Maybe I Love You

Maybe I Love You
20. Find Something



Jaeha sampai di Chicago menjelang siang, setelah sampai di rumah keluarganya dan beristirahat sebentar Jaeha langsung pergi ke perusahan untuk mulai mengurusi masalah yang harus ia tangani. Tak ada waktu untuk istirahat baginya sebelum masalahnya selesai satu persatu.



“jika kita membeli Yuhe elektronik akan membawa J-One dalam puncak dalam bidang elektronik, masalah yang dihadapi saat ini adalah kurangnya dana.”



“berapa dana yang kurang?” tanya Jaeha



“diluar biaya untuk membuat mesin baru sedikitnya 1,2 triliun biaya yang akan diperlukan.”



“apa tidak ada dana domestik lain yang bisa digunakan?”



“kami berencana menghentikan pengembangan pabrik medis di Vova tapi melihat dana yang sudah dikeluarkan itu tidak mungkin dan sebentar lagi pengembangannya akan selesai.”



“apa kalian melupakan perusahan Globics?” tanya Jaeha



“perusahaan itu sudah di tutup 2 tahun lalu karena bangkrut, meskipun memang ada 5 miliar yang diinvestasikan di sana tapi itu semua percuma karena saham mereka tidak ada artinya.”



“kita hanya butuh 35 miliyar untuk mengambil alih Yuhe elektronik, dari hasil penelusuran yang kudapat perusahaan itu sudah di beli oleh perusahaan lain dan kini tengah mengoprasikan tambang, mungkin wajar jika kalian belum tahu karena memang belum di umumkan saat ini dan mereka punya cadangan emas dan tambang yang cukup banyak dan saham-saham itu bisa naik empat kali lipat menjadi 20 miliyar.”



“15 miliyar lagi bisa kita dapatkan dari pabrik kimia di Newma karena sudah tiga tahun tidak beroprasi dan perusahaan kita tidak begitu tertarik dengan perusahaan di bidang kimia, lebih baik kita menjualnya untuk menambah dana yang kurang dan sisanya kita bisa dapatkan dari pendapatan elektronik di bulan depan.”



Jaeha kembali ke kediamannya setelah urusannya di dua perusahaan selesai, ia bahkan tak sempat makan siang karena ia melupakannya saking sibuknya membuat kepalanya sedikit pusing.



“hyung panggil aku jika makan malam sudah siap.” Ucap Jaeha pada suho



“tentu.”



Jaeha merebahkan dirinya di kasur melemaskan setiap otot dan tulangnya punggungnya yang sedikit kaku, ekor matanya melirik koper yang sama sekali belum ia buka. Jaeha teringat perkataan Sena saat di bandara kalau istrinya itu memasukkan sesuatu ke dalam kopernya.



Perlahan ia bangun untuk membuka kopernya karena penasaran, ternyata ada sebuah bingkisan di dalam kopernya.



“ige mwoya?”



Jaeha akan membukanya tapi ia ingat permintaan Sena kalau ingin membukanya harus meneleponnya lebih dulu. Dengan cepat ia mengambil ponselnya berharap Sena sedang tidak sibuk atau tidur.



Sena kini tengah beramain bersama Kui sambil menunggu sarapan tersaji di meja makan, “Kui-ah! Anja!”



Anjing kecil hitam itu menurut, Sena memberikan makanan sebagai bonus pada Kui yang langsung dilahap oleh anjing kecil itu. “pintar!”



Drrrt, drrrt, drrrrt



Sena tersenyum miring melihat nama Jaeha di layar ponselnya, Sena berdehem beberapa kali menetralkan suaranya.



“hallo!”



“apa aku mengganggumu?”



“tidak! Aku sedang bermain bersama Kui sambil menunggu sarapan. Apa pekerjaanmu sudah selesai?”



“untuk hari ini sudah, aku sedang menunggu makan malam.”



“aku tidak bertanya.”



“ya iya terserah, aku hanya memberitahumu siapa tau kau mau menyusulku ke sini untuk menemaniku makan malam.”



“dasar ngarep! Ah kau sudah membuka kado dariku?”



“belum, kau kan bilang aku harus membukanya saat sedang menghubungimu.”



“ah benar! Ayo buka kalau begitu! Tapi kau sedang di mana sekarang?”



“di kamar, memangnya kenapa??”



“bukanya di luar, jangan di kamar!”



Meskipun penasaran Jaeha menurut saja, ia pergi ke halaman belakang dekat kolam renang.



“ku buka sekarang.” perlahan Jaeha membuka penutupnya dan...



“gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”




“hahahahahahahahaha!!!!” Bibi Hanmi dan Eunsol bahkan menghampiri Sena begitu mendengar suara tawanya yang begitu keras,


Sena bahkan memegang perutnya yang kesakitan karena ia bisa membayangkan bagaimana ketakutan dan kagetnya Jaeha di sana!



Sena ingat ia menelepon Su Won sebelum berangkat ke makam Sora.



“hallo!”



“Sena? Ada apa kau menghubungiku?” tanya Su Won



“bisa kau tangkapkan kecoa yang banyak?”



“untuk apa? kau mau beternak kecoa?”



“bukan! Pokonya carikan kecoa yang banyak masukan dalam kotak seperti kado lalu kirimkan ke alamat yang akan aku kirimkan nanti.”



“langsung bayar ok?!”



“tenang! Aku akan memberikanmu bonus!”



Jaeha memberanikan diri memungut ponselnya yang terjatuh “kau!!!!!!!”



“wleeeee!!!! Itu akibatnya jika kau menggodaku atau mempermainkanku! Bye!”



Sena memutuskan sambungan teleponnya, “hal-hallo! Sena! Sena!!!”



Suho yang tadinya kabur setelah melihat kecoa tersebar di mana-mana kini kembali menemui Jaeha yang tengah berjongkok di kursih.



“hyung panggil pembantu dan suruh mereka membunuh kecoa-kecoa ini!”



**



Sejak insiden kecoa itu Jaeha sama sekali belum menghubungi Sena, membuat gadis itu tanpa sadar selalu memperhatikan ponselnya saat ia sedang santai atau bahkan saat ia sedang sibuk.



‘apa dia marah padaku? Tapi kenapa aku terus menunggu telepon darinya?’ batin Sena.



Setiap kali ia mencoba untuk tak mengharapkan telepon atau bahkan pesan dari Jaeha, ia mencoba menyibukkan diri untuk berhenti berharap tapi gagal.



“apa kau sedang menunggu panggilan dari Jaeha?” Bibi Hanmi tiba-tiba saja bicara membuatnya tersentak kaget.



“tidak! Aku hanya sedang menunggu telepon penting.” Elak Sena



Bibi Hanmi tersenyum kecil, ia tau gelagat seperti itu dirinya juga pernah muda tentunya ia lebih berpengalaman dari pada Sena.



“baiklah, ini jus alpukat pesanamu.”



“terima kasih bi.”



Selesai meminum jus alpukatnya Sena berpikiran untuk melihat kamar Jaeha, perasaan ingin tau apa saja isi kamar pria itu membuatnya membuka pintu dengan hati-hati. Begitu masuk ia mengedarkan pandanganya ke setiap penjuru kamar, terkesan biasa saja hanya paling banyak miniatur-miniatur yang berbaris rapih di sebuah rak khusus.



Sena membuka lemari pakaian Jaeha, terlihat lemari itu sedikit kosong karena sebagaian isinya di bawa oleh Jaeha ke Amerika.



Begitu melihat kayu pemisah antara rak atas dan bawah membuat Sena meraba bagian itu yang menurutnya terasa aneh sampai akhirnya tertarik keluar.



“laci rahasia! Apa isinya?”



Sena melihat beberapa tumbukan kertas dan map, ia mengeluarkannya sekedar untuk melihat apa isinya.



“entahlah! Aku tidak mengerti!” ia menutup kembali map dan menyimpannya kembali ke laci persis seperti semula.



Jeduk!



Sesuatu di ujung sana membuat map yang dipegangnya tidak bisa masuk, karena penasaran Sena merogoh ke bagian dalam sampai ia menemukan sebuah kotak berwarna gelap.



“kotak apa ini?”