
Helena kembali ke apartemennya, tak di sangka di sana sudah ada Minho yang menunggunya.
“dari mana kau?”
“kantor.”
“kantor? Maksudmu kantor Jaeha? Apa yang sudah kau lakukan?”
“aku tak bisa hanya menunggu perintah darimu untuk menemuinya. Aku hanya melakukan hal kecil.”
Minho menghembuskan nafas pasarah, “lalu apa yang kau dapatkan? Dia mau bersamamu?”
Helena tersenyum, “iya. Malam ini dia akan bersamaku. tapi entah jam berapa dia akan datang, dia bilang ada acara.”
“acara? Acara apa?” Helena menggeleng, ia juga tidak menanyakan itu pada Jaeha.
Minho punya perasaan curiga, ia mengambil ponselnya,
“hallo!”
“Sena! Apa yang sedang kau lakukan?” Helena memperhatikan Minho, Minho menyuruhnya untuk diam tak bersuara.
“kenapa memangnya?”
“nanti malam aku ingin mengajakmu untuk dinner, apa kau bisa?”
“dinner? Maaf sepertinya aku tidak bisa pergi.”
“kenapa? apa kau tidak mau?”
“aku ada acara malam ini.”
“acara apa?”
“hanya acara biasa.” Minho ingin bertanya lagi, tapi itu akan membuat Sena curiga padanya.
“baiklah, lain kali saja kalau begitu.”
Minho memutuskan panggilannya, ia harus mencari tau lagi Sena akan pergi ke mana malam ini.
“dia tidak memberitahumu?” tanya Helena
“tidak, biasanya dia akan bicara jika aku bertanya dia akan ke mana atau ada acara apa. dia mulai berubah padaku.”
Minho kembali menghubungi seseorang. “cari tau kemana sena akan pergi malam ini.”
Sena memilih baju hitam ke abu-abuan, ia ingin memakai pakaian yang simple dan lagi ini musim dingin. Ia tidak bisa memakai baju yang tipis atau berlengan pendek.
“ini bagus. simple tapi tetap cantik dan juga hangat. Untunglah aku membeli baju ini.”
Tok tok tok!
“masuk!”
“pesanan bungamu sudah datang.” ucap Bibi Hanmi sambil memperlihatkan buket bunganya.
Sena menghampiri Bibi Hanmi dan mencium aroma bunganya, ia tersenyum.
“simpan di bawah ya.” Bibi Hanmi mengangguk
“oh ya Bi, apa Jaeha belum pulang juga?” Bibi Hanmi menggeleng,
“apa-apaan ini? dia bilang akan pulang cepat. cih, pembohong.” Meskipun begitu Sena tetap teresenyum, ia sudah tidak sabar.
Sena milirik jam di nakas, “cepat sekali... aku harus mandi. Aku harus bersiap.”
Jaeha menginjak pedal gasnya, untungnya jalanan sedikit lengang jadi ia bisa cepat. ia menyesal karena tak bisa pulang cepat, tiba-tiba saja salah satu mesin rusak jadi ia harus mengontrolnya sendiri dan memakan waktu.
Saat lampu merah Jaeha memilih mengirimkan Pesan pada Sena,
‘maaf aku pulang telat, aku sedang di jalan untuk menjemputmu. Apa kau sudah siap?’
Tapi sayangnya sebelum pesan tersebut di kirim, panggilan masuk dari Helena menunggu untuk di jawab, Jaeha pikir Helena pasti menanyakan kapan ia akan datang
“hallo!”
“Jae... Jaeha tolong aku Jae!”
Suara Helena terdengar sangat ketakutan, ia juga menangis. “Helena ada apa? kenapa kau seperti ketakutan?”
“Jae tolong aku! aku mohon tolong aku Jae!”
Braaakk!
Terdengar suara pintu yang di buka dengan keras, “apa kau mencoba menghubungi seseroang?!”
Jaeha masih mendengarkan dengan perasaan khawatir dan panik, “jangan! Jangan mendekat! Akh!!”
Jaeha bisa mendengar Helena terus menjerit, juga ia bisa mendengar suara baju seperti sedang di sobek-sobek. “Jaeha!!!!”
“Helena! Hallo! Helena!!!” mati, panggilannya sudah mati. Mencoba di hubungi lagi pun tidak bisa.
Jaeha memukul strinya dengan keras, “sial!”
Sena sudah menunggu Jaeha di depan rumah, dengan senyum manisnya ia sudah menunggu Jaeha dengan sabar sejak tadi.
“ah, kenapa dia belum datang juga?” Sena menggigit bibir bawahnya, sesekali ia juga melihat jam tangannya, sebentar lagi jam 7.
Ponselnya berdering, panggilan dari Sujin.
“hmm?”
“kau di mana? Ibu sudah menanyakanmu sejak tadi!”
“Jaeha belum datang, aku akan menunggunya sebentar lagi. Maaf aku mungkin akan datang terlambat.”
“aku akan menghubunginya.” Sena mematikan sambungan teleponnya dengan Sujin, ia kembali menghubungi Jaeha entah untuk yang keberapa kali.
Tidak diangkat, sejak tadi penggilannya tidak diangkat oleh Jaeha.
“Sena, apa Jaeha belum datang?” Bibi Hanmi menghampiri Sena
Sena tak menjawab, ia benar-benar gelisah. “kenapa kau tidak berangkat duluan saja, beritahu Jaeha, suruh dia untuk menyusul.” Sena menatap Bibi Hanmi. Bibi Hanmi tersenyum meyakinkan Sena.
“baiklah, minta Paman Bong untuk mengeluarkan mobilku.”
“Sena!”
“aku akan pergi sendiri.”
Di sebuah bangunan kosong,
“aku minta maaf melakukan ini padamu, kau bisa menerimanyakan?” Minho menampar Helena dengan keras sehingga ujung bibirnya mengeluarkan darah.
“ini sakit, tapi aku bisa melakukannya.” Minho juga merobek lengan baju Helena, bagian dada, dan di sekitar paha.
“kalian,” Minho melirik ke arah tiga pria yang berdiri tak jauh darinya dan Helena, “kalian mengerti apa yang aku instruksikan tadi kan? kalian boleh melawan tapi jangan melukai Jaeha, tapi sedikit mungkin boleh.”
‘padahal aku ingin dia babak belur, atau bahkan mati.’
batin Minho
“kami mengerti.” Terdengar suara mobil berhenti di luar, Minho memberikan isyarat agar mereka melakukannya. Ia menyeringar lalu pergi menjauh.
“Sena!” Sena tersadar dari lamunannya, ia melihat Sujin menawarinya minum.
“kau menunggu Jaeha?” Sena tak menjawab, ia lebih mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“sebenarnya ke mana suamimu itu? dia tidak menepati janji menjemputmu bahkan sampai sekarang belum datang juga. Augh!”
“mungkin dia sibuk.”
“sesibuk-sibuknya dia, harusnya dia memberitahumu lebih dulu. Apa dia tidak tau bagaimana rasanya menunggu tanpa kabar yang pasti? itu sangat menjengkelkan!”
“Sujin...” Sujin menatap Sena, “boleh aku pulang duluan?”
“wae? acaranya belum selesai.”
“badanku kurang enak, sampaikan permintaan maafku pada Ibu dan Ayahmu karena tidak bisa di sini sampai acaranya selsai.” Sena menyimpan gelasnya, lalu ia segera pergi.
“Sena! Tunggu!” sujin tak bisa menghentikan Sena yang bersikukuh tetap ingin pergi, “dasar brengsek!” Sujin mulai mengumpat
“siapa yang brengsek?” tanya Hyunjae yang baru saja menghampiri Sujin
“siapa lagi kalau bukan SAHABAT BAIKMU itu!”
Sena tak bisa lagi mengemudikan mobilnya, dadanya terasa sangat sesak, berkal-kali ia memukul dadanya tapi rasa sesak dan sakit itu tak bisa hilang. Nafasnya tersenggal-senggal berusaha menahan tangis, ia seperti kehabisan oksigen.
“akh! Eomma! Kenapa ini sangat sakit?” Sena mengatur nafasnya, tangannya mengontrol suhu di mobilnya menjadi sangat dingin. Tubuhnya menggigil tapi ia tak peduli. “jebal! Jebal!” lagi-lagi Sena memukul dadanya. Dinginnya suhu di dalam mobil tak mampu mendinginkan suasana hatinya yang panas, percuma.
“Eomma! Hiks...” akhirnya Sena menangis sejadi-jadinya, ia menunduk menutup kedua wajanya dengan tangan, ia ingin berteriak tapi ia menahannya, ia tidak bisa, Sena hanya menangis dalam diam.
“akh!” Sena menyentuh perutnya yang kembali terasa sakit, ia meremas perutnya, sakitnya semakin menjadi. “akh... kenapa ini? eungh.” wajahnya meringis kesakitan.
Tok tok tok!
Sena kaget karena ada yang mengetuk kaca mobilnya, ia segera menghapus air matanya lalu membuka kaca mobilnya. Rasa sakit yang di rasa pun ia tahan sebisa mungkin.
Seorang Ibu yang menggendong anaknya terlihat sangat ketakutan, “maafkan aku, tapi bisakah kau menolongku? Aku akan membayarmu aku janji! bisa tolong antarkan aku ke rumah sakit? Dia... dia terus saja muntah aku sangat takut terjadi sesuatu padanya.”
Sena tak tega kalau harus menolak, tapi ia takut kalau ia tidak bisa berkonsentrasi saat mengemudi nanti. Bagaimana jika terjadi sesuatu, Sena menjauhkan pikiran tersebut, ia kembali menatap anak dalam pangkuan ibunya yang terlihat pucat dan juga lemas, pasti ia sudah kehilangan banyak cairan.
“aku mohon. Aku sudah menunggu taxi tapi tidak ada yang lewat.” Si ibu memelas, memohon dengan sangat pada Sena.
“baiklah, ayo masuk.”
“terima kasih, terima kasih.” Sang ibu langsung masuk ke pintu belakang, Sena berusaha untuk berkonsentrasi penuh, langsung menancapkan gasnya.
Dokter memeriksa anak tersebut, Sena mencoba menguatkan sang ibu, ia mencoba menenangkannya dan berkata kalau semua akan baik-baik saja.
“putra ibu harus di rawat, ia positif terkena penyakit tifus.”
Sang ibu menangis, ia menggenggam tangan putranya dengan erat. “maafkan ibu sayang, ibu tidak bisa menjagamu dengan baik.”
Sena memperhatikan sang ibu yang menangis, ia tak tega. Sena kini menggenggam tangan sang ibu yang tengah menggenggam tangan sang anak. sena tersenyum, ia berkata kalau biaya rumah sakit akan di tanggung olehnya.
“bagaimana mungkin? Kenapa kau sebaik itu?” Sena hanya tersenyum.
Jaeha segera membawa Helena ke rumah sakit, perempuan itu pingsan sejak di perjalan dan belum sadar-sadar. Setelah mendengar pemeriksaan dari dokter, Jaeha duduk di samping Helena. Ia menatap seluruh luka lebam yang ada di tubuh Helena. Tangannya terulur ingin menyentuh luka tersebut, tapi terhenti.
Tak ada luka serius di tubuh Jaeha setelah perkelahian tadi, paling bekas pukulannya akan membiru beberapa hari kedepan. Bisa dibilang tak sebanding dengan apa yang Helena dapatkan.
“terima kasih. Aku sangat berterima kasih. Bagaimana caraku membalas kebaikanmu?” Jaeha mendengar pembicaraan di balik tirai
“tidak perlu.”
‘suara ini...’ Jaeha langsung berdiri, ia semakin mendekatkan diri untuk mendengar lebih jelas.
“cukup dengan kau bekerja keras, dan menjaga putramu dengan baik. bagiku itu sudah cukup.”
‘Sena!’
“kalau begitu aku permisi, kalau ada apa-apa kau tinggal menghubungiku saja.” begitu Sena keluar, Jaeha langsung menyembunyikan dirinya. Dirasa Sena sudah tak bisa melihatnya lagi, Jaeha akhirnya mengeluarkan dirinya, menatap kepergian Sena dengan perasaan bersalah. Ia seorang pecundang, ia sudah berbohong pada banyak orang. ia sudah melukai Sena.
-------------------------
Wae \= kenapa
Eomma \= Ibu
Jebal \= tolong/aku mohon