
“Nah perkenalkan, dia adalah orang yang akan menjadi bodyguardmu.”
“Bodyguard?” Mera melihat seorang pria bertubuh tinggi serta memakai setelan jas hitam rapih membelakangi dirinya. Batin Mera tiba-tiba saja berdesir hebat begitu melihat postur tubuh orang tersebut, mengingatkannya pada seseorang.
“Ini Mera, Adikku. Orang yang akan kau jaga.”
Begitu Leon memperkenalkan Mera, pria itu perlahan berbalik memperlihatkan wajahnya. Jantung Mera tiba-tiba saja berdetak kencang. Perlahan wajah pria itu mulai terlihat, nafas Mera seakan terhenti saat wajah itu sepenuhnya mulai terlihat.
“Nama saya Rico Kim. Mulai hari ini saya akan bekerja sebagai bodyguard anda.” Pria bernama Rico itu membungkuk memberi hormat pada Mera.
Nafas Mera kembali bekerja, ia terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Yang sekarang ada dihadapannya itu hanyalah orang lain. Jika masalah postur tubuh, tentu saja pasti ada yang sama. Kegelisahan yang tidak berarti.
“Kenapa Kakak memberikan bodyguard segala?”
“Karena aku sangat menyayangimu. Jika nanti kau ada masalah tapi aku sedang diluar kota bagaimana? Jika ada bodyguard yang menjagamu aku akan jadi lebih tenang. Ya anggap saja dia sebagai pelayanmu juga tidak apa-apa, kau bisa menyuruhnya apapun. Benarkan Rico?” Leon tersenyum penuh arti pada Rico.
Rico juga tersenyum membalasnya, “Benar Tuan.”
Mera memperhatikan Rico cukup lama, jika ia berkata tidak butuh bodyguard Leon akan tetap memaksanya untuk menerima Rico atau bahkan mencari orang lain lagi. Leon sudah seperti siscon.
“Baiklah. Aku menerimanya.”
Leon tersenyum lega, “Mera, itu wafle mu datang. aku akan meninggalkan kalian berdua di sini agar kalian bisa mengenal satu sama lain.” Mera tak menanggapinya, “Aku serahkan padamu Rico.”
Mera pun duduk untuk menikmati wafle yang ia buat tadi. Rico sendiri berdiri di samping Mera. Sepotong demi sepotong waffle masuk kedalam mulut Mera, renyah, lembut, dan manis membuat perasaan Mera menjadi tenang. Tapi... Mera tak bisa dibuat santai dengan kehadiran Rico yang sekarang sedang berdiri di sampingnya.
Mera menghembuskan nafasnya, “Duduklah! Kenapa cuma berdiri saja?”
“Tapi...”
“Bagaimana aku menjelaskannya, kau bersikap biasa saja padaku. Maksudnya, jangan memanggilku Nona. Panggil saja namaku, Mera. Aku tidak suka dengan yang namanya perbedaan. Bersikaplah biasa saja.” Sepiring wafle datang diantarkan pelayan, “Duduk dan makan.”
“Terima kasih.”
“Aku belum pernah punya bodyguard sebelumnya, aku tidak tau harus memperlakukanmu seperti apa. Jika ada kata yang kurang enak kau dengar atau ada tingkah laku ku yang membuatmu kerepotan, aku ingin minta maaf.”
Rico tersenyum tipis, “Tidak apa-apa. Ini juga baru pertama kalinya saya bekerja secara langsung. Saya harap bisa menjaga... Mera dengan baik. Saya juga ingin minta maaf jika nanti ada hal yang tidak kamu sukai dari tindakan saya.”
“Aku kan sudah bilang jangan terlalu formal. Aku, kamu. Entah kenapa tapi aku merasa kita bisa jadi teman.”
“Baiklah, Mera.”
Setelah ada perubahan pada gaya bicara Rico, Mera pun tersenyum. Ia merasa bisa lebih nyaman sekarang.
“Oh iya, kau akan tinggal di sini?”
“Tuan Leon menyuruhku untuk menjagamu 24 jam.”
“Jangan didengarkan! Kak Leon memang sangat protektif padaku, tapi jika sudah waktunya istirahat kau bisa istirahat diruanganmu sendiri. Berarti kau belum menikah ya?”
Mera tak mendapatkan jawabannya dengans segera, maka dari itu mera memanggil nama Rico untuk segera mendapatkan jawabannya.
“Sudah. Tapi kami bercerai.”
“Aku turut prihatin. Apa kau sudah punya anak?”
“Belum.” Gumam Rico
“Belum?” Rico mengangguk, “Semoga kau bisa betah tinggal di sini. Apa waflenya enak?”
“Ini enak, sangat enak.” Mera tersenyum senang mendapat pujian itu, “Sudah berapa bulan?”
Mera mengusap perutnya, “Delapan bulan. Waktu berjalan sangat cepat, aku tidak menyangka kalau sebentar lagi dia akan lahir.”
“Kenapa kau tidak tinggal bersama suamimu?”
Pertanyaan Rico membuat raut wajah Mera berubah, kesedihan, luka, kerinduan, bercampur menjadi satu. “Kami sudah bercerai. Aku yakin dia bisa lebih bahagia dengan orang yang sangat dicintainya.”
“Maskudmu dia selingkuh?”
“Mungkin aku yang jadi orang ketiga. Aku merasa kalau dia mencintaiku, tapi aku tidak pernah mendengar dia mengucapkan kata cinta yang sangat ingin aku dengar. Dia juga tidak jujur mengenai istri pertamanya, jadi aku yang mengalah.”
“Brengsek!”
Mera tertawa kecil, “Apa?”
“Iya, itu namanya pria brengsek. Harusnya dia jujur soal pernikahannya yang pertama padamu.” Mera hanya tertawa menanggapinya, “Tapi aku yakin dia mencintaimu.”
“Kenapa kau berpikiran seperti itu?”
“Hanya naluriku sebagai seorang lelaki.”
“Aku berharap nalurimu itu benar, tapi ternyata dia lebih memilih setuju untuk bercerai dariku. Aku sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi, aku bahagia sekarang karena memiliki dia.”
Dari balik jendela Leon tersenyum senang karena Mera sudah bisa akrab dengan Rico. Leon mulai bisa merasa tenang. Ponsel yang ia pegang berbunyi.
“Hallo!”
...
...
“Tenang saja. Semuanya pasti akan berjalan kembali seperti semula, kita hanya tinggal menunggu waktu saja. Seperti kata orang bijak, akan indah pada waktunya.”
...
“Iya tenang saja.”
Sambungan telepon berakhir,
“Aku harap kebahagiaan itu akan segera datang. Aku tidak ingin melihatnya terus menerus bersedih, bagaimana pun kau menutupinya, aku bisa tau semua yang kau rasa Mera.”
**
Semakin berjalannya hari Mera dan Rico semakin akrab, apalagi ditambah mereka tinggal dalam satu rumah. Mera merasa kalau dia sudah mengenal Rico sejak lama, atau karena tingkah laku dan sifatnya yang mirip seseorang? Mera sendiri juga bingung. Rasa nyaman dan aman tiba-tiba saja muncul sejak pertama kali mereka bertemu.
“Biar aku yang bawa.”
“Ini hanya bunga. Aku bisa sendiri.”
“Tidak apa. Sini!” Mera akhirnya menyerahkan buket bunganya tersebut pada Rico,
Mereka berjalan menelusuri jalanan perkotaan yang ramai, Rico tak pernah pergi jauh dari sisi Mera. Saat melewati toko minuman, Rico meminta Mera untuk menunggu, pria itu pun masuk ke dalam toko. Selang beberapa saat Rico keluar sambil membawa minuman.
“Ice Choco.”
Mera kaget karena Rico bisa tau minuman kesukaannya, ia tak pernah bercerita tentang miuman kesukaannya pada Rico atau hal-hal spele seperti itu.
“Kau kan maniak coklat.”
“Hm?”
“Maksudku, Leon memberitahuku kalau kau sangat suka coklat. Jadi aku pikir kau juga suka minuman ini.” Mera menerima minuman itu dari tangan Rico.
Bagi orang-orang yang melihat mereka berdua, tidak akan ada yang menyangka kalau Rico sebenarnya adalah seorang bodyguard, kebanyakan orang yang melihat pasti akan mengira kalau Rico dan Mera adalah pasangan suami istri yang sedang menghabiskan hari ini berdua saja. Apalagi Rico yang sudah tidak berpakaian formal hitam-hitam lagi, karena Mera juga yang memintanya agar berpenampilan biasa saja seperti orang pada umumnya, Mera ingin tidak terlalu mencolok mempunyai seorang bodyguard karena ia juga orang yang biasa.
“Sena...”
Minho tersenyum setelah memanggil nama lama Mera, pria itu pun mendekat meskipun ia masih merasakan kalau Sena sudah menganggapnya sebagai orang lain yang penuh dengan kesalahan.
“Bisa kita bicara sebentar?”
Mera akhirnya setuju, mereka pergi ke sebuah taman kota. Setelah sampai mereka segera duduk dibangku taman di bawah pohon yang daunnya sudah berguguran.
“Aku tau kau tidak butuh untuk tau apapun lagi tentangku. Tapi aku ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kali.” Mera kaget karena Minho berkata pertemuan ini yang terakhir kali, tapi ia memilih diam membisu, membiarkan Minho saja yang berbicara.
“Aku akan pindah ke Venesia. Aku akan memulai hidup baruku di sana.”
Venesia, masih dari daratan Benua Eropa. Sebuah kota yang kata orang disebutkan sebagai salah satu kota romantis dengan kanal besar dan gondola sebagai objek yang menjadi daya tariknya.
“Aku pun ingin meminta maaf padamu. Seharusnya dari dulu aku meminta maaf, sejak kau berkata kalau perasaan dan tindakanku salah harusnya aku mendengarkanmu, tapi aku terlalu keras kepala karena ingin mendapatkanmu, karena aku ingin memilikimu. Aku terlalu egois tak pernah memikirkan bagaimana sakitnya dirimu karena keegoisanku.”
Kata-kata Minho membuat kedua matanya mulai memanas,
“Aku bahkan menggunakan Helena demi mencapai tujuanku. Membuatmu bertemu dengannya, menggunakannya dalam permainanku, membuatmu berkorban banyak hal hanya demi keinginanku semata. Aku minta maaf Sena, aku sungguh minta maaf. Aku memang tidak pantas menjadi Kakakmu. Aku sungguh minta maaf.”
Mera tak kuasa menahan tangisnya, segala yang terjadi, semua yang ia alami, rasa sakit dan cinta yang begitu menyakitkan, kenangan-kenangannya bersama Minho dan juga Jaeha membuat Mera menitikkan air matanya. Orang pertama yang ia cintai ternyata tak seharusnya ia cintai, rasa sakit dari cinta yang pertama kali ia rasakan adalah dari rasa cintanya pada Minho. Rasa sakit kedua yang ia rasakan karena cinta adalah karena mencintai Jaeha yang ternyata milik orang lain.
Minho pun memeluk Mera, ia ingin memeberikan kehangatan untuk yang terakhir kalinya pada seseroang yang benar-benar berharga untuknya. Pelukan permohonan maaf karena telah membuatnya menangis dan terluka untuk waktu yang tidak sebentar. Ia berdosa, benar-benar berdosa besar.
“Tak apa jika kau tidak bisa memaafkanku. Tapi aku ingin mendengarmu memanggilku Kakak.”
Sena tetap terisak dalam pelukan Minho, saat kecil ia selalu menangis dalam pelukan Minho ketika mendapatkan rasa sakit dan Minho pula lah yang selalu bisa menenangkannya. Jika Nenek tak bisa menenangkan Mera maka Nenek akan memanggil Minho karena hanya Minho satu-satunya orang yang bisa menenangkan dirinya. Tapi Mera sekarang sudah mengikhlaskan semuanya, semua sudah terlanjur terjadi dan tak bisa diulang kembali.
“Kakak.”
Mera menatap Minho dengan senyuman kebahagiaan, “Kakak.”
Minho mengusap air mata Mera yang terus mengalir, “Maaf karena membuatmu menangis lagi, maaf karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik, dan terima kasih kau masih mau memanggilku Kakak.” Minho mengusap kembali air mata Mera, meskipun ia sendiri menangis.
“Boleh aku menyentuhnya?” Mera mengangguk
“Hai sobat kecil, ini pertama dan terakhir kalinya aku menyentuhmu. Tak penting siapa aku, tapi aku sangat menyayangimu dan juga Ibumu. Jadilah anak yang baik, jangan pernah membuat Ibumu kesusahan. Aku akan terus mendoakan yang terbaik untukmu. Dan aku ingin meminta maaf darimu karena membuatmu harus berpisah dari Ayahmu, aku benar-benar memohon maaf darimu.”
Sang bayi merespon, ia memberikan tendangan tepat di tempat tangan Minho menyentuhnya. Mera mengangguk, memberitahu Minho kalau mereka sudah memaafkannya.
“Terima kasih. Aku jadi bisa pergi dengan tenang.”
Setelah Minho pergi, Mera memanggil Rico untuk mengajaknya pulang. Tapi tanpa diduga Rico malah memeluknya.
“Rico!”
Saat Mera menyebutkan namanya barulah Rico melepaskan pelukannya. “Maaf! Maafkan aku. Aku refleks melakukan itu, aku hanya—“
“Tidak apa. Karena kau mendengarkan pasti kau sudah sedikit tau tentang apa yang terjadi dalam kehidupanku. Terima kasih untuk pelukannya, kita pulang sekarang. Aku lelah.”