Maybe I Love You

Maybe I Love You
78. Kamu adalah Miliku



Maaf untuk keterlambatannya ya.. jangan lupa tap heartnya, ok? 😊


----------------------------------------


Sejak ada Jaeha di rumah, pria itu hampir setiap waktu selalu berada di sisi Arthur. Yang paling banyak menggendong Arthur adalah Jaeha, memakaikan baju, mengganti popok, memandikan Arthur hampir semuanya dilakukan oleh Jaeha sedangkan Mera memiliki waktu banyak menggendong Arthur adalah saat menyusui saja. Arthur juga terlihat betah bersama dengan Jaeha terus menerus, Mera mulai merasa sedikit kesal dengan kedekatan ayah dan anak itu, tapi ia bukan anak kecil lagi yang harus terang-terangan ngambek di depan Jaeha. Ia harus bisa mengerti meskipun saat Jaeha menjadi Rico juga setiap hari dekat dengan Arthur, tapi mungkin masih kurang, tak bebas seperti sekarang.


Setiap malam mereka selalu tidur di kasur yang sama dengan posisi Arthur yang berada di antara mereka. Bergadang bersama, tertidur kembali bersama, tak ada yang saling mendahulukan. Jika Arthur sudah mengerti pasti dia akan sangat senang melihat kedua orang tuanya bisa kembali dalam kebersamaan seperti sekarang.


Selesai masak makan siang Mera berniat untuk makan bersama di kamarnya, Jaeha tidak pernah mau meninggalkan Arthur sendirian meskipun putranya itu sedang tertidur lelap. Jika di suruh untuk makan lebih dulu Jaeha tidak pernah mau, Jaeha ingin selalu makan bersama dengannya.


“Jaeha! Ini makan siangnya, aku masak—“ Mera langsung berhenti bicara ketika melihat Jaeha dan Arthur yang tertidur pulas.


Setelah meletakkan nampan di atas meja, Mera mendekati mereka yang tergeletak tak berdaya di atas kasur. “Kalian memang benar-benar mirip. Bagian mana yang terlihat seperti aku?” Mera memperhatikan mereka satu persatu di setiap bagian. “Sepertinya tidak ada, Arthur benar-benar copyan Jaeha.” Meskipun agak kesal tapi mera tetap tersenyum bahagia.


Kedua bola matanya kini terfokus pada Jaeha, ia membenarkan rambut yang menutupi sebagian mata Jaeha. ‘Begini lebih baik.’


Greb! Jaeha tiba-tiba saja memegang pergelangan tangannya mebuat Mera benar-benar kaget! Ia tertipu lagi oleh Jaeha, pria itu tidak benar-benar tertidur.


“Diam-diam kau menyentuhku.” Masih dengan mata terpejam Jaeha pun tersenyum senang.


“Aku menyentuh rambutmu!”


“Rambutku adalah bagian dari diriku, jadi secara tidak langsung kau menyentuhku, benarkan?”


Mera menatap Jaeha dengan wajah kesal, ia benar-benar ingin menarik saja rambut yang dia betulkan tadi agar jaeha merasa kesakitan. Senyuman pria itu benar-benar benar membuatnya tak bisa berkata-kata untuk membalas.


“Lepaskan!”


“Tidak mau!”


“Tapi aku yang pegal, Arthur ada di bawah lenganku!” Akhirnya Jaeha memilih melepaskan tangan Mera, jika posisi Arthur bukan di sana ia akan menarik mera ke dalam pelukannya. Jaeha kembali merasa kesal dengan posisi mereka yang salah.


“Ibu dan Ayahmu, apa mereka baik-baik saja?”


“Mereka juga Ibu dan Ayahmu, dari dulu bahkan sampai detik ini Ayahku adalah Ayahmu, Ibuku juga Ibumu. Kau lupa apa yang mereka katakan?”


“Kita sudah bercerai, meskipun kita dekat sedari kecil tapi sekarang sudah berbeda. Aku bukan seorang putri yang baik, mereka pasti kecewa padaku.”


Jaeha berpindah posisi, ia kini duduk di samping Mera. “Mereka memang kecewa padamu karena kau memilih untuk pergi, tapi mereka lebih kecewa padaku karena membuatmu sakit hati dan membuatmu pergi meninggalkan kami. Tapi bukan berarti mereka tak mengakuimu sebagai putrinya lagi, meskipun kita sudah bercerai tapi aku masih tetap dan akan terus mencintaimu. Kau tidak ingin kembali bersamaku?”


“Aku... aku tidak tau.” Sebuah jawaban yang tidak pasti didapatkan Jaeha, “Aku—mmhh!“



Mera terbelalak kaget dengan ciuman yang diberikan Jaeha, ini pertama kalinya lagi mereka berciuman setelah sekian lama, aliran dalam darahnya terasa berdesir hebat, begitu pula aliran panas dari tubuhnya sudah sampai di ubun-ubun dan menumpuk di sana berasa siap untuk meledak! Apalagi ketika bibir Jaeha terus bermain dengan bibirnya, nafasnya jadi sesak kerena Jaeha tak memberikannya celah untuk mengambil udara. Mera memukul dada Jaeha agar ia berhenti, Mera sudah tidak kuat ia ingin mengambil oksigen sebanyak mungkin.


“Hahh, hahh, hahh...”


“Akh!” Jaeha meringis kesakitan ketika Mera memukul lengannya,


“Kau mau membuatku mati ya!?”


“Saranghae!” Kata Jaeha dengan spontan, Mera kembali membeku begitu mendengarnya. “Aku menyentuhmu, memelukmu, menciummu, semua karena aku mencintaimu. Aku tidak akan melakukan semua itu jika aku tidak mencintaimu, aku ingin kita kembali bersama seperti dulu lagi. Kita bertiga, aku ingin menjadi keluarga yang bahagia seperti keluarga yang lain.”


Mera tak menemukan kebohongan di dalam sorot mata Jaeha, tatapan yakin dan penuh dengan pengharapan itu begitu jelas terlihat dalam jarak dekat seperti sekarang.


“Kau tidak akan menyakitiku lagi?”


“Tidak akan.”


“Kau akan membuatku dan Arthur bahagia?”


“Ya.”


“Kau tidak akan meninggalkan kami?”


“Ya.”


“Hanya aku dan Arthur?”


“Tentu saja. Aku janji untuk semuanya.”


Sebuah keyakinan yang begitu kuat, Mera tak bisa mengatakan apapun lagi tapi ia bahagia. Wajah yang ia rindukan, aroma yang ia selalu ingat, sentuhan yang selalu membekas, kini ia rasakan kembali.


“Eh?!!” Mera kembali kaget ketika Jaeha mengangkat tubuhnya, “Apa yang kalu lakukan?!” Mera berontak berusaha untuk turun.


“Kau berat ya sekarang! Aku rasa pinggangku akan patah...” Mera memukul Jaeha berkali-kali, tapi bukannya merasa sakit Jaeha malah tertawa. “Kita ke kamar lain ya?”


“Kamar lain? Aku tidak mau! Arthur nanti sendirian!”


“Arthur kan sedang tidur.” Kata Jaeha sambil berjalan keluar dari kamar.



“Mengatakan apa?” Bukan pura-pura tidak mengerti, tapi Mera memang tidak tau apa yang Jaeha ingin dengar.


“Aku mencintaimu, seperti itu?”


“Kita keluar dulu, kalau Arthur bangun bagaimana?”


“Ada pelayan?”


“Tapi—mmmhhh!” Jaeha kembali mencium Mera kini dengan lebih agresif, Mera yang tidak bisa menahan tubuh Jaeha kini terbaring berada di bawahnya. Ini memang sudah lama, meskipun Mera menahan tangan Jaeha agar tak membuka kancing bajunya tapi Mera tidak bisa, tenaganya seakan diserap habis oleh Jaeha.


“Katakan...” Pinta Jaeha saat tautan bibir mereka terlepas.


Mera hanya terdiam, ia memang ingin mendengar Jaeha mengatakan kalau dia mencintainya, sudah dari kemarin-kemarin mera mendengar kata itu keluar dari mulut Jaeha, tapi saat Jaeha memintanya mengatakan kata cinta Mera jadi merasa malu.


“Nghhh~” Jaeha menciumi sekitar leher Mera, Jaeha tak akan lupa dimana tempat yang membuat Mera bisa merasa menikmatinya.


Jari jemari tangannya menyentuh setiap lekuk tubuh perempuan yang begitu ia cintai dan yang begitu sangat ia rindukan.


“Katakan...” Suara Jaeha mulai terdengar berat, suaranya benar-benar membuat Mera tergoda tapi ia tetap merasa malu untuk mengatakannya. “Baiklah, kalau kau tidak mau mengataknnya. Aku akan menyentuhmu lebih banyak.” Jaeha mendekati telinga Mera untuk berbisik, “Karena aku sangat merindukanmu, i love you.”


Jaeha kembali mencium Mera ia tak melakukannya dengan terburu-buru, ia melakukannya secara perlahan sampai akhirnya Mera bisa hanyut bersama dengan setiap pergerakannya. Meskipun Mera tak mengatakannya tapi Jaeha tau, setia inci tubuh Mera yang ia rasakan mengatakan yang sejujurnya, tapi meskipun sudah jelas apa yang Mera rasa tapi Jaeha ingin mendengarkannya sendiri.


“Akh!”


Jaeha mencium kening Mera begitu mereka sudah menyatu sepenuhnya, kemudian beralih ke hidung, dilanjutkan ke bibir, kemudian Jaeha berkata... “Aku sangat mencintaimu.” Bisik Jaeha


Mera tersenyum saat mendengar kata itu lagi, ia merasa puas, sudah sangat puas, “Aku juga...”


**


Mera dan Jaeha turun ke lantai bawah karena tak menemukan Arthur di dalam kamar. Setelah menemukan Arthur sedang digendong seorang pelayan, Mera kemudian beralih menggendongnya. Tapi yang membuat Mera bingung adalah pelayan itu tersenyum tidak biasa padanya, meskipun merasa aneh tapi Mera memilih tak bertanya apapun.


Tak lama kemudian Leon datang sambil membawa banyak oleh-oleh, Leon langsung mengambil alih Arthur dari tangan Mera, ia begitu merindukan keponakannya. Leon menunjukkan pada bayi kecil itu apa yang dia belikan untuknya dan direspon oleh celotehan bahagia Arthur.


“Tsk,tsk,tsk...” Leon geleng-geleng kepala setelah memperhatikan Mera,


“Ada apa Kak?” Tanya Mera bingung


“Kalian... hhh~ tapi syukurlah kalau kalian memang sudah memutuskan untuk kembali.”


Jaeha langsung menarik pundak Mera agar mendekat, “Terima kasih untuk bantuannya Hyung, jika bukan karena pilihan itu aku tidak akan yakin kalau bisa kembali bersama dengan Mera. Aku sangat berterima kasih.”


“Ya sudah, kapan kalian akan menikah lagi? Jika sudah seperti itu menikah saja.”


“Mmm, aku harap Mera mau pulang dulu ke Korea untuk menemui keluargaku. Mereka sangat berharap untuk bisa segera bertemu dengan Arthur.” Kata Jaeha sambil menatap Mera,


“Aku... memang ingin pulang, tapi...”


“Kau masih merasa bersalah pada orang tuaku?” Tanya Jaeha, tapi Mera tak menjawab, dalam hati ia membenarkan itu, “Kau tidak salah apapun, aku sudah mengatakannya kalau mereka hanya menyalahkanku.”


“Meskipun Arthur sudah boleh naik pesawat, tapi aku masih merasa ragu. Aku takut dia tidak akan bisa menyesuaikan diri, aku tidak mau dia sakit lagi. Apalagi dia baru saja sembuh.”


“Ah, benar juga. Kalau begitu karena sekarang kita sudah baikan, aku yang akan meminta mereka untuk datang ke sini.” Mera malah menjadi tambah murung, “Jangan murung seperti itu, mereka juga tidak akan keberatan.” Kata Jaeha sambil mencubit pipi Mera.


“Bagaimana kalau kita undah juga Ayah dan Ibu, Nenek dan Kakek juga? Pasti akan sangat meriah!”


“Aku setuju Hyung! Lebih enak jika berkumpul bersama bukan?”


‘Kedua pria ini...’ Mera tertawa kecil mendengar mereka yang sedang merencanakan sebuah pesta kecil, ia akan mengikitu saja apa yang Leon dan Jaeha rencanakan.


Setelah mandi dan minum susu Arthur kembali tertidur, sekarang giliran Mera untuk mandi. Saat sedang melepaskan baju di depan cermin kamar mandi, Mera dibuat kesal karena Jaeha membuat kissmark di lehernya.


“Aku sudah katakan jangan di—“ Mera teringat pelayan tadi yang tersenyum mencurigakan, ia juga ingat leon yang terlihat aneh menatapnya... “Jaehaaaaaaaaaaa!!!!!!!”


“Hatchhim!”


“Kau kena flu?” Tanya Leon


“Tidak, hanya bersin biasa.”


“Katanya kalau kau bersin ada yang sedang membicarakanmu.”


“Siapa?”


“Aku tidak tau."