
Helena berjalan ke kamar Jaeha membawa semangkuk bubur abalone yang masih mengepul, begitu masuk ia dikagetkan oleh Jaeha yang ternyata sudah bangun dari tidurnya. Ia berniat akan pergi diam-diam tapi Jaeha pasti akan menanyakan kemana ia pergi.
“Sudah dulu Hyung, aku tunggu di rumah.” Jaeha menutup panggilannya begitu melihat Helena masuk. Jaeha bisa menerima Helena yang datang kembali ke rumahnya. dalam hati kecilnya ia tak menyalahkan Helena, ia tau semua itu karena Minho.
Perempuan itu duduk di pinggir ranjang, ia menyerahkan nampan yang ia bawa agar Jaeha memakannya.
“Aku tidak tau apa itu enak untukmu atau tidak, setidaknya menurutku rasanya lumayan.” Helena memperlihatkan senyum kecilnya,
Jaeha pun ikut tersenyum, setidaknya ia harus bersikap baik meskipun suasana hatinya sedang buruk begitu juga dengan kondisi tubuhnya.
“Tapi kau mau kemana? Tidak biasanya kau...”
“Aku akan kembali ke Prancis, aku tau pamanku masih hidup aku akan tinggal bersamanya.” Ucap Helena sembari menunduk,
“Kau akan pergi hari ini?”
Helena mengangguk, “Setelah kau selesai sarapan aku akan langsung pergi.”
“Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke bandara.” Ucap Jaeha menyesal
“Aku mengerti kondisimu. Cepat makan, nanti keburu dingin.”
Helena menunggu Jaeha selesai sarapan, ia mengambil mangkuk yang sudah kosong dari tangan Jaeha. “Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk segalanya, untuk dulu dan juga untuk sekarang. Maaf karena kebodohanku dan keegoisanku Sena jadi pergi meninggalkanmu.”
“Kau tidak berhak menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan salah siapa-siapa. Aku juga harus minta maaf untuk setiap kesalahanku. Aku tidak bisa menjadi pria baik, maka dari itu Sena meninggalkanku.”
“Boleh aku meminta sesuatu? Terakhir kalinya.”
“Apa?”
Helena menggeser duduknya mendekati Jaeha. Perlahan wajahnya mendekat dan dengan cepat perempuan itu mencium bibir Jaeha, membuat Jaeha terkesiap tak percaya.
“Maaf atas permintaanku ini, aku melakukannya sebagai ucapan perpisahan. Aku harap kau bisa bersama dengan Sena kembali, berbahagialah dengannya.”
Jaeha melihat Helena yang menghilang dari balik pintu, ia merasa bersalah pada Helena karena ia tidak bisa bersikap baik bahkan sebagai teman untuknya selama Helena ada di sini.
Suho yang baru datang berpapasan dengan Helena yang sedang menyeret kopernya, keduanya saling tersenyum. Suho sekarang bisa melihat, kalau Helena sudah mengalah untuk Jaeha. Helena memilih mengakhiri semuanya.
“Kau mau pergi?” Tanya Suho kemudian
Helena mengangguk, “Tolong jaga Jaeha, Oppa.”
“Mau ku antar?” Tawar Suho
“Tidak usah, aku bisa pergi sendiri. Kau pasti ada urusan pernting kan dengan Jaeha?”
“Baiklah jika itu mau mu, hati-hati dalam perjalananmu.”
Jaeha melihat Suho yang masuk ke kamarnya, pandangan matanya tertuju pada amplop besar yang Suho bawa. Tapi walaupun Jaeha memintanya Suho tidak segera menyerahkan amplop berisi berkas perceraiannya pada Jaeha.
“Aku tanya untuk yang terakhir kali, kau yakin akan menandatanganinya?”
“Aku yakin dengan keputusanku, aku tidak harus menahan seseorang yang sudah tidak mencintaiku lagi. Untuk apa?”
“Tapi kau salah paham padanya, dia—“
“Tidak ada yang salah paham di sini, semuanya sudah jelas. Sena sedang hamil, itu berarti dia sudah menikah dengan pria dalam foto itu! Apa aku harus menjadi lelaki brengsek yang merebut istri orang? Aku masih cukup waras untuk tidak melakukan hal itu.”
Jaeha segera membubuhkan tanda tangan dan capnya di surat perceraiannya dengan Sena.
“Kirimkan ini ke rumah Nenek Nam, sekarang juga!”
“Kau yakin tidak ingin mendengarkan penjelasanku?” Tanya Suho memastikan kembali, siapa tau Jaeha berubah pikiran.
“Aku ingin istirahat Hyung.”
Jaeha kembali berbaring, ia menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuh untuk menghangatkan dirinya juga sebagai isyarat agar Suho segera pergi. Suho tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat Jaeha sudah keras kepala seperti sekarang, Suho akhirnya memilih pergi meninggalkan Jaeha untuk istirahat.
Sebuah pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Zurich, salah satu dari penumpang itu adalah Hwaran dengan tujuan penerbangan menuju Bandara Internasional Incheon Korea Selatan. Ia memutuskan semua jadwalnya demi memenuhi tugasnya menjadi seorang Ibu.
“Maafkan Ibu karena mengingkari janji, Sena...”
**
Jaeha kembali ke ruangannya di temani Suho usai rapat dengan para pemegang saham, Yoo Minju sekertarisnya yang baru memberitahukan ada seseorang yang menunggunya di dalam.
“Siapa?” Jaeha merasa ia tidak punya janji dengan siapapun, tapi Minju tidak menjawab.
Begitu masuk Jaeha tertegun karena Hwaran adalah orang yang di maksud Minju, ia tidak mengira kalau Hwaran akan datang menemuinya ditengah jadwalnya yang padat.
“Ibu.” Entah panggilan apa yang harus ia berikan untuk Hwaran
Hwaran menyuruh Jaeha duduk karena ia tidak punya banyak waktu, ia menyempatkan waktunya untuk menemui Jaeha lebih dulu sebelum berangkat ke China.
“Aku ingin memberitahukan sesuatu yang selalu kau harapkan.”
“Sena ada di Amsterdam, benarkan?”
“Kau sudah tau?” Tanya Hwaran “Lalu kenapa kau tidak menemuinya? Bukankah kau ingin bertemu dengannya?”
“Untuk apa aku menemui istri orang lain, kami sudah bercerai.”
“Apa maksudmu? Sena masih istrimu, Sena masih mencintaimu maksudmu apa?”
“Aku sudah mengirimkan berkas perceraian yang sudah ku tanda tangani, aku yakin Sena sudah menerimanya.”
“Kau benar-benar ingin meninggalkannya disaat dia butuh dirimu sebagai suaminya?!” Hwaran tidak menyangka kalau Jaeha akan menyerah begitu saja terhadap putrinya
“Dia sudah menikah lagi kenapa Ibu pura-pura tidak tau?! Apa yang ingin Ibu lakukan? Ibu ingin membuatku menjadi seorang pria brengsek?”
“Sena belum menikah! Kenapa kau bicara omong kosong tentang putriku yang jelas-jelas selalu menangis sendirian karena merindukanmu?!”
“Dia bersama pria lain di Amsterdam! Aku melihatnya, apa lagi yang salah?!”
Jaeha beranjak mendekati meja kerjanya, ia mengambil foto Sena bersama Leon kemudian meletakannya di hadapan Hwaran.
“Itu buktinya! Dia terlihat sangat bahagia dengan pria itu! Sena sudah tidak mencintaiku kenapa Ibu memaksaku untuk menemuinya!?”
“Kau salah paham padanya! Kenapa kau tidak mencari tau lebih dalam lagi soal foto ini? Kenapa kau langsung ambil kesimpulan kalau Sena sudah menikah lagi disaat dia sedang mengandung anakmu Jaeha!”
Perkataan terakhir Hwaran membuat Jaeha terganggu, “Apa maksud Ibu? A-anakku?”
“Leon itu putraku! Dia Kakak tiri Sena dari suamiku! Aku pikir kau tidak akan bertindak ceroboh dan tergesa-gesa, aku pikir kau tidak akan mudah mempercayai foto-foto ini sebelum mencari kebenarannya terlebih dulu!” Suho yang memperhatikan mereka membuang nafas kesal, dalam hati ia merasa puas karena Jaeha dimarahi oleh mertuanya sendiri karena dia sudah salah paham.
Jaeha membeku setelah mendengar perkataan Hwaran, ia tidak tau harus berkata apa sekarang.
“Leon tinggal bersama ibunya sejak kecil, tapi setelah itu ia tinggal bersama dengan suamiku Hansoo dan mengurus perusahaannya sendiri di Amsterdam. Leon senang karena ia memiliki adik perempuan ia sangat menyayangi Sena, sampai akhirnya Sena memutuskan ikut dengan Leon karena takut kau akan menemukannya di Swiss.” Jaeha tetap diam membisu, matanya terfokus melihat Sena dan perut perempuan itu, Sena sedang mengandung anaknya? Tapi sejak kapan?
“Sena membutuhkanmu sebagai suaminya disaat masa kehamilannya yang pertama kali. Dia sedang mengandung darah dagingmu Jaeha...”
“Tapi—“
“Sena memberitahu Nenek kalau dirinya sedang hamil dan juga segalanya saat kalian sedang berlibur di Hallstatt, dan saat itu Sena sudah hamil dua bulan. Sena memintaku agar aku tidak memberitahumu tapi aku tidak bisa melihatnya terus tersiksa karena merindukanmu.”
Jaeha ingat bagaimana ia mengatai Sena gendut, Sena bilang kalau ia hanya harus makan banyak dan bergizi agar ia cepat bisa hamil. Sena menyembunyikan semuanya karena ia sudah merencanakan perceraian ini dan karena Sena sudah tau soal keberadaan Helena. Jaeha merasa bodoh karena tidak sadar tentang perubahan diri Sena.
“Aku ingin selai strawberry*.”
Jaeha tidak bisa untuk tidak percaya pada Hwaran, Hwaran Ibunya Sena mana mungkin berbohong. Perasaan menyesal yang teramat sangat itu muncul saat ia ingat dirinya menandatangani surat itu perceraian itu empat hari yang lalu, ia benar-benar menyesal. Ia menyesal karena tak mendengarkan penjelasan Suho terlebih dulu, ia terlalu keras kepala.
“Temui dia, jelaskan semuanya padanya. Aku mohon sebagai Ibunya temui dia! Aku tidak ingin putriku mengalami hal yang sama sepertiku. Aku mohon! Dia sangat merindukanmu, dia membutuhkanmu. Dibalik kenginannya untuk menceraikanmu sebenarnya itu berat untuknya. Jaeha...” Hwaran menggenggam tangan Jaeha dengan penuh kasih sayang, “Sena mencintaimu.”
Mera kembali menitikan air mata begitu melihat berkas perceraiannya dengan Jaeha, saat berkas perceraian itu datang ke tangannya Mera tak bisa berhenti menangis. Pilihan inilah yang ia pilih, ketidak inginannya untuk bercerai menurutnya adalah sesuatu yang egois dan sangat bertolak belakang dengan apa yang ia lakukan. Apa yang ia lakukan inilah yang ia dapatkan, Jaeha setuju untuk bercerai dengannya. Semuanya sudah berakhir. Tidak ada tali hubungan apapun lagi, satu-satunya perantara antara ia dan Jaeha hanyalah bayi yang sedang dikandungnya sekarang.
“Maafkan Ibu sayang.”
Tok tok tok!
Mera segera mengusap air matanya, “Siapa?”
“Ini aku!” Mera mempersilahkan Leon untuk masuk,
Begitu melihat Mera yang terisak Leon tau kalau Mera baru saja menangis, sejak mereka sudah sah bercerai Leon selalu mendapati Mera sedang menangis. Kesedihan yang adiknya itu tutupi tak bisa menipu Leon.
“Mau makan malam di luar?” Leon tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa melakukan hal kecil untuk menghibur Mera.
“Makan di luar? Tentu saja! Aku ganti baju dulu.”
Leon mengajak Mera ke sebuah restoran yang menyajikan makanan khas Amsterdam dan Belanda, itu adalah restoran yang selalu mereka kunjungi. Bahkan Leon dan Mera sudah akrab dengan pemilik restoran tersebut.
“Makanlah! Aku tau moodmu akan membakai kalau kau makan sesuatu.”
“Pasti aku terlihat rakus!”
“Untuk sekarang wajar saja kalau kau rakus,” Ucap Leon sembari tersenyum
Mera manyantap Frikandel dengan lahap, matanya berbinar begitu potongan daging cincang masuk ke dalam mulutnya, melihat Mera ceria seperti semula membuat Leon merasa lega. Ia berasa tugasnya sebagai Kakak sudah ia jalankan dengan baik.
“Aku angkat telepon dulu.” Mera mengangguk membiarkan Leon pergi.
Mera melihat hujan yang turun di luar jendela, memasuki musim gugur membuat udara jadi bertambah dingin. Musim gugur mengingatkannya saat ia pergi bulan madu ke Jepang, mencari kuliner malam di Dotonbori, pergi ke Festival Momiji, Jaeha yang menyanyikannya sebuah lagu, bahkan malam pertama mereka pun Mera bisa mengingatnya dengan jelas, dalam ingatan itu Mera tersenyum, tapi tak lama ia mulai merasa nelangsa. Air matanya mulai menumpuk di pelupuk mata, Mera pun segera mengusapnya agar tidak terjatuh.
Saat pandangannya kembali keluar Mera seketika terdiam melihat orang yang kini tengah berdiri di luar yang juga tengah menatapnya, ia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya akan ditemukan dengan mudah di sini.
Kedua matanya mengikuti arah pergerakan orang itu sampai akhirnya mereka saling berhadapan.
“Aku menemukanmu.”
“Bagaimana bisa kau—“
“Boleh aku duduk?” Tanya Minho, Mera mengangguk mengijinkan Minho duduk. Mereka duduk saling berhadapan
“Kau sepertinya tidak senang bertemu denganku Sena,” Minho sadar dengan raut wajah Sena yang tak tersenyum sama sekali padanya.
“Aku Mera, Kim Mera, bukan Sena!”
“Tapi bagiku kau adalah Sena kau tetap Sena sampai kapanpun.” Mera tidak menatap Minho, ia takut akan menangis begitu kedua matanya melihat wajah pria itu. Menangis kenapa Minho melakukan semua hal yang membuatnya berpisah dari Jaeha, tapi ia tak bisa menyelahkan Minho sepenuhnya. Ia hanya masih tak percaya saja dengan apa yang sudah Minho lakukan padanya.
“Bagaimana bisa kau menemukanku di sini?”
“Aku memang sulit menemukanmu, tapi akhirnya aku bisa menemukanmu di sini. Begitu aku tau kau di Amsterdam aku langsung pergi karena aku ingin menemuimu.”
“Aku harap hanya kau yang bisa menemukanku.”
“Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja kan?” Sulit bagi Minho untuk kembali seperti dulu dengan situasi canggung yang dialaminya sekarang, ia ingin kembali dekat dengan Sena tapi Minho sudah banyak melakukan perubahan pada Sena.
“Aku baik-baik saja.” Mera masih belum siap untuk bertemu Minho, kenapa takdir harus mempertemukan mereka kembali?
Leon datang kembali setelah berbicara cukup lama dengan orang perusahaan, ia cukup kaget karena melihat Minho ada bersama Mera. Tadinya Leon ingin meninggalkan mereka berdua tapi kehadirannya lebih dulu tertangkap oleh Mera membuat Leon akhirnya menghampiri mereka.
Leon bisa melihat tatapan kaget Minho padanya, “Kau... Leon Kim bukan?”
“Apa kabar Hyung? Lama tidak bertemu.” Leon tersenyum menyapa Minho. Mera sendiri kaget karena Leon mengenal Minho, tapi Mera menyembunyikan keterkejutan itu dan lebih mendengarkan percakapan mereka.
Minho menatap Sena dan Leon bergantian, “Kalian... apa kalian?”
Leon duduk kembali di kursinya, ia menggeleng membantah dugaan Minho. “Bagaimana bisa aku menjalin hubungan asmara dengan Adikku sendiri.”
“Adik?” Tanya Minho heran, entah fakta apa yang akan dia temukan dalam pertemuannya kali ini.
“Mera adalah Adikku, lebih tepatnya Adik tiriku. Aku putra dari istri pertama Kim Hansoo. Jadi besar kemungkinan sekarang kita terikat oleh tali persaudara Hyung.”
Leon, adik kelasnya sewaktu kuliah adalah Kakak tiri Sena yang berarti adalah adiknya juga? Minho sama sekali tidak menyangka ia akan mendapatkan kejutan tak terduga hari ini. Meskipun memeang Leon tak punya hubungan darah dengan dirinya, tapi sekarang Leon adalah Kakak Sena.
“Ak-aku tidak menyangka tentang hal ini. Aku pikir kalian...”
“Tidak, orang lain mungkin akan berpikir kalau kami adalah pasangan apalagi Mera sedang hamil. Lucu juga sebenarnya.” Mera dengan cepat memukul lengan Leon, ia sudah meminta Leon agar tidak memberitahu tapi mulutnya malah ember!
Lagi-lagi Minho terkejut mendengar perkataan Leon tentang Sena, Minho tidak tau Sena sedang mengandung tapi yang jelas Minho tau itu darah daging siapa. Fakta itu membuat persaan bersalah Minho tiba-tiba semakin menjadi, ia bisa tau bagaimana rasanya jika anak itu lahir nanti hidup tanpa Ayahnya. Ia teringat bagaimana dulu dirinya selalu menanyakan dimana Ayahnya pada Ibunya.
Minho bisa melihat Sena pura-pura baik di depan semua orang, ia mengenal Sena dengan baik. Sena menyembunyikan luka dan kesedihannya semenjak ia tau Jaeha sudah lebih dulu menikah dengan Helena, ia juga tau sebenarnya Sena enggan untuk bercerai dengan Jaeha apalagi dengan keadaannya yang sekarang. Ia egois, ia keras kepala! Hal terlarang yang harusnya tidak ia lakukan malah dilakukannya karena keegoisannya.
Minho tak harus bertanya Sena ingin kembali padanya atau tidak, Sena yang tak bicara menolaknya pun Minho sudah tau kalau ia pasti ditolak. Sena tidak akan pernah kembali padanya jika sudah seperti ini.
Jaeha menatap secarcik kertas bertuliskan alamat tempat tinggal Sena di Amsterdam pemberian Hwaran sebelum pergi meninggalkannya. Ia juga melirik tiket pesawat yang sudah ia pesan untuk pemberangkatannya besok malam, sebenarnya ia bisa pergi saat ini juga dengan pesawat pribadinya tapi ia butuh waktu sedikit lebih lama untuk mempersiapkan hatinya.
Dering ponsel miliknya membuatnya terkesiap, ia melihat nomor tidak dikenal masuk menghubunginya.
“Halo!”
“Jaeha.”
Jaeha tau siapa pemilik suara ini, entah ada angin apa minho menghubungi dirinya.
“Ada apa?”
“Aku ingin minta maaf padamu, aku ingin kau pergi menemui Sena di Amsterdam dia membutuhkanmu. Aku tau aku keras kepala dan egois, aku sudah sangat keterlaluan dengan menggunakan Helena sebagai pion agar kalian berpisah. Aku benar-benar berdosa karena menggunakan kelemahan orang lain.”
Jaeha tidak menjawab, ia ingin mendengarkan dulu semua penjelasan Minho meskipun emosinya perlahan mulai naik.
“Aku juga yang membawa Helena ke Korea, aku yang memberinya harapan untuk bisa kembali bersamamu.”
“Aku sudah tau itu, aku hanya tidak ingin urusan itu menjadi panjang. Apa kau sudah sadar bahwa tindakanmu itu tidaklah benar setelah kau melihat semuanya sekarang?”
“Aku tau aku serakah, aku menginginkan sesuatu yang seharusnya tidak aku miliki. Sekali lagi aku minta maaf, maafkan aku. Aku mohon temui Sena!”
“Aku juga sadar sebagian adalah salahku karena aku tidak jujur lebih awal pada Sena. Aku akan memberimu pelajaran jika kita bertemu nanti.”
“Aku akan menunggumu di sini. Aku sudah bertemu dengannya dan dia benar-benar membutuhkanmu.”
Jaeha sebenarnya kesal ketika Minho berkata bahwa dirinya ada di Amsterdam, keinginannya untuk jadi yang pertama bertemu dengan sena sudah pupus oleh Minho. Alasan yang keanak-anakan tapi itulah perasaannya sekarang.
Tapi yang terpenting ia ingin menebus kesalahannya, Jaeha kembali menaruh harapan kalau Sena akan menerimanya kembali dan mereka bisa hidup bersama seperti dulu. Hukuman apapun akan ia terima, asalkan Sena mau menemuinya.
----------------------------------------
Sepertinya jadi hari Rabu sama Sabtu deh.. jangan lupa likenya ya, karena like dari kalian adalah semangatku buat lanjutin cerita 😁😁💕💕