Maybe I Love You

Maybe I Love You
58. Keinginan



Nyonya Park datang saat Sena dan Jaeha akan memulai sarapan pagi mereka, Nyonya Park datang tidak dengan tangan kosong, ia berkata kalau Sena dan Jaeha ingin memakan masakannya dulu sebelum pergi berangkat ke bandara.


“Eomma, ini sangat berlebihan. Seperti melepas anakmu pergi untuk yang terakhir kalinya saja!” Setelah mengatkan itu Jaeha mendapat jitakan di kepalanya,


“Kalau begitu kau jangan makan masakan Ibu! Ini untuk menantu kesayanganku saja. Di makan ya Sena.” Wajah Nyonya Park tersenyum begitu menaruh potongan iga sapi bumbu di piring kecil milik Sena.


“Terima kasih Bu. Apa Ibu sudah sarapan? Kalau belum ayo kita sarapan bersama.” Ajak Sena


“Ibu sudah sarapan tadi, kalian saja sarapan yang banyak agar kalian tidak mabuk selama di perjalanan nanti.” Sena tersenyum mengangguk,


“Ibu juga belikan ini untuk kalian. Maaf jika kalian tidak menyukainya.” Nyonya Park memperlihatkan apa yang dibelinya.


“Sepatu couple?” Seru Jaeha


Nyonya Park pun mengangguk, “Jika kalian tidak suka tidak usah di pakai,”


“Aku sangat menyukainya, terima kasih Ibu. Kami akan memakainya.” Ucap Sena


“Syukurlah. Ibu sangat senang kalau kalian akan memakainya.”


“Apa Ibu akan mengantar kami juga ke bandara?” Tanya Jaeha sambil menyuapkan sepotong telur gulung,


“Ibu tidak bisa ikut mengantarkan kalian, ada teman Ibu dari Vietnam dan dia meminta Ibu untuk menemaninya jalan-jalan berkeliling kota.”


“Itu lebih baik.” Jaeha kembali mendapatkan jitakan di kepalanya membuat Sena tertawa, ia baru kali ini melihat Jaeha diperlakukan seperti anak kecil begini.


“Ingat baik-baik, kau harus menjaga Sena dengan baik di sana ya?!.”


“Iya, iya. Tidak perlu diberitahu pun aku akan melakukannya Bu.”


“Hari ini kau menjengkelkan sekali, tapi Ibu senang.” Kini Nyonya Park mengelus kepala Jaeha dengan sayang. Sena sangat senang melihatnya, hal yang akan menjadi yang terakhir kali ia lihat adalah hal yang membahagiakan.


“Terima kasih Ibu, karena Ibu sudah menyayangiku.” Ucapan Sena membuat Nyonya Park dan Jaeha tiba-tiba saja terdiam. Mereka sempat aneh karena sena tiba-tiba Saja berkata seperti itu, ditambah lagi tatapannya yang bisa membuat setiap orang yang melihatnya tiba-tiba ingin menangis.


“Sayang~” Nyonya Park beralih kini mengelus kepala Sena, “Tentu saja, kau sudah kami anggap seperti anak kami sendiri itu sudah sejak dulu saat kamu masih anak-anak. Tidak perlu berterima kasih, karena itu sudah jadi kewajiban Ibu, Ayah dan Nenek juga Kakek untuk menyayangi dan mencintaimu.” Sena pun tersenyum, “Tapi maafkan saja jika Jaeha bertindak kurang baik atau ya~ membuat emosimu naik. Mau bagaimana lagi, Ibu juga tidak tau dari mana asalnya dia bisa seperti itu.” Nyonya Park geleng-geleng kepala sambil menatap Jaeha dengan tatapan tidak menyangkanya.


“Tak perlu menatapku seperti itu Bu!”


“Lihat saja seperti sekarang. Dia seperti kesal pada Ibu.”


Sena pun tertawa geli melihat tingkah laku anak dan ibu itu, Sena tak bisa membayangkan jika dulu Jaeha sangat manja pada Ibunya dan sekarang jadi seperti ini.


“Apa yang sedang kau lakukan?” Minho terdiam begitu melihat koper Helena sudah separuhnya terisi, saat Helena sama sekali tak menjawab Minho dengan cepat mendekat, saat Helena akan memasukkan pakaiannya kembali Minho merampasnya dan membuangnya ke lantai dengan emosi. “Kenapa kau mengemasi barangmu? Katakan!”


Helena mengambil nafas panjang sebelum kedua matanya berhadapan dengan Minho, dengan tenang Helena menjawab kalau ia akan kembali ke Prancis, ke Paris. Dengan kata lain Helena sudah menyerah dengan kemauannya, dengan keinginannya untuk memiliki Jaeha kembali.


"Aku yakin kau adalah orang baik."


Kata-kata itu selalu terngiang di telinganya, kata-kata yang membuatnya terus mencari mana yang benar dan mana yang salah. Kata-kata yang membuat dirinya sadar kalau sekarang sudah saatnya ia membuang semua masa lalunya, membuang semua keegoisannya karena semua sudah percuma.


Minho mencengkram kuat kedua bahu Helena membuat perempuan itu terlihat meringis, “Kembali? Aku sudah bilang rencana ini akan berhasil, Jaeha akan otomatis kembali padamu dan Sena akan kembali padaku. Kau mau membuang kesempatan terakhirmu?”


“Terakhir atau bukan aku memilih untuk mengakhiri semuanya. Semuanya sudah jelas! Tak bisakah kau lihat kalau mereka berdua saling mencintai?! Apa cinta gilamu pada Sena, obsesimu pada Sena membuatmu kehilangan akal sehat dan menggelapkan hatimu? Kau rela menyakitinya hanya demi dirimu sendir? Bahkan bukan dia, tapi aku juga tersakiti. Sudah cukup!”


Minho terlihat geram begitu mendengar kata-kata Helena, ia benar-benar tidak suka ketika dirinya diceramahi oleh orang yang tidak penting dalam hidupnya. Tanpa berpikir Minho pun mendorong tubuh Helena hingga akhirnya mereka kini berada di atas ranjang, tatapa tajam Minho membuat Helena sedikit ketakutan. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Minho dari pergelangan tangannya tapi ia tidak bisa, cengkramannya terlalu kuat, Helena bahkan merasakan kalau telapak tangannya mulai mati rasa.


“Sakit! Apa yang kau lakukan?!”


“Pergi? Kembali? Kau pikir mudah untuk kembali? Setelah semua yang aku lakukan kau pikir aku mengijinkanmu untuk kembali?! JANGAN BERANI BERPIKIR SEPERTI ITU!”


Air mata Helena mengalir dari kedua sudut matanya, “Minho, berhenti.” Dengan nada yang sendu. Bola mata Minho terlihat bergetar begitu mendengarnya, jantungnya tiba-tiba saja terpompa menjadi lebih cepat, bukan karena marah, tapi karena hal lain yang ia tidak mengerti.


“Aku memilih meninggalkan semuanya, memilih mereka untuk bahagia. Aku, cintaku, sudah tidak ada tempat untukku dalam hati Jaeha, begitu juga cintamu pada Sena. Bukankah sudah cukup untukmu mencintainya hanya sebatas seorang adik? Kau lebih beruntung dari pada aku. Lepaskan semuanya, relakan semuanya.”


Cengkraman Minho sedikit melonggar, Minho merasakan ada yang aneh dengan kata-kata Helena yang diucapkannya barusan. Kata-kata itu bisa membuatnya melemah.


Helena dengan perlahan menyentuh dada Minho, debaran jantung pria itu bisa dirasakan Helena dari telapak tangannya. Sangat cepat, begitu panas, penuh dengan rasa sakit dan kesedihan.


“Rasa sakit di sini, sama seperti rasa sakit yang aku rasakan. Rasa sedih di sini, sama seperti rasa sedih yang aku rasakan, semua yang kita rasakan hanyalah kemalangan. Aku dan kamu memiliki luka yang sama. Tapi bisakah kau juga merelakan mereka bahagia sama sepertiku? Meskipun sakit tapi aku merasakan sedikit kebahagiaan dengan melihat mereka bahagia. Tidak bisakah kau seperti itu juga?”


Tak mendapat jawaban, Helena pun memilih bangun begitu pun juga Minho. Pikirannya kacau oleh kata-kata Helena, tatapan perempuan itu membuat pikirannya terganggu. Helena terus menatap Minho yang tertunduk dan diam membisu, Helena pun akhirnya memeluk Minho tanpa ragu. Perempuan itu tak berkata apapun, hanya ia terus mengusap punggung Minho dengan harapan Minho bisa sadar dengan apa yang sudah dia lakukan bahwa itu adalah tindakan yang salah.


Helena memang tak berhak melakukan apapun, dia di selamatkan oleh Minho, dipertemukan kembali dengan orang yang dia cintai oleh Minho, dia bisa berada di sini semua karena Minho dan ia berterima kasih untuk itu, tapi ia ingin Minho pun tidak egois lagi, berhenti menyiksa diri juga hati semua orang.


“Terima kasih untuk semuanya. Aku berhutang budi padamu.”


Setelah mendengar ucapan terima kasih dari Helena, Minho pun melepaskan diri, ia berdiri membelakangi Helena. “Jika kau merasa berhutang budi, maka jangan pernah mencoba keluar dari rumah ini.” Setelah mengatakan itu Minho pun beranjak pergi,


“Minho...”