Maybe I Love You

Maybe I Love You
30. Cemburu



Sena menyerahkan tiket liburan yang ia pilih bersama dengan Jaeha pada mertuanya, “ini untuk kami? ya ampun aku merasa kembali muda!” ucap Nyonya Park


“kami ingin Ayah dan Ibu untuk pergi berlibur, Ayah juga butuh refreshing juga kan karena Ayah pasti lelah bekerja. Untuk urusan kantor Ayah tenang saja.” ucap Jaeha


“kalian ini benar-benar!” Nyonya Park tersenyum “padahal kalian tak perlu memberikan hadiah apapun, cukup dengan kalian terus bersama dan memberikanku cucu itu saja sudah cukup.”


Kata ‘cucu’ yang di ucapkan oleh Nyonya Park membuat keduanya menjadi sangat canggung, apalagi Sena. Akankah? Akan berakhir seperti apa kehidupan rumah tangganya dengan Jaeha? Pernah terbersit dalam benak Sena kalau ia ingin memiliki anak, apalagi setelah kunjungannya dengan Jaeha ke panti asuhan keinginannya untuk segera mempunya anak semakin kuat, tapi jika situasinya berubah seperti ini ia jadi ragu. Ia jadi enggan.


“Sena kau baik-baik saja nak?” tanya Tuan Park yang terlihat khawatir melihat Sena terus melamun


“aku baik-baik saja Ayah, maaf sudah membuatmu khawatir Ayah.”


Jaeha sadar, sejak malam itu Sena jadi berubah. Sena kembali dingin padanya, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan, bahkan Sena selalu menghindarinya dengan berbagai alasan. Jaeha sudah mencoba berbagai cara agar Sena kembali ceria dan berperilaku hangat padanya lagi tapi gagal, senyum yang diberikan Sena padanya seakan hambar.


“kalian menginap di sini kan?”


“itu—“


“iya! Kami akan menginap!” ucapan Jaeha membuat Sena menatapnya


“baguslah, besok pagi kau ingin sarapan apa Sena?” tanya Nyonya Park dengan senyum bahagianya


“apa saja,” Sena membalas senyuman Nyonya Park


“Ibu aku tidak di tanya?”


“Ibu sudah bosan dari dulu bertanya terus padamu, jadi sekarang giliran Sena yang ditanya!”


Begitu masuk ke kamar, Sena langsung pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Sena sebenarnya tak ingin sekamar dengan Jaeha, perasaannya selalu saja tak karuan dan campur aduk ketika harus melihat Jaeha, apalagi kalau harus berdekatan. Tapi Sena tak mungkin tidur di kamar lain, di dalam kamar pun tak ada alas tidur lagi, ia tak bisa tidur di sofa sepanjang malam ia tidak akan tidur karena takut terjatuh. Terpaksa ia harus tidur satu ranjang dengan Jaeha.


‘sudahlah, hanya untuk malam ini saja!’


Bagitu Sena keluar dari kamar mandi, ia melihat Jaeha sedang memegang ponselnya. Dengan segera Sena merebut ponsel tersebut dari tangan Jaeha. “apa yang kau lakukan!?”


“seseorang menghubungimu, dan aku menjawabnya.”


“siapa!?”


“namanya Jonghyun,”


“lain kali jangan sembarangan menjawab panggilan dari ponselku! Aku tidak suka!” Sena melihat daftar panggilan masuk dan ia melihat nomor baru, ‘pantas saja’ batinnya


“siapa dia?”


“kenapa memangnya?”


“tak bisakah kau menjawabnya?”


“kenapa aku harus memberitahumu? Aku bahkan tak pernah bertanya apapun padamu soal siapapun yang berhubungan denganmu! Kenapa kau harus tau tentang urusan pribadiku?!”


“kenapa kau jadi emosi? Apa aku salah jika aku hanya ingin tau? Dan lagi dia adalah seorang pria!”


“baiklah jika kau ingin tau, dia orang kepercayaan Nenekku di perusahaa dan dia sudah kuanggap sebaga Kakakku sendiri! Puas?!” Sena berniat pergi dari kamar untuk mengambil air minum tapi Jaeha tak membiarkan Sena pergi, ia memeluk Sena dari belakang dengan erat.


“lepaskan aku!” Sena berusaha melepas pelukan Jaeha, tapi Jaeha terlalu kuat.


“Jae aku bilang lepaskan aku! aku tidak mau seperti ini kenapa kau memaksaku!” Jaeha membalikkan tubuh Sena dan menciumnya. Sena lagi-lagi berontak karena ia benar-benar tidak mau melakukannya, perasaannya sedang kacau.


Ketika Sena sudah tak berontak lagi, Jaeha melepas ciumannya ia menghapus air mata Sena dengan ibu jarinya. “aku cemburu.”


Kedua kelopak mata Sena terbuka memperlihatkan kedua bola matanya yang berkaca-kaca, dengan perlahan Jaeha mengecup kedua mata indah itu dengan lembut.


“maaf jika aku memaksamu, aku takut jika kau pergi meninggalkanku karena pria lain.”


‘sama seperti Helena kan?’ batin Sena


“maafkan aku. sekali lagi aku minta maaf.” Jaeha kini memeluk Sena dengan tenang, dengan lembut tanpa paksaan.


Banyak yang ingin Sena tanyakan pada Jaeha, tapi ia tak bisa menanyakanya semuanya, terasa sangat berat hanya untuk bertanya apakah Jaeha mencintainya atau tidak, Sena tak sanggup. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya menangis dan memeluk Jaeha.



'aku juga takut! Aku juga takut Jae! Aku takut! Sebenarnya aku takut.’


Matahari mulai menampakkan dirinya, Sena meregangkan tubuhnya yang kaku dan mulai membuka kelopak matanya secara perlahan dan orang yang pertama ia lihat adalah Jaeha yang kini tengah menatapnya juga entah sejak kapan. Tatapan Jaeha dengan senyum lembuatnya membuat Sena malu dan menarik selimut sampai menutupi wajahnya.


Jaeha tertawa geli dan menarik selimut yang menutupi wajah Sena. “hmmm, aku rasa aku akan di marahi Ibu.”


“memangnya kenapa?”


Jaeha menyentuh mata Sena, “mata cantik itu kini bengkak karena kau menangis semalam.”


Sena menyentuh kedua matanya, “pastinya, bisa kau ambilkan es batu?”


“telanjang?” tanya Jaeha polos


Wajah Sena bersemu merah, “kalau kau tidak punya malu ya keluar saja!” Sena menahan senyumnya.


“aku pikir kau akan menolaknya semalam,” ucap Jaeha sambil mengambil pakaiannya dari lantai


“jangan dibahas!” Sena masih malu-malu


Bukannya turun dari ranjang Jaeha malah kembali pada Sena, “bagaimana kalau kita mandi dulu?”


Jaeha merajuk, “aku ingin kita mandi bersama,” tanpa menunggu Jaeha menarik tangan Sena untuk bangun lalu melilitkan selimut pada tubuh Sena dan memangkunya


“Jae! Biarkan aku turun! Aku ingin mandi sendiri!”


“turun saja jika kau bisa!” Jaeha berjalan cepat menuju kamar mandi dengan evil smirknya


“Jae~~!!!!!”


‘aku kalah, kenapa aku selalu kalah olehmu? Aku tidak tau ini hanya drama atau memang nyata, tapi Jae aku bahagia. Di saat seperti ini, di balik semua cobaan ini aku bahagia bersamamu seperti ini. tak bisakah jika aku ingin lebih lama seperti ini? hanya kita berdua, tak ada orang lain. Awal pernikahan tanpa cinta, akankah berakhir bahagia dan hidup bersama selamanya?’


**


Jaeha duduk bersandar di kursih melepas penatnya setelah seharian ini mengantar Sena berkeliling mencari hadiah untuk anak-anak di panti asuhan Cahaya Bulan. Jaeha juga membelikan hadiah khusus ia menitipkannya pada Sena karena ia tidak bisa ikut berpartisipasi karena ada rapat di kantor, meskipun sebenarnya Jaeha ingin membatalkannya karena ia tahu Minho pasti akan ada di sana tidak mungkin tidak.


“aku akan membereskan ini dulu ke dapur,” ucap Sena, Jaeha hanya mengangguk.


Tak lama setelah ditinggal pemiliknya, ponsel Sena berdering dari dalam tas. Jaeha ingin sekali mengangkatnya, selain karena berisik ia ingin tau siapa yang menghubungi Sena. Pria itu merogoh tas Sena untuk mengambil ponsel, ia melihat nama Sujin di layar.


Meskipun Sena sudah melarangnya untuk mengangkat panggilan dari ponselnya, tapi Jaeha tetap mengangkatnya ia yakin Sena tak akan marah lagi padanya dan lagi Sena juga sedang tak ada di sini.


“hallo.”


“eo, Jaeha?”


“ya ini aku. kenapa kau menghubungi Sena?”


“memang harus ada setiap alasan di balik sebuah tindakan, tapi apa harus kau yang menanyakan hal itu padaku? Aku bebas menghubungi Sena kapanpun dan dalam kondisi apapun.”


“aku hanya tanya, biar nanti aku sampaikan pada Sena.”


“memangnya Sena di mana?”


“dia di dapur.”


“sudahlah, bilang saja padanya untuk menghubungiku! Gak usah kepo!”


Kening Jaeha mengkerut, “ini sangat aneh, kenapa hyunjae harus suka padamu padahal—“


tut tut tut


“baik itu Sena atau pun Sujin, mereka sama saja!”


Tring!


Sebuah notifikasi pesan masuk menarik perhatian Jaeha. “ada pesan masuk.”


Di dapur, Sena membuat teh hijau untuk Jaeha. Sejak kepulangan mereka dari Jepang waktu itu Jaeha jadi senang minum teh hijau meskipun awalnya dia tidak menyukainya. “selesai!” dengan senyum puasnya Sena pergi untuk memberikan tehnya pada Jaeha.


“aku buatkan teh hijau untukmu,” Sena meletakkan segelas teh itu di meja depan Jaeha, kemudian Sena duduk di sebelah Jaeha.


“di minum ya?” tapi di luar dugaan Jaeha malah berdiri dan berjalan pergi tanpa sepatah katapun menjauh dari Sena


Sena juga ikut berdiri, “Jae, minum dulu tehnya! Aku sudah membuatkannya untukmu!”


“kenapa kau baik padaku?”


Sena tak mengerti pertanyaan Jaeha, apa ia salah jika membuatkan teh untuk Jaeha sebagai tanda terima kasih? “itu... sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah mengantarku—“


“hanya ucapan terima kasih?” sebenarnya bukan hanya itu, bukan hanya ucapan terima kasih


Perasaan Sena mulai tak enak, ia gelisah, “lalu... lalu harus apa?”


“sudahlah, minum saja sendiri. Aku tidak ingin meminumnya.” Tanpa memandang Sena, Jaeha kembali berjalan ia masuk ke ruang kerjanya dan dengan keras menutup pintunya.


‘Jae kau kenapa?’ batin Sena


Jaeha memukul meja kerjanya dengan keras,


“pesan dari Minho.” tanpa ragu Jaeha membukanya


‘aku ingin kau memakai kalung pemberianku di acara ulang tahun Panti Asuhan Cayaha Bulan. Kau sangat cantik dengan kalung itu.’


“kalung?” Jaeha ingat percakapannya dengan Sena beberapa hari yang lalu


“*kalung dari siapa itu? bukannya kau bilang kau tak terlalu suka pakai kalung kecuali untuk acara tertentu saja.”


“ini... ini dari Sujin. Hadiah karena aku, kosmetiknya laku keras.”


“oh, padahal kau bukan model, bukan idol, bukan juga seorang selebriti... ck hebat juga.”


“karena aku cantik?” Sena melakukan wink pada Jaeha, melihat itu Jaeha seolah merasa mual dan pura-pura muntah.


“hehehehe*”


Jaeha meremas ponsel Sena seakan ingin menghancurkannya, ‘jadi kalung itu dari Minho? Diam-diam kau bertemu dengannya? kenapa kau bohong padaku Sena? Aku pikir kau sudah tak mencintainya lagi tapi kau masih bertemu dengannya!? Kenapa Sena?’


Saat mendengar suara langkah kaki Jaeha dengan cepat menghapus pesan itu agar tak terbaca oleh Sena, ia segera meletakkan ponsel itu lagi ke dalam tas seolah tak terjadi apapun.


Ia mencoba tetap tenang tapi tetap saja tak bisa, sebenarnya Jaeha tak enak pada Sena karena tak meminum teh itu tapi ia tak ingin melihat Sena, ia hanya merasa marah yang ia rasakan saat ini hanyalah rasa marah dan kesal.


Jaeha tak mau mengaku, ia berulang kali menyangkal perasaan cemburu itu perasaan tak suka itu. ia berusaha untuk tetap sadar kalau Sena tak pernah mencintainya harusnya ia biasa saja apalagi dengan setia penolakan yang Sena berikan padanya, tapi ia tak bisa! Ia mengharapkan lebih, ia ingin lebih!