Maybe I Love You

Maybe I Love You
21. Surprise



Perlahan Sena membuka kotak itu, ia melihat bagian belkan sebuah figura foto di dalam kotak itu. perasaan penasaran yang semakin kuat membuat tangannya mengambil figura itu dari dalam kotak dan membaliknya.



Deg!



Foto seorang perempuan cantik memakai dress mereah sedang tersenyum menatap kamera, perasaan sesak itu mulai menjalar ke dalam hatinya.



“mantan pacar?’ batin Sena



Sena melihat masih ada selembar foto lagi di dalam kotak, perasaan takut itu muncul tiba-tiba membuatnya sedikit ragu untuk mengambil foto tersebut tapi karena sudah terlanjur akhirnya Sena mengambil selembar foto itu dan membaliknya.



Kedua bola matanya melihat Jaeha yang tersenyum bahagia dalam foto bersama perempuan tadi. Tangannya tiba-tiba gemetar, perasaan sesak itu semakin kuat setelah ia menemukan fakta kalau di jari manis mereka terpasang cincin yang sama, dan itu bukan tempat biasa melainkan sebuah gereja. Dengan buket bunga di tangan si perempuan dan dress putih seperti gaun pengantin yang sederhana membuat Sena yakin kalau Jaeha menikahi perempuan itu di sana.



“hhhh”



Sena seperti kesulitan mengambil nafas, ia butuh oksigen dadanya terasa sesak yang harusnya baik-baik saja karena ia tidak menyukai Jaeha, tidak!



‘tidak mungkin, cincin couple sekarang sudah biasa bahkan anak sekolahan pun sering memakainya. Tidak mungkin!’



Sena mencoba berfikir positif, satu hal yang ia takutkan ia takut kalau Jaeha benar-benar sudah menikah.



‘tapi kenapa aku harus takut? Kenapa aku harus takut?!!’



Tok! Tok! Tok!



suara ketukan pintu itu membuat Sena langsung menyimpan kembali kotak tersebut ke tempat semula.



“nona apa nona ada di dalam?!”



Sena buru-buru membereskannya kembali seperti semula lalu keluar dari kamar Jaeha menghampiri Bibi Hanmi.



“iya ada apa?”



Bibi Hanmi menatap Sena dengan khawatir karena kedua matanya memerah dan sempat terisak pula.



“ibu tuan muda datang.”



“aku kan sudah bilang, kalau di depanku panggil saja dia Jaeha. Jangan terlalu formal karena aku tidak terbiasa.”



“baiklah,” Bibi Hanmi tersenyum



“aku akan mencuci muka ku dulu, dan buatkan minuman untuk ibu.”



“baiklah.”



Setelah mencuci muka untuk mendinginkannya yang terasa panas Sena langsung turun menghampiri Nyonya Park di bawah sana,



“karena kau tidak datang ke rumah jadi aku yang datang.” Nyonya Park memeluk Sena, begitu pula Sena ia memeluk Nyonya Park dengan erat membuat Nyonya Park sedikit keheranan apalagi Sena memeluk Nyonya Park cukup lama.



“aku bawakan bulgogi dan beberapa menu pavorit Jaeha karena kau juga menyukainya,”



“padahal ibu tidak perlu repot-repot segala.”



“tidak apa-apa. tapi apa terjadi sesuatu?”



Sena sedikit kaget dengan pertanyaan ibu mertuanya, bagaimana mungkin Nyonya Park bisa tau kalau suasana hatinya sedang tidak baik?! padahal ia sudah berusaha menyembunyikannya dengan baik.




Sena dan Nyonya Park kini ada di taman belakang, mereka menemani Kui bermain karena anjing kecil itu merindukan Nyonya Park yang sedari tadi terus mengajak bermain.



Sena ingin menanyakan pada ibu mertuanya apa Jaeha pernah menikah atau belum, tapi ia ragu karena takutnya akan menambah masalah atau ada kesalah pahaman. Harusnya ia bertanya langsung pada Jaeha nanti tapi ia malah lebih tidak berani karena ia sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan pribadi Jaeha kalau pria itu tidak bicara sendiri padanya.



“apa ada yang ingin kau tanyakan?”



“apa ibu seorang peramal?” ya itulah yang Sena pikirkan, ia yakin ibu mertuanya seorang peramal.



“tanyakan saja! kau kan juga putriku.”



“bolehkah aku menanyakan hal ini pada ibu? Tapi ibu jangan salah paham padaku.”



“tidak akan sayang, tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan. Ibu akan menjawab jujur.”


Mendengar kata jujur membuat Sena yakin untuk menanyakan hal ini pada ibu mertuanya.



“apa Jaeha...”



Nyonya Park menatap Sena yang tak kunjung bicara.



“apa Jaeha pernah punya pacar?”



Nyonya Park tertawa kecil mendengar pertanyaan Sena. Sena sendiri merasa itu pertanyaan yang memalukan, bukan apa-apa hanya saja tidak mungkinkan seorang Park Jaeha tidak pernah punya pacar.



“tentu saja pernah! Tapi kenapa kau tidak menanyakannya sendiri pada Jaeha?” Nyonya Park masih tertawa



“aku ingin mendengarnya dari ibu, bisa saja dia berbohongkan?”



“pernah, dia pernah punya pacar. Satu.”



“satu? Maksud ibu mantan pacarnya hanya satu?”



Nyonya Park mengangguk, ‘berarti hanya perempuan itu kekasih Jaeha? Heol! Tipe setia juga dia.’ batin Sena



“tapi apa mereka sempat bertunangan?” tanya Sena ragu



“tidak, mereka hanya menjalin hubungan biasa. Mereka kenal karena satu kampus di Prancis.”



“kalau begitu... mereka tidak menikah?”



Sena terkejut melihat tatapan Nyonya Park, dan Sena tidak tau apakah itu tatapan kaget karena pertanyaannya yang tidak masuk akal atau karena rahasia Jaeha akan terbongkar.



Nyonya Park kembali tertawa kecil, membuat Sena kembali bingung “tunangan saja tidak sayang. Tidak, mereka tidak menikah. Rencananya mereka akan menikah tapi perempuan itu malah menikah dengan pria lain.”



Fakta yang mengejutkan bagi Sena, seorang Park Jaeha ditinggal menikah oleh kekasihnya karena memilih pria lain. Melihat raut wajah ibu mertuanya yang meyakinkan membuat Sena sedikit yakin kalau Jaeha memang tidak menikah dengan perempuan yang ada di foto itu, mereka hanya memakai cincin couple biasa bukan cincin pernikahan.



Tapi meskipun hal itu sudah terklarifikasi dari Nyonya Park, Sena masih merasa belum tenang. Perasaan mengganjal seperti ada sesuatu yang dirahasiakan masih mengganggunya, ia mengambil ponsel yang di simpan di saku celananya.



“oppa bisa kau datang ke rumahku jam 3 sore nanti?”



“baiklah!”



‘aku harus mencaritau sendiri, karena aku masih belum yakin sepenuhnya.’