Maybe I Love You

Maybe I Love You
72. Kebahagian yang Baru



Leon berjalan cepat di lorong rumah sakit, ia kesal sendiri karena tidak bisa menemani Mera saat persalinan karena rapat yang tidak bisa ditunda dan karena ia juga sedang berada di luar kota. Begitu rapat selesai ia langsung pergi dan menyerahkan sisanya pada orang kepercayaannya.


Saat Leon masuk pandangannya langsung tertuju pada sosok bayi yang sedang tertidur pulas dalam box bayi.


“Ya Tuhan... dia sangat lucu dan tampan. Welcome to the world little baby.” Leon dengan lembut mengusap pipi mungil yang membuatnya begitu sangat gemas. “Nama, siapa namanya?”



“Arthur.” Jawab Mera


“Arthur Park.” Hwaran menambahkan, “Jangan berwajah seperti itu!” Saat melihat ekspresi Mera. “Bagaimana pun juga Park Jaeha adalah ayanya, sudah jelas Arthur harus bermarga Park!” Matanya pun melirik Rico, Rico pun tersenyum sebagai tanda terima kasih.


“Jangan-jangan dari tadi kalian sedang memperdebatkan masalah marga?”


“Mera ingin Arthur bermarga Kim, tapi bagaimana pun juga Jaeha adalah ayahnya. Lihat saja, Arthur begitu mirip seperti Jaeha. Hidung, mata, terutama bibirnya mirip sekali dengan Jaeha.” Mera tak bisa menyangkal itu, baby Arthur memang mirip dengan Jaeha. Dia tidak membuang Ayahnya sama sekali.


“Hidung mancungnya~ rambutnya juga sangat lebat! Ya ampun, cucuku sangat menggemaskan.” Diam-diam Rico tersenyum, ada sedikit rasa bangga dalam dirinya karena Arthur mirip dengannya, tapi ia bisa membayangkan bagaimana Mera benar-benar kesal padanya saat sedang mengandung Arthur.


“Tidurnya pulas sekali.” Kata Rico, pandangan mataya tak bisa lepas dari Arthur


“Bayi yang baru lahir memang lebih sering tidur. Tapi jika sudah masuk tengah malam biasanya mereka akan bangun dan membuat kita tidak bisa tidur.” Ucap Nenek Nam


Baby Arthur menggeliatkan tubuhnya, mulutnya berdecap dan jadi tidak bisa diam beberapa detik kemudian menangis. Nenek nam pun menggendong baby Arhtur, “Mungkin dia lapar.”


Mera pun menerima Arthur dari gendongan Nenek Nam dan memberinya ASI untunglah Arthur tidak begitu kesulitan untuk menghisapnya.


“Jangan tergoda ya?” Bisik Leon pada Rico


“Apa sih Hyung?!”


“Tahan dirimu!”


“Hyung~!” Leon terkekeh geli setelah menggoda Rico.


Di Korea Selatan


Nyonya Park menangis bahagia begitu melihat foto yang dikirimkan oleh Jaeha.


“Cucu laki-laki Ibu dan Ayah, namanya Arhtur. Semuanya berjalan lancar, Sena juga sekarang sedang masa pemulihan. Aku akan mengirimkan foto Arthur lebih banyak lagi nanti.”


Begitu Tuan Park datang dari kantor, Nyonya Park langsung memperlihatkan foto yang dikirimkan Jaeha, “Cucu kita... laki-laki.”


Katanya dengan penuh haru.


Tuan Park mengucap syukur karena cucunya sudah lahir dengan selamat dan juga sehat, “Dia benar-benar tampan. Siapa namanya?”


“Arthur. Nama yang bagus bukan?”


“Tentu saja, nama yang sangat bagus seperti nama Raja Britania yang melegenda, King Arthur. Semoga dia jadi anak yang berbakti pada orang tua, anak yang pintar dan anak yang selalu bisa memberikan dan menerima kebahagian juga kasih sayang dimana pun dia berada.”


“Aku juga berharap demikian. Lihat hidungnya, bukankah Arthur mirip sekali dengan Jaeha?”


“Kau benar. Aku baru sadar, semuanya sangat mirip seperti Jaeha. Arthur, anak ini tidak membuang Ayahnya sama sekali. Aku harap Arhtur juga bisa menyatukan Sena dan Jaeha kembali.”


“Aku juga berharap kalau Jaeha bisa membawa pulang Sena. Aku ingin sekali menggendong Arthur, aku juga sangat merindukan Sena.”


“Kita berdoa yang terbaik, semoga doa kita terkabul, semoga usaha Jaeha tidak sia-sia.”


**


Rico turun dari mobil membawa beberapa kresek di tanganya, saat akan masuk ke dalam rumah ia berpapasan dengan Hwaran dan Nenek Nam yang akan pergi ke luar untuk berbelanja keperluan makan malam.


“Apa itu?” Tanya Hwaran


Hwaran melihat apa yang dipesan Mera, “Anak itu.” Kata Hwaran setelah melihat pesanan Mera, “Minumannya juga. Dia itu baru saja melahirkan, tapi sudah pesan minuman dan makanan yang begini. Kenapa kau tidak melarangnya?”


“Mana bisa aku melarangnya. Ibu sendiri tau Mera itu seperti apa? Dan lagi sekarang aku hanya orang lain aku hanya sebatas seorang penjaga saja.”


Nenek Nam dan Hwaran menatap Rico dengan sedih, “Baiklah, kau bisa memberikan itu. Tapi tolong beritahu dia jangan terlalu sering makan makanan yang seperti ini. Kami akan membelikan buah-buahan untuknya nanti.”


“Hati-hati di jalan.”


Sebelum masuk kamar Rico mengetuk pintunya lebih dulu, barulah ia masuk. Saat itu ia melihat Mera sedang tertidur lelap di atas kasur, sedangkan baby Arthur ada di box bayi. Rico menyimpan pesanan Mera di atas meja, untuk beberapa menit ia menikmati kebiasaannya lagi seperti dulu yaitu memperhatikan Mera yang sedang tertidur. Rico tau kalau Mera sekarang jadi kurang tidur karena Arthur yang selalu bangun tengah malam sampai dini hari, setelah itu Mera tidur sebentar dan pagi harinya harus bangun lagi mengurus Arthur.


“Tidur yang nyenyak.” Gumam Rico,


Setelah puas melihat Mera yang tertidur, kini Rico beranjak untuk melihat Arthur yang juga sedang tertidur. Putranya yang baru berumur satu bulan itu tertidur degan lelap setelah sebelumnya menangis kencang karena mengantuk dan ingin minum susu.


“Sena hampir saja keguguran, dia hampir saja kehilangan Arthur. Kalau saja Bibi Hanmi tidak ada saat itu entah apa yang akan terjadi. Dan itu terjadi sudah dua kali. Tapi Arthur bertahan, dia bisa bertahan dan membuat Sena kuat.”


Mengingat kembali masa lalu yang membuatnya menjadi pria bodoh membuat Rico berlinang air mata. Dengan bodohnya Rico percaya kalau saat itu Mera memang benar hanya terkena penyakit maag, padahal saat itu ia hampir kehilangan Arthur.


‘Terima kasih sayang, kau sudah mau bertahan. Terima kasih karena sudah mengijinkan Ayah untuk bisa melihat dan menyentuhmu.’


Rico menunduk, ia mencium Arthur dengan penuh rasa cinta, kasih sayang, dan rasa syukur. Setelah dicium oleh Rico, baby Arthur tersenyum dalam tidurnya dan itu membuat Rico bahagia. Tak lama kemudian tubuh Arthur menggeliat, kedua mata mungilnya terbuka, Ayah dan Anak itu saling bertatapan.


“Arthur, ijinkan Ayah untuk menggendongmu ya?” Baby Arthur hanya bisa menatap Rico dengan mata sayunya.


Tubuh mungil itu terangkat, baby Arthur terlihat sangat nyaman dalam gendongan Rico. Mulut baby Arthur bergerak saat Rico berbicara padanya, bayi itu terlihat sekali ingin ikut bicara tapi ia belum bisa. Arthur hanya bisa megerakan mulutnya beberapa kali dan memberikan senyum menggemaskanya untuk Rico. Arthur pasti bisa merasakan kalau Rico adalah Ayah kandungnya.


“Rico.” Mera terbangun dari tidurnya, ia tidak bisa tidur lama lagi seperti dulu. Tiba-tiba saja ia selalu ingat Arthur kemudian bangun begitu saja, membuatnya kadang menderita sakit kepala karena bangun secara mendadak.


“Apa Arthur sudah bangun?” Mera turun dari kasur dan menghampiri Rico,


“Iya, dia sudah bangun. Maaf karena aku menggendongnya.”


“Tidak apa-apa, kenapa kamu harus sampai meminta maaf? Siapa pun di rumah ini boleh menggendong Arthur, apa lagi sekarang kau bukan hanya harus menjagaku saja tapi Arthur juga.” Mera tersenyum ketika melihat Arthur terlihat nyaman bersama Rico, “Kau pasti disukai oleh anak-anak, Arthur terlihat sangat nyaman saat bersamamu. Hai sayang! Kau sudah bangun ternyata~ digendong siapa? Om Rico?”


Sekarang Rico ingin sekali mencium puncak kepala Mera, begitu dekatnya hingga keinginan itu muncul begitu saja. Ucapan terima kasih saja tidak akan cukup karena Mera bisa menjaga Arthur dengan baik sampai dia lahir ke dunia ini, perjuangan Mera saat melahirkan Arthur, Rico entah harus berbuat apa untuk membalasnya.


Saat bibirnya hampir mendekati puncak kepala Mera...


“Pesananku mana?” Rico menarik kembali dirinya ke posisi semua,


“Di sana.” Mera langsung pergi untuk melihatnya, “Ibumu bilang kau jangan terlalu sering makan makanan yang seperti itu, kau harus makan banyak buah dan sayur.”


“Aku ingin sekali memakannya! Ini sudah satu bulan, lagi pula ini hanya makanan dan minuman biasa. Aku bahkan sampai ngiler karena melihatnya di Instagram.” Wajah Mera berubah jadi cemberut, dalam hati Rico berkata kalau sifat Mera masih seperti anak-anak kalau sudah merajuk seperti ini.


“Kau tau kan, apapun yang di makan oleh si ibu sang bayi akan langsung merasakannya lewat ASI?” Mera melirik Rico, tapi Mera memilih diam bukan berarti dia tidak tau. Ibunya pernah berkata hal seperti itu tapi Mera tak mau mendengarkannya karena saat itu dia benar-benar mengantuk dan hanya mengiyakannya saja. “Jika sang ibu memakan pedas, sang bayi akan merasa kepedasan juga, begitu pun jika kita makan atau minum yang manis, asam, pahit, atau asin.”


“Iya, iya. Kau padahal seorang duda belum punya anak tapi kenapa tau hal yang seperti itu?” Mera mengambil alih Arthur dari gendongan Rico karena melihat putranya yang terlihat ingin minum susu. Dengan segera Rico langsung berbalik badan memunggungi Mera, Rico harus sadar sekarang ia bukanlah Jaeha bagi Mera.


“Aku hanya sekedar baca-baca saja di internet. Ya sudah aku turun dulu ke lantai bawah, kalau ada perlu apapun panggil saja aku.”


Saat Rico akan menutup pintu Mera memanggil namanya. Rico pun kembali masuk ke dalam kamar.


“Ya sudah, kau ambil saja itu. Tapi sisakan rotinya untukku, rasa coklat.”


Rico tersenyum, “Yakin?”


“Sana-sana!” meskipun Mera masih cemberut tapi Rico senang karena pertimbangan perempuan itu, Arthur memang segalanya untuk Mera.


----------------------------------------


Maapin ya kalau masih ada typo yang bertebaran di sana sini. Terima kasih buat yang udah mau mampir. Yang belum like, klik dulu ya Love nya ❤😁😊😗