Maybe I Love You

Maybe I Love You
57. Sebuah Ucapan



“Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Sujin lebih dulu menyeruput kopinya sebelum bicara, “Saat diperjalanan kau tidak menjawab pertanyaanku, jadi sekarang jawab. Apa yang membuatmu begitu terlihat emosi, tak karuan dan sebagainya, sahabat baikku?”


“Kalian mau pergi ke mana? Kenap baju mu di masukkan ke koper segala?”


“Kami akan pergi liburan ke Desa Hallstatt, Austria. Liburan yang terakhir kali bersamanya.”


“Jadi itu yang kau rencanakan?” Sena mengangguk, “Memangnya tidak apa-apa bepergian naik pesawat?” Tanya Sujin sambil menatap perut Sena,


“Dokter bilang tidak masalah, aku juga sudah membawa surat dari dokter jika diperlukan nanti di bandara. Aku juga sudah minta vitaminnya.”


“Jadi kau benar-benar serius akan pergi?” Sena mengangguk lagi, kali ini Sujin melihat keseriusan Sena. Tak seperti saat di rumahnya.


“Jadi, kembali ke pertanyaanku, ada masalah apa?”


“Jangan kaget, ini mungkin akan membuatmu terluka tapi aku tidak bisa menyembunyikannya darimu karena aku juga sudah tau banyak.” Sujin menarik nafas panjang lebih dulu, “Minho Oppa, Minho Oppa lah yang membawa Helena ke Korea. Aku juga mengira dia yang terus menghasut Helena untuk kembali memiliki Jaeha, bukan hanya demi Helena saja tapi juga demi dirinya yang masih mencintaimu.”


Sena diam, dia memberikan ekspresi tenang sebagai tanggapan dari perkataan Sujin barusan. “Kau beneran tidak kaget. Kau sangat hebat!”


“Aku sudah tau.” Kini malah Sujin yang dibuat kaget, “Aku tau semuanya.”


“Heol! Aku seperti orang bodoh. Tapi bagaimana bisa— pasti Jonghyun Oppa, benar kan?” Sena mengangguk, “Aku memang merasa bodoh tapi aku bersyukur karena kau sudah tau lebih dulu. Ah, entahlah! Aku tidak tau harus bersyukur atau tidak untuk masalah ini. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana sakitnya dirimu dilukai oleh dua orang yang kau sayangi.”


“Awalnya memang aku terkejut, aku benar-benar tak menyangka kenapa Minho Oppa membohongiku. Entah aku bodoh atau bagaimana aku pun mengikuti semua permainannya, kenyataan yang aku terima karena mengikuti semua permainannya dan kenyataan yang aku terima karena aku yang tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan segalanya, aku menerimanya setiap kali permainan itu dimulai, aku menerimanya meskipun terasa sangat sakit. Kisah percintaanku, kenapa selalu bermasalah? Apa Tuhan tak mengijinkanku untuk bahagia dengan orang yang aku cintai?”


Sena tersenyum pahit


“Hm, aku tak bisa menjawabnya karena kau pun sendiri tau jawabnnya. Yang aku ingin katakan adalah dari semua yang kau alami sekarang, aku yakin kau akan bertambah kuat dan suatu saat kau akan menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Kebahagiaan itulah yang sedang menunggumu dan anakmu.”


“Sujin... terima kasih kau sudah mau tetap bersamaku, terima kasih kau selalu ada untukku. Maaf karena aku menyembunyikan semua ini pada awalnya, waktu itu aku masih belum berani membicarakannya padamu, maafkan aku.”


“Tak apa Sena, aku mengerti. Tak perlu minta maaf, masalahmu memang berat. Tidak gampang untuk bisa membicarakannya meskipun pada sahabatmu sendiri.” Keduanya kini berlinang air mata sambil berpegangan tangan, merekapun akhirnya berpelukan, terisak pelan dan saling bersyukur karena saling memiliki satu sama lain.


“Kau akan pergi ke mana? Ke negara mana kau akan pergi?”


“Ibu. Aku akan pergi menemui Ibu, mungkin aku akan tinggal di sana.”


“Lalu kapan kau akan pergi?”


“Setelah liburan selesai aku akan pulang dulu ke Korea, setelah semuanya siap aku akan pergi. Aku akan membuka semuanya.”


Sujin melepas pelukannya, “Membuka... semuanya?” Sena hanya tersenyum. Sujin mempunyai firasat, ini akan menjadi berita yang besar pada hari itu di Korea. Sena benar-benar merencanakannya sendirian.


Saat kembali ke rumah, Sena melihat Jaeha sudah rapih dengan setelan kantornya, “Kau mau pergi ke mana?”


“Aku harus pergi ke kantor, tiba-tiba terjadi masalah dan harus aku yang menanganinya.” Jaeha mencium kening Sena, “Semuanya sudah beres, besok kita tinggal berangkat. Aku pergi dulu.”


“Jam berapa kau pulang?”


“Mungkin agak malam, kau tidur duluan nanti. Jangan menungguku. Dah!”


“Dah!”


Setelah melihat mobil Jaeha pergi, Sena mengambil ponselnya. Ia mengetikkan sebuah pesan.


‘Ayo kita pergi makan malam. Restoran Italia tempat biasa, oke?’


Tanpa menunggu lama, pesan itu terbalas.


‘Baiklah, aku sudah tidak sabar.’


“Minho Oppa!” Sena menyapa Minho,


“Kau akhirnya datang juga.” Minho menarik kursi agar Sena bisa duduk,


“Terima kasih.” Sena memanggil pelayan untuk meminta daftar menu, “Kita pesan dulu saja ya, aku sudah merindukan makanan di sini.”


“Aku mengikutimu saja. rasanya sudah sangat lama kita tidak makan malam bersama. Pesan Vermicelli dan Spritz.”


Ucap Minho


“Tapi aku merasa jadi sangat canggung jika hanya berdua denganmu seperti sekarang. Aku pesan Bruschetta dan Negroni.” Mereka mengembalikan menu kepada pelayan. Sambil menunggu pesanan datang, mereka pun berbincang, sedikit mengulang masa lalu membuat mereka tersenyum.


“Lalu, bagaimana hubungamu dengan Jaeha? Baik-baik saja kan?”


“Kenapa memangnya?”


“Hanya bertanya saja. Aku harap hubungan kalian baik.”


“Entahlah, aku merasa ada yang aneh pada Jaeha. Tapi hubungan kami baik-baik saja, aku rasa dia jadi lebih perhatian padaku, dan aku jadi semakin mencintainya ku rasa.”


“Kau sungguh mencintai Jaeha?”


“Kita makan dulu ya?” Ajak Sena beigtu pesanan mereka datang, ia membiarkan Minho dengan rasa penasarannya. Sena tau setelah ia mengatkan kalau ia semakin mencintai Jaeha, Minho menjadi tidak menyukai makan malam ini. Minho merasa salah menanyakan hal itu tapi justru akan aneh jika dia tak menanyakannya pada Sena, jika Sena semakin mencintai Jaeha untuk apa mengajaknya makan malam? Batin Minho.


“Oppa, kau tadi menanyakan apa aku sungguh mencintai Jaeha bukan?” Saat Sena mencicipi makanan penutupnya, Minho tak menjawabnya. Ia hanya diam yang berati iya. “Benar, aku rasa aku mencintai Jaeha. Sungguh.”


“Kau bahagia karena mencintainya?” Suara Minho terdengar sangat dalam, pandangan matanya tertunduk.


Sena memegang erat sendoknya, ia sudah tau apa yang akan dilakukan Minho selanjutnya untuk memisahkan dia dari Jaeha. Kini, Sena berbaik hati padanya untuk semakin membuka lebar jalan itu. Ia hanya meminta waktu lebih, semoga semua sesuai dengan apa yang dia rencanakan.


“Bahagia dan terluka, semuanya bercampur jadi satu. Tapi aku, lebih mencintainya. Luka, aku rasa aku terbiasa tapi juga aku tidak bisa menerima kebiasaan itu. Ada orang yang ingin aku terluka, ada pula orang yang ingin aku bahagia meskipun dalam artian bahagia yang berbeda. Tapi, aku bahagia bisa mencintainya. Aku memang masih belum ingat masa laluku, tapi aku bisa tau seperti apa dulu saat aku benar-benar nyaman saat dia bersamaku, saat dia menjadi cinta pertamaku. Sebelum kecelakaan itu terjadi.”


Meskipun sakit hati, Minho berusaha untuk tetap tenang, “Kalau begitu aku ikut bahagia kalau kau bisa mencintainya. Lalu Jaeha sendiri? Apa dia bisa mencintaimu?”


‘Seperti aku.’


“Entahlah, bisa iya bisa tidak. Menurutmu bagaimana?”


“Kenapa kau menanyakannya padaku? Aku kan jarang melihat kalian bersama, bagaimana aku bisa tau hal yang seperti itu.”


“Iya juga.” Sena memeriksa ponselnya yang bergetar menerima sebuah pesan, “Tapi, aku rasa apa yang Oppa inginkan akan segera terkabul.” Sena berdiri dari duduknya,


“Kau mau pergi sekarang?” meski minho bingung dan ingin bertanya, ia tak sempat.


Sena mengangguk, “Boleh aku minta sesuatu?”


“Apa itu? Aku akan memberikannya untukmu.”


“Peluk aku.”


Minho cukup kaget dengan apa yang Sena inginkan, ia merasa senang dengan permintaan itu. Tapi yang ada dipikiran Sena pasti ia hanya dianggap seorang kakak laki-laki saja, tidak seperti dulu, tapi meskipun begitu Minho tetap mendekat ia memeluk Sena dengan erat dan Sena pun membalas pelukannya.


“Annyeong... Oppa.”


“Annyeong Sena, hati-hati di jalan.”


Annyeong, adalah sebuah kata sapaan ketika pertama kali bertemu dengan seseorang, dan juga adalah sebuah kata yang bisa digunakan sebagai kata saat akan berpisah dengan seseorang. Sebuah kata yang bisa membuat seseorang bahagia, tapi kata itu juga bisa membuat seseorang menjadi sangat terluka.