Maybe I Love You

Maybe I Love You
62. Hal yang Tak Terduga



Setelah puasa Liburan selama empat hari, sore harinya Sena dan Jaeha tiba di Bandara Internasional Incheon, “Paman James benar-benar baik, aku harap bisa bertemu dengannya lagi di lain waktu.” Ucap Sena,


“Aku juga, aku harap liburan tahun depan kita bisa bertiga.”


Sena pun tersenyum, “Semoga saja ya?”


Bibi Hanmi langsung memeluk Sena begitu mereka sampai di rumah, ia sudah diberitahu oleh Jonghyun bahwa Nenek sudah datang dan mengambil barang-barangnya dari kamar. Sena bisa merasakan kalau sekarang Bibi Hanmi sedang berusah menahan tangis, Bibi pasti sudah mengerti keputusan apa yang ia ambil.


“Aku rindu masakan Bibi.” Ucap Sena


“Kau mau makan apa? Aku akan memasakkan apapun untukmu.” Bibi Hanmi berusaha tersenyum,


“Apa pun, aku akan memakan semuanya dengan lahap.”


“Baiklah, kau hanya perlu menunggu.” Kata Bibi Hanmi sambil memberikan belaian lembutnya pada Sena


“Ini oleh-oleh untuk Bibi dan Paman. Semoga kalian suka.”


“Terima kasih Sena, Jaeha. Kami akan menjaganya dengan baik.”


Setelah memberika oleh-oleh mereka pun pergi ke kamar masing-masing untuk membereskan barang bawaan, tapi Jaeha malah jadi berdiam diri di depan kamar Sena, ia menatap Sena dengan wajah yang cemberut. “Kau kenapa?” Tanya Sena sambil tertawa


“Tidak bisakah kita tidur dalam satu kamar? Kau masih ingin tidur sendiri?” Sena terkekeh geli melihat raut wajah Jaeha yang sedang merajuk padanya, sisi manja Jaeha benar-benar membuatnya geli.


“Besok? Aku tidak yakin soal posisi tidurku malam ini.”


“Besok ya? Janji besok? Aku sudah terbiasa memelukmu saat tidur, aku takut tidak bisa tidur nyenyak malam ini.”


“Aku berharap itu terjadi. Yasudah, sekarang bereskan pakaianmu setelah itu kita turun untuk makan malam.”


Bibi Hanmi benar-benar memasak banyak menu untuk makan malam kali ini, satu meja makan hampir penuh. “Bibi, kita sedang merayakan apa ini?” Tanya Jaeha.


“Merayakan kepulangan kalian. Bibi benar-benar merasa kesepian saat kalian pergi. Biasanya masak bareng Sena, makan selalu bersama kalian, Sena yang selalu berisik dalam rumah, dan saat kalian pergi semuanya jadi terasa kosong.” Bibi dan Paman Bong pun duduk untuk ikut makan malam bersama.


“Kalau begitu aku akan menghabiskannya, aku tidak akan menyia-nyiakan masakan Bibi. Selamat makan!”


Sena merasakan ponselnya bergetar dari balik saku, ia mengambil dan melihat isi pesan tersebut. Sena memejamkan matanya sebentar lalu ia kembali berbaur dengan pembicaraan.


Selang beberapa menit kemudiam ponsel Jaeha yang berdering, Jaeha pun mengangkatnya.


“Apa? baiklah, sebentar lagi aku akan ke sana.”


“Dari siapa?” Tanya Sena setelah panggilan itu selesai.


“Ada masalah serius di kantor. Padahal aku ingin istirahat tapi kenapa masalah malah muncul? Aku harap masalah ini tidak membuatku harus bermalam di kantor.”


“Habiskan dulu makan malamnya!” Pinta Sena,


apalagi saat di pesawat mereka tak sempat makan apa-apa.


“Aku sudah kenyang, aku akan bersiap.” Jaeha pun pergi menyisakan makan malamnya, Sena melihat kepergian Jaeha dengan tatapan sedih. Dan Bibi Hanmi memperhatikan mereka.


“Sena, habiskan makan malammu ya?”


“Tentu saja Bi!”


Helena termenung di dekat jendela, sejak kejadian hari itu Helena tak mendapat kabar apapun dari Jaeha. Ia sendiri juga tidak berani menghubungi Jaeha. Ia masih belum tau apa yang direncanakan Minho yang dia katakan sebagai rencana terakhir yang pasti bisa mebuat Jaeha kembali padanya. Minho juga benar-benar mengurungnya di rumah, bahkan ada dua penjaga di depan pintu rumahnya, semua keperluannya Minho kirimkan. Helena menjadi burung dalam sangkar besi.


“Tapi saat ini Minho masih dalam perjalanan pulang dari Turki. Apa yang akan ia lakukan?” Helena benar-benar berharap kalau rencananya ini tidak akan melukai Jaeha secara fisik.


“Kau sudah siap?” Tanya Sena begitu melihat Jaeha yang sudah rapih dengan setelan jasnya,


Jaeha berjalan mendekat, ia mencium kening Sena sebelum berangkat pergi. “Jika nanti jam sembilan aku belum pulang, kau tidur saja duluan. Jangan bergadang menungguku, oke?”


“Siapa juga yang mau begitu?”


“A**igoo~! Aku sungguh berharap lho.” Sena tersenyum, “Aku pergi dulu.”


“Tunggu!” Sena merangkulkan lengannya ke leher Jaeha, kakinya berjinjit, wajahnya mulai mendekat dan ia mencium bibir Jaeha.



“Sampai jumpa lagi.”


Setelah Jaeha pergi Sena baru bisa menangis, ia menangis sejadi-jadinya setelah menahan kesedihan itu berhari-hari. Bibi Hanmi pun datang saat mendengar suara tangis Sena, Bibi Hanmi pun sekarang ikut menangis dan membarikan pelukannya untuk Sena.


Setelah Jaeha pergi, beberapa menit kemudian Nenek Nam pun datang untuk menjemput Sena, “Sena kau akan pergi sekarang?” Bibi Hanmi tak tau tentang rencana kepergian Sena hari ini,


“Aku harus pergi Bi.”


“Sena, kau barus saja datang. Kenapa harus buru-buru?”


“Waktuku hanya hari ini. Bi, tolong jaga Jaeha ya? Terima kasih telah menjagaku, terima kasih karena sudah menganggapku seperti putrimu sendiri. Terima kasih untuk semuanya.” Sena kembali memeluk Bibi Hanmi.


“Sena...” Mereka kembali menangis, Nenek Nam pun ikut memeluk mereka.


Setelah semua barang Sena masuk ke dalam mobil, Sena membungkuk sebagai bentuk penghormatan terakhir. Ia juga memberikan senyum terbaiknya meskipun air mata tak henti mengalir membasahi pipinya.


“Selamat tinggal Bi.”


Bibi Hanmi memangis dalam pelukan Paman Bong setelah kepergian Sena, ia tak menyangka Sena akan pergi hari ini. Bibi Hanmi mungkin bisa sedikit tenang jika itu besok, ini terlalu mendadak. “Tapi ini yang terbaik untuk mereka.”


Dalam perjalanan Sena masih tetap menangis, “Kau masih bisa mengganti keputusanmu sayang.” Ucap Nenek


“Aku ingin tinggal bersama Ibu, aku ingin menemui Ibu. Aku sudah lelah Nek. Maafkan aku karena meminta Nenek untuk mengurus masalah perceraianku dengan Jaeha. Lagi-lagi aku membuat Nenek mengurus masalahku.”


“Pikirkan lagi saja Sena, kau ini sedang hamil, dia butuh ayahnya! Kau tidak bisa memisahkan mereka, kami juga sangat berharap soal kehadiran dia.”


“Aku bisa mengurusnya sendiri, aku akan mengurusnya dengan baik aku bisa berperan jadi Ayah untuknya. Jaeha bilang aku bisa jadi Ibu yang baik, dan aku percaya itu.”


“Tapi sayang---“


“Aku bisa merasakan apa yang Ibu rasakan dulu,” Sena memotong pembicaraan Nenek


Nenek Nam memandang Sena, ia tau apa yang cucunya maksudkan “Nenek bilang Ibu dulu bercerai dari Ayah saat sedang mengandungku karena Ayah menikah lebih dulu dengan wanita lain. Aku tidak tau kejadian itu akan aku alami juga!”


“Tidak sayang, jangan berkata seperti itu. Nenek tau Jaeha sangat mencintaimu, dia tidak akan menyerah seperti ayahmu. Jaeha berbeda dari Ayahmu sayang...”


“Aku orang ketiga diantara mereka, Jaeha mencintai Helena ia lebih memilih Helena dari pada aku, aku tidak akan pernah bisa menggantikannya, Nenek juga tidak tau apapun soal apa yang sudah aku alami. Helena masih mencintai Jaeha dan dia ada di sini. Aku mohon izinkan aku pergi Nek!”


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, di waktu luangnya Jaeha mengirimkan pesan pada Sena bertanya apa dia sudah tidur atau belum dan memberitahukan kalau malam ini dia akan tidur di kantor karena masalahnya belum selesai.


“Tidak di balas. Sudah tidur mungkin.” Ia melihat foto selcanya bersama Sena, Jaeha mengusap wajah Sena sambil tersenyum, “Mimpi indah sayang.”



Di bandara, Sena tengah bersiap menaiki pesawat pribadi keluarganya, ia melihat kebelakang seolah berharap orang yang ada dalam pikirannya sekarang akan mencegahnya pergi meskipun ia akan tetap pergi.


“Ayo sayang!” Nenek Nam mengajak Sena untuk segera menaiki pesawat.


“Sebentar lagi Nek, aku mohon!”


Tiba-tiba ia melihat bagaimana dulu Jaeha menahannya untuk tidak pergi bersama Minho, bagaimana Jaeha begitu ingin menikahinya, Jaeha yang menyuruhnya untuk menganggap Nyonya Park seperti Ibunya sendiri, pertama kalinya Sena menangis dalam pelukan Jaeha, semua itu tergambar jelas dalam pikirannya, mereka bermunculan dan terlihat sangat jelas.


Sena memegangi perutnya, tanpa bicara ia memperlihatkan kesedihannya karena pergi meninggalkan orang yang ia cintai, ia mengakui ia mencintai Jaeha lebih dari ia mencintai Minho. “Mianhe!”


Pagi harinya Jaeha menemukan sebuah amplop di atas meja kerjanya, ia pun membukanya karena siapa tau itu sebuah dokumen penting. Tapi ternyata yang ia lihat adalah foto di mana Sena yang sedang berpelukan dengan Minho disebuah restoran. “Apa ini?” Jaeha turus melihat foto itu satu persatu, dengan terburu-buru ia mencoba menghubungi Sena ia ingin meminta penjelasan tentang foto yang ia terima. Jaeha berharap itu hanyalah sebuah foto editan, dan jika Sena menjelaskan semuanya ia akan mencoba untuk menerimanya mengingat adanya hubungan darah diantara mereka.


“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif—“ Berapa kali pun mencoba tetap saja ponsel Sena tidak aktif, hal itu membuat emosi Jaeha bertambah naik ia memukul meja dengan keras. Tanggal yang tertera di foto adalah malam sebelum mereka pergi ke Hallstatt, meskipun ia tetap meyakinkan diri kalau Sena hanya mengangap Minho sebagai Kakaknya tapi Jaeha tak terima karena Sena tak memberitahunya apapun soal makan malam ini.


“Jaeha!” Suho masuk ke dalam ruangannya dengan tergesa-gesa,


“Aku sedang tidak ingin diganggu!”


“Apa ini?!” Suho melempar ponselnya pada Jaeha, pria itu mulai melihat apa yang membuat Suho sampai bersikap seperti itu padanya. “Kenapa bisa tersebar?!”


“Sial!”


Jaeha pun meninggalkan Suho sendirian ia bergegas kembali ke rumah berharap agar ia bisa menghentikan Sena agar tak membaca berita apapun pagi ini. Dalam perjalanan Jaeha tetap menghubungi Sena, tapi yang ia dapatkan tetaplah sama. Jaeha benar-benar gelisah sampai membanting ponselnya ke jok samping, tapi tak lama ponselnya berdering, ia berharap itu Sena tapi ternyata bukan.


“Ibu?!”


---#---


Jadi we ngasih lagi bonus buat kalian 😂😂 seneng aja gitu liat respon kalian yang masih setia sama novel ku yang satu ini. Makasih banyak-banyak dari aku ❤ lopelope😙