Maybe I Love You

Maybe I Love You
23. Takut



“aku akan pulang 2 hari lagi!”



“iya iya! Terserah saja! aku sudah bosan kau terus bilang seperti itu padaku! Dan lagi, apa kau tidak kerja?” acara belanja dengan tenang pun terganggu karena Jaeha tak mau mematikan panggilannya, tadinya ia ingin bebas memiliki waktu sendirian untuk bersantai tapi Jaeha malah mengganggunya.



“sudah tidak ada kerjaan, pekerjaanku sudah selesai. Apa aku harus terus kerja tanpa istirahat? Kau ini istri yang paling tega!”



“sebentar, kenapa kau jadi seperti anak manja?”



“aku merindukanmu.”



“tapi aku tidak merindukanmu!” untung saja ini bukan video call, meskipun di mulut bilang tidak, seolah mengatakan kalau perasaan yang sebenarnya bukanlah apa yang ia ucapkan, lain di mulut lain di hati.



“oke, kalau begitu aku tidak akan jadi memberikan oleh-oleh ini padamu.”



“tak diberipun aku tidak masalah.”



“asalkan aku pulang dengan selamatkan?”



Deg! ‘kenapa dia bisa tau?’ batin Sena



“tentu saja kau harus pulang dengan selamat! Kau tidak memikirkan orang tuamu?”



“aku hanya penumpang, nyawaku ada di tangan pilot. Kau harus bicara padanya agar pesawat dikendalikan dengan benar nanti.”



“perlahan aku mulai ingat kalau kau dari kecil memang sangat menyebalkan dan pandai bicara!”



“sengaja, agar kau cepat mengingatku. Agar kau bisa lepas dari Minho!”



Setelah memesan minuman, Sena duduk di kursi dekat kaca ia menikmati pemandangan orang-orang yang lewat bahkan kendaraan yang tak ada habisnya.



“kau masih di sanakan?” mungkin karena tidak ada jawaban



“ya aku di sini. kau sepertinya curigaan sekali padaku, kenapa kau tidak sekalian mengirimkan seseorang untuk mengikutiku biar kau percaya aku tidak pernah pergi berdua dengan Minho! Aku selalu pergi sendiri.”



“oke kalau itu maumu.”



“kau serius?! Kau benar-benar memenjarakanku!”



“bercanda. Iya aku percaya padamu, maaf jika aku terus bicara seperti itu padamu.”



“apa kau menyukaiku?!”



Kalimat langsung itu membuat Jaeha terdiam, Sena sendiri yang menanyakannya terkejut kenapa dia malah menanyakan itu pada Jaeha.



‘bodoh!’ ia benar-benar menyesal kenapa menanyakan itu pada Jaeha,



“aku...”



“sudah dulu, baterai ponselku habis. Dah!”


Entah kenapa Sena tak ingin mendengarnya, ia lebih menutup panggilannya sebelum mengatakan jawabannya.



‘apa aku ketakutan?’



Sena kembali berjalan menyusuri jalanan melewati pertokoan, ia berhenti sebentar di toko bunga ia tertarik melihat bunga yang begitu segar.



“mereka sangat cantik. Permisi, bisa kau berikan aku bunga berwarna biru, kuning dan putih. Bunga apa saja boleh.”



“tentu saja, aku akan memilihkannya untukmu. Tunggu sebentar ya.”



Saat sedang menunggu Sena tanpa sengaja melirik ke arah sebuah toko kue, ia memperhatikan beberapa kue yang terpajang di etalase membuatnya benar-benar tergiur.



Matanya tak lepas dari seorang wanita yang baru keluar dari toko tersebut, mimik wajahnya mulai berubah kedua matanya membesar ia jelas ingat siapa wanita itu.



“Helena!” gumam Sena



Ia serba salah, ia ingin mengejar Helena tapi bunga yang ia pesan belum datang. ia terus memperhatikan orang tersebut berusaha agar tak hilang dari pandangannya karena begitu banyak orang hari ini.



“ini bungamu nona.”



“ini uangnya, kembaliannya ambil saja!” Sena cepat berlari menerobos kerumunan orang-orang yang berjalan ke arah yang berlawanan dengannya, begitu ia akan segera sampai Helena malah lebih dulu masuk ke dalam taxi.



‘apa aku salah lihat? tapi aku yakin dia Helena! Aku harus ikuti dia!’



“taxi!”



Sena mengikuti wanita tersebut, meskipun jalanan cukup ramai tapi masih bisa terkejar.



“hari apa sih ini?! kenapa banyak sekali kendaraan?! Aku akan membayarmu 2 kali lipat tapi ikuti taxi itu”



Sayangnya taxi yang ditumpangi Sena malah terhenti karena lampu merah, sedangkan taxi wanita itu sudah pergi lebih dulu.



“ya ampun kenapa lama sekali?! terobos saja pak!”



“tidak bisa nona! Saya tidak bisa melanggar aturan.”




‘kenapa? kenapa aku harus merasa takut?!’



tapi kemudian Sena tersadar kenapa ia harus melakukan semua ini sampai ia harus merasa takut, harus mengejar taxi yang ditumpangi seorang wanita yang mirip dengan Helena? Bisa saja hanya mirip, atau bahkan dia berhalusinasi!



‘kenapa? kenapa kau harus bertindak seperti ini Sena?!’



“mungkinkah aku mencintainya? Apa mungkin aku menyukainya? Takut kehilangannya?”



“pak putar balik saja!”



“baik nona.”



Sena membayar ongkos taxi seperti yang ia janjikan, walaupun si supir tidak menerima karena ia tidak menjalankan tugasnya tapi Sena tetap memaksa agar mau menerimanya. Ia masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang bimbang.



“Sena? Sena?!”



Sena tersadar oleh panggilan kedua Bibi Hanmi, “apa terjadi sesuatu? Wajahmu...”



“tidak, tidak terjadi apa-apa. bisa tolong ambilkan vas bunga?”



“tentu, kau ingin merangkainya sendiri?”



“ya, aku akan mencobanya.”



**



Tepat jam 6 pagi Jaeha sampai di rumahnya, ia sengaja berbohong pada Sena karena ingin mengejutkannya.



“dia baik-baik saja kan kemarin?” tanya Jaeha pada Bibi Hanmi



“entahlah, aku lihat dia kurang baik tapi Sena bilang dia baik-baik saja. bahkan makan malam pun hanya sedikit.”



“bibi tolong buatkan bubur abalone saja untuk sarapannya hari ini.”



“baiklah, aku akan membuatnya.”



Khawatir? Iya. Karena kemarin Sena masih biasa saja waktu di telepon olehnya, dengan pelan Jaeha membuka pintu kamar istrinya itu. ia melihat Sena tidur meringkuk dengan nyenyak, dengan pelan Jaeha duduk di pinggir ranjang tangannya terulur membenarkan rambut yang menutupi wajah Sena karena hal itu menutupi waja istrinya membuatnya tidak puas.



Sepertinya sentuhan tangan Jaeha mengusik tidur Sena, ia mulai meregangkan tubuhnya matanya mulai terbuka membiasakan diri dengan cahaya lampu tidur yang masih menyala, ia mulai merasa tergangu ketika melihat seseorang duduk di ranjangnya, ia berusaha tenang dan mengucek matanya kembali.



“jangan di kucek, nanti matamu iritasi.”



“ini mimpi?”



“apa mimpi bisa seperti ini? kau tidak mau menyambut kedatanganku?”



“Jaeha? Ini kau?”



“ya... istriku... aku pulang.” ucap Jaeha dengan nada yang lembut



Hatinya berdesir begitu ia mendengar kalimat itu, ia merasa benar-benar hangat. Kini ia bisa dengan jelas melihat wajah Jaeha yang tengah tersenyum lembut padanya. Jaeha membantu hyerim untuk bangun dari posisi tidurnya, kini mereka bisa berhadapan dengan sangat dekat.



“boleh aku memelukmu?”



Sena tak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Jaeha, ia kembali merasa takut, perasaan aneh itu datang lagi, perasaan yang membuatnya gelisah kemarin kini datang lagi bahkan semakin menjadi.



Sena mengangguk tanpa bicara membuat Jaeha langsung memeluknya dengan erat. “akhirnya,”



Sena kini balas memeluk Jaeha, bahkan mungkin lebih erat daripada Jaeha memeluknya. ‘aku... mungkin merindukanmu juga... Jaeha’



Pelukan mereka terlepas, Jaeha mengusap lembut pipi Sena dengan penuh sayang. Pandangannya tertuju pada bibir Sena, ia mendekat membuat tubuh Sena menegang tapi tak mengelak atau bahkan melarang Jaeha untuk menciumnya.



Jaeha pikir Sena tidak akan membalas ciumannya tapi ternyata diluar dugaannya, dengan perlakuan Sena yang seperti ini Jaeha tak bisa menahan dirinya lagi untuk lebih dekat dengan Sena, ia kembali membaringkan Sena di kasurnya tanpa melepas ciuman mereka. tangan Sena kini bahkan memeluk leher Jaeha dengan erat ia bahkan sudah tak berpikiran apa-apa lagi yang ia sadari saat ini ia hanya merasa nyaman dan ia menginginkan apa yang Jaeha inginkan.



Paman Bong masuk ke dapur, ia melihat semangkuk bubur yang sudah hampir dingin di meja makan.



“apa kau sakit? Kenapa masak bubur?”



“itu bukan untukku, itu untuk Sena, Jaeha menyuruhku membuat bubur saja untuk sarapan hari ini.”



“lalu kenapa Sena belum memakannya?”



“kau ini sudah tua, sudah berpengalaman tapi tak mengerti situasi, apa aku harus mengatakannya baru kau mengerti?”



“aaah~ benar-benar! Sepertinya aku mulai pikun.”



“biarkan saja mereka melepaskan rindu lebih dulu.” Bibi Hanmi tersenyum begitu juga Paman Bong.



“mereka pasti akan sangat kelaparan nanti, tambah lagi porsinya.”