Maybe I Love You

Maybe I Love You
66. Yang Terlihat



Suho berjalan pergi ke ruangan Jaeha, sebenarnya ia bingung apa harus ia memberitahukan berita ini pada Jaeha atau tidak? Dia tidak tau reaksi apa yang akan Jaeha beirikan ketika ia melihat foto yang ia bawa. Tapi Jaeha sedang mencari Sena, Jaeha terus menunggu dan menunggu, sekarang semuanya seperti serba salah.


Foto itu tiba-tiba datang beberapa hari yang lalu, tidak tau dikirim dari siapa, hanya ada catatan kecil yang menjelaskan satu hal penting.


Suho melihat Jaeha sedang sibuk dengan beberapa dokumennya, “Ada apa Hyung? Bukankah kau harus bersiap pergi ke Thailand untuk melihat resort yang sedang kita bangun?”


“Aku ingin memberikan sesuatu untukmu.” Suho menyimpan amplop yang ia bawa di hadapan Jaeha,


Jaeha yang terlihat bingung menatap Suho sejenak kemudian perlahan membuka amplop yang di berikan Suho.


Suho bisa melihat ekspresi syok dan terkejut dari wajah Jaeha, ia juga bisa melihat tangan Jaeha dengan cepat membuka lembaran demi lembaran foto yang ia pegang.


“Sena ada di Amsterdam, dia bersama dengan orang bernama Leon Kim di sana. Setelah ku cari tahu Leon adalah—“


Jaeha mengangkat telapak tangannya pertanda Suho tidak boleh bicara lagi padanya, “Kau boleh pergi hyung.” Ucap Jaeha dengan suara yang gemetar,


“Aku belum selesai bicara—“


“Aku bilang pergi Hyung! Aku tidak ingin menyakitimu jadi pergi!” Teriak Jaeha,


Jaeha sudah salah paham, Suho seharusnya ia bicara sejak tadi sebelum memberikan fotonya, seharusnya ia tetap bicara meskipun Jaeha melarangnya, ia sendiri juga yang salah. Wajar juga kalau Jaeha salah paham, orang yang paling dicarinya terlihat bahagia bersama pria lain, Suho memaklumi itu, tapi dia juga kesal karena Jaeha bisa langsung percaya begitu saja! Tidak ada cara yang bisa ia lakukan sekarang, ia harus menuruti perintah Jaeha untuk pergi.



Jaeha meremas lembaran foto Sena bersama Leon, Jaeha bisa berpikir kalau Leon adalah teman Sena tapi fakta yang ada membuatnya berpkiran lain. Ia melihat Sena dengan perutnya yang terlihat besar sedang tertawa bahagia bersama Leon di sebuah acara festival, bagaimana mungkin mereka hanya teman? Jelas Sena sedang hamil dan suaminya adalah pria yang sedang bersamanya!


Jaeha terluka karena Sena benar-benar sudah melupakannya meskipun ia belum menyetujui perceraian mereka. Kenapa Sena harus buru-buru menikah dengan orang lain? Jaeha pikir Sena masih mencintainya setelah apa yang mereka lewati bersama, Jaeha bahkan segera mengklarifikasi hubungannya dengan Helena agar Sena melihatnya, agar Sena bisa tau dan segera kembali ke dalam pelukannya, tapi buktinya?


“Aaaarrgghhh!!!”


Praaaang!!!!


Jaeha melempar gelas yang ada di hadapannya, semua benda yang ada di meja kerjanya berjatuhan ke lantai. Untuk yang kedua kalinya ia menangis begitu terluka karena ditinggalkan orang yang ia cintai dengan cara yang sama. Jaeha memukul dadanya yang terasa sesak tubuhnya merosot ke lantai, air matanya terus mengalir membasahi lembaran foto yang kini berserakan di lantai.


Jaeha selalu mengharapkan ada berita baik, ia selalu mengharapkan Sena akan kembali padanya, kesedihannya akan segera berakhir, penantian panjangnya akan segera berakhir tapi...


“Kenapa kau melakukan ini padaku?! Kenapa?!!!!!”


Meskipun Jaeha sudah melarangnya untuk tidak datang lagi ke rumah, tapi Helena tetap datang. Meskipun ia takut tapi ia tak bisa membiarkan Jaeha terus menyakiti dirinya sendiri. Jaeha masih tidak nafsu makan, jelas sekali terlihat kalau tubuh Jaeha semakin kurus. Apalagi Jaeha kembali jadi seorang pemabuk, ia melampiaskannya pada minuman.


Bibi Hanmi tau siapa Helena setelah Paman Bong memberitahu dirinya, tapi jika sudah berhadapan langsung dan Helena juga meminta dengan baik untuk masuk Bibi Hanmi tak bisa bertindak untuk melarang. Helena datang bukan untuk mengambil alih tempat Sena sebagai nyonya dari rumah ini, Helena datang hanya sebagai teman dan karena ia terus merasa khawatir pada Jaeha.


Saar Helena tengah memasak bubur dibantu Bibi Hanmi, tiba-tiba pintu utama terbuka dengan keras membuat Helena dan juga Bibi Hanmiterkejut, “Bibi tolong lanjutkan masak buburnya.”


Helena segera berlari ke arah pintu, ia terkejut melihat Jaeha yang dibopong oleh supir karena mabuk berat,


“Bawa dia ke kamarnya!”


Sang supir membaringkan Jaeha di ranjangnya, “Kau boleh pergi!” Ucap Helena


Perempuan itu melepas sepatu dan kaos kaki Jaeha agar bisa istirahat dengan nyaman, tangannya beralih melepas dasi yang masih terpasang di leher Jaeha, tanpa terasa air matanya jatuh, Helena tidak tega melihat orang yang ia sayangi menderita.


“Sena... Sena!”


Helena mengambil ponselnya ia menekan tombol panggil pada salah satu nama di daftar panggilannya,


“Aku ingin bertemu!”


Helena kini duduk berhadapan dengan Minho, ia mengatakan kalau dirinya ingin kembali ke Prancis ia ingin pergi dari kehidupan Jaeha. Ia harap Minho tidak menghalanginya lagi kali ini.


“Kenapa kau ingin pergi? Bukankah kau seharusnya bertahan sampai kau bisa mendapatkan kembali hati Jaeha? Sena juga sudah pergi, kau sudah menjadi istri satu-satunya Jaeha sekarang”


“Sampai kapanpun aku tidak akan bisa mendapatkan hatinya kembali, aku sudah tidak ada lagi dalam hatinya. Ia mencintai Sena itu faktanya. Kau sendiri juga tau, kalau kami sudah resmi bercerai dan publik sudah tau itu. Aku bukan lagi istrinya.”


“Buat Jaeha menandatangani surat perceraiannya dengan Sena, semuanya akan selesai dan kau bisa menikah kembali dengannya!”


“Dia tidak akan pernah menandatangani surat itu, aku tidak bisa melihatnya menjadi seorang pemabuk dan terus melihatnya terluka bahkan menangis setiap malam karena merindukan Sena, aku tidak tega!” Helena kembali meneteskan air matanya, “Aku mohon cari Sena, bawa dia kembali pada Jaeha!”


“Kau benar-benar akan menyerah begitu saja setelah semua yang aku lakukan untukmu agar kau kembali ke sisi Jaeha?”


“Kalau kau ingin aku membalas semua yang kau lakukan aku akan melakukannya, tapi aku mohon cari Sena dan bawa dia kembali pada Jaeha.”


“Aku memang sedang mencarinya tapi tidak untuk Jaeha.”


“Apa kau akan terus begini? Apa kau akan terus egois dengan mengorbankan perasaan orang yang saling mencintai?! Kau tidak berhak memisahkan orang yang saling membutuhkan satu sama lain! Apa kau senang melihat Sena terluka? Karena kita Sena pergi dia meninggalkanmu dan dia tidak kembali ke pelukanmu, karena kita juga Jaeha terluka. Semua karena kita!”


“Pelankan suaramu!”


“Tolong pikirkan kebahagiaan Sena, orang yang kau cintai orang yang sangat kau sayangi! Apa kau senang melihatnya terluka dan melihatnya terus bersedih? Hilangkan keegoisanmu karena Sena tidak mencintaimu dan dia tidak akan pernah bahagia bersamamu! Kebahagiaannya hanya bersama Jaeha kau harus tau itu!”


Helena berdiri berniat meninggalkan Minho, “Sekali lagi terima kasih karena kau menyelamatkanku dan mempertemukanku dengan Jaeha, aku akan membalas semua kebaikanmu jika kau memang menginginkannya. Aku akan pergi besok, sekali lagi terima kasih.”


Minho terdiam mendengar semua perkataan Helena, perkataan perempuan itu sedikit mengusik egonya. Minho mencoba menetralkan kembali pikirannya, yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari Sena, ia ingin bertemu dengan Sena.


Helena membereskan pakaiannya ke dalam koper, ia mengambil selembar foto di laci fotonya bersama Jaeha saat mereka menikah. Helena mengambilnya dari kamar Jaeha agar pria itu tidak lagi mengingatnya, hanya dirinya yang akan mengingat semua hal yang pernah ia lakukan bersama dengan Jaeha. Ia menatap foto kebersamaannya itu dengan senyuman, hanya foto itu kenangan satu-satunya yang ia punya.


Leon yang kini tengah bersama dengan Mera terlihat khawatir melihat raut wajah adiknya itu, “Ada apa? Kau terlihat tidak tenang.”


“Aku tidak tau, perasaanku tidak enak tapi entah karena apa. Diatambah lagi dia terus saja tidak diam.” Mera mengusap perutnya,


“Wajar saja, diakan laki-laki. Jangan terlalu dipikirkan, kau ingin sesuatu?” Tanya Leon


“Aku sedang tidak ingin apapun, apa belum ada kabar dari Nenek soal Jaeha?”


Leon menggeleng, “Nenek hanya menanyakan kabarmu karena kau tidak menjawab telepon darinya tadi. Kau benar-benar ingin bercerai dengan Jaeha?”


“Aku... aku ingin tidur siang.”


Tidak! Sebenarnya Mera tidak ingin bercerai dengan Jaeha, ia ingin bersama dengan pria itu seumur hidupnya, ia ingin mengurus buah hati mereka bersama-sama. Tapi ia sadar Jaeha bukan untuknya, Jaeha milik orang lain dirinya hanya orang yang menumpang sementara dalam jalan kehidupan Jaeha. Kata hatinya selalu berharap kalau surat cerai itu tidak pernah disetujui oleh Jaeha, tapi ia tidak tau pasti. ia hanya bisa berharap.


---#---


**Aku kalah deh🏳🏳 lagi dipikirin juga sih mau jadi seminggu 2x. Tapi kalo gitu jadi cepet tamat? Gimana?


Like dan komen juga vote kalian adalah semangatku 💪 makasih ya 😘😘💕💕💕💕**