Maybe I Love You

Maybe I Love You
46. Putus Asa



Nenek Nam turun dari mobil sambil membawa berbagai macam bunga, Nenek berencana akan menggant bunga yang lama dengan bunga yang baru karena Kakek kabarnya akan pulang malam ini.


Nenek Nam menyimpan bunga di meja di teras belakang rumah, ia meminta Bibi Mija untuk membuang bunga yang lama dan mengantarkan vas bunganya jika sudah bersih padanya. Bibi Mija menawarkan bantuan tapi di tolak oleh Nenek, ia ingin dirinya sendiri yang melakukannya karena ini khusus untuk suami tercintanya.


Suara bel rumah berbunyi, Bibi Mija langsung pergi untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang untuk bertamu.


Saat Nenek sedang memotong tangkai bunga seseorang menyapanya, “Jaeha!” Cucu menantunya itu tersenyum sambil berjalan mendekat. “Bi, tolong buatkan teh.” Bibi Mija langsung pergi ke dapur melaksanakan perintah Nenek.


“Tumben, ada apa kau datang menemuiku?” Nenek melihat ke arah pintu, “Mana Sena?”


“Aku datang sendiri, Sena masih istirahat di rumah.”


“Kalian sudah baikkan bukan? Maaf kan Sena yang masih kekanak-anakan, aku terlalu memanjakannya jadinya dia seperti itu.”


“Tidak Nek, Sena bukan orang yang manja. Kalau pun dia memang manja dia akan tetap menjadi seseorang yang penting bagiku.” Nenek Nam tersenyum bahagia mendengar ucapan Jaeha kalau Sena adalah seseorang yang penting bagi dirinya. Nenek merasa kalau perjodohannya ini benar-benar tidak pernah salah, Sena mendapatkan seseorang yang benar-benar tulus padanya, Jaeha adalah orang yang tepat untuk cucu semata wayangnya itu.


“Terima kasih Jaeha.” Jaeha tersenyum tulus pada Nenek,


“Oh iya Nek, ada yang ingin aku tanyakan pada Nenek.” Nenek menghentikan kegiatannya, ia mulai fokus pada Jaeha yang ingin menanyakan sesuatu padanya.


Di dapur rumah Jaeha dan Sena,


“Ini susunya.” Bibi Hanmi menyajikan susu ibu hamil untuk Sena, Bibi Hanmi pun ikut duduk di meja makan, mereka duduk saling berhadapan. “Kau merasa mual?”


Sena menggeleng, “Aku lebih seperti menginginkan sesuatu, tidak ada gelaja mual atau apapun itu.”


“Kau ingin apa? Bibi akan belikan untukmu.”


“Aku merasa kesal ketika menginginkan sesuatu, dia selalu ingin dibelikan oleh Ayahnya. Tidak oleh orang lain.”


“Kalau begitu minta saja pada Jaeha, dia pasti akan membelikan apa yang kau mau.”


“Setelah semua yang terjadi?” Sena menggeleng, “Lebih baik aku menahannya meskipun aku harus menangis seharian.”


“Kau tidak perduli padanya?” Tanya Bibi Hanmi dengan tatapan khawatirnya, “Jaeha tidak akan tau kalau kau sedang hamil meskipun kau meminta sesuatu padanya. Yang akan dia pikirkan adalah kau sudah kembali pada dirimu yang semula. Jaeha pasti akan senang. Seorang Ibu akan melepaskan harga dirinya yang begitu tinggi demi anak yang sangat disayanginya. ”


“Aku tidak mau. Tidak akan.”


Dalam perjalanan pulang dari rumah Nenek, Jaeha menerima sebuah pesan masuk ke ponselnya.


‘Belikan aku gyeranppang!’


Jaeha bahkan menepikan mobilnya untuk membaca ulang pesan yang dikirimkan Sena padanya, entah berapa kali ia terus mengulangnya. Setela merasa yakin kalau pesan itu nyata, ia langsung tersenyum lebar.


‘Ada lagi yang kau inginkan? Aku akan membelikannya untukmu, semuanya.'


Jaeha tak sabar menunggu balasan dari Sena, sedetik kemudian pesan balasan itu datang.


‘Semangka.’


Pesan yang singkat, tapi bisa membuatnya bahagia luar biasa. Jaeha langsung tancap gas ke tempat penjual gyeranbang paling enak. Ia tidak ingin Sena menunggu lama untuk menikmatinya, ini adalah sesuatu yang langka.


Setelah membeli gyeranppang Jaeha langsung pergi ke supermarket untuk membeli semangka yang bagus dan besar, dan Helena melihat itu. Ia sudah tersenyum senang karena melihat Jaeha dan ingin menghampirinya untuk mendekat, tapi saat melihat senyum bahagia Jaeha membuat niatnya itu urung. Saat bersamanya Jaeha tak pernah senyum sebahagia itu, senyum itu hanya pernah ia lihat dulu. Dulu saat mereka masih saling dekat sebelum kehancuran itu terjadi..


‘Apa hatimu sudah benar-benar berubah?’


Jaeha terburu-buru masuk ke dalam rumah, di tangan kanan dan kirinya tidak ada kekosongan. Saat masuk ia melihat Sena yang baru turun dari lantai atas, ia langsung tersenyum dan memperlihatkan apa yang dia bawa pulang.


Jaeha menyimpan potongan gyeranbang tersebut ke piring, ia juga mengambil sendok kecil untuk Sena. “Cobalah, katanya ini gyeranppang paling enak.”



Sena mulai mengambil satu, Jaeha memberikan sendok kecilnya tapi di tolak oleh Sena. Istrinya itu lebih memilih menggunakan tangannya sendiri dari pada menggunakan sendok. Setelah makan satu gigitan Sena mengangguk-anggukan kepalanya, ia berkata kalau gyeranbang ini memang enak. “Makanlah!” Ucap Sena sambil menatap ke arah lain,


Jaeha langsung mengambil satu dalam hati ia benar-benar senang dan bahagia, “Aaaa?” Sena tidak ingin menerimanya, tapi Jaeha juga tetap memaksa Sena untuk menerima suapan darinya. Akhirnya Sena mengalah, walau pun sebenarnya ia merutuki dirinya sendiri karena ini benar-benar memalukan baginya. Harga dirinya hancur sudah.


‘Tapi kenapa kau terlihat sangat bahagia Jaeha? Ini tipuan, atau memang faktanya kau sangat senang saat kita seperti ini?’


“Apa perutmu baik-baik saja?”


“Kenapa memangnya?”


“Aku takut perutmu masih belum bisa makan-makanan yang seperti ini. Bukankah jika sakit maag harus menjaga asupan makanan?”


‘Ah benar, yang tau kalau aku baik-baik saja Cuma Bibi Hanmi dan Paman Bong.’


“Tidak apa-apa, teksturnya lembut jadi tidak masalah.” Jawab Sena sambil menyantap potongan terakhir.


“Semangka?” Tanya Jaeha


Sena mengangguk, Jaeha dengan cepat mengambil pisau dan memotong-motong buah semangka yang besar itu menjadi ukuran kecil.


Sena memang merasa puas dengan apa yang dia dapatkan, ia merasa lebih baik saat keinginannya terpenuhi. Tapi kenapa hanya oleh Jaeha? Itulah yang membuatnya kesal.


Beberapa kaleng bir yang sudah kosong tergeletak di meja tak beraturan, orang yang membelinya kini sedang meminum satu kaleng lagi sampai tetes terakhir. Suara bel yang sejak tadi berbunyi tak ia perdulikan. Pikirannya, hatinya, saat ini sedang kacau tak menentu. Sesekali ia menyeka air matanya yang sudah jatuh, dan sekarang ia menunduk sambil memeluk lututnya, tubuhnya kini mulai bergetar, menangis tanpa suara.


“Kenapa kau tidak membukakan pintu?” Tanya Minho, tapi orang yang di tanya tidak merubah posisinya sama sekali. “Helena, kau mabuk?” Saat melihat botol kaleng bir di meja. Minho akhirnya berjongkok, ia menyentuh punggung Helena agar perempuan itu sadar kalau dia ada di sana.


“Aku ini apa?” Minho kini sadar kalau helena sedang menangis, Minho tetap diam, dia membiarkan Helena untuk berbicara kembali. “Aku yang lebih dulu mengenalnya... aku yang menemaninya sejak dia belum jadi apa-apa tapi kenapa... apa artinya aku baginya sekarang, apa?!!!”


“Apa yang terjadi?”


Helena kini menatap Minho dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, keadaan yang bisa Minho mengerti bahwa Helena benar-benar terluka karena Jaeha. “Dia tidak pernah memberikan senyum itu lagi padaku sekarang, senyum bahagia itu tidak pernah dia berikan untukku lagi. Kebahagiaannya bukan untukku lagi, bukan dengan ku lagi! Apa hanya aku yang salah? Apa sebenarnya yang sudah ku perbuat sampai aku harus seperti ini?!”


“Dia yang salah. Seharusnya dia memilihmu, seharusnya dia menolak perjodohan itu, dengan begitu semuanya akan baik-baik saja." Perlahan Minho memeluk Helena, perempuan itu menangis semakin menjadi dalam pelukannya, "Aku, Sena, kau dan bahkan untuk dirinya sendiri.” gumam Minho, Helena bahkan memukul-mukul dada bidang Minho untuk melampiaskan kekesalannya.


Minho terlihat meringis menahan sakitnya pukulan tangan Helena tapi ia tetap diam.


“Apa yang harus aku lakukan? Dia sudah tidak memperdulikanku lagi, dia sudah tidak ingin bersamaku lagi!”


“Aku tau apa yang kau rasakan. Bukan hanya kau saja yang sudah tidak sabar ingin bersamanya, tapi aku juga ingin Jaeha segera berpisah dengan Sena.”


“Aku lebih baik mati dari pada harus seperti ini! Kau bilang mereka tidak saling mencintai, tapi buktinya apa?! Aku terluka, aku yang kesakitan! tapi Jaeha? Apa dia semakin perduli padaku? Semakin dekat padaku? Tidak! Yang aku rasakan dia semakin menjauh dariku!" Helena kini menatap wajah minho dengan sedih dan emosi, "Mau mu sebenarnya apa?!”


“Apa ini hanya kemauanku? Bukankah kau menginginkannya juga? Kau ingin jaeha kembali dan aku membantumu. Tujuan kita itu sama yaitu untuk memisahkan mereka dan mendapatkannya kembali. kenapa kau harus menyalahkanku?”


“Kalau begitu aku harus bagaimana lagi? Bagaimana lagi?! Kapan dia akan kembali padaku? katakan kapan?!!! apa aku pantas untuk mendapatkannya lagi setelah apa ya g sudah aku lakukan? berikan aku jawabannya Minho! beri aku jawabannya agar aku mengerti!”


"kita berhak mendapatkan apa yang kita inginkan. apa yang sudah jadi hak kita, kita harus kembali mendapatkannya."