
Setelah keadaan Jaeha cukup membaik mereka pun memilih untuk pulang, padahal Sena menyarankan agar pulang besok pagi saja karena Jaeha masih lemah tapi pria itu menolak. Ia tidak bisa bebas berada di rumah dan kamar orang lain, mereka pun memilih menyewa supir.
Tapi sebelum itu Sujin menarik Sena untuk ikut ke kamarnya, ia pun mengunci pintu agar tidak ada orang yang bisa masuk.
“Aku ingin mendengar penjelasanmu dari tadi tapi kau selalu berada di kamar, sekarang jelaskan padaku kenapa kita harus berpura-pura? Kau bisa jujur padanya kau kesal karena apa! Apa sebenarnya yang kau rencanakan?”
“Aku tidak ingin memberikan kenangan buruk untuknya.”
“Aku mengerti, kau berarti sudah memilih keputusan untuk bercerai dengannya. Tapi... tapi kau terlalu baik! Dia memberikan luka yang dalam padamu, sedangkan kau? Kau malah ingin membuatnya bahagia meskipun itu yang terakhir kali? Ayolah Sena! Aku bahkan tidak tahan harus berlama-lama melihat wajahnya.”
“Mungkin aku terlihat seperti seorang pecundang, aku mungkin memang terlalu baik sampai sekarang pun aku merasa bersalah karena membiarkan Jaeha sampai sakit karena mencariku.” Sujin benar-benar kaget dengan apa yang dirasakan oleh Sena, ia tak percaya malah Sena yang merasa bersalah, “Aku bahkan meminta maaf padanya atas apa yang aku lakukan. Aku bahkan menerima ciumannya, pelukannya, dan kau tau, aku merasa nyaman meskipun hatiku terluka, aku sendiri tak percaya. Tapi itulah yang aku lakukan, mungkin aku melakukannya tanpa sadar aku hanya mengikuti arusku. Ini menjengkelkan tapi... aku selalu melakukannya.”
“Sena...”
“Terakhir kalinya sebelum aku terbebas dari semua rasa sakitku.” Sena pun tersenyum, ia memilih keluar karena ia sudah tak tahan ingin menangis jika terus bicara tentang masalah ini.
“Terbebas atau malah semakin tersiksa.” Sujin pun ikut keluar untuk mengantar mereka, ia kembali memasan wajah palsunya.
Di dalam mobil, Sena kembali memeriksa isi tasnya takut ada yang tertinggal di rumah Sujin. “Obatmu juga sudah, sepertinya tidak ada. Kepalamu masih pusing?” Jaeha pun mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di pundak Sena, “Bukankah rasanya tidak nyaman? Pundakku terlalu pendek.”
“Aku menyandarkannya dengan hati, jadi rasanya nyaman.” Sena pun tersenyum kecil, “Setiap bagian tubuhmu, semuanya terasa nyaman untukku.” Wajah Sena bersemu merah, terasa menghangat. Ia masih bisa berdebar disaat situasinya seperti ini.
“Karena sakit kau jadi bertambah mesum ya?”
“Aku rasa sudah lama kau tidak memberikan layanan servis padaku. Wajar saja kalau aku seperti ini.” Sena merasa salah mengajukan pertanyaan, di sini bukan tempat yang cocok untuk membahas itu apalagi ada supir yang mengemudi, ia harus mengganti topik pembicaraan.
“Jaeha, apa kau mau liburan bersamaku?”
“Hm?” Jaeha kini terbangun, meskipun kepalanya masih pusing ia ingin melihat wajah Sena yang baru saja mengajaknya liburan, lagi-lagi ia seperti sedang bermimpi. “Kau mengajakku liburan?” Sena mengangguk sambil menatap Jaeha.
“Hmm... kita harus liburan ke mana ya?”
“Sungguh? Kau sungguh mengajakku untuk liburan?” Sena mengangguk mantap, ia bahkan mencubit hidung Jaeha agar Jaeha percaya kalau dia memang sedang mengajaknya untuk liburan. “Baiklah aku percaya. Terserah kau saja, biasanya wanita yang selalu merencanakan perjalanan. Ke mana pun itu aku akan setuju.” Jaeha kembali bersandar di pundak Sena.
“Paris! Aku ingin ke Paris, tempat di mana dulu kamu tinggal. Bagaimana?” Jaeha sedikit kaget dengan permintaan sena untuk pergi ke Paris, tapi ia berusaha bersikap biasa.
“Kenapa kau ingin pergi ke Paris?”
“Aku kan sudah bilang, aku ingin mengunjungi tempat tinggal mu dulu. Ditambah lagi Paris itu kota romantis, aku ingin menghabiskan malam di Menara Eiffel bersamamu. Hm~ rasanya akan menyenangkan.”
“Tidak ada negara yang lain?”
“Kenapa? Kau takut mengulang masa lalu?”
“Masa lalu apa?” Elak Jaeha
“Siapa tau dengan mantan pacarmu, atau mantan yang lain.”
“Aku sudah tidak memikirkan mereka lagi.”
“Atau kau tidak ingin pergi ke sana? Kalau begitu ku bisa merekomendasikan tempat yang lain.” Sebenarnya Sena hanya memancing, ia tidak benar-benar ingin pergi ke Paris karena ia tak mau membuat memory baru di tempat yang menyimpan memory lama. Mau ditimpali pun Jaeha akan tetap mengingat masa lalunya, Sena ingin sedikit menghindari rasa sakit.
“Memangnya kapan kita pergi?”
“Minggu depan!”
“Minggu depan? Serius?”
“Kau tidak ada waktu?”
“Ada Suho Hyung.” Sena mengerti dari maksud perkataan itu, ia pun tersenyum, “Kita bicarakan lagi saja setelah sakit kepalaku sembuh, oke?” Jaeha pun memejamkan matanya, menikmati posisinya yang menurutnya benar-benar nyaman.
Di sebuah cafe
“Silahkan caramel macchiatonya.” Sujin menerima pesanannya, setelah seharian pergi ke sana kemari untuk survey masalah pekerjaannya, ia pun berniat untuk istirahat sejenak sambil menunggu Hyunjae selesai meeting di salah satu hotel yang tak jauh dari cafe tempatnya beristirahat sekarang.
Sujin pun kini larut dalam lamunannya, pikirannya yang semula kosong kini mulai kembali berpikir begitu melihat pasangan suami istri yang terlihat bahagia di luar sana.
‘Ternyata membina rumah tangga itu sulit ya, tapi memang tak semuanya sesulit itu, ada yang bahagia tak penuh dengan tipuan, ada juga yang sebenarnya tak bahagia tapi penuh dengan tipuan demi suatu tujuan. Jika nanti aku menikah dengan Hyunjae, jadinya akan seperti apa? Bagaimana jika tiba-tiba saja mantan kekasihya muncul dan mengaku sedang hamil anaknya, apa yang akan aku lakukan?’
“Permisi...” Kata sapaan itu membuat pikirannya kini buyar, Sujin melihat siapa orang yang menyapanya ternyata...
“Kau!” Sujin tidak suka dengan situasi ini, ia ingin pergi tapi jika tanpa alasan yang pasti itu pasti akan sangat membingungkan, jika hanya karena sapaan di supermarket itu malah berbuntut panjang ia pasti disebut perempuan gampangan.
“Kau calon istrinya Hyunjae kan? Apa boleh aku duduk di sini?” Sujin hanya mengangguk, ia memilih tak memulai pembicaraan apa pun, jika di tanya pun dia hanya akan menjawab seperlunya saja.
‘Lagi pula kenapa Helena harus menyapaku? Dia kan bisa pergi saja pura-pura tak melihatku. Maunya apa?’
Sujin pun mengetik pesan pada Hyunjae,
‘Masih lama? Aku dalam bahaya sekarang!’
“Hubungan kalian... baik-baik saja kan?” Helena mencoba untuk berbicara dengan Sujin, tak ada niatan terselubung, ia hanya ingin dekat dengan calon istri dari sahabat Jaeha yang sudah seperti sahabatnya sendiri.
“Baik.”
“Syukurlah, aku takut hubungan kalian tidak akur karena aku. saat di supermarket kau seperti tidak menyukaiku.”
Kata-kata terakhirnya tepat menusuk di hati Sujin, lagi pula kenapa ia harus merasa tidak enak? Lagi pula memang benar Sujin tak menyukai Helena. Tapi... bagaimana bisa Helena tidak tau kalau Jaeha sudah menikah? Jika mengetik nama Jaeha di situs pencarian pasti berita tentang pernikahannya akan ada. Dan juga... pikirannya mulai penuh kembali, ia lebih baik membicarakan ini dengan Hyunjae, sekarang semakin banyak pertanyaan yang mulai membuatnya penasaran.
Tapi Sujin jadi ingin memancing Helena, “Tapi kenapa kau bisa kenal dengan Hyunjae?” Ia menjilat ludahnya sendiri, tapi Sujin benar-benar penasaran sekarang.
“Hyunjae itu teman baik suamiku, mungkin bisa dibilang dia adalah orang yang paling dekat suamiku.”
“Aku pikir kau belum menikah. Kau tidak punya cincin pernikahan.” Ucap Sujin sambil menunjuk dengan matanya pada jari manis Helena.
“Hyunjae adalah sahabat baik dari suami pertamaku, aku meninggalkannya karena keluarga memaksaku untuk menikah dengan pria lain, aku tidak punya pilihan lain. Dan terjadilah kecelakaan itu, aku di rawat lama dan sekarang aku ingin kembali pada suami pertamaku.”
‘Aku rasa dia belum tau kalau aku adalah teman baik dari Sena, atau dia memang ingin bercerita tentang masalahnya padaku? Apa-apaan ini? Apa aku salah mengambil jalan?’
“Memangnya suami pertamamu belum menikah lagi? Kalau dia sudah menikah dan bahagia dengan istri barunya kenapa kau harus merebutnya?” Sujin sedikit kaget dengan apa yang sudah dia ucapkan, kata-kata itu meluncur begitu saja tak bisa terkendali. ‘Semoga Helena tak menyadari apapun.’
“Apa... aku tak bisa memilikinya lagi?”
“Merusak kebahagiaan kehidupan orang lain itu adalah hal yang terlarang, jika kau tetap memaksa tidak bukan itu, posisikan dulu dirimu di tempat istri dari suamimu itu. Apa kau sanggup jika ada orang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah tanggamu dan meminta untuk kembali? Apa kau sanggup jika di madu? Kau tidak akan bahagia.” Dalam hati Sujin mengeluh, kenapa kata-katanya terasa berbelit-belit?
“Aku di posisi perempuan itu?”
“Iya. Apalagi semisalkan kalau perempuan itu sedang hamil, harusnya mereka bahagia akan menyambut kelahiran anak mereka tapi malah terjadi masalah yang diluar dugaan. Kau akan bagaimana jika jadi perempuan itu? Dia mungkin suamimu dulu, tapi takdir sudah berubah. Kau pasti tau cinta itu tidak bisa dipaksakan. Jika dia sudah tidak ingin bersamamu, maka sudahi saja. Jangan pernah merusak kebahagiaan orang lain. Keegoisanmu, hanya akan membawa kesedihan dan luka bagi dirimu sendiri.”
‘Aku yakin kau juga sudah merasakannya, dasar keras kepala!’
Sujin melihat Hyunjae yang baru saja keluar dari mobil, ia pun segera berdiri, “Aku harus pergi.” Tanpa menunggu jawaban Helena, tapi Sujin kembali berhenti, "aku yakin kau orang yang baik." Sujin pun pergi ia tak ingin Hyunjae masuk ke dalam dan bertemu dengan Helena.
Ia masih sempat merutuki dirinya sendiri setelah mengucapkan kalimat terakhirnya itu.
Mereka pun bertemu di pintu, “Sayang, kau baik-baik saja? Kau bilang kau dalam bahaya!” Hyunjae mengecek semua bagian tubuh Sujin.
“Aku sudah bisa mengatasi bahaya itu. Kita bicara di mobil saja.”