Maybe I Love You

Maybe I Love You
61. I'm Stay With You



Dering telepon berbunyi, Hwaran yang saat itu sedang membuat salad meminta suaminya untuk mengangkat panggilan tersebut.


“Sayang, ini dari Ibu.”


“Ibu? Angkat saja dulu, tanggung ini sedikit lagi.”


Hansoo pun mengangkat panggilan dari Ibu mertuanya,


“Hallo Ibu!”


“Hansoo? Apa Ibu mengganggu kalian?”


“Tidak Bu, Hwaran sedang membuat salad di dapur. Tapi sekarang dia sudah selesai.”


“Bisa tolong berikan pada Hwaran?”


Hansoo pun menyerahkan ponselnya pada Hwaran.


“Ibu! Bagaimana kabar Ibu? Sehat?”


“Hwaran, apa yang kau harapkan dari pernikahan Sena dengan Jaeha?” Hwaran terdiam sesaat, ia bingung kenapa Ibunya tiba-tiba bicara mengenai hal itu padanya, Ibunya bahkan tidak menjawab pertanyaannya barusan.


“Tentu saja aku ingin mereka bahagia, bersama-sama sampai hari tua dan segera memberiku cucu.” Hwaran melirik pada Hansoo, mereka berdua sama-sama tersenyum.


“Kau akan segera menimang seorang cucu.”


Hwaran terbelalak kaget dengan apa yang dikatakan Ibunya, ia berseru pada Hansoo kalau mereka akan segera menjadi seorang Nenek dan Kakek. Hansoo juga ikut bergembira dengan kabar tersebut.


“Ibu tidak bohong kan? Anak itu kenapa tidak memberitahuku soal kabar bahagia ini sih?!”


“Dia akan datang menemuimu.”


“Menemuiku?” Hwaran menatap Hansoo sekilas, “Mereka akan berlibur ke sini maksud Ibu? Akhirnya~ Aku akan mengadakan pesta penyambutan kalau begitu, aku sangat senang.”


“Tidak perlu pesta penyambutan. Sena tidak membutuhkan itu.” Raut wajah Hwaran berubah khawatir mendengar suara Ibunya yang terdengar bergetar. Ibunya seperti sedang menahan tangis tapi bukan tangis bahagia, melarangnya mengadakan pesta penyambutan? Kenapa?


“Kenapa tidak boleh Bu? Sena akan berkunjung ke sini, Sena juga sedang hamil, mereka berdua pasti akan senang. Ibu juga, ada apa dengan suara Ibu? Apa Ibu menangis?” Kini Hwaran bisa mendengar jelas kalau Ibunya sedang terisak, “Ibu? Kenapa Ibu menangis? Apa terjadi sesuatu pada Sena? Pada cucuku?”


“Sena akan langsung tinggal di sana.”


“Tinggal? Sena akan tinggal di sini? Lalu Jaeha bagaimana?”


“Mereka... akan bercerai.”


Di Hallstatt, Austria


Sena terbangun dalam dekapan Jaeha, ia begitu bahagia melihat Jaeha yang tertidur pulas sambil memeluknya. Kehangatan yang bercampur dengan indahnya musim semi, sebuah perpaduan yang membuatnya melupakan apa yang akan ia lakukan sepulangnya dari bulan madu ke dua mereka.


Cup!


Jaeha bergerak dalam tidurnya, “Mh~ sebentar lagi.” Ia semakin membawa Sena ke dalam dekapannya, memberikan kehangatan yang luar biasa bagi perempuan itu.


“Ayo bangun! Kita sarapan lalu mulai perjalanan untuk hari ini.”


“Popo!”


“Kan tadi sudah!”


“Lebih lama~ popo!”


Sena memilih menurut, ia akan memberikan semua yang Jaeha minta. Apa yang Jaeha mau, akan ia berikan sebagai hadiah untuk Jaeha. Sena pun mencium Jaeha, tapi saat ciuman itu akan berakhir, Jaeha malah menahan leher Sena dan menyatukan kembali bibir mereka.



“Nanti malam lagi ya?”


“Cium?”


“Semuanya.”


“Arraseo. Aku milikmu, aku akan memberikannya hanya padamu seorang.”


Jaeha pun mencium kening Sena, “Bahagiaku adalah saat bersamamu. Terima kasih telah hadir dalam kehidupanku, terima kasih kau sudah mau menjadi bagian dalam kehidupanku.”


Air mata Sena mengalir begitu saja dan Jaeha langsung mengusapnya sambil bertanya kenapa Sena harus menangis?


“Rasanya sangat seram mendengarmu mengatakan kata-kata seperti itu,”


“Kau ini tidak pernah bisa diajak serius ya?” Kata Jaeha yang kemudian mencium hidung mancung Sena. Perempuan itu merasakan kalau sekarnag tangan Jaeha sedang mengelus perutnya, “Kau agak gemukan ya?”


Sena merasa nyaman dengan sentuhan ini, dalam hati ia berkata pada buah hatinya agar menikmati sentuhan ayahnya yang jarang ia dapatkan. “Aku harap dia akan segera ada di dalam sini.”


‘Dia ada, dia sudah ada Jaeha.’


“Mangkanya aku banyak makan.” Jawab Sena, “Kata dokter aku harus banyak makan agar tidak kekurangan gizi.”


“Kau pergi ke dokter?”


“Konsultasi saja. Makanan apa yang harus ku makan, dan kegiatan apa yang harus aku hindari atau aku lakukan.” Sena tidak bohong untuk hal ini


“Maaf aku tidak bisa menemanimu, kau sendiri juga tidak memberitahuku.”


“Aku hanya merasa ada yang salah dengan badanku jadi aku pergi. Jaeha...?”


“Hm?”


Jaeha menatap Sena dengan serius, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”


“Aku takut kalau aku tidak bisa menjadi seorang Ibu yang baik. Aku takut kalau anak kita nantinya akan kecewa padaku.”


Jaeha pun manruh tangannya di pipi Sena kemudia mengusapnya dangan lembut, “Dengar, kau jangan pernah berpikir seperti itu. Jika kau bicara seperti itu karena memikirkan masa lalumu, maka kau harus membuat hal itu tidak terjadi lagi. Kita tidak akan membiarkan kesepian, kita akan selalu ada untuknya dan memberikan yang terbaik. Kita belajar bersama-sama, oke?” Sena mengangguk, ia memejamkan mata merasakan sentuhan tangan Jaeha di pipinya.


Perbincangan ini membuat Sena merasa nyaman, tapi ia juga merasa sedih dengan apa yang harus ia hadapi di depan sana. Perpisahan yang sedang menunggunya, anak yang sedang ia kandung, ketakutan yang ia rasakan membuat bebannya terasa semakin berat.


“Aku ingin anak laki-laki.” Ucpa Jaeha secara tiba-tiba


“Hm? Kenapa laki-laki?”


“Agar dia bisa menjaga adiknya nanti.”


“Kau sudah memikirkan anak kedua?” Sena tertawa karenanya,


“Kan semua harus direncanakan.”


“Yang satu saja belum ada apalagi yang kedua. Sudahlah ayo bangun, matahari mulai meninggi, aku juga sudah lapar.”


Sena meminta Paman James untuk mengantar mereka ke Charnel House/Ossuary, setelah mengantri untuk masuk akhirnya mereka bisa melihat kumpulan tengkoran warga Hallstatt. “Karena di sini tak memiliki cukup lahan untuk penguburan kahirnya dibangunlah Charnel House sebagai kuburan kedua.” Jelas Paman James,


“Tapi ini tak terasa menyeramkan sama sekali.” Ucap Sena sambil melihat sekelilingnya.


“Karena tempat ini sudah banyak didatangi wisatawan jadi tidak terasa menyeramkan. Dari sekian banyak tengkoran yang ada di sini sebagian diantaranya dilukis dengan hiasan bunga. Lihat di depan sana!”


“Jadi karena hal ini juga tempat ini tidak merasa menyeramkan.”


Sambil Paman James menjelaskan, Sena dan Jaeha melihat-lihat tengkorak yang sudah dihias dengan bunga tersebut dan berbaur dengan turis yang lain.


Setelah dari rumah tengkorak mereka memilih menelusuri Market Square atau Alun-Alun Pasar yang juga bisa disebut sebagai pusatnya Desa Hallstatt.


“Wah! Austria klasik!” Sena berseru senang begitu mulai memasuki kawasan pasar, “Aku benar-benar berasa masuk dalam cerita dongeng. Kita beli minuman ya?” Ajak Sena pada Jaeha, mereka kini pergi berdua karena Paman James harus pulang karena kedatangan tamu.


Setelah membeli minuman mereka menelusuri sebuah jalan kecil sampai akhirnya mereka sampai di pemukiman penduduk desa, Sena dan Jaeha pun disambut hangat saat tiba di sana. Mereka dipersilahan untuk menikmati indahnya desa, bahkan diajak singgah untuk menikmati makanan tradisional desa bersama warga lain yang sedang berkumpul.


Bibi Hanmi merasakan sepi yang luar biasa setelah ditinggal Sena dan Jaeha pergi berlibur, biasanya pagi-pagi Sena selalu datang membantunya kini terasa kosong. “Bagaimana jika nanti Sena benar-benar pergi?”


Suara derap cepat langkah kaki membuat Bibi Hanmi melihat ke arah pintu dapur, “Aku masih membuat Kimchi.” Ucap Bibi Hanmi begitu melihat Paman Bong yang datang.


“Bukan itu. Neneknya Sena datang.”


“Apa? Nyonya Nam datang?”


“Iya, cepat kau temui sana!” Bibi Hanmi segera melepas sarung tangan karetnya dan bergegas pergi ke ruang tamu. Saat sampai ia melihat Nenek Nam sedang berdiri sambil melihat-lihat seisi rumah.


“Nyonya.”


“Oh, Bibi Hanmi. Apa aku mengganggu?” Tanya Nenek Nam sambil tersenyum


“Tidak Nyonya, tapi ada perlu apa Nyonya datang kemari?” Bibi Hanmi mempersilakhan Nenek Nam untuk duduk.


“Terima kasih karena sudah menjaga Senaku dengan baik. Berkat Bibi, Sena bisa betah di rumah ini dan memiliki seseorang yang menyayanginya dengan tulus.”


Begitu mendengar perkataan Nenek Nam, Bibi Hanmi mulai merasakan kesedihan, ia akhirnya tau keputusan apa yang Sena ambil. Sudah berapa kali ia meminta Sena untuk memikirkannya lagi tapi sepertinya semua itu sia-sia saja. Bibi Hanmi pun akhirnya menangis, begitu juga Paman Bong yang diam-diam menguping pembicaraan mereka dari balik tembok.


“Terima kasih kerena sudah menemani cucuku.” Nenek Nam mendekat, ia menggenggam erat tangan Bibi Hanmi sebagai ucapan terima kasih.


“Saya berharap kebahagiaan mereka akan bertahan lama, saya berharap kalau pilihan itu tidak akan pernah dipilih oleh Sena tapi ternyata. Maaf karena saya tidak bisa membantu mempertahankan hubungan mereka Nyonya.”


“Bibi sudah melakukan yang terbaik. Jika tidak ada Bibi aku tidak yakin janin yang dikandung Sena akan selamat. Terima kasih sekali lagi terima kasih.”


“Nyonya...” Nenek Nam berusaha untuk tetap kuat, ia pun meminta Bibi Hanmi untuk membantunya membereskan barang-barang Sena.


“Mereka bahkan tidur di kamar terpisah.” Ucap Nenek begitu melihat kamar Sena, semua barang ini milik Sena, tak ada barang milik Jaeha satu pun.


“Tapi meskipun begitu, akhirnya mereka bisa saling mencintai.”


Beranjak menuju sore setelah menikmati makanan Goulash dan Wiener Schnitzel, Sena dan Jaeha memutuskan untuk berlayar menikmati Danau Hallstatt yang begitu tenang. Sena menikmati semilir angin yang menerpanya, bagitu pula dengan pemandangan pegunungan dan pohon-pohon indah membuat Sena semakin tenang. Sedangkan Jaeha berada di kemudi, mereka hanya ingin pergi berdua.


“Apa kita akan pergi ke pelabuhan selanjutnya?” Tanya Sena


“Kita akan mencari tempat yang tenang.”


Mereka pun akhirnya sampai ditepi bagian danau yang lumayan sepi, setelah mengikatkan perahu mereka pun memilih berjalan-jalan menyusuri tepian danau. Sena berhenti begitu melihat gerombolan angsa yang turun ke danau dan saat itu juga Jaeha memeluknya dari belakang.


“Kau lebih tertarik pada angsa-angsa itu ya?”


“Aku menikmati kebebasan mereka. Mereka bisa bebas pergi kemana pun mereka mau.” Jaeha melepaskan pelukannya, ia berpindah ke sisi kanan Sena. Jaeha pun memanggil nama perempuan itu, begitu Sena merespon Jaeha langsung menciumnya.


Ciuman lembut yang ia suka dari Jaeha, ciuman lembut dan hangat yang selalu Jaeha berikan padanya, ciuman yang akan selalu ia rindukan.


“Stay with me.” Bisik Jaeha, “Please, stay with me.”


Tatapan penuh pengharapan, tatapan mata yang bisa membuat pertahanannya runtuh saat itu juga. Suara lembutnya, sentuhan lembut jari-jarinya, Sena ingin menikmati itu seumur hidupnya. Ia berusaha tegar, lagi-lagi Sena berusaha tersenyum.


Sena menyentuh tangan Jaeha yang ada di pipinya, ia memejamkan mata menikmati sensasi hangat dan kelembutannya, “I’m stay with you.”


---#---


*Bahasa Korea*


Popo \= Cium