Maybe I Love You

Maybe I Love You
24. Ingin Bersama



Setelah melakukan ‘olah raga’ bersama Sena lah yang lebih dulu membuka mata dari tidur lelapnya, orang pertama yang ia lihat adalah Jaeha yang masih tidur dengan pulas, tangannya terulur ingin menyentuh wajah Jaeha



‘Jae, siapa Helena? Seberapa besar kau mencintai Helena? Apa aku akan tau rahasiamu dari orang lain atau kau yang akan memberitahukannya sendiri padaku? Manakah yang akan lebih sakit?’



Tangannya tak jadi menyentuh wajah Jaeha ia malah berbalik ingin mengambil bajunya di lantai tapi pelukan Jaeha membuatnya tak bisa bergerak.



“mau kemana?” tanya pria itu dengan suara seraknya



“aku mau mandi.” Jaeha mencium bagian pundak Sena yang terbuka



“terima kasih,”



“hmm, kalau begitu lepaskan aku! aku harus mandi dan aku sangat lapar.”



Jaeha akhirnya membiarkan Sena mandi lebih dulu tadinya ia ingin mengerjai Sena dengan mengajaknya mandi bersama tapi melihat nada suara Sena yang seperti itu membuat Jaeha jadi membatalkan niatannya.



Sena turun lebih dulu ke dapur untuk makan sore merangkap sarapan sekaligus makan malam. Ia menghampiri Bibi Hanmi yang sedang membereskan isi kulkas.,



“bibi masak apa hari ini?”



“Sena, kau sudah bangun? Jaeha menyuruhku untuk membuat bubur,”



“bubur? Kenapa harus bubur? Apa dia sedang sakit?”



Bibi Hanmi menahan senyumnya, “tidak mungkinkan kalau Jaeha sedang sakit?”



Entah Sena yang terlalu polos atau hanya pura-pura tak mengerti tapi ia malah menunjukkan ekspresi tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan Bibi Hanmi padanya.



“dia mengkhawatirkanmu, dia mengatkaan kondisimu padaku aku mengatakan kalau kau makan sedikit dan terlihat kurang bersemangat, jadi dia minta di buatkan bubur. Aku akan hangatkan buburnya kau tunggu di meja makan.”



Saat Sena tengah menunggu buburnya, Jaeha datang menghampiri Sena dan duduk di saling berhadap-hadapan.



“Bibi, aku ingin ramen!”



“ramen?” tanya Sena



“iya, ramen. Aku rasa sudah hampir 3 bulan aku tidak makan ramen.”



“kenapa kau makan ramen sedangkan aku makan bubur?” Bibi Hanmi datang menyimpan semangkuk bubur di hadapan Sena



“kau sedang sakit, kau harus makan bubur.”



“aku tidak sakit! Aku baik-baik saja! kau juga tau tadi—“ Sena menghentikan ucapannya karena jika diteruskan itu akan membuatnya malu



“ya iya aku tau, kau tadi sangat bersemangat,” Sena melotot pada Jaeha



“kau memang tidak seperti orang sakit,” Bibi Hanmi dan Paman Bong yang ada di sana tersenyum penuh arti



“pelankan suaramu! Kau mau membuatku malu hah?!”



“mereka juga sudah berpengalaman, biarkan saja.”



“dasar gila!”



“berarti kau sudah melakukan ‘olah raga’ dengan orang gila dan kau benar-benar sangat berse—“ Sena segera memasukkan sesendok bubur ke dalam mulut Jaeha agar ia tak bicara hal yang memalukan lagi



“argh! Panas!!! Bagaimana jika lidahku melepuh!?”



“wleeee!” Sena malah mejulurkan lidahnya mengejek Jaeha




‘dia menyadarinya?’ batin Sena “kenapa harus khawatir, itu biasa terjadi saat bangun tidur.”



“benarkah?” Jaeha mengaduk-ngaduk ramennya



“jika kau punya masalah atau ada yang membuatmu khawatir, bicara padaku. Aku tidak tau apa aku bisa membantu masalahmu atau tidak, tapi setidaknya aku ingin jadi teman keluh kesahmu sebuah tempat dimana kau bisa merasa nyaman, sebuah tempat dimana kau bisa merasakan ketenangan dalam semua masalahmu.”



Sena terdiam, ia ingin bertanya pada Jaeha mengenai Helena tapi kenapa mulutnya sangat sulit untuk berbicara, ia benar-benar merasa berat untuk melakukannya. “kau terlalu banyak bicara.”



“oh ya, hari ini kau mau pergi kemana?” tanya Jaeha sambil mengunyah mie nya



“aku tidak berencana pergi kemana pun, kenapa?”



“tidak, aku hanya bertanya. Sena?”



“hmmm! Apa?”



“apa aku boleh bertemu dengan anak-anak panti yang biasa kau datangi?” tanya Jaeha ragu-ragu tanpa menatap Sena



Jaeha dapat merasakan Sena tengah menatapnya dengan tatapan kebingungan, Jaeha memang kurang bisa dekat dengan anak-anak melihat Sena bisa seakrab itu ia juga ingin merasakan bagaimana bahagianya bisa bermain bersama mereka.



“pantas saja hari ini cuaca begitu dingin.” Ucpa Sena dengan polosnya



“Sena-ya! Aku serius, aku ingin merasakan kebahagiaanmu ketika bermain dan mengurus mereka. aku ingin mencoba dekat dengan anak-anak.”



“ppffftttt, bercanda hanya bercanda. Serius banget sih! Boleh, kapan kau ingin mengunjungi mereka?”



“bagaimana kalau besok? Besok kebetulan aku tidak ada kerjaan.”



“bukannya tidak ada kerjaan, kau menyerahkan semuanya pada Suho, benarkan?”



“lalu apa gunanya aku punya sekertaris pribadi?”



“heol! Baiklah, besok kita pergi menemui Minhyun bagaimana? Kau ingat anak yang waktu itu menabrakmu kan? saat kita pertama kali bertemu waktu itu.”



“aaah~~ anak itu. ya aku ingat dia, aku harus minta maaf padanya.”



“benar, kau harus berubah menjadi paman yang baik untuknya. Image mu sudah terlanjut buruk baginya dan kau harus memperbaiki itu.”



“paman? Apa aku setua itu? aku ingin dipanggil kakak!”



“apa itu masalahnya sekarang? kau harus mencari cara agar bisa memenangkan hati anak-anak itu terutama Minhyun.”



“lalu apa yang harus aku lakukan?” Jaeha mengerucutkan bibirnya dan itu membuat Sena sediiiiiiikit gemas



“pikirkan saja sendiri, aku tidak akan membantumu dalam masalah ini. kau harus bisa memenangkan perhatian mereka dengan caramu sendiri.”



“caraku... sendiri?” Sena mengangguk “tapi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan?”



“ada banyak cara agar kau tau apa yang harus kau lakukan, tapi jangan tanya padaku.”



“dasar pelit!” Jaeha memanyunkan bibirnya, “lalu aku harus bertanya pada siapa?”



“terserah! Aku tidak akan merekomendasikan siapapun padamu.”



Jaeha menghela nafas parsah, walaupun ia bertanya ribuan kalipun Sena tidak akan pernah memberikannya jawaban, sepertinya tidak ada cara lain selain cara itu, berselancar di internet.