
Helena tersadar, kedua matanya melirik ke segala arah, merasa asing dengan tempatnya terbangun.
“rumah sakit?” Helena merasakan bagian ujung bibirnya terasa sakit. ‘bekas tamparan Minho.’
“Jaeha!” begitu melihat Jaeha tertidur di sofa ia merasa lega, ia senang karena Jaeha tak meninggalkannya sendirian seperti waktu itu.
Jaeha sendiri akhirnya terbangun, ia melihat Helena suda sadar. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sepenuhnya Jaeha menghampiri Helena.
“bagaimana sekarang?”
“masih terasa sakit. Kau sendiri bagaimana? Apa tubuhmu sakit?” Helena meraba lengan Jaeha
“ini biasa, tidak begitu sakit.” Helena tersenyum lega, ia takut kalau Jaeha terluka parah karena perkelahiannya semalam.
“aku harus pulang, kau bisa kan sendirian di sini?”
Meskipun enggan untuk ditinggal, Helena membiarkan Jaeha pergi setelah mendengar alasannya. Jaeha juga pasti tidak tidur nyenyak semalam, ia memilih membiarkan Jaeha istirahat di rumahnya.
Ia rela ditinggal jika itu untuk kebaikan Jaeha, buka alasan untuk kembali pada Sena.
**
Sena kembali merasakan sakit di bagian perutnya, melihat Sena meringis kesakitan membuat Bibi Hanmi khawatir. Ia menyuruh Sena untuk istirahat di kamar saja dari pada harus membantunya di dapur untuk menyiapkan sarapan, tapi Sena menolak. Ia masih merasa baik-baik saja. Bibi Hanmi tak bisa memaksa, ia sudah hafal sifat Sena.
Suara pintu tertutup membuat raut wajah Sena berubah, ia tau siapa yang baru saja masuk dari pintu utama. Suara derap langkah kaki yang semakin mendekat memicu kontraksi di perutnya yang terasa semakin sakit.
Langkah kaki itu terhenti begitu melihat seseorang yang kini membelakanginya, Jaeha tau Sena pasti akan sangat marah padanya, ia sudah ingkar janji. “Jaeha, kau sudah pulang?” tanya Bibi Hanmi
“hmm,” Jaeha memberanikan diri mendekati Sena, tapi saat tinggal beberapa langkah lagi Sena berbalik dan pergi dengan cepat menjauhi Jaeha.
“Sena tunggu!” Jaeha mengejar Sena, ia memegang tangan Sena mencoba menahan Sena untuk memberinya waktu untuk bicara, tapi langsung di tepis oleh Sena.
“Sena aku minta maaf.” Jaeha terus berusaha untuk memegangi Sena yang berontak, tapi tak bisa. Sena terus saja melepaskan diri, Jaeha juga tak tega jika harus bertindak kasar pada Sena. Ia menyerah, ia tak lagi ingin menyentuh Sena.
“aku minta maaf karena tak menepati janjiku. Ada hal penting yang harus aku lakukan.”
“hal penting?” Sena tersenyum meremehkan, “Hal penting apa hah?! Apa itu lebih penting dari janjimu padaku?” emosinya mulai melesat naik, Sena tersenyum miris, ia ingat semalam seseorang kembali mengiriminya sebuah foto dimana Jaeha membawa Helena ke rumah sakit, sampai Jaeha yang bermalam di rumah sakit menemani Helena. Sena tiba-tiba saja terrawa, “benar... aku tidak pernah penting bagimu. Ada yang lebih penting, yang lebih berharga dariku, aku bukan apa-apa bagimu! Kita menikah karena terpaksa, bagaimana mungkin aku berarti dalam hidupmu. benarkan? Iya kan?” Sena tertawa kembali tapi sedetik kemudian ia menangis pilu, menangis sambil tertawa.
“Sena kau bicara apa? kau penting bagiku, kau sangat penting bagiku!” Jaeha berusaha kembali mendekati Sena, ingin menyentuhnya lagi agar Sena percaya kalau dirinya benar-benar peduli pada Sena.
“diam! Jangan mendekat! Kau tak pernah bisa membuktikan kalau aku memang penting bagimu! TIDAK PERNAH!”
Bibi Hanmi yang ada di dapur berlari menuju ruang tamu, ia terkejut mendengar teriakan Sena, begitu juga Paman Bong, ia yang sedang mencuci mobil berlari ke dalam rumah karena khawatir mendengar teriakan Sena juga, takut terjadi apa-apa.
“Sena aku mohon tenang. kita bicarakan ini baik-baik.”
“pergi! Pergi dari hadapanku pergi!!!!!!!! Aku muak dengamu pergi!!!!” Sena sudah seperti orang gila, ia benar-benar tak bisa mengontrol emosinya. Bibi Hanmi menitikkan air mata melihat Sena seperti ini, ia sudah menganggap Sena seperti putrinya sendiri, Bibi Hanmi tak tahan melihat Sena seperti sekarang. ia pun ikut berusaha menenangkan Sena, Paman Bong juga. Tapi Sena menyuruh semuanya untuk tidak mendekatinya.
Jaeha diam tak bergerak melihat amarah Sena yang membuncah padanya, batinnya terasa seperti tertancap ribuan panah panas yang begitu menyakitkan. Ia tak akan marah pada Sena, sena pantas marah seperti ini padanya, ia menerimanya. Ia bisa menerimanya, tapi ia tak bisa melihat Sena tersiksa seperti sekarang.
Sena mengambil vas bunga kecil yang ada di sampingnya, ia kemudian memukulkan vas itu sampai pecah. “Sena apa yang kau laukan?” tanya Jaeha ketika meihat Sena mengambil pecahan vas tersebut.
“pergi!” Sena mengarahkan pecahan vas itu ke pergelangan tangannya,
“Sena... Sena jangan lakukan itu. letakkan itu sekarang!” Jaeha sudah ketakutan jika Sena benar-benar mengiris tangannya sendiri. “letakkan itu aku mohon padamu.”
“benar Sena, jangan gegabah aku mohon. Ini bisa diselesaikan secara baik-baik, tolong jatuhkan pecahan vas itu, jangan sakiti dirimu sendiri, nak...” Bibi Hanmi dan Paman Bong juga ikut membujuk Sena agar tidak mencoba melukai dirinya sendiri.
Sena kembali menangis, ia begitu membenci dirinya sendiri. Ia membenci dirinya sendiri karena ia sadar sekarang kalau ia mencintai Jaeha. Ia benci karena kenapa dia harus mencintai Jaeha yang jelas tidak akan pernah bisa memilihnya, Jaeha yang entah mencintainya atau tidak, Jaeha yang lebih memperdulikan Helena dibanding dirinya, ia benci semuanya! Ia benci kenapa ia jatuh cinta pada orang yang salah!
Sena meringis menahan sakit, perutnya kembali terasa sakit. Jaeha yang melihatnya berusaha mendekat. “jangan mendekat! Aku bilang kau pergi dari sini!”
“pergi!” Jaeha membalikkan tubuhnya, ia melangkah pergi dari rumahnya sendiri. Ia akan melakukan apapun asal Sena selamat. Ini adalah hukuman untuknya. Sebelum pergi Jaeha menatap Bibi Hanmi, seakan berkata ia menitipkan Sena agar Bibi Hanmi bisa menjaganya. Bibi Hanmi pun mengangguk, ia akan menjaga Sena dengan baik.
Setelah pintu tertutup, Sena jatuh terduduk dengan lemas. Ia kembali menangis, ia menangis meraung-raung melepaskan semua beban di hatinya yang sejak lama ia pendam, kekesalan, kemarahan, penyesalan, semua ia tumpahkan saat itu juga.
“Sena.” Bibi Hanmi segera memeluk Sena, ia ingin Sena untuk tenang. ia tak tau apa permasalahannya, berbicara pun ia tak tau harus bicara apa. yang bisa ia lakukan saat ini hanya memeluk Sena agar tenang.
“argh!” Sena meremas perutnya yang semakin sakit tak tertahankan lagi. “aarrgghh!”
“Sena! Sena kau kenapa?” Bibi Hanmi panik melihat Sena yang begitu kesakitan dan mulai terkulai di pangkuannya.
“sakit Bi! Perutku sakit!!” Sena terus mengerang kesakitan, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
“Ya Tuhan! Darah!” Paman Bong berseru panik melihat darah segar diantara kaki Sena,
“darah? Mana darah? Di mana—“ Bibi Hanmi meliat darah segar mengalir di antara kaki Sena
“Ya Tuhan... cepat! cepat panggil Jaeha kembali! Cepat!”
“ja...ngan!” ucap Sena dengan nafas yang tersenggal-senggal menahan sakit. “jangan panggil dia! eungh.”
“Sena apa yang kau katakan? Jaeha harus tau! Biarkan dia kembali! Kau harus ke rumah sakit.” ucap Bibi Hanmi, Paman Bong tak jadi pergi dan tetap diam atas permintaan Sena.
“jangan...” Sena pingsan, ia sudah tidak bisa menahan lagi rasa sakitnya.
“Sena! Sena! Sena bangun! Sena!” Bibi Hanmi menepuk-nepuk pipi Sena berharap agar Sena sadar, tapi tidak berhasil, “kenapa kau diam saja cepat siapkan mobil!!!”
Di dalam mobil Bibi Hanmi berusaha tetap tenang meskipun ia sebenarnya benar-benar panik dan ketakukan karena darah terus keluar tak berhenti. Berkali-kali pula Bibi Hanmi mencoba membangunkan Sena, tapi tak ada hasilnya. Mata Sena masih terpejam dengan wajah yang pucat
“apa aku harus memberitahu Jaeha?” tanya Paman Bong dari kursi kemudi
“itu urusan nanti! sekarang cepat injak pedal gasnya! Kita harus segera sampai di rumah sakit!”
Sampai di rumah sakit Sena segera di larikan ke ruang gawat darurat, kaki Bibi Hanmi lemas ia tak mampu lagi untuk berjalan, untung saja Paman Bong menahan tubuhnya.
“sebenarnya apa yang terjadi?” Bibi Hanmi kembali menangis, “kenapa ini bisa terjadi pada Sena?”
Paman Bong menenangkan istrinya itu, ia mengusap punggung Bibi Hanmi agar lebih tenang. “percayalah, mereka berdua akan baik-baik saja. kita harus mendoakan yang terbaik. Kau juga tau itu bukan?”
Ting tong!
Ting tong!
Suho yang baru selesai mandi segera berjalan cepat menuju pintu, ia bahkan tak sempat untuk memakai pakaian karena suara bel yang terus berbunyi sejak tadi.
Ting tong!
“tolonglah bersabar sedikit! Apa kau tidak punya— Jaeha!“ Suho melihat Jaeha tengah berdiri di depan pintu rumahnya dengan pandangan kosong.
“kau... kau kenapa datang ke sini?”
“Hyung..” Jaeha berusaha melangkah tapi kakinya lemas serasa tak bertulang,
“Jaeha!” Suho segera menahan tubuh Jaeha yang hampir ambruk ke lantai,
“kau.. kau kenapa? apa terjadi sesuatu?” bukan kata-kata yang keluar, tapi air mata. Jaeha akirnya bisa menangis, ia menangis sejadi-jadinya di hadapan Suho.
“kenapa kau menangis?” Jaeha tak menjawab, ia tetap terus menangis. Suho mengerti, untuk sekarang ia tidak akan bertanya, ia memilih membiarkan Jaeha untuk menangis.
“menangislah! Menangislah jika itu bisa membuat beban di hatimu berkurang, jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik maka menangislah. Keluarkan semuanya!”