Maybe I Love You

Maybe I Love You
04. Mencintai (Yang Lain)



Minho memperhatikan Sena yang terus mengipasi wajahnya, “ada apa? dan siapa orang gila yang kau maksud?”



“orang yang yang tidak sengaja di tabrak Minhyun waktu itu, siapa Jae--ha?”



“kau bertemu dengannya?”



“tidak sengaja lebih tepatnya. Ah ya ampun kenapa aku harus mengakhiri hari ini dengan kejadian yang....ah!” Sena menghembuskan nafas kesal.



“apa dia melakukan sesuatu padamu?”



“jadi oppa tau dia playboy?”



“hanya beberapa kali bertemu dengannya di kelab. Dia tidak melakukan apapun padamu kan?” Minho terlihat khawatir



“hampir.” Minho terkejut tanpa sengaja ia menginjak pedal gas membuat mobilnya tiba-tiba melaju kencang.



“oppa!” sena mengusap dadanya karena ketakutan



“maaf... maafkan aku. Lalu apa yang dia lakukan?”



“dia bilang tidak ingin melakukannya denganku. Untung saja dia sadar diri.”



“sebenarnya apa yang terjadi?”



“oppa tidak perlu tau. Aku malu menceritakannya, aku tidak mau menceritakannya. Intinya dia tidak melakukan apapun padaku.”



Minho hanya perlu bersyukur karena Jaeha tidak melakukan apapun pada Sena. Minho akhirnya tersadar kalau Sena berbeda hari ini.



“kau memakai make up?”



Sena menatap Minho yang masih menatapnya “Sujin yang melakukannya dengan alasan sebagai kado ulang tahunnya. Gara-gara ini ak merasa benar-benar buruk.”



“kenapa? kau cocok dengan make up itu!” pipi Sena kini merona



“tapi aku tidak akan memaksamu memakai make up. Karena aku menyukaimu apa adanya.”



Sena lagi-lagi mendapat serangan tiba-tiba, ini seperti mimpi di siang bolong gadis itu tidak bisa berbicara apapun. Perasaannya benar-benar bahagia, ternyata hari ini tidak berakhir terlalu buruk.



“lagi pula kau tetap cantik meskipun tanpa make up.”



Sena berniat membuka pintu mobil tapi Minho menahannya, satu kecupan lembut mendarat di bibirnya, membuat jantungnya lagi-lagi berdegup kencang malah lebih kencang dari sebelumnya.



“mimpi indah.” Gadis itu mengangguk sambil menahan senyumnya.



Nenek Nam di buat heran dengan tingkah cucunya yang berputar-putar sambil sesekali tertawa.



“kau baik-baik saja kan?”



“aku sangat bahagia!” Sena memeluk neneknya dengan sangat erat



“ya ampun kau bisa membuatku kehabisan nafas.” Sena melepaskan pelukannya



“kau tidak mau membaginya pada nenek?”


Gadis itu menarik nafas panjang, “Minho oppa menyukaiku! Dia bilang dia menyukaiku!”



Berbeda dengan Sena yang bahagia tak terhingga, Nenek Nam hanya menunjukkan sedikit senyumnya.



Sena langsung naik ke kamarnya tanpa sadar dengan ekspresi neneknya. “maafkan nenek.”



**



Nyonya Park datang ke rumah pribadi Jaeha, pria itu tersadar dan mengakhiri pekerjaannya setelah melihat ibunya datang.



“malam-malam begini kenapa ibu datang?”



“kau yang tidak mau datang! Kau juga tidak mengangkat panggilan dari ibumu jadi terpaksa aku yang datang.”




“maafkan aku. tapi ada apa?” Jaeha mengajak ibunya duduk di sofa ruang tamu



“besok malam kau harus kosongkan semua jadwalmu.”



“jadwalku memang kosong lantas kenapa?”



“kita akan pergi ke rumah Choi Tae Hwan, kau ingat kan siapa dia?”



“tentu aku ingat. Kami bahkan bekerja sama soal pembangunan hotel di London, beliau teman kakek juga kan?”




Nyonya Park menyerahkan selembar foto gadis kecil padanya, “gadis ini...”



“kalian dulu sering bermain bersama, bahkan kau dulu sering meminta untuk menikah dengannya jika sudah besar nanti.”



“aku bicara seperti itu? rasanya tidak mungkin.” Membayangkannya sajah benar-benar konyol, tapi detik berikutnya Jaeha terdiam,



“ibu jangan bilang....”



“masalah setuju atau tidaknya itu bagaimana besok. Kau harus datang mengerti.”



“tapi bu aku tidak bisa melakukannya, ibu tau aku mencinta Helena!”



“Helena terus saja Helena! Helena meninggalkanmu kau ingat itu?! dia lebih memilih menikah dengan laki-laki lain dia menyakiti ibu dan keluarga kita.”



“tapi aku masih mencintainya bu! Ini hidupku aku yang akan menentukannya.”



“kau akan menunggu Helena seumur hidupmu begitu? Ibu sudah cukup terluka melihat perubahan dirimu menjadi seorang pemabuk dan pergi dengan banyak wanita. Jika kau sayang pada ibu maka lakukanlah permintaan ibu dan kakekmu. Tapi jika kau tidak mau jangan pernah menginjakan kakimu dirumahku lagi dan jangan pernah memanggilku ibu.”



Jaeha benar-benar frustasi ia tidak ingin membuat ibunya tambah terluka tapi di sisi lain dia masih menunggu Helena karena dia tau Helena menikah karena terpaksa dan Helena masih mencintainya. Tapi ia harus menikah dengan orang yang ia tidak tau seperti apa rupa gadis itu sekarang, bahkan sejak dia pindah ke Prancis Jaeha sudah tidak ingat apapun tentang gadis itu apalagi semenjak Helena masuk ke dalam kehidupannya.



**



Hari ini Minho sengaja mengosongkan jadwalnya untuk pergi berdua bersama Sena, ia ingin mengajak Sena ke taman hiburan di Lotte World sebagai tempat kencan pertama mereka.



Wahana pertama yang mereka naiki adalah bianglala, ini bukan pertama kalinya Sena naik bianglala tapi itu selalu saja membuatnya kagum dengan pemandangan yang terlihat dari ketinggian.



“waaah~~!! daebak!”



“ekspresimu selalu saja seperti itu setiap kali naik bianglala.”



“aku tidak tau, tapi aku selalu takjub dengan pemandangannya. Rasanya selalu saja seperti yang pertama kali.”



Mereka mencoba berbagai macam wahana permainan, mereka merasa seperti sepasang siswa sekolah yang sedang kencan di hari libur.



“harusnya kita memakai seragam sekolah.”



“benar! Dari yang kulihat oppa masih cocok dengan seragam sekolah!”



“aku belum terlalu tua kau tau!” Minho mengacak poni Sena dengan gemas.



Minho mentraktir Sena pizza begitu datang gadis itu langsung melahapnya, lagi-lagi Minho dibuat gemas dengan tingkah laku Sena, tangannya terulur mengusap saus di sudut bibir gadis itu.



“adiknya benar-benar cantik!”



“aku ingin punya kakak seperti dia.”



Ekspresi wajah Sena berubah mendengar pembicaraan orang di samping mejanya, “sepertinya aku lebih cocok jadi adikmu.”



Minho tersenyum lembut “biarkan saja. tapi itu artinya kau terlihat lebih muda kau tidak senang?”



Ponsel Sena bergetar pesan masuk dari neneknya



'pulang sebelum jam makan malam'



“nenek?” tanya Minho



“iya, nenek menyuruhku pulang sebelum jam makan malam. Dan lagi kenapa waktu berjalan begitu cepat ini sudah jam 3 sore.”



“Masih ada 2 jam lagi, bagaimana kalau kita pergi ke Dongdaemun?” ajak Minho



“tapi aku sedang tidak ingin membeli apapun.”



“jalan-jalan saja, bagaimana?”



“baiklah, ayo pergi!” Sena kembali tersenyum ceria



“habiskan dulu pizanya.”



Tepat jam 5 mereka pulang, “kau bilang sedang tidak ingin beli apapun.” Minho melirik ke arah belakang jok mobilnya yang terisi dengan belanjaan Sena.



“salahkan mereka karena menjual barang yang membuatku gatal ingin membelinya, jangan salahkan aku!”



Minho tertawa geli, “kita pulang sekarang?” Sena mengiyakan.