Maybe I Love You

Maybe I Love You
60. Kenyataan



“Selamat datang di tempat wisata tambang garam tertua di dunia.” Ucap Paman James, “Kita akan ikut masuk bersama turis lain,”


“Apa tidak apa-apa Paman?” Tanya Sena,


“tidak apa, Paman sudah membicarakannya dengan George salah satu guide di sini. Itu mereka datang.”


Seorang pria sekitar umur 30 tahunan mendekat bersama beberapa orang di belakangnya, Sena dan Jaeha pun diperkenalkan oleh Paman James pada George dan wisatawan yang lain. “Kita akan menaiki funicular untuk menuju tambang, dan begitu sampa akan dilanjutkan berjalan kaki sejauh 1 kilometer.” Ucap George sambil mengarahkan para wisatawan untuk menaiki funicular,


“Baiklah, kita berangkat!”


Di Seoul, Korea


Ting tong!


Bib Mija datang membukakan pintu, “Jonghyun?”


“Selamat sore Bi. apa Nenek ada?”


“Ada. Ayo masuk, aku akan memberitahu Nyonya kalau kau datang.”


“Beritahu saja di mana Nenek, aku yang akan menemuinya.”


Jonghyun datang ke halaman belakang, ia pun melihat Nenek Nam sedang menyiram bunga-bunga dalam pot yang berbaris rapih di tangga kayu.


“Nenek memang suka sekali dengan bunga ya.”


Nenek berbalik ketika mendengar suara tersebut, “Jonghyun!”


“Selamat sore Nenek.” Jonghyun pun mendekat, ia memberikan sebuah tanaman bunga dalam pot pada Nenek sebagai hadiah.


“Cantiknya. Terima kasih.” Jonghyun mengangguk sambil tersenyum, “Tumben kau datang, ada apa?”


Wajah Jonghyun berubah serius, “Nenek, bisa kita bicara di ruangan saja?”


“Apa ini masalah serius?” Raut wajah Nenek pun berubah cemas, Jonghyun menganguk sebagai jawabannya.


“Ayo masuk.”


Nenek begitu syok ketika melihat isi dari amplop yang diberikan oleh Jonghyun, Nenek terus menerus mengulang membacanya seakan mencari sebuah kebohongan yang tersembunyi di sana. Air matanya terjatuh begitu melihat foto dan kertas-kertas secara bergantian.


Jonghyun menghela nafas berat sambil menutup mana, ia berat melakukan semua ini. Apalagi Nenek benar-benar berharap pada Jaeha untuk bisa membuat Sena bahagia.


“Sena ku... ini bohongkan?” Tak ada jawaban dari orang yang ditanyai, Nenek semakin tak kuat menahan air matanya.


“Dari mana kau dapatkan semua ini? Apa Sena sudah tau?” Tanya Nenek Nam cemas,


“Sena yang memintaku mencari semua ini, Sena juga yang memintaku untuk membertaukan hal ini pada Nenek.” Nenek benar-benar terkejut dengan kenyataan yang ada, Nenek teringat kembali saat Sena tiba-tiba saja datang pagi sekali membangunkannya dan tiba-tiba saja juga menangis dalam pelukannya. Sikap tak sukanya pada Jaeha saat itu, ini kah alasannya? Cucu kesayangannya, menyimpan beban dan luka sedalam ini. Sendirian.


“Dan juga... Sena sedang mengandung, 2 bulan.”


“Apa?!”


“Sena pernah hampir keguguran, tapi untung saja kandungannya kuat dan akhirnya bisa bertahan.” Nenek Nam tidak bisa menahan lagi tangisnya, Jonghyun tak bisa melakukan apa-apa, ia juga ikut merasakan luka yang Nenek dan Sena rasakan.


“Sena...”


“Sena berkata kalau sekarang dia baik-baik, Nenek tidak perlu khawatir. Sekarang dia bahagia.”


“Semuanya, Senaku memendam semuanya sendirian. Demi kebahagiaan kami dia berusaha tersenyum menutupi lukanya, kenapa... kenapa dengan kebohongan ini?”


“Keluarga Jaeha tidak mengetahu tentang pernikahan itu, karena beberapa hari setelah pernikahannya Helena dipaksa menikah demi menutupi hutang keluarganya. Keluarganya hanya tau kalau hubungan Jaeha dan Helena sudah berakhir dalam status sepasang kekasih bukan hubungan suami istri.”


Nenek tak bisa berkata apa-apa lagi, hatinya begitu terluka melihat dan mendengar kenyataan yang begitu menyakitkan untuk Sena, apalagi sampai hampir keguguran. Dalam kesedihan dan luka yang dirasakan, Nenek bersyukur karena Sena akan menjadi seorang Ibu, apa yang diharapkan oleh Nenek akhirnya akan segera terwujud, Sena akan memberikan Hwaran seorang cucu.


“Jaeha masih belum tau kalau Sena sedang Hamil, Sena berniat merahasiakan itu dari Jaeha dan keluarganya. Dan Sena juga memintaku untuk mengurus perceraian mereka.” akhirnya Jonghyun menceritakan hal penting yang sebenarnya pada Nenek.


“Perceraian?”


Meskipun kecewa, Nenek tau kenapa Sena memilih untuk bercerai, cucunya sudah lelah dengan semua kebohongan yang Jaeha berikan. Nenek menyadari kalau Jaeha mempunyai cinta untuk Sena, Nenek dan semuanya menyadari itu tapi terlambat...


“Kapan?” Tanya Nenek


“Setelah kepulangannya dari Austria. Sena ingin Nenek menemaninya pergi untuk menemui Bibi Hwaran di Swiss, Sena berencana akan menetap di sana.”


Nenek tak bisa meminta Jonghyun untuk meminta Sena memikirkannya kembali soal menetap di Swiss, Sena akan pergi meninggalkannya lebih jauh lagi. Nenek mengerti tentang keinginan itu meskipun ia berat untuk menyetujuinya.


“Kau urus semuanya, biar aku yang memberi tau Hwaran dan Kakek.”


“Baik Nek. Akan aku lakukan.”


Tangisan Nenek kembali tak terbendung ketika mengingat hal yang sama yang terjadi pada Hwaran dulu, saat sedang mengandung harus mengalami sebuah perceraian dan kenyataan pahit. “Kenapa... kenapa harus terjadi juga padamu Sena? Kenapa harus terjadi juga pada cucuku?”


Di Desa Hallstatt


Setelah melakukan tur sekitar satu jam, Sena dan Jaeha kini sedang berburu suvenir setelah keluar dari dalam tambang, mereka memilih dan memilah bersama turis yang lain. “Ini baguskan?” Tanya Sena saat memperlihatkan sebuah kerajinan.


“Bagus, tapi itu terlalu besar. Cari yang ukuran kecil saja.”


Mereka juga tak lupa membeli garam asli Hallstatt, hal yang wajib harus dibeli sebagai oleh-oleh dari Desa Hallstatt tentunya.


“Oh iya, kenapa kau tadi tidak ikut seluncuran?” Tanya Jaeha


“Hm? Ah itu...” Sena menyentuh perutnya sekilas, “Aku sedang tidak ingin melakukan itu, lagi pula seluncuran tetaplah seluncuran. Sensasinya sama saja.”


Jaeha tak bisa menjawab, Sena sudah menutup pembicaraan soal seluncuran tadi dalam tambang, dan memang sensasinya sama saja, seluncur tetap saja seluncur.


“Kalian ingin pergi ke mana lagi?” Tanya Paman James saat mendekati Sena dan Jaeha,


“Skywalk!” Ucap Sena dengan semangat. “Ya~? Kita lakukan itu ya~?” Bujuk Sena pada Jaeha, suaminya itu pasrah, ia menuruti apa keinginan sang istri. Jaeha menyerahkan semuanya pada Sena, karena liburan ini juga keinginan Sena sendiri.


“Baiklah, apa kalian ingin melakukan hiking untuk bisa sampai ke puncak?”


“Hiking?”


“Iya, perjalannya sekitar 40 – 60 menit. Atau kalian bisa juga menaiki funicular, itu hanya membutuhkan waktu 5 menit.”


“Naik itu saja.” Sena tersenyum lebar, jika tidak sedang hamil Sena mau-mau saja untuk hiking sampai ke tempat tujuan. Ia tidak mau mengambil resiko apalagi ini di negara orang lain dan sedang bersama Jaeha pula.



Setelah sampai di ketinggian 350 meter di atas permukaan laut, Sena benar-benar terkagum dengan keindahan pemandangan Hallstatt yang spektakuler. “Uwaaaaahhh!!!! Daebak!!” Seru sena sambil menarik-narik lengan baju Jaeha dengan semangat, “Sayang!! Ini benar-benar sangat indah! Ini sangat indah!”


Jaeha sangat terkejut, setelah kejutan keindahan pemandangan kali ini ia lebih terkejut lagi karena baru kali ini Sena memanggilnya dengan panggilan ‘sayang’. Sebuah kejadian langka yang seharusnya ia rekam karena ia yakin sena tidak akan memanggilnya lagi dengan sebutan itu.


“Jaeha!!! Lihat danau dan pegunungannya!! Waaahh~!” Benar saja, tapi meski pun hanya sekali dan mungkin itu karena kebetulan, tapi Jaeha tetap senang dengan panggilan itu.


“Iya sayang, mereka benar-benar menakjubkan.” Asalkan Sena senang, Jaeha juga senang.


“Ada yang lebih tinggi dari ini.” Ucap Paman James,


“Yang lebih tinggi?” Ucap Sena dengan sangat antusias,


“Kalian mau pergi ke sana?”


“Besok.” Jaeha segera menjawabnya,


“Kenapa besok?! Sekarang saja!” Sena tak terima dengan keputusan Jaeha, ia masih cukup kuat dan masih punya tenaga untuk pergi ke tempat yang lebih tinggi lagi.


“Masa di borong semua? Sekarang ke tempat tinggi, setelah dari sini ke tempat tinggi lagi, sisakan juga untuk besok. Kau mengerti maksudku kan?”


Sena diam, apa yang dikatakan Jaeha ada benarnya juga, lagi pula ia terlalu serakah. “Baiklah, aku menurut padamu.” dengan suara yang rendah, “besok saja ya paman?”


“Kalau itu memang pilihan kalian, lebih baik kalian cari kudapan setelah turun dari sini. Itu akan membuat kalian jadi lebih baik.” Sena dan Jaeha pun mengangguk setuju, apalagi Sena sudah mulai merasa lapar padal ini bukan saatnya untuk makan siang, proses menuju penggemukan sedang berjalan.