
Arthur menjadi sangat rewel setelah pertengkaran yang terjadi antara Mera dan Jaeha. Setelah pertengkaran itu juga Jaeha pergi dari rumah Leon untuk kembali ke hotel, keinginannya untuk kembali mendapatkan Mera belum berakhir. Jika Mera menyalahkannya lagi ia tidak akan marah, ia akan menerimanya kembali dengan senang hati, lagi pula ini memang salahnya karena ia kembali menipu Mera untuk jangka waktu yang lumayan tidak sebentar.
“Aku yakin Mera kesal dan marah padamu hanya untuk sementara, dia marah bukan berarti benar-benar marah. Aku yakin dia hanya merasa senang tapi mengungkapkannya dengan cara yang salah.”
Jaeha yang menitikan air matanya hanya bisa diam, ia juga begitu khawatir pada Arthur karena menangis begitu kencang.
“Untuk sekarang mungkin kau harus pergi dari sini, aku harap kau tidak bermaksud menyerah untuk kembali mendapatkan Mera. Percaya padaku, dia hanya salah dalam mengungkapkan perasaannya.”
“Tapi dia pantas untuk marah padaku, dia marah pun aku juga mengerti, aku paham kenapa dia begitu marah padaku.”
“Aku akan mencoba berbicara padanya, aku akan berusaha meyakinkan dia kalau kau benar-benar sudah menyesal dan ingin kembali. Kami semua mendukungmu.”
Air matanya kembali mengalir, lagi-lagi Jaeha harus melihat Mera mengangis karenanya begitu juga dengan Arthur. “Maafkan Ayah nak...”
Leon berulang kali mengetuk dan memanggil nama Mera, Leon juga tidak bisa tenang karena kembali mendengar suara tangisan Arthur dari dalam kamar tapi Mera tetap tak membukakan pintunya.
“Tuan, ini kunci cadangannya.”
Begitu pintu terbuka ia segera masuk ke dalam kamar, ia melihat Mera terduduk di lantai sambil mendekap erat Arthur. Leon segera menghampiri perempuan itu, ia mencoba membuat Mera sadar kalau tindakannya sekarang tidak akan membuat Arthur merasa nyaman. Leon pun menyerahkan Arthur pada pelayan lain agar di bawa keluar kamar.
“Maaf karena Kakak mengambil keputusan seperti itu, tapi Jaeha sungguh ingin kembali padamu. Hanya saja Jaeha takut kalau kau tidak akan memberikannya kesempatan kedua, bukan berarti juga Jaeha senang menipumu dengan menjadi Rico, ia ingin jujur tapi waktunya yang tidak pernah tepat.” Mera masih tak mau bicara, air matanya terus keluar membuatnya lemah.
Leon akhirnya memeluk adiknya dengan erat, tapi tangis Mera malah semaki menjadi. “Kau bisa lihat sendiri bagaimana dia begitu sangat mencintai Arthur, dia datang ke sini hanya demi kamu. Kau pernah berkata kalu Jaeha akan bahagia bersama Helena, tapi buktinya tidak. Dia lebih memilih menyudahi hubungannya dengan Helena, Jaeha lebih memilih menemuimu di sini karena dia mencintaimu.” Leon berusaha menahan kesedihannya, ia juga tidak tahan melihat mera menangis seperti ini.
“Kami semua menyayangimu, kami tau bahagiamu ada pada Jaeha. Kakak mohon padamu jangan membohongi dirimu sendiri, cinta tak harus memiliki itu semua sebuah kebohongan, kata-kata itu tidaklah benar. Jika kalian berdua saling mencintai kalian harus bisa bersama, kami melakukan semua ini demi kamu. Bukan berarti Kakak membela Jaeha, hanya saja kami sudah bisa memaafkannya karena kamu Mera.”
“Aku kesal... aku kesal pada diriku sendiri karena aku tidak bisa marah padanya... dadaku sesak tapi aku tidak bisa mengatakan kekesalanku padanya. Aku ingin mengatakan bagaimana terlukanya aku oleh perbuatannya, bagaimana berjuangnya aku berusaha untuk terus bersabar dan menerima semua yang dia lakukan, aku ingin mengatakan semua kekesalanku padanya tapi aku tidak bisa...”
“Dan juga kau ingin mengatakan betapa kau sangat bahagia karena dia datang menemuimu. Betapa kau senang karena kau bisa melihatnya kembali setelah sekian lama, benarkan?”
Mera tak bisa menjawab, ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tak bisa memilih apa yang ia rasakan sekarang, tapi ia merasa benar dengan apa yang dikatakan Leon.
“Demi Arthur, jika kau tetap keras kepala dan memilih mempertahankan harga dirimu cobalah pikirkan Arthur. Kau pasti melihatnya sendiri bagaimana Arthur begitu nyaman bersama dengan Jaeha, Arthur pasti bisa merasakan siapa jaeha sebenarnya. Untuk terakhir kalinya Kakak mohon padamu, Kakak juga mewakili keluarga kita tolong pikirkan kembali keputusanmu.”
Hwaran, Hansoo, dan juga Nenek, mereka diberitahu oleh Leon mengenai apa yang terjadi. Mereka berharap Mera bisa memilih pilihan yang terbaik, usaha yang mereka lakukan hanya bisa ditentukan hasilnya oleh Mera sendiri. Mereka hal yang paling mereka harapkan adalah Mera dan Jaeha bisa kembali bersatu, hanya itu.
“Tuan, Nona!” Seorang pelayan buru-buru masuk ke dalam kamar,
“Ada apa?” Tanya Leon
“Tuan muda, demamnya sangat tinggi.”
“Apa?!” Mera segera berlari ke lantai bawah di susul oleh Leon, Mera segera menggendong Arthur, Suhu tubuhnya benar-benar panas. “Kakak, badan Arthur panas! Apa yang harus aku lakukan? Arthur sakit gara-gara aku, aku tidak bisa menjaganya dengan baik, Kakak...”
“Tenang mera, arthur hanya terkena demam kita bawa ke rumah sakit saja ya?”
Arthur dianjurkan untuk dirawat inap sampai kondisinya kembali pulih, Mera terus saja menangis menyalahkan dirinya sendiri karena ia tak bisa menjaga Arthur, ia tidak bisa menjadi Ibu yang baik, ia tau Arthur sedang sakit tapi malah membawa bayi mungilnya itu keluar ditengah cuaca yang dingin.
“Sudah Mera, jangan salahkan dirimu terus. Wajar bagi anak kecil untuk sakit diacuaca seperti sekarang, Arthur bukan sakit karenamu jadi berhenti menyalahkan diri sendiri, oke?”
“Aku seharusnya tidak membawanya keluar, kenapa aku begitu ceroboh?”
“Ini aku.”
Mera memegang tangan kecil Arthur, ia mengusapnya pelan sambil meminta maaf. Panas tubuh Arthur sudah mulai menurun, Mera bersyukur untuk itu. Ia takut kalau Arthur punya penyakit lain apalagi tubuhnya masih kecil dan juga lemah, ia terlalu takut dan terlalu panik.
Suara pintu yang terbuka membuat mera menghapus air matanya, “Cepat sekali, Kakak membelikan makanan kesukaankukan? Aku akan memakan habis semuanya, aku akan kuat untuk bisa mengurus Arthur.” Orang yang ditanya tidak menjawab, “Kakak?” Ia tertegun begitu melihat siapa yang datang, bukan kakaknya melainkan Jaeha.
“Maaf jika aku datang kemari, aku terlalu khawatir pada Arthur. Leon yang memberitahuku, katanya Arthur dirawat di rumah sakit, bagaimana keadaannya sekarang?”
“Panasnya sudah turun.”
Jawab Mera tanpa menatap Jaeha
“Syukurlah, aku sangat khawatir.”
Mera tak menjawab, tak ada lagi perbincangan apa-apa setelahnya, suasana berubah menjadi sangat canggung.
“Duduk.”
Meskipun masih ada rasa kesal tapi Mera masih punya rasa kasihan melihat Jaeha hanya terus berdiri saja.
“Baiklah, tapi aku ingin menyentuh Arthur dulu, apa boleh?” Mera mangangguk,
Jaeha duduk di kursih tangannya mengusap lembut pipi Arthur, sang bayi menggeliatkan tubuhnya tapi tertidur kembali, Jaeha tersenyum melihat itu ia senang putranya mulai membaik. “Ayah dan Ibu ada di sini, tidur yang nyenyak dan cepat sembuh.”
Mera tak bisa berkata-kata melihat Jaeha begitu terlihat bahagia bisa bersama dengan Arthur, mera tau Jaeha ingin sekali memiliki seorang putra dan harapannya menjadi nyata, Jaeha pasti sangat senang.
“Dan juga kau ingin mengatakan betapa kau sangat bahagia karena dia datang menemuimu. Betapa kau senang karena kau bisa melihatnya kembali setelah sekian lama, benarkan?”
Mera masih tak bisa mengerti dengan perasaannya sendiri, apa ia marah memang karena senang karena kembali bertemu dengan Jaeha, atau memang ia marah karena kebohongan Jaeha yang menipunya sebagai Rico?
**
“Jam berapa ini?” Mera meregangkan tubuhnya, ia begitu kaget ketika sadar kalau ternyata dia tidur di sofa, yang ia ingat semalam Jaeha lah yang tidur di sofa. Tapi sekarang Mera melihat Jaeha yang menggantikan posisinya menjaga Arthur, Jaeha lah yang memindahkannya ke sofa. Selimut yang ia berikan untuk Jaeha juga sekarang menyelimuti tubuhnya.
Mera mendekati Jaeha yang masih tertidur lelap, Mera berniat menyelimuti tubuh Jaeha tapi pria itu keburu bangun dan malah membuat Mera jadi salah tingkah.
“Kau tidur nyenyak?” Tanya Jaeha sambil meregangkan tubuhnya, tidur dengan posisi tertelungkup membuat punggungnya benar-benar kaku.
“Kenapa kau memindahkanku ke sofa?”
“Punggungmu nanti sakit, aku lihat juga kau tidak bisa tidur nyenyak karena posisimu jadi aku memindahkanmu ke sofa. Maaf karena aku melakukannya.”
Mera ingin menjawab kata-kata Jaeha tapi arthur terbangun, Mera dengan segera menggendongnya dan menyusui Arthur.
“Aku akan keluar mencari sarapan. Kau mau sarapan apa?”
“Apa saja.” Jaeha tak menjawab lagi, ia langsung pergi keluar setelah mencuci muka.
“Sayang, apa kau akan merasa senang jika Ibu kembali pada Ayahmu? Memang sudah tidak ada yang membuat Ibu untuk terus menjauhi Ayahmu, Ibu merasa jadi orang yang paling bersalah di sini. Kenapa Ibu bisa terus mencintai Ayahmu dan terus merasa bersalah setelah apa yang dilakukannya?” Arthur hanya bisa mengedipkan kedua matanya yang terus menatap Mera, “Ibu juga sudah bosan dengan ceramah orang-orang yang... yang jelas-jelas menyuruh Ibu untuk kembali pada Ayahmu. Apa Ibu harus memberinya kesempatan?”