Maybe I Love You

Maybe I Love You
24. Pilihanmu



Jaeha sampai di rumah sakit, ia menemui Helena lebih dulu lalu menyelesaikan administrasinya. Ia duduk di kursi di samping ranjang, Helena tersenyum dan berterima kasih karena Jaeha sudah mau datang menemuinya.


“aku tidak tau harus minta tolong pada siapa lagi, aku tidak salahkan meminta bantuan pada suamiku sendiri?”


Jaeha berusaha tersenyum, lalu mengangguk ia tak bisa bicara untuk menjawabnya. Beberapa kali ia melihat jam tangannya,


‘setengah delapan.’ Batin Jaeha


Pikiran Jaeha tak bisa lepas dari Sena, ia seolah tak begitu peduli pada Helena yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


“Helena, aku tidak bisa lama aku harus pergi.” Jaeha sudah berdiri tapi Helena menahan tangan Jaeha,


“kau mau pergi kemana? Kantor? Apa jam segini kau masih ada kerjaan?”


“aku ada urusan, besok aku akan menjengukmu aku janji.”


“tidak bisa! Kau tidak boleh pergi! Jae aku sedang sakit, kau tega meninggalkan aku sendiri di sini?”


Jaeha melihat Helena mulai menangis, Helena terlihat meringis sambil memegangi perutnya, “kita sudah lama tidak bertemu, aku mengerti kau tidak bisa tinggal denganku karena kau mungkin masih sulit menerima kenyataan atau bahkan masih sakit hati karena aku yang meninggalkanmu dulu. Tapi aku masih istrimu jae! Setidaknya saat aku sakit... aku mohon jangan tinggalkan aku.”


Waktu berjalan dengan cepat, orang-orang keluar masuk restoran secara bergantian tapi Sena masih dengan posisi yang sama tak pernah meninggalkan tempat duduknya, berharap setiap orang yang masuk adalah Jaeha tapi harapannya selalu saja berakhir dengan kekecewaan.


“maaf nona, tapi restoran kami sudah mau tutup.”


“tutup!? Sekarang jam berapa?”


“setengah sebelas malam.”


‘apa aku menunggu selama itu?’ batin Sena,


Keluar dari restoran Sena melihat ponselnya, ia melihat daftar panggilan keluar hampir semuanya penuh oleh nama Jaeha. Ia mencoba terus menghubungi Jaeha meskipun nomor Jaeha tidak aktif.


Sena merasakan ponselnya bergetar, ia meliat sebuah pesan masuk ia berharap itu Jaeha tapi ternyata sebuah nomor tak di kenal yang mengirimkannya sebuah foto.


Sena meremas ponsel itu dengan kuat seolah ingin menghancurkannya, “nan jeongmal babo ya.”


Dengan pikiran yang kosong, Sena terus berjalan menyusuri trotoar yang mulai sepi, batinnya seperti ingin meledak, ia ingin melampiaskan kekesalan, kemarahan, kebodohannya, tapi ia tidak bisa, bukan tidak bisa, Sena menahannya. Dan sialnya lagi hak sepatunya yang sebelah kanan patah, Sena memilih berjalan tanpa alas kaki, dinginnya jalan yang menembus kulit telapak kakinya tak berasa apapun batinnya lebih sakit dari pada itu.


Jaeha mengantarkan Helena pulang malam itu juga, dokter menyatakan kalau Helena sudah baik dan boleh pulang. ia membaringkan Helena dan menyelimutinya, saat Jaeha akan pergi lagi-lagi Helena menahannya.


“kajima!”


“aku sudah menemanimu di rumah sakit, aku harus pergi sekarang.” Jaeha melepaskan genggaman tangan Helena,


Saat Jaeha membuka pintu untuk pergi, “kenapa?! apa karena perempuan lain?!”


Jaeha mencengkram kuat gagang pintu yang sedang di pegangnya, “aku akan menjengukmu besok.” Lalu pergi meninggalkan Helena yang kini menangis pilu.


“aku pikir kalian pergi bersama?”


Khawatir, gelisah, panik? Sudah sangat jelas tergambar di wajah Jaeha, apalagi saat sadar kalau ponselnya mati ia tak bisa menghubungi Sena. Jaeha akhinya pergi pergi ke restoran tempat ia dan Sena janjian, meskipun Jaeha sudah tau kalau restoran itu sudah tutup tapi Jaeha tetap pergi, apa ia sangat kejam karena sekarang iaberharap Sena masih menunggunya di sana? Tidak ada, Sena tidak ada di sana.


Jaeha bahkan mendatangi rumah Sujin berharap Sena ada di sana, tapi sang pemilik rumah ternyata tidak ada, ia mencoba menghubungi Sujin, tapi Jaeha malah diceramahi, bukan diceramahi lebih tepatnya di marahi oleh Sujin. Menghubungi Nenek? Tengah malam begini? Jelas ia tidak bisa melakukannya, ia tidak mau semakin banyak orang yang khawatir.


“kau di mana?” Jaeha, pria itu menitikkan air matanya, ia takut sesuatu terjadi pada Sena. Ia sangat ketakukan.


Sena turun dari taxi tak jauh dari rumahnya, ia kembali berjalan dengan kaki telanjang, meskipun kakinya sedikit masih berasa mati rasa tapi sena tak perduli, baginya itu bukan apa-apa, masih tidak ada apa-apanya. Ia bahkan berharap kalau dengan berjalan seperti ini hatinya akan lebih terasa dingin bahkan ia berharap hatinya beku agar tak bisa merasakan apa-apa lagi.


Saat hampir dekat dengan gerbang rumah, sorot lampu mobil membuat matanya silau, ia berhenti berjalan, suara pintu mobil yang di tutup dengan keras, suara langkah kaki seseorang yang berlari ke arahnya juga terdengar jelas oleh kedua telinganya, pengelihatannya yang kurang jelas karena sejak tadi merasakan pusing bisa tau siapa pria yang kini berlari ke arahnya, Sena ingin menghindar tapi tubuhnya seakan tak bisa diajak bekerja sama. Jaeha, pria itu kini memeluknya dengan erat, dan detik itu juga air mata Sena menerobos ingin keluar dari persembunyiannya.


“mianhae, jongmal mianhae.” Jaeha tak bisa menahan air matanya, ia menangis merasa lega karena Sena baik-baik saja, tapi di sisi lain ia merasa bersalah, ia merasa berdosa.


Sena berusaha bersikap biasa saja, ia mencoba menahan air matanya yang terus menerobos ingin keluar. “maaf untuk apa?”


Jaeha melepaskan pelukannya, “kau masih bertanya, aku salah karena tak menepati janjiku.”


“lagi pula itu hanya makan malam, aku sudah makan maeuntangku aku senang, seperti... kau sudah melakukan kesalahan besar saja.”


“ya... aku memang sudah melakukan kesalahan besar Sena.” Kedua insan manusia itu saling mengalihakan pandangan, mereka tak bisa menatap satu sama lain.


“lalu kau kemana saja? kenapa baru pulang?”


“aku... aku mampir dulu ke beberapa tempat, lalu lama di rumah Sujin.”


‘bohong’ batin Jaeha, tapi Jaeha memilih tak mengatakannya, itu bukan hal penting lagi sekarang.


“ayo kita masuk, di luar dingin.”


ajak Sena


“tunggu!” Jaeha akhirnya melihat kaki Sena, ia kemudian berjongkok di depan Sena


“kenapa kau tidak memakai sepatumu?”


Sena menunjukkan sepatunya, akhirnya Jaeha memunggungi Sena masih dalam posisi jongkok ia menepuk punggungnya meminta Sena untuk naik.


“tinggal beberapa langkah lagi sampai rumah.”


“naik!” akhirnya Sena naik, jujur juga ia sudah tak kuat lagi untuk berjalan betisnya terasa nyeri. Sena menatap bagian belakang kepala Jaeha, ia bisa menatap Jaeha jika seperti ini menatap sepuasnya.


‘aku sadar, siapa yang sudah kau pilih.’ Air mata itu tanpa terasa akhirnya menetes