Maybe I Love You

Maybe I Love You
27. Meet Her



Jaeha berusaha mengajak Sena untuk bicara, tapi Sena hanya menjawab seperlunya saja. sejak Jonghyun memberitahunya tentang Jaeha yang sering mencari tahu informasi tentang Helena, ia jadi enggan untuk bicara banyak dengan Jaeha, bahkan menatap wajahnya saja Sena enggan sejak masuk mobil pun ia hanya menatap ke jendela di arah samping dan sesekali menatap ke arah depan.



“apa aku melakukan sesuatu yang salah?” Sena cukup kaget dengan pertanyaan Jaeha,



“tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun.”



Mobil tiba-tiba saja berhenti, membuat Sena akhirnya melirik Jaeha “kenapa kau menghentikan mobilnya?”



Jaeha mendadak mendekat, wajah mereka saling berhadapan sangat dekat membuat Sena akhirnya menundukan pandangan matanya.



“tatap aku!”



“apa sih?” Sena ingin memalingkan wajahnya tapi Jaeha menahannya dan malah membuat Sena kini menatapnya. Bagai terintimidasi Sena tak bisa melepaskan pandangan dari kedua manik mata milik Jaeha.



“coba katakan kalau aku tidak melakukan kesalahan apapun,”



Hening, tak ada kalimat yang keluar dari mulut Sena dalam beberapa detik itu.



“apa sih?!” Sena melepaskan tangan Jaeha yang menyentuh wajahnya



“kenapa harus sambil bertatap-tatapan seperti itu? aku sudah bilangkan tadi apa kau tidak dengar?! Jalankan lagi mobilnya! Aku ngantuk, aku sudah ingin tidur!”



“memangnya aku supir pribadimu?” gumam Jaeha



“mau aku yang mengemudikannya? Maka kita akan masuk rumah sakit satu menit kemudian.”



“baik nyonya.” Jaeha menurut dengan wajah kesalnya, ia tak suka dengan situasi seperti ini. saat di taman hiburan Sena bersikap biasa saja, bahkan sangat gembira dengan anak-anak. tapi sekarang Sena berubah membuat Jaeha sedikit kesal.



‘apa dia sedang datang bulan?’



**



Saat sedang menyiapkan sarapan, Sena mendapat pesan dari Minho yang mengajaknya ingin bertemu di cafe favorit mereka. Minho mengirimkan foto sebuah botol yang di lukis bagian dalamnya.



'aku memilihnya karena kau suka dengan pemandangan alam, bisa kan kita bertemu?'



'oke, kita bertemu jam 10 pagi saja. terima kasih oppa!'



Pada saat itu Jaeha turun menuju ruang makan, ia melihat Sena yang tersenyum sambil memandangi ponselnya dengan teliti.



“apa yang sedang kau lihat?” suara Jaeha tak mengalihkan pandangannya dari foto yang dikirimkan Minho.



“hanya sebuah foto.” Sadar Jaeha mendekat, Sena memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia merasa sedikit takut kalau Jaeha tau Minho yang mengirimkan pesan. Sebenarnya ada sedikit rasa bersalah karena ia tidak jujur kalau ia akan bertemu dengan Minho, tapi ia tetap memilih untuk pergi menemuinya nanti, toh Minho adalah kakaknya sendiri.



Sesuai janji, Sena pergi menemui Minho yang sudah menunggunya lebih dulu di tempat biasa mereka sering duduk bersama, saat Minho melambaikan tangannya untuk memanggil Sena ia pun tersenyum dan segera menghampiri Minho dan duduk saling berhadapan.



Tak lama seorang pelayan datang membawakan dua minuman, Sena tersenyum. Saat ia bersama Minho ia tak perlu harus berkata minuman apa yang akan dia minum karena Minho sudah tau apa yang ia suka.



“gomawo.” Ucap Sena



“akhirnya kita bisa duduk berdua lagi seperti ini, rasanya sudah lama sekali.” Sena mengangguk, padahal perasaannya saat ini begitu gelisah, ia merasa sedikit takut.



Minho menyerahkan sebuah kotak membiarkan Sena untuk membukanya sendiri, saat barang tersebut di keluarkan mulut Sena langsung menganga dengan raut wajah takjub, ia benar-benar megagumi seni lukis ini.



“pelukis ini sangat hebat! Padahal melukis dalam botol sangatlah susah dan butuh ketelitian yang luar biasa. Mereka benar-benar hebat, dan ini... ini sangat cantik.”



“aku tau kau akan sangat menyukainya, aku menyuruh mereka melukisnya sedetail mungkin dengan pewarnaan yang sempurna.”



“oppa sengaja memesannya?”



Minho mengangguk, “sebenarnya aku sudah memesannya seminggu sebelum aku berangkat ke China, tak kusangka pengerjaannya akan sangat cepat dan sebagus itu.”



“gomawoyo oppa! Aku benar-benar sangat menyukainya.” Minho tersenyum, ia senang bisa membuat Sena tersenyum dan itu karena dirinya bukan karena Jaeha.



“kau mau cake?” tanya Minho




Saat Sena masih asik memandangi lukisan botolnya, Minho datang bersama seorang perempuan, “Sena, kenalkan ini temanku.”



Sena mendongak, matanya membulat tangannya bergetar jika tak digenggam kuat botol lukisan itu kini mungkin sudah pecah di lantai. Ia tak bisa berkata apapun bahkan untuk mengedipkan mata pun ia terasa sulit.



“ini Helena, ia temank waktu kuliah di Inggris.”



Pandangannya seketika beralih menatap Minho, Sena bingung, Sena kaget, kenapa Minho berkata Helena teman kuliahnya waktu di Inggris, Helena kuliah di Prancis bersama Jaeha. Kenapa Minho berbohong padanya.



‘apa maksudnya ini?! oppa, maksudmu apa berbobong padaku?!’



“hai, aku Helena. Apa aku mengganggu kalian?” Sena menundukkan pandangannya, lidahnya kelu ia bahkan ingin menangis tapi ia tak bisa menangis di sini, apa yang sebenarnya Minho rencanakan?



“tentu saja tidak, kau bisa duduk bersama kami.”



Minho mempersilahkan Helena duduk di sampingnya. sedangkan Sena, ia berusaha menenangkan dirinya sebisa mungkin. Jika saja botol lukis itu di buat dari kaca biasa mungkin tangan Sena sekarang itu sudah berlumuran darah.



“Sena kau baik-baik saja?” Sena masih tetap menunduk, ia tak mendengar tanyaan Minho. Barulah saat Minho menyentuh pipinya Sena sadar dan menatap Minho dengan mata berkaca-kaca.



“kau kenapa? apa terjadi sesuatu? Wajahmu juga begitu merah, kau sakit?” Minho menyentuh kening Sena tapi segera di lepaskan oleh Sena.



“aku... aku baik-baik saja.”



“kau yakin? Jika kau tidak enak badan aku bisa mengantarkanmu pulang.”



“tidak perlu, aku bisa menelepon supir nanti.”



Minho akhirnya kembali duduk meskipun ia masih khawatir dengan Sena, “Helena, dia Sena. Aku pernah meceritakannya padamu beberapa hari yang lalu.”



“ah, kau adiknya Minho rupanya. Aku harap kita bisa berteman baik.” meskipun Helena tersenyum padanya, Sena benar-benar tidak ingin tersenyum, yang ia rasakan hanya ketakutan, ia hanya takut. bahkan kepalanya pun kini terasa pusing.



“tapi Helena, kenapa kau bisa ada di Seoul? Aku pikir kau tidak akan kembali lagi ke sini.” tanya Minho



“aku harus menemukan sesuatu yang hilang karena aku sangat merindukannya.” Helena tersenyum penuh arti, Sena bisa melihat ketulusan dari senyum wanita itu dan senyum itu semakin memperkuat ketakutannya bahkan senyum itu seperti pisau yang kini menyayat-nyayat hatinya.



“maksudmu apa yang hilang?” tanya Minho lagi.



“kekasihku.” Helena tersenyum malu, Sena seperti ditimpa batu besar. ia tau... ia tau.



“kau punya pacar? Kalau dia meninggalkanmu berarti dia pria yang buruk!”



“dia pria yang baik, bukan dia yang pergi meninggalkanku tapi aku yang meninggalkanya karena keputusanku yang ceroboh, saat dia benar-benar mencintaiku aku malah meninggalkannya bersama pria lain dan aku sadar itu salah, dan sekarang aku ingin kembali bersamanya karena aku yakin dia masih mencintaiku, aku dengan dia di korea dan berakhirlah aku di sini.” curahan hati Helena seperti ribuan panah yang menusuk hati Sena, ia tak bisa berlama-lama lagi di sini, ia merasa sudah muak. Hatinya benar-benar terasa sakit padahal ia tak harus seperti ini! ia tak mencintai Jaeha tapi kenapa hatinya sangat sakit?!!!



Sena akhirnya berdiri, membuat Minho dan Helena memandangnya heran. “kau mau kemana?” tanya Minho



“pulang.” Sena bahkan tak bisa menatap mereka, ia seharusnya tak bersikap seperti ini, ia harus bersikap normal.



“tunggu dulu!” Minho mendekat, ia membuka sebuah kotak yang berisi kalung dan memakaikannya pada Sena,



“satu lagi hadia dariku, sangat cantik.” Sena memegangnya lalu tersenyum kemudian pergi dengan langkah cepat meninggalkan mereka berdua.



Minho kembali ke tempat duduknya, “apa adikmu sedang sakit? Aku bisa melihat kalau dia tidak baik-baik saja.” ucap Helena



“entahlah, tapi tadi dia bersikap biasa saja.”



“tapi, kau yakin Sena belum mengetahui tentang aku?”



“kalau ia tau pun memangnya kenapa? Sena tak mencintai Jaeha dan aku sudah mengatakan itu padamu. aku ingin pernikahan mereka segera berakhir, kau juga ingin jaeha kembali dalam pelukanmu kan?”



“benar, jika memang mereka tak saling mencintai memang harus segera berakhir. Lalu kapan aku bisa bertemu dengan Jaeha? Aku ingin bertemu dengannya.”



“sabar, semua ada alurnya. Kau hanya perlu bersabar dan menajalankannya dengan baik.”