyi dariku?!! Kenapa?!!” tangisan gadis itu pecah membuat Jaeha ikut merasa bersedih, ia sebenarnya merasa bersalah karena berbicara dengan nada tinggi pada Sena, tapi ia harus melakukannya.



“karena dia takut kau akan semakin membencinya! Dia tau kau tidak akan pernah mau menemuinya. Dia tau kalau kau sangat membencinya. Dia bilang dia terlalu takut untuk menemuimu karena dia bukan ibu yang baik, dia tidak bisa ada di dekatmu dia tidak bisa menemanimu tumbuh dia menyalahkan dirinya sendiri karena menjadi orang tua yang buruk bagimu, dia tau semua yang kau alami dia tau semuanya. Ibumu ingin sekali memelukmu saat kau terluka tapi dia terlalu takut untuk menemuimu dia tidak punya keberanian. Ibumu sangat merindukanmu, dia ingin sekali memelukmu.”



Sena tak kuat lagi menahan air matanya, selama ini dirinya selalu berpikiran buruk tentang ibunya. Dirinya lah yang egois, mempertahankan kebencian dari pada mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Semua salahnya, ibunya tidak mau menemuinya juga karena dirinya semua salahnya.



Jaeha memeluk Sena tangisan gadis itu semakin menjadi dalam pelukannya, ia teringat percakapan setelah pernikahannya dengan ibunya Sena.



“aku tau ini pertama kalinya kita bertemu dan bertatap muka. Aku dulu masih ingat kalian dulu sering bersama, tapi aku hanya bisa memandangi kalian dari kejauhan. Aku tidak pantas jadi seorang ibu, benarkan?”



“lalu kenapa ibu tidak menemui Sena? Sena sangat merindukanmu walau pun dia terus berkata kalau dia sangat membenci ibu.”



“aku tidak punya keberanian karena aku tidak pernah ada di sisinya, aku meninggalkan saat seharusnya aku menemaninya untuk tumbuh. Aku terlalu malu untuk menemuinya dan mengakui kalau aku adalah ibunya. Aku dan suamiku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai-sampai aku tidak bisa menemuinya saat dia sedang membutuhkanku.”



“kalau begitu kenapa tidak sekarang saja ibu menemuinya? Sedari tadi Sena mencarimu.”



“aku tidak ingin menghancurkan hari bahagianya, dia tidak akan mau menerima kehadiranku. Dia akan menangis jika dia melihatku. Dan aku tidak mau melihatnya menangis.”



“bukankah lebih sakit kalau dia menangis sendirian tengah malam karena merindukanmu? Dia berusaha kuat walaupun dia harus iri melihat teman-temannya bepergian bersama dengan ibunya.”



Hwaran terdiam mendengar perkataan Jaeha, “kalau ibu memang merasa bersalah setidaknya temui dia, hubungi dia. dia marah bukan berarti dia benar-benar marah pada ibu. Dia hanya terlalu bingung mengutarakan perasaan bahagianya, dia hanya bingung bagaimana mengatakan kalau dia sangat merindukanmu. Apa ibu akan membiarkan Sena terus sendirian? Apa ibu akan terus membiarkan Sena menangis tengah malam karena merindukan ibu? Apa ibu benar-benar tidak ingin mendengarnya memanggilmu ibu dan memeluk ibu?”



Hwaran terisak, “aku tau kau pria yang baik, jaga dia untukku jangan biarkan dia menangis sendirian. Aku percayakan dia padamu Jaeha-ya.”



“maaf karena aku meninggalkanmu sendirian.” Gumam Jaeha, ia mencium puncak kepala Sena tangannya mengusap lembut punggung gadis itu mencoba menenangkannya. Jaeha ikut sedih melihat Sena menangis seperti ini, tingkah aneh dan kekanan-anakannya selama ini adalah kedok yang diapakainya untuk menutupi semua kesedihannya.



“maafkan aku, Sena-ya.”



**



Minho melewati lorong rumah sakit dengan cepat ditemani seorang perawat, perawat itu menunjukkan kamar nomor 403.



Begitu masuk ia melihat seorang gadis yang belum pernah terbangun dari komanya sejak setahun yang lalu.



“apa dia akan sadar?” tanya Minho



“dokter mengatakan ada kemungkinan dia akan sadar. Kau ingin membawanya ke Korea?”



“tidak sekarang, aku akan menunggu dia sadar lebih dulu.”



**



Nyonya Park menunggu Sena dan Jaeha dengan gelisah, apalagi bibi Hanmi mengatakan kalau Sena menangis dan langsung pergi begitu saja. “apa sebenarnya yang terjadi?”



Begitu melihat Jaeha dan Hyerim masuk, nyonya Park langsung menghampiri menantunya itu, “kau baik-baik saja?”



“ibu kapan kau datang?” tanya Jaeha



“aku baik-baik saja bu. Ibu tidak usah khawatir.”



“bibi Hanmi mengatakan kalau menangis dan pergi begitu saja, apa yang terjadi?” Sena melihat kekhawatiran ibu mertuanya



“ak-aku... aku sepertinya akan datang bulan jadi aku sedikit sensitif.”



“kalau begitu kalian harus cepat pergi.” Jaeha sudah menduga ini akan terjadi, pasti ibunya datang untuk membicarakan masalah bulan madu mereka.



“ne? Pergi? Pergi kemana?” Sena tidak mengerti apa yang dibicarakan ibu mertuanya



“ibu sudah kubilangkan kami akan mengurusnya sendiri, ibu tidak perlu—“



“kalian akan pergi sesuai jadwal kan?”



“apa sih? Pergi kemana? Kau tau sesuatu?” Sena memandang Jaeha, tapi Jaeha mengalihkan pandangannya ke arah lain.



“aku sudah menyerahkan tiket bulan madu kalian ke Jepang pada Jaeha, di sana sedang ada festival musim gugur kau pasti akan menyukainya.” Nyonya Park tersenyum senang



“n-ne? Bu-bulan madu?” Sena melongo mendengar perkataan nyonya Park, ‘apa lagi sekarang?’



Sena mendelik pada Jaeha karena lagi-lagi ia tidak diberi tahu apapun, “ibu menyuruhku tidak memberitahumu.” Bisik Jaeha



“harusnya kau memberitahuku! Dasar!” ucap Sena sambil berbisik pula



“kalian tidak bisa menolak aku sudah mempersiapkan semuanya, 2 hari lagi kalian harus pergi. Tidak ada alasan lain kalian mengerti?!”