Maybe I Love You

Maybe I Love You
51. You Make Me Crazy



Jaeha terbangun dari tidurnya ketika matahari mulai beranjak menunjukkan dirinya, ia meregangkan tubuhnya agar bisa merasa lebih nyaman. Kedua matanya mengerjap untuk mengumpulkan nyawanya yang masih belum terkumpul sepenuhnya, begitu pula kesadarannya.


“Kenapa ini?” Kedua matanya langsung terbuka lebar begitu merasakan sentuhan tangannya sendiri di kulit tubuhnya yang ternyata telanjang. “Ini di mana?” Begitu melihat ke arah samping kanan, Jaeha benar-benar dibuat terkejut.


Helena yang merasa terganggu kini ikut terbangun juga, “Morning Jae.”


“Apa yang terjadi? Kenapa aku di sini?”


“Kenapa kau begitu kaget? Kau mabuk semalam apa kau tidak ingat?”


“Aku harus pergi!” Jaeha buru-buru memungut bajunya di lantai, dengan cepat ia memakainya kemudian bergerak untuk keluar dari kamar Helena.


“Jae tunggu!” Dengan tubuh berbalut selimut Helena pun mengejar Jaeha, ia memegang tangannya menahan Jaeha agar tidak pergi. “Kenapa kau sangat panik? Bukankah kita melakukan itu adalah hal yang wajar-wajar saja?”


“Apa yang kau masukkan ke dalam wine semalam?”


“Mwo? Kau mencurigaiku?”


Helena berusaha bersikap tenang meskipun ia sedikit ketakutan.


“Kau sendiri tau kalau aku tidak mungkin mabuk secepat itu. Kenapa kau melakukannya?”


“Aku tidak memasukkan apapun! Kondisi tubuhmu bisa saja sedang tidak baik jadi kau mabuk dengan cepat! Kau sungguh tidak ingin bersamaku? Kenapa kau semarah ini hanya karena kita tidur bersama?!”


“Sampai di sini saja.”


“Mworago?” Jaeha melepaskan diri dengan paksa, “Jae! Apa maksudmu dengan sampai di sini? Jae!!!!” Jaeha tetap pergi tak memperdulikan Helena yang mulai menangis dan terus memanggil namanya.


‘Aku memang membuatmu mabuk tapi aku bahkan tidak berani melakukannya. Kau selalu menyebut nama perempuan itu bagaimana aku bisa melakukannya! Kau sudah berubah Jae, kau berubah. Hatimu bukan untukku lagi.’


Sujin kali ini tidak bisa melarang Sena untuk tidak ikut memasak, sarapan pagi sederhana kini tersaji di meja makan. Sup lobak, telur gulung, kimchi, oseng gurita, dan rumput laut kering. “Sederhana saja ya, selamat makan.”


“Selamat makan.”


“Kapan kau akan pulang?” Tanya Sujin sambil mengunyah makanan


“Entahlah, sebenarnya aku tidak ingin pulang.”


“Diam saja di sini kalau kau tidak ingin pulang! Aku takut kau malah stress kalau betemu dengan Jaeha.”


Sena tersenyum, “Tapi semuanya tidak akan selesai kalau aku hanya bersembunyi di sini. Aku juga tidak bisa melihat Bibi Hanmi dan Paman Bong yang mengkhawatirkanku.”


“Baiklah kalau kau memang ingin pulang, pulanglah demi mereka berdua. Bukan untuk Jaeha.”


“Paling nanti sore aku pulang.”


“Sekalian aku antar saja, kebetulan sore aku ada janji temu denga klien.”


“Oke. Atau mungkin aku akan menginap semalam lagi di sini. Bagaimana nanti saja.”


“Dan aku akan bahagia untuk itu.”


Jaeha segera turun dari mobilnya, dengan langkah cepat dia segera masuk ke dalam rumah, pergi ke lantai atas untuk melihat Sena. “Kosong...” Jaeha kembali turun dengan langkah cepat untuk menemui Bibi Hanmi yang sedang membersihkan perabotan rumah. “Bi, Sena di mana?”


“Sena tidak pulang. Apa dia tidak memberitahumu?”


“Tidak pulang? Dia di mana? Pergi kemana?”


“Dia bilang menginap di panti asuhan, katanya di sana mereka sedang butuh bantuan jadi Sena tidak pulang.”


“Panti asuhan yang mana?”


“Sena tidak memberitahuku tempatnya di mana. Kau hubungi lagi saja dia, tanyakan dia sedang di panti asuhan mana.” Jaeha pun segera menghubung sena saat itu juga, “Tidak di angkat.”


“Mungkin Sena sedang sibuk mengurus anak-anak.”


“Aku pergi dulu Bi!” Jaeha berniat menyusul Sena meskipun dia tidak tau Sena sedang berada di panti asuha mana. Jaeha akan mendatangi panti asuhan yang biasa Sena datangi. Ia merasa sangat ketakutan ketika tidak mengetahui keberadaan perempuan itu. Ia pun mengambil ponsel, meminta Suho untuk mencarikan data tentang panti asuhan yang biasa Sena datangi.


“Sena tidak usah, biar Bibi saja yang melakukannya.” Bibi Jungmi ingin mengambil alih vacuum cleaner dari tangan Sena, ia tidak enak jika Sena ikut melakukan pekerjaan rumah bersamanya.


“Bibi mumpung Sujin sedang keluar, aku hanya akan mengerjakan ini saja. Aku janji!”


“Tidak bisa. Sujin sudah menyuruhku untuk tidak membiarkanmu melakukan hal ini. Biar Bibi saja ya?”


“Ayolah Bi.” Vacuum cleaner itu langsung terlepas dari tangan Sena begitu ponsel Sena berdering, Sena pun segera pergi ke kamar begitu melihat siapa yang menghubunginya. Bibi Jungmi menghembuskan nafas lega karena berkat panggilan masuk itu Sena bisa melepaskan vacuum cleanernya.


Mata Sena berkaca-kaca, ia menarik nafas panjang sebelum mengangkat panggilan tersebut. “Eomma.” Sangat menyakitkan baginya sekarang untuk menahan tangis. Orang yang ia rindukan, orang yang ingin ia rasakan pelukan hangat dan kasih sayangnya kini sedang berbicara dengannya tapi tak dapat ia gapai.


“Sena, bagaimana kabarmu sayang? Kau baik-baik saja kan?”


‘Aku tidak baik-baik saja Bu, aku ingin memelukmu sekarang. Aku ingin berada dalam pelukanmu.’


“Iya, aku baik-baik saja di sini.” Sena berusaha menormalkan suaranya, setiap kata yang ia ucapkan saat itu pula air matanya menyeruak ingin keluar.


“Syukurlah, Ibu benar-benar khawatir padamu sayang. Ibu pikir terjadi sesuatu padamu, tapi jika kau baik-baik saja Ibu benar-benar lega.”


‘Aku tidak baik-baik saja Ibu! Aku ingin kau di sini. Aku ingin kau mengusap kepalaku dengan kasih sayangmu, aku ingin kau berkata padaku kalau semuanya akan baik-baik saja.’


“Sena... kau masih di sana?”


“Ah, iya. Aku masih di sini, aku barusan minum dulu. Ibu dan Ayah kapan kalian akan berkunjung ke sini? Aku... merindukan kalian.”


“Maksud Ibu aku dan Jaeha pergi ke Swiss?”


“Iya! Kau belum pernah ke sini kan? Udara di sini sangat sejuk, kau pasti akan sangat menyukainya. Tidak perlu buru-buru untuk menjawab, kau bisa mendiskusikan ini lebih dulu dengan Jaeha. Cari waktu yang kosong dan berangkatlah ke sini.”


Sena terdiam sesaat, ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia seperti mendapatkan sebuah jalan keluar. “Aku... ingin bertemu Ibu.”


Mendengar suara Sena yang terdengar berbeda membuat Hwaran merasakan sebuah keanehan, ia kembali merasa gelisah dan khawatir. “Kemarilah sayang. Ibu dan juga Ayah merindukanmu.”


Jaeha menunduk menghela nafas, ia memukul stir mobil cukup keras setelah itu ia mengambil ponsel dan menghubungi kembali Suho.


“Hyung kau yakin tidak ada panti asuhan yang terlewat?”


“Sudah semuanya. Itu semua adalah panti asuhan yang sering didatangi Sena. Aku juga sudah mengirimkan tempat sosial yang lain. Kenapa kau membutuhkan itu? Tidak biasanya.”


“Sena... dia tidak ada di rumah. Dia bilang dia menginap di panti asuhan tapi ternyata kemarin dia tidak datang.”


“Apa lagi yang kau lakukan padanya? Tunggu, apa kau semalam tidak pulang ke rumah?”


Saat Suho bertanya seperti itu, batinnya serasa di pukul dengan keras.


“Jaeha!”


“Sudah dulu Hyung.”


Jaeha memijit kepalanya yang terasa pusing, ia tak memikirkan makan atau pun minum. Yang ia inginkan sekarang adalah menemukan Sena, melihat wajah perempuan itu dari dekat dengan mata kepalanya sendiri. “Di mana kamu?”


Jaeha pun mencoba menghubungi rumah siapa tau Sena sudah pulang, tapi jawaban yang diharapkan tidak sesuai. Bibi Hanmi mengatkaan kalau Sena masih belum pulang. “Kenapa kau terus membuatku khawatir! Apa mau mu? Kenapa kau selalu seperti ini?” Jaeha melirik jam tangannya, waktu menunjukkan jam tiga sore.


Tak menghubungi, ia kembali mengetik sebuah pesan pada Suho.


‘Carikan alamat teman-teman Sena dan kirimkan padaku.’


“Kau ingin aku bagaimana Sena? Apa sulit untuk memberitahuku kau di mana? Ponselmu bahkan tidak aktif apa yang membuatmu seperti ini! Kau membuatku gila!”


Tring!


Jaeha langsung melihat email yang dikirimkan Suho padanya. ia langsung bergerak pergi untuk mencari keberadaan Sena.


“Bukannya kau ada janji temu ya?” Sena kini ikut duduk di samping Sujin yang sedang menonton sebuah film dari laptopnya.


“Kau sudah selesai mandi? Sini nonton bareng! Ini film horror baru lho.” Sena pun duduk mulai memakan popcorn yang diberikan Sujin, “Tidak jadi, klienku tiba-tiba saja pingsan dan harus di rawat di rumah sakit. Akhirnya aku lebih memilih menonton film.”


Sena mengangguk-angguk, “Baiklah, aku jadi ada teman.”


“Aku juga. Aku beruntung karena kau akan menginap di sini lagi. Jadi ingat pas kuliah dulu saat kita satu rumah.” Mereka tertawa bersama menceritakan kembali kenangan masa lalu sambil menonton film.


Ting tong!


Bibi Jungmi yang masih belum pulang membuka pintu apartemen Sujin yang berbunyi.



“Apa Sena ada di sini?” Sena langsung membeku mendengar suara yang familiar ditelinganya itu, Sujin pun langsung melihat Sena yang tak bereaksi.


“Pergi ke kamar, aku akan menemuinya.” Sujin langsung berdiri dan pergi menemui Jaeha


“Tuan Park Jaeha. Kau mencari siapa?” Bibi Jungmi mundur begitu Sujin datang


“Sena ada di sini kan?”


“Kenapa kau mencari Sena kemari? Bukannya dia ada di rumahmu? Atau kau tidak bisa menjaga istrimu dengan baik?”


Jaeha mengernyit mendengar pertanyaan beruntun Sujin, pertanyaan yang terakhir memukul kembali batinnya. “Dia ada di sini kan?”


“Kalau pun dia ada di sini kenapa kau baru datang mencarinya sekarang? Kemana saja kau semalam dan tadi siang?”


Sena diam mendengarkan percakapan mereka, jantungnya berdetak kencang mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka, perasaannya berubah tak karuan.



“Aku... ada urusan semalam. Dan aku mencarinya seharian ini ke semua tempat yang dia datangi tapi tidak ada. Beritahu aku di mana dia.”


Melihat ekspresi wajah Jaeha yang terlihat putus asa membuat Sujin memiliki pikiran lain, sekarang dia merasa kalau Jaeha benar-benar mengkhawatirkan Sena. Jaeha benar-benar ingin bertemu dengan Sena. Tapi dengan apa yang sudah dilakukan Jaeha pada Sena membuat Sujin tak bisa luluh meskipun Jaeha harus terus memohon padanya.


“Dia tidak ada di sini. Lebih baik kau cari di tempat lain.”


Sujin akan menutup pintu tapi Jaeha menahannya. “Aku akan memeriksanya sendiri.” Jaeha memaksa untuk masuk.


“Berhenti! Aku yakin kau adalah orang yang berpendidikan tinggi dan tau hukum juga aturan. Aku selaku pemilik rumah ini tidak mengijinkanmu untuk masuk. Kau tau sendiri apa hukumnya jika memaksa menerobos masuk ke dalam rumah orang lain bukan?”


“Setidaknya biarkan aku melihat Sena. Dia ada di sini kan? Tidak masalah jika dia tidak ingin pulang tapi biarkan aku melihatnya walaupun itu hanya sedetik saja.”


“Aku sudah bilang dia tidak ada di sini! Kau keras kepala sekali! Sena pergi dari rumah tanpa memeberitahumu itu berarti karena kesalahanmu! Kau saja tidak memberitahunya kan ke mana kau semalam? Jangan salahkan dia! Introspeksi dirimu sendiri kalau kau memang orang yang pintar! Jika kau tetap memaksa masuk aku akan lapor pada polisi agar kau pergi dari sini!” Sujin pun membelakangi Jaeha menunggu pria itu untuk pergi. Jaeha akhirnya memilih menyerah, ditambah rasa sakit kepalanya yang tiba-tiba menyerang membuatnya kehilangan kekuatan untuk kembali berdebat. Jaeha memilih pergi, tapi...


Bruk!


Sujin langsung berbalik, ia terkejut melihat Jaeha yang tiba-tiba pingsan di depan pintu rumahnya. “Jaeha!”