Maybe I Love You

Maybe I Love You
44. Perdebatan



Jaeha benar-benar tetidur pulas sampai pagi. Tangannya terasa pegal karena di jadikan bantal, lehernya pun juga ikutan sakit. Setelah nyawanya terkumpul dan matanya bisa menyesuaikan dengan cahaya, ia dibuat kaget karena Sena tidak ada di tempat tidur. Jaeha sudah panik, takutnya Sena pergi karena dia ada di sini.


Saat hendak membuka pintu kamar mandi, tepat saat itu juga Sena keluar dari dalamnya, mereka hampir saja bertabrakan kalau saja jaeha tak bisa menahan diri. Ada perasaan lega karena Sena tidak kabur, hanya saja susananya jadi sedikit aneh.


“Kau dari kamar mandi?”


“Kalau bukan kamar mandi lalu ruangan ini apa namanya?” Sena meminta Jaeha untuk memberinya jalan, ia juga tak bisa tahan untuk berdiri terlalu lama, perutnya masih sedikit ngilu.


Sena kembali ke ranjangnya, ia duduk bersandar sambil melihat ke luar jendela. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, tidak akan aneh jika menatap keluar jendela.


“Wae wasseo?”


“Ibu datang ke kantor, Ibu memberitahuku kalau kau di rawat di rumah sakit.”


“Benar, kau harus datang. jika tidak Ibu akan curiga. Terima kasih sudah menemaniku semalam, kau boleh pergi.”


Jaeha tak percaya dengan perkataan Sena, agar Ibu tidak curiga? “Kau... sebenarnya kau menganggap pernikahan kita seperti apa? Apa hanya sebuah permainan? Atau selamanya hanya tipuan?”


Sena akhirnya menatap Jaeha dengan tatapan meremehkan, “Pernikahan ini memang berawal tanpa cinta, bagaimana bisa tiba-tiba ada cinta diantara kita? Sebuah permainan? Apa aku yang memaikannya? Tidak. Kau yang memainkannya sendirian. Kau yang membuatnya seperti sebuah permainan. bukan aku!”


Jaeha terhenyak mendengar ucapan Sena, dia tidak pernah menganggap ini sebuah permainan atau tipuan. Semua yang ia lewati bersama dengan Sena membuatnya melabuhkan hatinya pada Sena sepenuhnya. Tapi ia mengaku salah karena telah berbohong dan membuat Sena kecewa.


“Jadi... kau tidak memiliki perasaan apapun padaku?”


“Kau tidak mencintaiku, kau tidak memiliki perasaan apapun padaku. Kenapa aku harus mencintaimu kalau kau saja tidak mencintaiku? aku sudah pernah bilang saat pertemuan kita di klub, aku tidak ingin punya suami bekas orang lain. jika saja bukan karena terpaksa dan tersentuh karena ibumu aku akan benar-benar kabur dan tidak akan pernah menikah denganmu. Mungkin hidupku akan bahagia dan tidak akan pernah terluka seperti sekarang.” Sena kembali mengalihkan pandangan matanya dari Jaeha, Sena sebenarnya berat untuk mengatakan semua kata-kata itu tapi ia juga berhak kesal, ia berhak untuk mengeluarkan semua kekesalannya pada Jaeha meskipun pasti Jaeha tidak akan mengerti.


Batin Jaeha bergejolak, ia tak terima dituduh seperti itu oleh Sena ia juga sakit hati mendengar semua yang diutarakan oleh Sena barusan, tapi Jaeha masih bisa sadar diri, ia tidak bisa marah pada Sena karena semua itu benar.


Jaeha bergerak maju dengan cepat menghampiri Sena, kedua tangannya menyentuh wajah Sena, sejurus kemudian ciuman itu membuat Sena terbelalak kaget, dalam sekejap tubuhnya seperti kaku tak bisa bergerak, tapi ia mencoba untuk sadar dan tak terbawa suasana. Ia mendorong tubuh Jaeha agar menjauh, Sena ingin Jaeha melepaskan tautan bibir mereka.


Sena terus berontak membuat ranjangnya berdecit, Jaeha melemah, ia akhirnya terdorong dan... plaaaakkk! Sena menampar wajah Jaeha dengan keras. Dengan tangan yang bergetar, Jaeha menyentuh wajahnya yang terasa perih dan panas, Jaeha tersenyum miris, ia memang pantas untuk mendapatkannya.


“Kau selalu melakukan apa pun yang kau mau! Kau selalu melakukannya sesukamu! Kenapa kau tidak pernah perduli dengan perasaanku, kenapa?!!!”


“Kau masih tidak mengerti kenapa aku melakukannya? Kau masih tidak mengerti perasaanku yang sebenarnya padamu seperti apa setelah semua yang aku lakukan padamu?”


“Aku tidak mengerti! Aku tidak mengerti! Karena aku bodoh, aku tidak mengerti!” Sena menangis terisak, ia menyentuh perutnya yang kembali terasa sakit. Sena segera mengatur nafasnya agar lebih tenang, ia tidak mau janinnya kenapa-napa lagi, ia harus tenang.


“Aku tidak ingin bertengkar lagi. Aku sudah tau semuanya, aku mengerti. Kau tak perlu memaksakan dirimu hanya karena aku sakit. Lebih baik kau pikirkan kembali perasaanmu yang sebenarnya.”


“Apa yang kau tau? Kau atau apa tentang perasaanku?”


“Di langit hanya boleh ada satu matahari dan satu bulan. Semuanya tidak akan berjalan dengan baik jika ada dua matahari atau dua bulan. Jika ada dua matahari bumi akan sangat panas di siang hari, begitu juga sebaliknya. Jika ada dua, bukankah salah satunya harus dihancurkan agar kembali normal?”


“Sena kau bicara apa?”


Suara pintu yang terbuka menghentikan perdebatan mereka, Sena segera menghapus air matanya dan menarik nafas panjang agar terlihat tak terjadi apa-apa. Begitu juga Jaeha, ia merapikan dirinya agar tak terlihat mencurigakan.


“Nenek!” Sena kaget karena Neneknya datang, disusul Nenek Jung dan Ibu mertuanya


“Kenapa kau tidak bilang kalau kau sakit?” Nanak Nam langsung memeluk Sena dengan erat, ia benar-benar khawatir karena biasanya jika Sena sakit, Sena akan ada di rumahnya, diurus olehnya.


“Kalian tak seharusnya merahasiakan ini, kalian mungkin ingin menjadi lebih dewasa dengan tidak membuat kami khawatir tapi itu cara yang salah.” Kini Nenek Jung yang bicara


Sena dan Jaeha meminta maaf,


“Dan kau Jaeha!” Nenek Jung mencubit lengan Jaeha sehingga cucunya itu meringis kesakitan.


“Kau harus selalu memperhatikan istrimu sesibuk apapun itu. Dia pasti terluka saat kau tidak ada bersamanya. Dia pasti langsung berpikir kau sudah tidak peduli lagi padanya maka dari itu dia tidak memberitahumu!”


“Aku merasa malu dengan putraku sendiri.” Nyonya Park menatap tajam pada Jaeha. Jaeha sendiri tak bisa berkata apa-apa. Dia memang mengaku kalau dia salah, entah untuk yang keberapa puluh kali hanya saja ia tidak bilang secara langsung.


“Aku harap jika nanti Sena hamil, kau akan menjaga dan memperhatikannya dengan baik, bisa kan?” Pinta Nenek Nam pada Jaeha. Sena ingin sekali menegur Neneknya karena membicarakan hal itu, tapi terlambat, ia juga tidak bisa mengatakan itu di depan Nenek dan Ibu mertuanya.


Nyonya Park menyimpan bubur dan buah di atas meja, “Benar. Kau harus menjadi suami siaga jika nanti Sena hamil. Sesibuk apapun itu kau harus memberikan perhatian yang terbaik pada Sena. Apalagi jika nanti Sena ngidam, kau harus melakukan perintahnya 100%, harus terpenuhi. Kau paham?”


“Ne, Eomma.”


“Perjalanan keluar negeri pun kau harus membatalkanya. Wakilkan saja pada yang lain.”


“Kenapa begitu?” Jaeha protes


“Ayahmu juga dulu begitu! Demi menjagamu dan Ibu, dia memilih untuk mewakilkannya saja jika harus ke luar negeri.”


“Lihatlah, mereka sudah ingin menimang cucu. Nenek juga sama.” Bisik Nenek Nam sambil tersenyum menggoda Sena


‘Andai mereka tau kau sudah hadir di sini, tak terbayang kehebohannya akan seperti apa. Maaf aku harus merahasiakan kehadiranmu dulu sayang.’


“Oh iya, Nenek memberitahu Ibumu kalau kau sakit. Dia akan mengirimkan vitamin dari sana untukmu.”


“Kenapa harus mengirimkan vitamin segala? Aku bahkan belum sempat menghubungi Ibu. Ibu baik-baik saja kan Nek?”


“Dia baik, dia sangat ingin berkumpul bersama dengan kita.”


“Aku juga merindukan Ibu.”


**


Hari berikutnya Minho datang ke rumah sakit ketika Jaeha tidak ada. Bukannya ia pengecut hanya karena tak menjenguk Sena ketika ada Jaeha di sana, tapi ia hanya ingin berdua dengan Sena tanpa siapa pun.


Minho membuka pintu dan segera masuk ke dalam, ia melihat Sena tengah membaca sebuah buku dengan tenang. Minho langsung memasang senyumnya ketika Sena sudah mengetahui kedatangannya. Sena pun ikut memberikan senyumnya, seolah tak terjadi apaun dan tak mengetahui apapun.


“Aku membawa buah kesukaanmu.”


“Oppa memang tau semua apa yang aku suka. Terima kasih.”


Sena ingat percakapannya dengan Jonghyun sebelum Minho datang.


“*Aku sudah menyelidiki siapa pemilik nomor tersebut.”


“Aku yakin itu dia, tapi aku berharap jika itu salah.”


“Minho, dia adalah orang suruhan Minho.”


‘Oppa, kenapa kau melakukan ini padaku? Kau bilang kau ingin aku tersenyum bahagia, tapi kenapa kau membuatku terluka*.’ Kedua matanya terus menatap Minho yang semakin mendekati ranjangnya.


“Bagaimana keadaanmu sekarang?”


Sena tersenyum menyamarkan luka di hatinya, “Jauh lebih baik, ini hanya maag, Oppa tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku.”


“Kenapa kau bicara seperti itu? Hanya karena kau sudah punya suami bukan berarti kau boleh berkata seperti itu padaku. Aku mengkhawatirkanmu, aku perduli padamu.”


“Peduli? Khawatir? Apa kau sungguh-sungguh peduli dan khawatir padaku?”


Minho merasakan Sena sedikit berbeda, senyumnya sedikit memudar. “Tentu saja. Aku kan Kakakmu.”


“Kakak... seorang Kakak selalu ingin Adiknya hidup bahagia, bukan kah begitu?”


“Tentu, tentu saja.”


“Kau akan membiarkanku bahagia bukan?”


“aku kan sudah mengatakannya tadi, aku ingin kau bahagia tanpa beban dan juga luka, aku akan melakukan yang terbaik untukmu, apa pun itu. Kau mau buah pir?”


Sena menggangguk, “Jika bahagiaku adalah bersama dengan Jaeha, apa kau akan menerimanya?”


Minho enggan untuk menjawabnya, ia ingin mengungkapkan kekesalannya kenapa Sena bertanya seperti itu seolah tidak tau bagaimana perasaan Minho yang sebenarnya. Tapi ia tidak bisa disaat kondisi Sena yang seperti ini.


“Kau... sungguh bahagia bersama Jaeha?” Minho malah balik bertanya


“Hidup tanpa masalah... pasti sangat menyenangkan. Tapi itu jelas tidak mungkin. Hanya sebuah hayalan semata.”


“Kau akan hidup bahagia... pasti. Tapi kau harus melewati kerasnya perjalan hidup.” Minho menyuapi Sena buah pir yang sudah di potong sekali makan,


“Kau benar. Rasa sakitnya harus ku tahan sebisa mungkin, baru aku bisa mendapatkan kebahagiaan. Benarkan?” Minho tersenyum, senyum menipu dibalik rumitnya pikiran masing-masing.


‘Mungkin.’ Batin Sena


---#---


*Bahasa Korea*


Wae wasseo? \= kenapa kau datang?