Maybe I Love You

Maybe I Love You
42. Lara Hati 2



Satu hari berlalu Sena di rumah sakit, tak ada satupun panggilan atau pesan dari Jaeha yang masuk ke ponselnya. Ia benci ketika ia rindu dengan Jaeha, ia sangat tidak menyukainya. Ketika si jabang bayi sangat merindukan ayahnya, itu membuatnya kesal. Sena sering bicara sendiri pada agar anaknya itu berhenti merindukan kehadiran ayahnya terutama ketika Bibi Hanmi dan Paman Bong pulang untuk membersihkan rumah, Sena yang menyuruh mereka untuk pulang agar Jaeha tidak curiga jika pria itu pulang ke rumah. Setiap ia melihat ponselnya, ia selalu berharap ada panggilan masuk dari Jaeha atau ada sebuah pesan meskipun hanya salah kirim tapi ia akan merasa senang.


“Sayang, jangan berharap banyak kalau Ayahmu akan memilih kita. Bisa kah kau mengerti situasinya? Tolong berpihaklah pada Ibumu ini, hm?”


Bibi Hanmi turun dari mobil membawa tas berisi pakaian Sena, “Aku akan menyusul nanti, kau masuklah duluan.” Ucap Paman Bong, Bibi Hanmi mengerti. Setelah melihat suaminya pergi Bibi Hanmi bergegas masuk ke dalam rumah sakit.


“Nyonya terima kasih banyak, aku akan bekerja lebih keras lagi.” Seorang perempuan berumur sekitar 45 tahunan membungkuk penuh terima kasih kepada seorang perempuan yang ternyata adalah Ahn Mi Rae, Ibunya Jaeha


“Kalian sudah bekerja dengan baik demi keluargaku, ini bukan apa-apa.” Nyonya Park menyuruh pembantunya itu untuk berdiri tegak,


“Anda membiayai operasi Hana, bahkan sampai menempatkan kami di ruang perawatan sebagus ini, membiayai semuanya. Kami sangat berterima kasih.”


“Sudah jangan membungkuk berterima kasih lagi. Hana adalah anak yang pintar, ia juga anak yang baik. Dia pantas diperlakukan dengan baik juga.”


“Kebaikan anda tidak akan kami lupakan. Saya akan bekerja dengan baik.”


“Yang lebih penting sekarang urus Hana sampai dia sembuh, setelah itu kau bisa masuk kerja lagi.” Ahjumma itu mengangguk mengerti, “Kalau begitu aku pamit.”


“Hati-hati di jalan Nyonya.”


Nyonya Park berjalan menyusuri lorong menuju lift, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi supir pribadinya.


“Aku sudah selesai, kau bisa menjemputku sekarang”


Nyonya Park menghentikan langkahnya ketika melihat seseorang keluar dari lift, ia mengenal betul orang tersebut.


“Itu kan...”


Bibi Hanmi sampai di depan pintu ruang perawatan Sena, tapi sebelum pintu terbuka. “Bibi Hanmi?!”


Bibi Hanmi kaget begitu melihat Nyonya Park yang kini berjalan mendekatinya, “Nyo-nyonya!” Bibi Hanmi berusaha menghilangkan kegugupannya


Bibi Hanmi membungkuk hormat, “Apa keluargamu sedang di rawat di sini?”


“Ah, i-iya. Tapi kenapa Nyonya bisa ada di sini?” Bibi Hanmi gelisah, semoga saja Nyonya Park tidak berniat untuk mengikutinya masuk.


“Aku baru menjenguk seseorang. Boleh aku ikut menjenguknya?” Bibi Hanmi melotot kaget, bagaimana mungkin ini terjadi? Baru saja ia berharap agar Nyonya Park tidak ikut masuk!


“Ah, tidak perlu Nyonya. Nanti malah merepotkan, Nyonya pasti sibuk.” Bibi Hanmi berusha untuk tersenyum penuh pengertian


“Tidak apa-apa, kau bekerja di rumah Jaeha. Jaeha sudah menganggapmu seperti keluarganya sendiri, jadi aku pun juga sama. Bolehkan?”


Bibi Hanmi sudah tidak bisa menolak lagi, ia tak bisa menggunakan cara lain lagi, tidak sopan jika harus melarang Nyonya Park untuk masuk.


Bibi hanmi akhirnya mengangguk, ia membuka pintu, mempersilahkan Nyonya Park untuk masuk lebih dulu.


“Di mana pasiennya?” Bibi Hanmi langsung berlari kecil melihat ke arah ranjang, kosong.


“Oh, mungkin sedang jalan-jalan. Dia memang kurang betah seharian di dalam kamar.” Bibi Hanmi segera mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menghubungi Sena.


Suara dering telepon di ruangan ini membuat Bibi Hanmi memasang wajah ketidak percayaannya. Ponsel Sena ada di atas ranjang! Bibi Hanmi langsung menengok ke arah pintu begitu mendengar suara pintu yang terbuka.


“Terima kasih sudah mengantar saya suster.” Bibi Hanmi melihat Nyonya Park yang curiga dengan suara tersebut. Nyonya Park langsung berdiri, ia kini melihat Sena di kursi roda dengan tangan di infus dan mengenakan pakaian rumah sakit. Nyonya Park menjatuhkan tasnya di kursi, langkah kakinya langsung menghampiri Sena yang kaget sekaligus tengah melirik Bibi Hanmi, Bibi Hanmi hanya bisa pasrah.


“Sena! Sena kau kenapa sayang? Apa yang terjadi padamu?” Nyonya Park langsung berjongkok, ia melihat tubuh Sena dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Bibi Hanmi langsung mengambil inisiatif mengambil alih kusri roda dan menyuruh suster tersebut agar segera pergi, sebelum Nyonya Park menanyakan apa yang terjadi pada Sena kepada suster tersebut. “Terima kasih suster.”


“Eommoni, kenapa Ibu bisa ada di sini?”


“Aku tanya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa di rawat di sini? Sejak kapan?” Sena tau hal ini akan terjadi, itulah kenapa ia tak mau memberitahukan hal ini pada siapapun.


“Sena terkena penyait maag kronis, malam kemarin Sena begitu kesakitan dan kami memilih membawanya ke rumah sakit.” Bibi Hanmi yang menjawab


“Ouh, sayang~ kenapa kau tidak memberitahu Ibu?”


“Aku ini Ibumu! Aku berhak merawatmu ketika kau sakit. Aku berhak tau Sena.” Sena tersenyum getir, apa ia bisa meninggalkan Ibu mertuanya yang sebaik dan seperhatian ini padanya? Apalagi jika Ibu mertuanya tau kalau dia sedang hamil, tak terbayang akan seperti apa bahagianya.


“Lalu Jaeha... di mana Jaeha? Kenapa dia tidak ada di sini?”


Bibi Hanmi dan Sena saling melirik, melihat wajah bingung Sena, Nyonya Park langsung tau kalau Jaeha juga sama tidak tau kalau Sena sedang sakit bahkan sampai di rawat di rumah sakit.


“Dasar anak itu!”


“Eommoni! Jangan beritahu Jaeha, dia pasti sedang sibuk di kantor. Aku tidak apa-apa. ada Bibi Hanmi di sini yang menjagaku.” Perasaan Sena campur aduk, ia berharap Jaeha bisa datang, tapi di sisi lain sena enggan untuk melihat Jaeha. Ia kembali mengelus perutnya.


“Dia suamimu. Sesibuk apapun itu dia harus menjaga istrinya yang sakit! Tak perduli ada pembantu sekalipun dia harus menjaga istrinya, atau paling tidak dia harus tau sayang.” Sena tak bisa lagi melarang Ibu mertuanya untuk tak memberitahu Jaeha. Ia pasrah saja, yang penting mereka tidak tau kalau Sena sedang hamil.


Sena melihat Nyonya Park mengambil tasnya, “Ibu mau kemana?”


“Menemui Jaeha, rasanya kurang enak kalau harus memarahi anak itu lewat panggilan telepon saja.” Nyonya Park langsung pergi dengan langkah panjang,


Sena menatap Bibi Hanmi, “Bi~” Bibi Hanmi hanya diam, ia menatap Sena seakan berakata kalau Sena harus menerimanya, Sena harus menghadapinya.


Sena sendiri takut kalau dia akan melakukan hal-hal aneh pada Jaeha karena keinginan anaknya, setelah mengeluarkan amarahnya lalu tiba-tiba saja ia bersikap manja bagaimana?


**


“Jae kau akan menjemputku pulang kan?”


Rupanya Jaeha tengah menerima panggilan dari Helena, hari ini perempuan itu diperbolehkan pulang dari rumah sakit, dan ia ingin Jaeha yang menjemputnya pulang.


“Jaeha jawab aku. kau sangat keterlaluan jika kau menyuruhku untuk pulang naik taxi!” Dengan nada bicara yang manja


“Aku—“


Braaak!


Pintu kantor Jaeha terbuka, pria itu langsung menyimpan ponselnya tanpa sempat mematikan panggilan, Helena saja bisa mendengar suara pintu yang terbuka saking kerasnya.


“Eomma!!” Nyonya Park segera mendekati putranya yang tetap diam di tempat karena kaget Ibunya yang tiba-tiba datang dengan ekspresi marah yang entah marah karena apa. Jaeha merasa tak berbuat salah apapun pada ibunya itu.


“Ibu rasa kau bukan seorang suami yang baik.”


Deg!


Jantung Jaeha berdegup kencang, mana mungkin ibunya tau secepat itu? Dari mana? Darimana Ibunya tau?


“Kalian itu sepasang suami istri, kalian dari kecil sudah saling kenal satu sama lain. Apa kau tidak bisa memperhatikan Sena dengan baik?”


“Ibu... aku bisa jelaskan. Dengarkan dulu penjelasanku Bu.”


“Sibuk kerja? Sesibuk itukah sampai kau tidak tau kalau Sena sedang sakit? Kau bahkan tak tau itu?”


“Apa!? Sena sakit?”


“oh! Ibu pikir Sena berbohong pada Ibu kalau kau sama sekali tidak tau kalau Sena sakit, tapi sepertinya Sena benar! Apa Ibu menyuruhmu untuk seperti ini pada istrimu?!”


Helena mendengar semua percakapan tersebut, batinnya bergejolak merasa tak terima.


“Bu dimana Sena? SENA DI MANA?” Nyonya Park cukup kaget dengan kekhawatiran Jaeha, amarahnya sedikit mereda, tatapan mata itu, tatapan perasaan khawatir itu bukan sebuah tipuan.


“Di rumah sakit Universitas Myungsei.”


Jaeha langsung bergegas pergi meninggalkan Nyonya Park, “Jaeha tunggu Ibu!” Dan juga Helena di sebrang sana yang terdiam, Helena bahkan menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah. Air matanya menetes, sakit hatinya saat Jaeha memilih untuk pergi menemui Sena, bukan dirinya. Setiap kata yang diucapkan Jaeha, mencerminkan bagaimana ia sungguh sangat mengkhawatirkan Sena.


‘Jae, apa aku masih ada di hatimu?’