Maybe I Love You

Maybe I Love You
26. Love?



Jaeha tidak hanya pergi ke panti asuhan, setiap ada waktu ia sendiri yang mengajak Sena untuk pergi ke tempat yang ia biasa datangi. Jaeha bahka rela berpura-pura sebagai putra dari seorang nenek yang mengalami demensia, nenek itu mengira Jaeha adalah putranya, mereka melakukan hal yang belum sempat nenek itu lakukan dengan putranya sebelum putranya meninggal di medan perang. Jaeha bahkan sempat menangis karena ia tidak tega melihat nenek yang sudah tak memiliki keluarga tersebut.



“aku rela kalau aku jadi anak angkatnya.”



“sekarang nenek itu sudah sembuh, kau melakukannya dengan baik. aku bangga padamu.”



“bagaimana kalau hari minggu besok kita pergi ke taman hiburan?”



“taman hiburan? Kita berdua?”



Jaeha menggeleng, “tentu saja dengan anak-anak, Minhyun dan yang lainnya. Aku ingin bermain dengan mereka di taman bermain. Kau setuju?”



“aku sih setuju-setuju saja, tapi kita harus minta ijin pada ketua yayasan.”



“aku yang akan meminta ijin, itu masalah gampang.”



‘dia benar-benar percaya diri.’ batin Sena



**



Minho datang menemui Helena, ia masuk sambil membbawa sekresek belanjaan titipan Helena.



“aku akan menyimpannya di dapur.”



Perempuan itu menghampiri Minho yang baru saja menyimpan belanjaan, “ada apa?” Minho merasa aneh melihat raut wajah Helena dan juga matanya yang sedikit bengkak seperti habis menangis.



Helena memperlihatkan ponselnya pada pada Minho, “jelaskan semua ini! apa maksudnya dari berita ini?!”



Minho melihat berita yang dibaca oleh Helena mengenai pernikahan Sena dan Jaeha. Tak terlihat terkejut tak terlihat merasa bersalah, itulah Minho sekarang.



“Jaeha sudah menikah, ada apa memangnya dengan berita ini?”



“apa kau pura-pura bodoh?! Kau mau membodohiku? Jaeha sudah menikah kenapa kau memberiku harapan agar aku bisa bertemu dengan Jaeha dan hidup bersamanya lagi? Kenapa?!”



“karena itulah aku membawamu ke sini untuk kembali bersamanya! Kau juga sudah menikah dengan pria lain dan meninggalkan Jaeha, benarkan? Lalu apa bedanya dengan Jaeha?! Sama saja!”



“aku sudah bercerai dengan suamiku, tapi Jaeha masih menjadi suami orang Minho!”



“karena itu aku membawamu kemari!” ucap Minho penuh penekanan



“mereka menikah karena perjodohan, mereka tidak saling mencinta karena itu kau harus kembali pada Jaeha yang jelas-jelas masih mencintaimu, aku sudah bilang dia masih mencintaimu dia masih mengharapkanmu Helena!”



“mereka... dijodohkan?”



“benar! Mereka di jodohkan, tidak ada bedanya. Sama sepertimu. Kau adalah orang yang paling dicintai oleh Jaeha, bukan adikku... Sena.”



“Jaeha menikahi adikmu?”



“adik tiriku, aku tidak mau adikku sengsara dengan pernikahan tanpa cinta ini. kau harus menyelamatkan adikku, aku mohon bantuanmu Helena.”



“mereka benar-benar tidak saling mencintai? Kau yakin?”



“benar, Sena akan kabur dengan kekasihnya waktu itu tapi semuanya gagal karena ibunya Jaeha. Mereka menikah dengan terpaksa, tanpa cinta. Dan Sena pun masih mencintai kekasihnya sampai sekarang, kau harus membantu adikku untuk bersama dengan orang yang dicintainya, aku ingin adikku bahagia, dan aku ingin kau juga bahagia dengan Jaeha karena kalian saling mencintai.”



“bagaimana aku harus membantu adikmu? Aku juga pernah merasakan bagaimana hidup dengan orang yang tidak aku cintai, aku tidak mau adikmu merasakan hal seperti itu terlalu lama.”



Minho tersenyum, “kau harus mengikuti apa yang aku katakan.”



**



Semua berjalan seperti yang Jaeha inginkan, mereka kini ada di taman bermain bahkan Jaeha membooking taman bermain ini seharian. Anak-anak sangat berterima kasih pada Jaeha dan mengajaknya untuk bermain bersama.



“aku tak menyangka suamimu akan melakukan ini, dia juga sangat cepat akrab dengan anak-anak dan terima kasih juga untuk pemberiannya, semua yang telah kalian lakukan.”



“Gyuri, aku juga berterima kasih karena kalian mau menerima Jaeha dan kalian selalu bisa membuat suasana hatiku selalu membaik.”



“eonni, eonni! Ayo kita naik komedi putar!” Emma menarik lengan baju Sena dan Gyuri,



“baiklah, ayo kita pergi tuan putri kecil!”



Di tempan lain, Minhyun memandangi roller coaster yang tengah melaju anak itu mengikuti arah roller coaster itu dengan mulut yang sedikit terbuka.



“Minhyun, kau sedang apa?” tanya Jaeha



“hyung! Aku mau naik itu! ayo kita naik itu!”



“Minhyun, tinggimu masih belum cukup untuk naik itu.” anak itu memanyunkan bibirnya, ia tertunduk sedih.



“kau mau naik yang lebih kecil?”



“lebih kecil? itu untuk anak-anak! tidak seru!”



“tunggu sebentar lagi, kau bisa menaiki yang itu. untuk sekarang kita naik yang kecil saja.” masih dengan wajah cemberutnya Minhyun akhirnya mengangguk,



“bagaimana caranya agar tumbuh lebih tinggi?” tanya Jaeha




“bagus! anak pintar.” Jaeha mengusap kepala Minhyun, “sekarang kita pergi, teman-temamu sudah menunggu.”



Sena, Gyuri dan anak-anak perempuan yang lain melihat Jaeha dan anak laki-laki sedang menaiki roller coaster mini, Sena tertawa karena Jaeha benar-benar tidak cocok menaikinya.



“apa kalian mau menaikinya juga?” tanya Gyuri



“tentu saja, kami juga tidak mau kalah dengan mereka. benarkan noona?” tanya Lisa pada Sena



“tentu saja, kita tidak boleh kalah dari mereka. kita juga harus buktikan kalau kita juga berani! Ayo mengantri!”



Wahana terakhir mereka adalah menaiki bianglala, Jaeha mengajak Sena untuk hanya naik berdua saja. Minhyun dan yang lain ingin naik bersama mereka pun harus rela gagal karena permintaan Jaeha.



“anak-anak ingin naik bersama kita, kenapa kau melarangnya?”



“aku hanya ingin naik ini berdua bersamamu, aku selalu ingin seperti ini kalau naik bianglala.”



“dengan orang yang kau sayangi?” tanya Sena sambil memandangi pemandangan



“ya...”



“kalau aku, aku ingin naik bianglala bersama orang tuaku. Waktu kecil aku selalu iri dengan mereka yang datang ke taman hiburan bersama orang tua mereka, sedangkan aku hanya bersama kakek dan nenekku.”



“jika ada waktu kau bisa mengajak mereka.”



“seperti kau tidak tau saja.”



“aku hanya menyarankan.”



“jika kau ingin pergi kemanapun, kau bisa mengajakku.”



“apa kau seorang pengangguran?”



“aku punya Minho.” Jaega kini duduk di samping Sena



“kenapa duduk di sini? ini berat sebelah, cepat pindah lagi ke sana!”



“aku tidak akan pindah, tenang saja kita tidak akan jatuh.”



Sena akhirnya membiarkan Jaeha duduk di sampingnya ia tak ingin ketenangan ini menjadi sebuah perdebatan sehingga ia tak dapat menikmati pemandangan ini dengan tenang.



“wah~ kita ada di puncak!” saat Sena berbalik untuk melihat Jaeha, saat itu juga Jaeha mencium bibir Sena dengan tiba-tiba, bukan! Lebih tepatnya ia sudah merencanakannya. Ia sangat ingin melakukannya, dulu ia melakukan ini dengan Helena tapi sekarang sepenuhnya hanya untuk Sena, bukan untuk mengingat masa lalunya, tak sedikitpun.



Keduanya terdiam setelah ciuman itu, wajah Seba benar-benar panas begitu juga Jaeha telinga pria itu benar-benar merah. Keadaan berubah menjadi canggung.



“kenapa kau... melakukan itu?” ya, Sena heran kenapa akhir-akhir ini Jaeha sering seperti ini, menciumnya lebih dulu, bersikap manis padanya, bahkan jadi lebih jail, apa yang sebenarnya terjadi saat dia di Amerika?



“kau semakin aneh setelah pulang dari Amerika, kau tidak tertular virus sakit jiwa kan?”



“Sena aku—“ tanpa terasa pintu sudah terbuka, mereka tak sadar jika sudah sampai di bawah dan lagi-lagi Jaeha tak bisa mengucapkan kata yang ingin coba ia katakan meskipun ia masih ragu dengan perasaannya sendiri, tapi ia ingin sekali mengatakan kalimat yang membuat perasaannya tak karuan.



Sena melihat panggilan dari Jonghyun, ia buru-buru pergi keluar meninggalkan Jaeha yang tadinya ingin mengajaknya naik satu putaran lagi.



“oppa, bagaimana hasilnya?”



“aku belum bisa menyelediki semuanya karena pekerjaanku, yang baru aku dapatkan Helena menghilang setelah kecelakaan pesawat yang membawanya ke Inggris, suaminya meninggal.”



“jadi dia masih hidup atau sudah meninggal?”



“kemungkinan besar dia sudah meninggal, karena tidak ada satupun yang selamat dari kecelakaan pesawat itu. tapi aku akan terus mencari tau dan aku harap kau bisa bersabar.”



“kerahkan orangmu untuk mencarinya, aku ingin tau lebih cepat karena baru-baru ini aku melihat seorang perempuan yang mirip seperti Helena.”



“benarkah? kau yakin tidak salah mengenali orang?”



“aku juga tidak tau apa pengelihatanku yang salah, tapi aku benar-benar tidak tenang.”



“tidak tenang? apa kau takut dia akan merebut Jaeha darimu kalau seandainya dia masih hidup? Dari ingformasi yang aku dapatkan Jaeha juga sering mencari informasi tentang Helena.”



“aku...aku tidak—“



“Sena!”



“oppa, aku mohon secepatnya. Ku tutup telponnya.”



Sena berbalik ia melihat pria itu mendekat ke arahnya dengan langkah yang panjang, ‘Jaeha juga sering mencari informasi tentang helena’



‘apa kau benar-benar masih mencintainya? Masih mengharapkannya untuk kembali padamu? tunggu! Kenapa aku harus memusingkan hal ini? aku... sebenarnya aku kenapa?’



“anak-anak sudah menunggu, kita harus mengantar mereka pulang.”



“ah ya, ayo kita pulang.” Sena berjalan lebih dulu meninggalkan Jaeha sendirian.