
Sena meremas perutnya yang merasa seperti ditarik, “akh, ini lebih sakit dari sebelumnya.” Sena mengambil ponselnya dan melihat kalender, “pantas saja, sudah hampir dekat tanggal menstruasi. Akh perutku!”
wajahnya terus meringis memperlihatkan rasa sakit.
Sena mencoba memijit pinggangnya sendiri walaupun sulit dan hasilnya sama sekali tidak merasa lebih baik. tapi tiba-tiba Sena merasakan ada tangan lain yang memijit pinggangnya, sena langsung saja tengkurap agar lebih enak.
“Bibi Hanmi pengertian sekali, ke atas sedikit.” Si pemijat menuruti perintah Sena “nah di situ, akh lebih baik.”
“Bibi, aku ingin makan Maeuntang untuk makan malam.”
Tak ada jawaban.
“Bi?” karena terus tidak ada respon, Sena akhirnya berbalik, ia langsung bangun ketika tau kalau yang memijat pinggangnya ternyata bukan Bibi Hanmi melainkan Jaeha!
“kau!”
“bukankah masih sakit?”
“tidak! Sudah, sekarang sudah lebih baik.” meskipun sebenarnya Sena masih ingin dipijat karena pijatan Jaeha rupanya benar-benar enak.
“kenapa kau pulang?”
“ini rumahku, kenapa kau bertanya seperti itu?”
‘aku pikir kau akan pulang ke rumah Helena.’
“tidak! Bukan apa-apa.”
“Sena.” Sena tak menjawab
“terima kasih untuk makanannya kemarin.”
“tak perlu berterima kasih, aku membeli makanan lebih jadi aku mengantarkannya untukmu.”
Mereka saling menundukkan pandangan masing-masing, tidak ada yang ingin melihat satu sama lain.
“aku juga minta maaf.”
Mata Sena bergerak ke arah jaeha, “untuk apa?”
‘apa dia akan jujur padaku?’
“karena aku sudah mengabaikanmu.”
Sena tersenyum miris, ia harusnya tau Jaeha tidak mungkin akan memberitahunya soal Helena.
“sudahlah, lagi pula... kita menikah karena terpaksa, wajar saja jika kau bersikap seperti itu padaku.” Sena bergerak turun dari ranjang, dengan langkah cepat ia pergi ke luar dari kamar tapi Jaeha juga dengan langkah cepatnya menyusul Sena dan menghentikannya untuk turun ke lantai bawah.
“jadi kau sudah memaafkanku?”
“aku juga salah, sudahlah tak perlu di bahas lagi.”
Ucapnya tanpa melihat Jaeha
“maksudmu?”
Sena berpikir kembali, tak mungkin Jaeha cemburu pada Minho ia punya Helena yang selama ini masih dicintainya. Apalagi sekarang Helena sudah kembali bersamanya, mereka sudah bertemu, tak seharusnya Sena berpikir kalau Jaeha benar-benar cemburu, ia terlalu percaya diri kalau Jaeha mencintainya.
“tidak ada. Anggap saja aku sudah memaafkamu.” Sena melepaskan genggaman tangan Jaeha, kemudian turun ke bawah untuk menemui Bibi Hanmi tapi lagi-lagi Jaeha menghadang jalannya Sena.
“kenapa lagi?”
“kau ingin makan Maeuntangkan?” Sena tak menjawab
“kau... mau makan malam bersamaku? aku tau restoran dengan menu maeuntang yang enak.” Ucap Jaeha dengan tatapan memohon.
Sena benar-benar ingin makan maeuntang entah karena apa, ketika membayangkannya saja sudah membuat bibirnya berdecap, ia benar-benar ngiler.
“jam?”
Jaeha tersenyum senang, “jam 7 malam aku akan menjemputmu. Aku harus kembali ke kantor sekarang.”
“kita janjian saja, aku harus membeli dulu sesuatu.”
“hm, baiklah. Aku akan kirimkan alamat restorannya padamu.”
Sena mengangguk mengerti, secara tiba-tiba Jaeha mencium pipi Sena membuat Sena menyentuh bekas ciuman Jaeha dengan mata melotot.
“sampai jumpa nanti malam.” Sena tak marah, malah terlihat Sena menahan senyumnya, ia merasa lemah karena ia bisa tergoda untuk tersenyum hanya karena sebuah ciuman di pipi.
‘jika aku tidak bisa bersamanya selamanya, maka ijinkan aku untuk sebentar saja merasa bahagia bersamanya sampai semuanya harus berakhir.’
**
“kau bertemu Jaeha?”
Helena mengangguk, “itu tidak sengaja, aku juga tidak bisa menghindarinya karena aku sangat ingin bertemu dengannya, berbicara, bahkan aku ingin memeluknya. Maafkan aku karena tidak mengikuti rencanamu.”
“sebenarnya itu bukan masalah besar, aku akan memberitahu rencana selanjutnya jadi kau bersiaplah.”
“tapi Jaeha...” Minho menatap Helena, “aku rasa Jaeha berubah, dia tak seperti dulu. Aku merasa dia menjadi lebih dingin.”
“wajar, pasti dia terlalu kaget karena tiba-tiba bertemu denganmu setelah sekian lama. Apalagi dia mencarimu ke mana-mana tapi tak ada hasil dan ternyata malah bertemu denganmu di Seoul. Jangan berpikir berlebihan, sekarang yang harus kau lakukan adalah mengerti Jaeha, jangan hanya memikirkan diri sendiri.”
“berarti aku tidak bisa memintanya untuk bersamaku semalam saja?”
“bisa saja,” Helena tersenyum senang “tapi kau harus menunggu aba-aba dariku. Kau tidak bisa memintanya begitu saja.”
“aku iri pada Sena, dia pasti bangga punya Kakak sepertimu.” Minho hanya tersenyum, ini juga demi dirinya. Egois? Terserahlah, ia hanya ingin Sena.
**
“ada apa denganmu?” tanya Suho pada Jaeha yang terlihat sangat bahagia, sejak tadi Dongsaeng-nya itu terus senyam-senyum sendiri seperti orang gila.
“apanya?” Jaeha mengirimkan alamat restoran pada Sena
“sepertinya kau sangat bahagia.”
“sepertinya benar.” Suho mengikuti Jaeha ke ruangan pribadinya, Jaeha memilih pakaian untuk makan malam bersama Sena.
“Hyung yang ini bagus tidak?”
“memangnya kau mau ke mana?”
“Sena ingin makan Maeuntang,” ucap Jaeha sambil membuka dasinya berniat untuk mandi lebih dulu
“jadi... kau sudah memilih Sena?”
Jaeha tak menjawab, “kau harus putuskan mulai dari sekarang.” Jaeha mengabaikan Suho ia segera pergi mandi untuk segera bersiap.
Sena memilih beberapa dress yang ada di lemarinya, ada 3 baju yang menjad pilihan Sena dan entah yang keberapa kali Sena mencoba ke tiganya sambil berkaca dan bergumam sendiri.
“yang ini tidak!” Sena menyingkirkan baju nomor 3, ia kini di buat pusing dengan dua baju di tangan kiri dan kanannya.
“atasan hitam polos dengan rok warna coklat, atau dress warna baby pink?” raut wajah Sena berubah jadi cemberut, ia melempar kedua dressnya ke atas kasur.
“apa sih?! Ini hanya acara makan Maeuntang! Kenapa kau sepusing ini Sena?”
Ponsel Sena berdering, ia melihat Minho yang menghubunginya. Ia ragu ketika akan mengangkatnya, tapi jika tidak...
“hallo!”
“Sena, aku pikir kau tidak akan mengangkatnya.”
“hmm ada apa?”
“kau lupa?” Sena kebingungan “hari ini tanggal berapa, kau ingat?”
Sena mengiyakan, "kita biasanya pergi ke Myeongdong, kita akan menjelajah kuliner di sana, dan salah satu hal penting makan Pat-bingsu di restoran pavorite kita."
Sena melirik ke arah kalender duduk yang ada di meja, “ah, maaf aku benar-benar lupa acara ritual kita dulu.”
“kita bisa pergi kan? seperti biasa kau bisa makan sepuasmu di sana aku yang traktir.”
“mmmhh, maaf. Tapi sepertinya aku tidak bisa pergi.”
Wajah Minho berubah tidak senang, “kenapa? mungkinkah kau ada janji dengan Jaeha?”
“eung, kami akan makan malam. Aku minta maaf karena tidak bisa pergi, tapi kita bisa bertemu di sana aku akan mengajak Jaeha, bagaimana?”
“tidak perlu, aku tiba-tiba ingat ada urusan lain.” Sambungan terputus
Minho tersenyum miring, “jadi Jaeha tidak memberitahu Sena soal Helena? Dan lagi kau ingin aku melihat kalian berdua bersama? Tidak akan pernah.”
Sena sampai lebih dulu di restoran Maeuntang, Sena duduk di tempat yang sudah Jaeha pesan sebelumnya. sesekali Sena mengeluarkan cermin kecil yang kini sering di bawanya, padahal dulu tidak pernah ada sebuah cermin di tasnya, sekecil apapun itu. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, membenarnkan poni dan menambahkan sedikit bedak pada wajahnya, ia benar-benar berdandan cantik untuk Jaeha malam ini.
Meskipun awalnya bilang 'ini hanya acara makan Maeuntang.'
Sena melihat jam tangannya, “18.45, 15 menit lagi.”
Di ruangannya, Jaeha juga melihat jam tangannya “lima belas menit lagi, aku harus berangkat sekarang.”
Saat akan memasuki mobil, ponsel Jaeha berdering, nama Helena membuat raut wajah bahagia Jaeha berubah, ia ragu untuk menjawab tapi jika tidak...
“halo Helena.”
“Jae...”
“Helena, ada apa denganmu? Suaramu kenapa seperti ini?” Jaeha mendengar suara Helena yang merintih seperti kesakitan
“bisa kau datang ke rumah sakit?”
“rumah sakit? Kenapa kau di rumah sakit?” Jaeha mulai khawatir, ia bergegas masuk ke dalam mobil
“aku tidak sengaja makan makanan yang sudah kadaluarsa,”
Jaeha melihat jam tangannya, sebentar lagi jam tujuh malam ia tak bisa mengingkari janjinya pada Sena, “tapi aku—“
“aku tidak punya siapapun di sini selain kamu Jae..” Jaeha sadar itu, Jaeha tidak tega juga harus menelantarkan Helena, karena ia... masih berstatus suami Helena.
“beri tahu aku kau sekarang di rumah sakit mana?”
Helena menyimpan kembali ponselnya setelah memberi tahu Jaeha alamat rumah sakitnya, ia kemudian menatap Minho yang tengah duduk di kursih sambil menatapnya.
“dia akan datang?”
Helena mengangguk, “dia sedang di jalan.”
Minho tersenyum puas, “aku minta maaf sebelumnya karena membuatmu seperti ini,”
“jika dia bersedia datang, aku rela melakukannya lagi pula aku juga merindukannya mungkin dengan aku sakit dia akan lebih lama bersamaku.”
“kalau begitu aku pergi dulu, aku takut dia menemukanku ada di sini.”
“kenapa harus takut? Kau yang membantuku dan Jaeha untuk kembali bersama.”
“tidak sekarang.”
Sena melirik kembali jam tangannya, “jam 19.05, kenapa dia belum datang?” ia terus melihat ke arah pintu masuk,
“apa anda ingin memesan sekarang?” tanya seorang pelayan
“tidak sekarang, aku masih menunggu seseorang.”
“baiklah.”
Ponsel Sena bergetar, ia melihat sebuah pesan masuk dari Jaeha.
‘Sena, mungkin aku sedikit terlambat. Aku ada urusan mendadak, tidak akan lama. Tunggu aku.’
Meskipun sedikit kecewa tapi Sena akan menunggu Jaeha, sebenarnya ia sudah ngiler melihat orang-orang memakan maeuntang, tapi ia menahannya ia ingin memakannya bersama Jaeha. Ia hanya cukup bersabar, sebentar lagi.