
Sena mengemudikan mobilnya sendiri meskipun Paman Bong melarangnya karena Paman Bong tau Sena belum begitu lancar membawa mobil apalagi di jalan raya yang ramai saat ini, tapi Paman Bong tak bisa menentangnya lagi apalgi melihat rau wajah Sena yang begitu tulus memohon padanya.
Bibi Hanmi mencari Sena karena ia membuat puding kesukaan Sena, tapi ia tak menemukan Sena di mana pun. Bibi Hanmi kemudian menemui Paman Bong dan menanyakan di mana Sena
“bukankah kau tadi menjempunya?”
“Sena membawa mobilnya sendiri, aku pikir dia sudah kembali.”
“ya ampun kenapa kau tak melarangnya! Sena masih belum bisa mengemudikan mobil dengan baik!” Bibi Hanmi memukul Paman Bong
“hentikan! aku sudah melarangnya, tapi Sena tetap saja tak mau mendengarkanku apalagi...”
“apalagi apa? kau jangan tambah membuatku khawatir!”
“raut wajah Sena, aku tidak bisa mendeskripsikannya seperti apa tapi aku rasa dia sedang tertekan.”
“apa?! tertekan?” Paman Bong mengangguk
Bibi Hanmi menatap garang Paman Bong dan kembali memukulnya, “harusnya kau menemaninya! Kalau terjadi sesuat pada Sena bagaimana?!”
Ternyata Sena pergi ke vila pribadinya, ia hanya tersenyum kecil pada para pekerja dan segera pergi ke kamarnya bahkan mengunci pintunya. Sena memukul dadanya berulang kali tubuhnya merosot kelantai air matanya kini berjatuhan membuat pipinya basah.
“kenapa?! kenapa aku takut?! Kenapa di sini sangat sakit?! Kenapa aku sangat kesakitan kenapa?!!” tubuhnya bahkan kini meringkuk di lantai, menangis tanpa suara.
Suho memperhatikan raut wajah Jaeha yang terlihat tidak tenang, “ada apa denganmu? Kau baik-baik saja kan?”
“entahlah hyung, perasaanku tidak enak. Rasanya serba salah.”
“apa kau salah makan sesuatu? Pencernaanmu sedang bermasalah?”
“tidak, bukan itu. hyung aku akan keluar untuk membeli kopi.”
“suruh aku saja, kau tak biasanya meninggalkan kantor hanya untuk memebeli kopi.”
“sekalia aku ingin menhirup udara luar, semoga saja perasaanku lebih baik.”
Setelah membeli kopi Jaeha berjalan-jalan sebentar berharap perasaannya akan membaik, langkahnya terhenti di depan seorang penjual aksesoris. Pandanga matanya tertuju pada sepasang anting pikirannya tertuju pada Sena, ia merasa kalau Sena akan cocok jika memakai anting ini membuatnya kini tersenyum.
“kau menyukai yang ini?” tanya si penjual membuat Jaeha menatap si penjual tersebut
“ya, aku ingin membelinya.”
Jaeha memandangi kado tersebut, ia ingin Sena memakai antingnya saat ulang tahun pernikahan orang tuanya nanti. Tapi tanpa diduga seseorag menabraknya sehingga kado tersebut jatuh.
“maaf aku buru-buru.” Suara perempuan
“tidak apa-apa, kau bisa pergi.”
“terima kasih. Sekali lagi maafkan aku.”
Saat Jaeha akan mengambil kado tersebut gerakannya terhenti seperti sedang berpikir,
“Helena!” Jaeha kembali berdiri ingin mengejar orang yang menabraknya tadi, ia masih bisa melihat perempuan tersebut yang tengah berlari di tengah kerumunan orang - orang yang tengah berjalan, saat sudah beberapa langkah ia kembali ingat kado untuk Sena dan kembali mengambilnya, tapi saat ia berbalik untuk kembali mengejar perempuan tersebut perempuan itu sudah tidak ada menghilang dari pandangannya, tapi tak membuat jaeha berhenti untuk berlari ke arah yang sama berharap masih bisa melihat kemana perempuan tersebut pergi.
Nafasnya terengah-engah ia tak mempedulikan jasnya yang basah karena tumpahan kopi, “tidak, bisa saja hanya suaranya yang mirip. Aku terlalu banyak pikiran.”
Dibalik tembok bangunan, Helena terharu karena ia bisa melihat Jaeha yang kini tengah mencarinya. Ia senang bisa bertemu dengan Jaeha meskipun hanya sebentar saja. ia yakin, kini ia yakin kalau Jaeha memang benar masih mencintainya.
“tunggu aku Jaeha, tunggu aku. aku akan membebaskanmu dari pernikahan palsu itu. kita akan kembali bersama lagi.”
hampir satu jam lebih tubuh Sena di guyur oleh air shower, bajunya kini basah tak ada pergerakan apapun, ia hanya diam dengan pandangan kosong meskipun tubuhnya sudah bergetar karena kedinginan ia tetap tak bergerak.
Tok tok tok!
“nona apa kau di dalam?” barulah Sena mendongak, ia menatap ke arah pintu “nona apa kau baik-baik saja?”
tok tok tok!
Sena berdiri mematikan showernya, ia membuka bajunya yang basah kemudian membalut tubuhnya dengan handuk kemudian membuka pintu kamar mandi, “aku baik-baik saja, ada apa?”
“belikan aku baju, bajuku basah.”
“tapi bukankah di lemari ada.”
“aku ingin yang baru, kau bisa ambil kartuku di tas.”
“tapi nona—“
“aku percaya padamu, aku akan mandi sebentar lagi.”
Jaeha pulang lebih awal, meskipun pikiranya sedang terganggu karena kejadian tadi tapi ia berusaha untuk tetap tenang. ia berjalan menuju kamar Sena dan mengetuk pintu kamarnya tapi tak ada jawaban, saat ia membuka pintunya tak ada siapapun begitu juga di kamar mandi.
“kemana dia?” Jaeha kini pergi ke dapur berharap menemukan sena ada bersama Bibi Hanmi,
“bagaimana ini?? Ponsel Sena tidak aktif! Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?!” Bibi Hanmi kembali memukuli Paman Bong entah untuk yang keberapa kali.
“berhenti memukulku! Aku tau ini salahku, aku juga tak enak pikiran juga tak enak hati! Aku juga khawatir! Aku ingin mencarinya tapi kemana?!”
“kenapa dengan Sena?” Paman Bong dan Bibi Hanmi kaget karena Jaeha sudah ada di belakang mereka, “Bibi Paman, ada apa dengan Sena?!”
“Sena mengemudi sendiri,” ucap Paman Bong ragu
“Sena?! Dia mengemudi sendiri? Dia bahkan belum punya SIM kenapa Paman Bong tak melarangnya?”
“aku sudah melarangnya, tapi Sena tetap memaksa. Aku tak bisa berbuat apa-apa.”
“sudah berapa lama dia pergi?”
“Sena keluar jam 10.00 pagu, sampai sekarang belum kembali.” Ucap Bibi Hanmi
“Sena di mana kau?!” Jaeha segera pergi dari dapur di susul Bibi Hanmi dan Paman Bong, tapi saat Jaeha akan membuka pintu utama saat itu juga Sena membuka pintu dan hampir terjengkang karena kemunculan Jaeha yang mendadak, dengan segera Jaeha menangkap sena dan langsung memeluknya.
“aku mengkhawatirkanmu! Kau kemana saja?!” Bibi Hanmi dan Paman Bong yang ada di belakang Jaeha dan Sena merasa lega karena nona mereka sudah kembali dengan selamat.
“memangnya aku kenapa?” tanya Sena polos
“kau belum punya SIM, mengemudimu saja belum lancar kau berani membawa mobil sendiri?!!” dibalik pertanyaan polos itu Sena ingin sekali menangis,
‘kau mengkhawatirkanku karena apa? siapa aku bagimu? Kenapa kau harus khawatir padaku yang bukan siapa-siapamu Jaeha?!’
“Sena~” Sena kembali tersadar, ia berusaha menahan air matanya.
“aku hanya ingin mencobaya, aku ingin semakin lancar mengemudi mangkanya aku pergi sendiri.”
“harusnya kau di temani Paman Bong, aku mohon jangan seperti ini lagi sebelum kau mendapatkan SIM, hmm?”
“oke.”
“nona kau ingin makan malam apa? biar aku buatkan.” Tanya Bibi Hanmi
“tidak perlu, aku sudah makan. Aku sangat kenyang sekarang.” padahal Sena belum makan apapun, tapi ia sama sekali tak ada nafsu untuk makan.
Jaeha mengikuti Sena sampai ke kamarnya, ada perasaan ia ingin terus memeluk Sena bahkan ia ingin menemani Sena tidur malam ini, ia ingin memeluk Sena ia tak ingin melepaskan Sena dari pelukannya. Jaeha tak bisa lagi menahannya dan akhirnya ia memeluk Sena dari belakang membuat Sena cukup kaget dengan keberanian jaeha saat ini.
“kenapa kau seperti ini?” tanya Sena
“tidak tau, aku juga tidak tau. Aku... aku hanya ingin memelukmu seperti ini.”
“tapi aku ingin sendirian.” Sena berusaha melepaskan pelukan Jaeha, tapi pelukan itu malah semakin menguat.
“aku... apa bagimu?” mata Jaeha yang awalnya terpejam kini terbuka begitu mendengar pertanyaan itu dari Sena, Jaeha sangat sulit untuk menjawabnya karena ia sendiri masih belum yakin dengan perasaannya sendiri. Ia bahkan teringat kejadian tadi, bagaimana jika itu bernar Helena? Pertanyan itu terus berulang dalam kepalanya membuatnya pusing.
“kau... tidak bisa menjawabnya?” Jaeha membalikkan tubuh Sena agar mereka saling berhadapan, tangannya menyentuh wajah Sena agar sena bisa menatap kedua matanya.
“aku tidak akan mengatakannya tapi rasakanlah sendiri.” Jaeha tiba-tiba mencium Sena membuat matanya terbelalak, kedua tangan Sena mencengkram kuat baju Jaeha dan kedua kelopak matanya bahkan kini tertutup bersamaan dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya itu.