
**Fix deh ini bonus terakhir 😂 kesananya mah normal lagi. Gara2 godaan kalian jadinya pengen up mulu nih.. Ditunggu like nya ya 😉
Oh iya, kalo bisa bacanya sambil dengerin lagu sedih ya, biar rada gimana gitu.. 😁 Selamat membaca**!!
---------------------------------------
Jaeha kini berhadapan dengan Ayah dan Ibunya, Nyonya Park terlihat memijit kepalanya ia benar-benar tidak tau kalau ternyata putranya sudah menikah diam-diam dengan Helena. Ia benar-benar tak menyangka akan terjadi berita besar seperti ini di pagi hari yang
biasanya begitu tenang.
“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Tuan Park setelah mendengar penjelasan Jaeha, “Kau akan memilih siapa diantara mereka?”
“Kenapa kau tidak bilang pada kami kalau kau sudah menikah? Sebenarnya apa rencanamu?!” Tanya Nyonya Park penuh emosi, “Kau bahkan tidak memberitahuku kalau Helena ada di Seoul dan dia masih hidup!”
“Waktu itu aku ingin memberitahu kalian jika waktunya sudah tepat, tapi ternyata Helena menikah dengan orang lain.”
“Kau benar-benar ceroboh! Kami tidak akan pernah melarangmu menikah dengan Helena kalau pun kau bilang lebih dulu pada kami! Kau pikir kami itu siapa?” Tuan Park terlihat kecewa dengan tindakan Jaeha, “Lalu apa yang akan kau lakukan? Tetap bersama Sena atau kembali pada Helena?”
Nyonya Park khawatir dengan Sena, menantunya itu pasti sudah tau soal kabar berita ini, “Bagaimana Sena? Dimana dia sekarang?" Nyonya Park tiba-tiba teringat sesuatu, "Pantas saja waktu itu dia menanyakan...”
“Yeobo tenang, kita harus dengan jawabannya lebih dulu.”
“Menanyakan apa Bu?” Jaeha penasaran dengan kalimat lanjutannya
“Sena menanyakan siapa mantan kekasihmu, sejauh mana hubungan kalian apa kalian pernah menikah, tiba-tiba dia bertanya siapa Helena Ibu pikir---”
“Maksud Ibu dia sudah tau lebih dulu kalau aku sudah menikah dengan Helena?”
“Ibu tidak tau, dia hanya menanyakan itu pada Ibu. Ibu pikir kau sudah menceritakan masa lalumu pada Sena, Ibu menyuruh Sena untuk menanyakannya langsung padamu tapi dia tidak mau.”
Jika itu memang benar, Jaeha benar-benar merasa bersalah, jika memang benar Sena sudah tau masa lalunya emosi Sena saat itu bukan hanya emosi soal janji yang tak ia tepati, tapi emosi karena Sena sudah tau ia bertemu dengan siapa!
“Kau harus memilih, karena kau tidak akan mungkin mendapatkan mereka berdua. Kami tidak akan setuju!”
“Ayah aku ingin menemui Sena, aku akan menjelaskan semua padanya!”
“Kau belum memberitahunya sampai sekarang soal hubungan pernikahanmu dengan Helena?” Nyonya Park terkejut dengan perkataan putranya, apalagi setelah melihat isyarat jawaban tidak dari putranya
“Apa sebenarnya yang kau lakukan selama ini!? Bagaimana kau akan menghadapinya sekarang!? Jika benar Sena sudah sadar soal hubunganmu sejak awal, apa kau bisa membayangkan bagaimana terlukanya dia?! Apalagi secara diam-diam kau bertemu dengan Helena di belakangnya! Ya Tuhan... Jaeha!!” Tuan Park menenangkan istrinya, dengan isyarat matanya ia menyuruh Jaeha untuk pergi menemui Sena,
“Yeobo apa yang kau lakukan? Aku belum selesai bicara dengan Jaeha!”
“Biarkan dia menyelesaikan urusannya sendiri, mereka sudah dewasa mereka bukan anak-anak lagi kita tidak harus ikut campur dengan urusan mereka!”
“Tapi kelakuan putramu itu sudah keterlaluan! Sena bahkan bertanya padaku apa Jaeha sudah pernah menikah atau tidak dan aku tertawa dengan pertanyaannya itu! Sena-ya~” Nyonya Park terduduk lemas, Tuan Park memeluk istrinya untuk menenangkannya
“Semuanya akan baik-baik saja, tenanglah!”
Jaeha terburu-buru keluar dari mobil, Paman Bong yang belum mengetahui berita tersebut buru-buru masuk untuk memberitahu Bibi Hanmi kalau Jaeha sudah datang. “Kita diam saja. aku tidak bisa mengatakan pada Jaeha kalau Sena sudah pergi dari rumah.” Ucap Bibi Hanmi
“Kau harus mengatakannya, kasihan Jaeha.”
“Sena berkata kalau aku tidak boleh memberitahu Jaeha, aku tidak tau siapa yang salah di sini. Aku masih belum bisa menerima sepenuhnya masalah perceraian ini dan juga kepergian Sena. Jika kau memang berniat memberitahu Jaeha silahkan.” Paman Bong ragu, tapi kemudian paman malah terdiam di dapur bersama Bibi Hanmi, Bibi Hanmi keluar pun Paman Bong ikut keluar.
“Sena!” Teriak Jaeha dari tangga sambil berlari menuju ke kamar Sena, “Sena kau ada di dalamkan?” Tak kunjung dibuka Jaeha akhirnya membuka pintu kamar tersebut, tapi ruangan itu kosong. Rasa takut Jaeha kian besar, ia mebuka lemari, laci bahkan kamar mandi tapi barang-barang Sena sudah tidak ada di tempat. Kosong... semuanya kosong.
“Tidak. Tidak mungkin. Bi! Bibi!” Jaeha berlari menuju dapur, tapi Bibi dan Paman tidak menunjukkan diri saat Jaeha memanggil mereka. Jaeha menemukan catatan kecil kalau Bibi dan Paman sedang keluar berbelanja.
“Bi, Sena tidak mungkin pergi kan Bi?!!! Sena keluar!!!! Sena!!!!”
Bibi Hanmi dan Paman Bong yang berdiam di halaman belakang memejamkan mata mendengar teriakan Jaeha yang terus memanggil nama Sena. Paman Bong pun memeluk istrinya agar bisa tenang.
Helena syok membaca berita pagi itu, ia tak menyangka jika kartu as Minho adalah memberitakan pada publik tentang status pernikahannya dengan Jaeha. Ia pun menghubungi Minho, dan untungnya pria itu mengangkat panggilan telepon darinya.
“Jadi ini kartu rahasiamu?”
“Kartu rahasia?” Suara Minho terdengar serak, Helena berpikir pasti pria itu baru bangun dari tidur lelapnya.
“Kau akan berpura-pura tidak tau? Padahal kau jelas-jelas membuat sebuah berita mengenai status pernikahanku dengan Jaeha bahkan kau juga memasukkan foto kami!”
“Berita?”
Helena yakin sekarang Minho sedang mengecek berita yang ia maksud karena Minho tak kunjung bicara.
“Apa ini?”
“Apa ini apa? Kau bilang kau punya kartu as, dan ternyata ini?”
“Aku bahkan belum melakukan apapun!”
“Apa?”
Sambungan telepon terputus,
“Halo!”
Minho melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari tangan kanannya, ia pun menghubungi orang itu kembali.
“Kau sudah menyerahkan beritanya?”
“Justru aku belum menyerahkannya, tapi tiba-tiba pagi ini berita itu sudah keluar.”
“Lalu siapa yang tau rahasia Jaeha selain kita?”
Minho tiba-tiba ingat saat direstoran Sena berkata kalau keinginannya akan segera terwujud, ‘Inikah yang kau maksud?’
“Siapa lagi pagi-pagi begini?”
Minho membuka pintu dengan kesal, si tamu langsung menerobos masuk begitu pintu rumah terbuka membuat Minho ikut terdorong masuk, “Menerobos masuk ke dalam rumah orang kau tau itu pelanggaran bukan?!” Jaeha tak mendengarkan kata-kata Minho, ia hanya fokus untuk bisa menemukan Sena di setiap sudut rumah ini.
“Dimana Sena!? Diamana dia?!”
“Kenapa? Kau panik sekarang setelah kebohongan yang kau lakukan padanya terbongkar?” Minho tersenyum puas pada Jaeha
Jaeha mencengkram kerah baju Minho, “Jangan mencoba meancing emosiku katakan dimana dia? Dimana kau menyembunyikannya?! Aku tau dia pergi bersamamu! Kau kan yang menyebarkan berita itu?! Kau ingin merebut Sena dariku dan kau melakukan hal licik seperti ini!”
Minho melepaskan tangan Jaeha dengan keras, “Aku tidak menyembunyikannya di sini! Dan lagi kau bilang aku yang menyebarkan berita itu? Kenapa kau tidak berpikir kalau Sena sendiri yang membuat berita itu muncul ke publik? Aku memang akan menyebarkan berita pernikahan pertamamu itu agar Sena berpisah darimu, tapi aku sepertinya tidak perlu mengotori tanganku lagi. Dan lagi pula itu salahmu juga kan? Kau merahasiakan kenyataan besar bahwa kau sudah menikah dengan Helena. Aku hanya tinggal melakukan tugasku untuk memisahkan kalian.”
Pandangan Jaeha terlihat kosong, “Jadi Sena benar-benar sudah tau?” Minho tak perduli, ia juga tidak mau menjawab apapun.
Setelah tersadar Jaeha berbalik pergi berniat meninggalkan rumah Minho, “Apa yang akan kau lakukan? Memaksanya untuk mau jadi istri keduamu? Kau pikir dia akan mau setelah kau membohonginya?”
Jaeha mengepalkan tangannya, ia bergerak maju kembali ke hadapan Minho dan melayangkan tinjunya tepat di wajah Minho, membuat pria itu tersungkur bahkan membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.
“Jaga bicaramu! Kau tidak tau apa-apa jadi jaga bicaramu!”
Jaeha menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, yang hanya ia pikirkan kini hanya Sena tidak ada yang lain. Ia ingat bagaimana Sena selalu bertanya apa ada yang ingin ia katakan atau tidak? Bagaiamana ia merasakan perubahan sikap Sena tapi ia tidak tau apapun, senyum palsu yang Sena berikan untuknya semua yang sena tunjukkan padanya itu palsu!
Jaeha masuk ke dalam rumah Nenek Nam dengan terburu-buru membuat Bibi Mija tak bisa menghentikannya. Jaeha masuk ke kamar sena tapi hasilnya nihil, ia memeriksa setiap ruangan tapi hasilnya tetap sama. Kosong.
“Mereka sedang pergi.” Bibi Mija menghampiri Jaeha.
“Pergi kemana?”
“Nyonya tidak memberitahuku, Sena juga ikut bersama Nyonya padahal Sena seperti sedang kurang sehat.”
“Sakit? Sena sakit?” Jaeha semakin tidak tenang karena kini ia tidak tau Sena ada di mana dengan kondisinya yang sedang tidak baik-baik saja.
“Mungkin mereka pergi ke vila di Samcheondong,” Bibi Mija terpaksa berbohong karena Nenek yang meminta, ia bisa melihat Jaeha begitu ketakutan akan kehilangan Sena.
Pikiran Jaeha malah tertuju pada bandara, ia segera masuk ke dalam mobil sembari menghubungi Suho. “Hyung kirim orang ke vila Kakek Choi di Samcheondong, aku akan pergi ke bandara.”
Bibi Mija berniat memberitahu Jaeha, tapi sayangnya mobil yang ditumpangi Jaeha sudah keluar dari halaman rumah.
Lagi-lagi Jaeha mencoba menghubungi Sena berharap ada sebuah keajaiban tapi hasilnya tetap sama, “Nomor yang anda tuju—“ Jaeha kembali membantingkan ponselnya pada jok kosong di sampingnya, “Argh!”
“Jebal, kajima! Kajima! Kau tidak boleh pergi sebelum mendengar penjelasanku, kau tidak boleh pergi karena aku belum mengatakan kalau aku benar-benar mencintaimu. Aku mohon!”
Jaeha memarkirkan mobilnya di sembarang tempat, ia berlari memasuki bandara melihat sekeliling berharap menemukan istrinya yang masih belum berangkat, tapi ia tak menemukan Sena di mana pun.
“Apa penerbangan ke Swiss sudah pergi?”
“Penerbangan ke Swiss satu jam lagi.”
“Kau yakin? Tidak ada penerbangan yang baru saja lepas landas ke Swiss?”
“Tidak ada Tuan.”
Ponselnya berdering Suho memanggilnya, Jaeha segera menjawab panggilan dari Suho
“Bagaimana Hyung? Apa Sena ada di sana?”
“Tidak ada, mereka tidak datang ke vila. Aku juga sudah memeriksa di setiap bandara tapi nama Sena tidak terdaftar kesetiap penerbangan manapun.”
“Aku yakin dia pergi ke Swiss, siapkan pesawat pribadiku aku ingin pergi ke sana!”
“Tidak bisa kau harus mengkonfirmasi dulu berita tentang hubunganmu dengan Helena, kau harus mengurus dulu masalah perusahaan, harga saham sekarang turun drastis dan para pemegang saham sekarang sedang mempermasalahkanmu.”
“Aku akan mengurusnya nanti, Hyung kau juga bisa mengurusnya.”
“Ini perintah Ayahmu! Kau tidak bisa mengabaikannya! Ini kesalahanmu dan kau harus mengurusnya sendiri.”
Jaeha memasuki ruangannya di kantor dengan langkah lemas, ternyata di sana sudah ada Ibu dan Ayahnya. Nyonya Park segera menghampiri Jaeha begitu melihat putranya itu datang,
“Bagaimana dengan Sena? Kau bisa membuatnya mengerti kan?”
“Dia pergi Bu. Dia meninggalkanku... dia pergi!”
Nyonya Park terpukul mendengar perkataan Jaeha, ia tidak menyangka Sena akan pergi begitu saja tanpa menunggu penjelasan dari Jaeha. Nyonya Park merasa menjadi mertua sekaligus Ibu yang tidak baik untuk Sena, ia tidak tau sama sekali keadaan menantunya.
Jaeha tetap tertunduk dihadapan Ibunya,
Plak!
Saat menerima tamparan itu pun Jaeha tetap diam, ia tak bicara apapun, ia menerima tamparan itu dengan lapang dada, ia berhak menerimanya. Setelah menampar Jaeha, Nyonya Park memilih pergi, ia tidak bisa tahan melihat wajah Jaeha berlama-lama.
“Ayah...”
Tuan Park pun menghampiri putranya, ia memeluk Jaeha untuk memberikan pelukan kasih sayang dari orang tua. Tuan Park sadar kalau Jaeha salah sejak awal, tapi ia tak bisa meninggalkan putranya yang terpukul karena kepergian Sena yang mendadak. Setelah sekian lama, Jaeha kembali menangis dalam pelukannya, tapi dalam kondisi yang berbeda.
---#---
*Bahasa Korea*
Yeobo \= sayang (biasanya digunakan untuk pasangan suami istri yang hubungan pernikahannya udah lama)
Kajima \= Jangan pergi