
“Hyuna, bisa tolong kau bawakan ini ke meja makan?” Tanya Gyuri pada gadis kecil berusia delapan tahun tersebut, sejak tadi anak ikut membantu Gyuri dan yang lainnya memasak, katanya ia ingin menjadi koki yang profesional dan suatu saat nanti ia bisa membuka restorannya sendiri.
“Baik!”
Gyuri pun juga ikut mengantarkan piring berisi masakan yang lain ke meja makan, semua anak-anak sudah berkumpul di meja makan dengan rapih menunggu saat sarapan tiba. Seorang perempuan yang seumuran dengan Gyuri datang menghampirinya, “Eonni, apa kau tau di mana Minhyun? Dia masih belum datang tapi di kamarnya juga tidak ada.”
Gyuri terlihat berpikir, “Aku akan mencarinya, kalian sarapan saja duluan nanti kami berdua menyusul.”
“Baiklah.”
Gyuri pergi ke halaman depan di mana terdapat pohon besar yang berdiri kokoh di tengah-tengah, perempuan itu menghela nafas, “Minhyun ayo turun!”
Tidak ada jawaban, Gyuri tau bagian dahan dari pohon ini menjadi tempat pavorit Minhyun untuk bersantai bahkan merenung. “Minhyun!” Suara Gyuri semakin tegas. Dan saat itu juga anak itu meloncat turun dari atas. “Pagi-pagi begini kau sudah memanjat pohon!” Gyuri melihat piala yang di pegang Minhyun, “Sarapan dulu, kerjakan dulu tugasmu baru kau bisa memanjat pohon ini dan bersantai sampai kau puas.”
“Sena Noona, kapan Sena Noona akan datang? Kalau dia datang apa Jaeha Hyung juga akan datang?”
Entah yang keberapa kali Minhyun menanyakan hal itu padanya, memang sudah agak lama Sena tidak datang ke sini. Gyuri bisa maklum karena Sena sudah berumah tangga. Tapi Minhyun meskipun sudah diberitahu dan dia mengangguk mengerti tapi tetap saja ia akan bertanya lagi.
“Sena pasti datang, Jaeha juga pasti datang. Tapi kau harus sabar, kami semua juga merindukan mereka tapi sekarang mereka sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Kau bisa mengerti untuk itu kan?”
Meskipun dengan wajah yang cemberut, Minhyun tetap mengangguk. Minhyun ingin menunjukkan piala kemeanangannya dalam turnamen basket antar sekolah. Karena Jaeha, Minhyun jadi semakin bersemangat untuk terus berlatih dan memberikan prestasi yang terbaik. Ia ingin menunjukkan hal itu pada Sena dan Jaeha bahwa ia bisa menjadi juara.
“Ayo kita sarapan dulu.”
Tapi sebelum mereka mencapai pintu, suara klakson mobil membuat langkah mereka terhenti. Mereka berdua memperhatikan mobil tersebut, saat orang dari dalam mobil keluar, senyum bahagia Minhyun langsung mengembang,
“Hyung! Noona!” Anak itu langsung berlari dengan cepat menghampiri merek berdua, Jaeha yang sudah siap langsung memeluk Minhyun dengan erat. Sena pun ikut berjongkok dan ikut bergabung dalam pelukan mereka.
“Tepat sekali.” Ucap Gyuri yang baru saja mendekat
“Tepat apanya?” Sena pun berdiri dan memeluk Gyuri,
“Minhyun sangat merindukan kalian.”
“Hyung lihat! Aku mendapat juara satu dalam lomba basket antar sekolah! Kami juara pertama Hyung, Noona!”
“Kau hebat!” Jaeha mengusap-usap kepala Minhyun dengan gemas, “Kau sudah melakukan yang terbaik. Tapi ingat, jangan pernah cepat berpuas diri dengan prestasimu yang sekarang, masih ada prestasi lain yang harus kau kejar.”
“Pastinya Hyung! Aku akan lebih semangat lagi belajar!” Mata Minhyun kini terlihat bersemangat, ia benar-benar berubah setelah bertemu Sena dan Jaeha.
“Nilai pelajaranmu bagaimana?” Tanya Sena,
“Untunglah nilai pelajarannya tidak terganggu. Malah makin bertambah bagus.”
Kini Sena yang mengusap kepala Minyun, “Anak pintar. Tetap pertahankan itu ya?” Minhyun mengangguk dengan penuh keyakinan.
“Oh iya, apa kalian sudah sarapan? Kalau belum ayo kita sarapan bersama.”
Minhyun langsung menarik tangan Sena dan Jaeha tanpa menunggu dulu jawaban mereka, anak itu sangat senang karena bisa melepas kerinduannya yang sudah tertahan lama.
Selesai sarapan, Sena ikut membantu mencuci piring sedangkan Jaeha membantu anak-anak yang lain mengerjakan tugas bersih-bersih.
Gyuri datang membawa tumpukan piring kotor yang terakhir, “Silahkan.”
“Siap laksanakan!” Mereka berdua pun tertawa,
“Kenapa kau datang pagi sekali ke sini? Itu bukan pertanda kau akan seharian di sini kan?”
“Kau sepertinya tidak merindukanku?”
“Memang tidak.” Jawab Gyuri dengan datar, tapi kemudian dia tersenyum
“Aku ingin mengunjungi panti asuhan yang lain seharian ini,” Sena berbisik pada Gyuri, “Aku meminta Jaeha untuk bolos kerja.”
“Dan suamimu mau saja menuruti permintaan yang tidak baik itu.” Sena malah tertawa geli,
“Sebelum liburan aku ingin pergi mengunjungi kalian dulu, karena besok aku harus mempersiapkan barang bawaan jadi aku sempatkan hari ini.”
“Liburan? Honeymoon ke dua? Wah! Aku iri.”
“Maka dari itu cepatlah menikah, jangan terlalu lama betah sendiri. bagaimana jika kau jadi perawan tua?”
“Kau mengataiku seperti itu aku harap kau segera punya anak.”
“Gyuri...”
“hm?”
“Jaga anak-anak dengan baik ya?”
“Tentu saja, kami di sini akan menjaga mereka dengan baik. Kau ini bicara apa sih?”
“Aku hanya mengingatkan. Siapa tau jika kau menemukan cinta sejatimu kau akan jadi tergila-gila dengannya dan lupa dengan anak-anak.”
“Akan kujadikan pacarkan sebagai nomor dua. Kau tenang saja Sena, mereka akan jadi anak-anak yang baik, berbakti dan bertanggung jawab. Mereka akan menjadi anak-anak yang membuat kita bangga.”
“Aku percaya itu.” Ucap Sena sambil tersenyum,
Setelah kiranya kunjungan mereka selesai, Sena dan Jaeha berencana untuk pergi ke tempat mereka selanjutnya, mereka pun berpamitan dan diantar oleh anak-anak dan pengurus panti.
“Hyung, Noona! Kalian akan datang ke sini lagi kan?” Tanya Minhyun
“Kapan kalian akan ke sini lagi?” Tanya Sisi
Sena pun berjongkok agar bisa sejajar dengan anak-anak itu, “Tentu saja, kami akan berkunjung lagi ke sini. Kalian bersedia menunggu kami kan?”
Anak-anak itu pun mengangguk, ‘Mungkin ke depannya Jaeha sendiri yang akan datang mengunjungi kalian. Maafkan aku anak-anak. Mungkin ini akan jadi pertemuan kita yang terakhir.’
“Kami pergi dulu ya.” Ucap Jaeha, anak-anak itu pun mengangguk mereka melambaikan tangan pada Sena dan Jaeha diiringi dengan senyuman. Sena ingin sekali menangis, tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum untuk mereka dan juga Jaeha. Untunglah Jaeha juga tidak curiga kenapa Sena meminta untuk menemaninya hari ini hingga meminta Jaeha untuk bolos, Jaeha hanya berpikir ini perpisahan sebelum mereka pergi liburan dan karena sudah lama juga Sena tidak berkunjung.
Pemberhentian mereka selanjutnya adalah tempat pemakaman, Sena berencana untuk mengunjungi makam Sora lebih dulu sebelum ke panti asuhan. Sebuah buket bunga lily putih diletakan Sena, ia mengusap puasa Sora seakan sedang membelai kepala anak itu.
“Kakak datang Sora, kami datang.” Air mata Sena mulai mengalir begitu melihat foto Sora yang sedang tersenyum manis di pusaranya. “Sudah lama ya kita tidak bertemu, kau baik-baik saja kan?” Suara Sena mulai bergetar, Jaeha pun mengusap pundak Sena agar istrinya itu bisa tenang.
“Sora, kami akan pergi liburan. Kau mau ikut dengan kami? Kami akan pergi ke sebuah desa yang paling indah di dunia. Di sana ada sebuah danau yang indah dikelilingi perbukitan dan udara yang sejuk. Kau pasti akan sangat menyukainya.”
“Kau bilang hanya ingin pergi berdua denganku.”
“Sora, abaikan saja apa yang barusan dia katakan. Kau termasuk ke dalam pengecualian. Kau boleh ikut dengan kami.” Jaeha pun tersenyum, ia lega karena Sena tak terlalu larut dalam kesedihannya.
‘Sora, kau pasti tau aku sekarang tidak sendirian. Ada nyawa lain yang harus ku jaga dengan baik. Sora, tolong bantu Kakak untuk menjaga dia ya? Kau mau kan?’
Jaeha mengajak Sena untuk pergi ke tempat selanjutnya karena mereka tidak punya banyak waktu, “Lain kali Kakak akan mengunjungimu lagi. Sampai jumpa Sora.”
Seolhyun menyambut kedatangan mereka dengan senang, begitu pula anak-anak yang lain. “Ini sudah sangat lama. Bagiamana kabar kalian?”
“Kabar kami baik. Anak-anak sehat semua kan?”
“Mereka sehat-sehat. Oh iya, Mina sedang ikut kompetisi piano, besok adalah hari final.”
“Benarkah? Aku sangat bahagia mendengarnya. Di mana dia sekarang?”
“Aku rasa dia sedang latihan, kau mau menemuinya?” Sena mengangguk, “Mina pasti akan sangat senang, ayo!”
Saat Sena masuk, anak-anak yang sedang menemani Mina hampir saja berteriak jika Sena tak memberikan isyarat agar mereka diam.
Sena dan yang lainnya menikmati alunan musik yang Mina mainkan, lembut dan sangat menyentuh. Saat Mina selesai memainkan musiknya semua orang memberikan tepuk tangan. “Lagunya sangat bagus, Mina.”
Anak itu langsung berbalik begitu mendengar suara Sena, ia tersenyum senang dan langsung lari ke dalam pelukan Sena. “Kakak! Kapan kakak datang?”
“Baru saja. Seolhyun mengatakan kalau kau sedang ikut lomba, kau hebat. Kakak bangga padamu.”
“Besok adalah final, aku sangat gugup. Aku takut akan melakukan kesalahan.”
“Melakukan kesalahan adalah hal yang wajar, setiap orang sering melakukannya meskipun orang itu sudah pro sekalipun. Asalkan kita bisa lebih fokus dan teliti pasti kesalahan itu tidak akan terulang lagi, dan jangan lupa berlatih yang rajin.”
“Eung! Arraseo, Eonni.” Mina sadar dengan kehadiran Jaeha, “Oppa, annyeong haseyo! Terima kasih untuk pianonya, aku jadi bisa belajar lebih banyak dan bisa ikut lomba. Sekali lagi terima kasih.”
“Sama-sama. Itu juga karena Sena, aku jadi tidak salah memilih hadiah. Rajinlah berlatih dan semangat untuk besok. Kami akan mendoakanmu agar kau bisa menang.” Mina mengangguk dengan semangat, ia akan melakukan yang terbaik untuk besok. “Dan kalian juga harus belajar yang rajin ya? Kalian harus menjadi orang-orang yang hebat.”
“Ne!!”
Sena merasa bahagia, ia merasa perpisahan ini tak terlalu buruk dan tidak begitu menyedihkan. Anak-anak ini bisa membuatnya tersenyum dalam kepahitan, mereka adalah anak-anak yang luar biasa baginya.