
Hwaran memandangi rumah Jaeha dari dalam mobil, ia ingin sekali menemui putrinya bahkan semua jadwal kerjanya sengaja ia batalkan. Perkataan Jaeha selalu mengusiknya setelah pertemuan waktu itu. ia akan terima semua perlakuan dan perkataan terburuk sekalipun dari putrinya itu.
Hwaran keluar dari mobil tepat saat itu bibi Hanmi keluar juga dari rumah untuk pergi ke supermarket.
“permisi, apa Sena ada di rumah?”
“tuan dan nona sedang pergi ke Jepang, mereka sedang berbulan madu.”
“bulan madu?” Hwaran tersenyum kecil, ia bahkan terkejut kalau ternyata putrinya benar-benar sudah dewasa Hwaran masih menganggap Sena putri kecilnya yang ia tinggalkan saat berumur 1,5 tahun. Ia melewatkan banyak hal dalam kehidupan putrinya.
“tapi anda siapa? Biar nanti saya sampaikan pada nona kalau sudah pulang.”
“tidak, aku hanya bertanya saja. permisi.”
Hwaran kembali ke dalam mobil, ponselnya berdering terlihat nama suaminya Kim Han Soo di layar.
“iya sayang.”
“kau sudah bertemu Sena?”
“Sena dan Jaeha di Jepang, aku rasa datang di waktu yang tidak tepat.”
“aku sedang berada di Jepang sekarang, kenapa kau tidak menyusulku dan kita bertemu Sena? Aku juga ingin bertemu dengannya karena dia putriku juga.”
“sempat terpikirkan olehku juga, kau benar-benar ingin bertemu dengannya?”
“kenapa kau bertanya seperti itu? dia juga putriku. aku menyayanginya seperti putriku sendiri. Aku ayahnya dan akan tetap menjadi ayahnya.”
“aku akan pergi ke rumah ibu lebih dulu, setelah itu aku akan menyusulmu ke Jepang.”
“baiklah, aku akan menjemputmu nanti. Kabari aku kalau kau sudah sampai.”
Nenek Nam sedang sibuk membuat kue beras, nenek berencana akan mengirimkannya kepada keluarga Park.
Bibi Mija berlari menghampiri Nenek Nam, “nyonya, nyonya!”
“apa ada apa? kenapa kau berlari?!”
“nona, nona Hwaran datang!” bibi Mija tersenyum
“Hwaran? Kau bilang Hwaran?”
“ibu, aku pulang!”
Nenek Nam terkejut melihat Hwaran yang berdiri di belakang bibi Mija, Hwaran meneteskan air matanya setelah sekian lama tidak bertemu dengan ibunya.
Nenek Nam langsung memeluk putrinya dengan erat, “akhirnya, akhirnya kau pulang.”
“kenapa kau bicara seperti itu? Sena cucuku, dia cucu kesayanganku kenapa kau berkata dia beban?!” nenek Nam menghapus air mata putrinya,
“Kau bertemu dengan ayahmu kan?”
“kami bertemu saat ayah pergi ke Swiss, beberapa waktu lalu juga aku menemuinya di London.”
Nenek Nam membuatkan minuman kesukaan Hwaran, ia sangat senang karena Hwaran begitu menikmatinya.
“aku sangat merindukan minuman ini, rasanya benar-benar berbeda saat aku membuatnya sendiri.”
“kau tidak mengabariku kalau kau akan pulang, aku tidak bisa mempersiapkan apapun untukmu. Kau akan menginapkan?”
“aku sebenarnya membatalkan semua jadwal kerjaku hari ini. aku ingin bertemu Sena tapi mereka bilang Sena sedang pergi bersama dengan Jaeha ke Jepang.”
“benar, mereka sedang bulan madu. Aku dan Mirae yang merencanakannya, aku harap mereka akan kembali dekat setelah lama tidak bertemu. apa kau akan menemui mereka?”
“aku ingin bertemu dengannya bu, perkataan Jaeha terus saja mengusikku. Aku akan menerima apapun yang Sena lakukan padaku nanti meskipun itu menyakitkan untukku.”
Hwaran kembali meneteskan air matanya, Nenek Nam menggenggam tangan putrinya dengan hangat seolah memberikan kekuatan untuk putrinya.
“lakukanlah, meskipun dia berkata beratus-ratus kali kalau dia membencimu tapi sebenarnya Sena benar-benar merindukanmu. Kau harus memberanikan dirimu, dia sangat ingin bertemu denganmu nak.”
Hwaran tersenyum ia benar-benar harus memberanikan dirinya apapun yang akan terjadi nanti. “ibu, apa Minho masih di sini?”
“dia masih sering menemui Sena meskipun aku sudah melarangnya.”
“kenapa ibu melarangnya? Sena adiknya bu.”
“karena mereka saling menyukai, dan itu tidak benar!”
“apa?! mereka saling menyukai? Bagaimana bisa? Apa ibu tidak memberitahu Sena kalau Minho adalah kakaknya?”
“aku tidak sempat memberitahunya dia begitu senang bersama Minho dia selalu ingin bersama Minho ibu pikir itu hanya perasaan sayang seorang adik untuk kakaknya tapi... itu semua salahku, maka dari itu aku menikahkan Sena dengan Jaeha agar Sena bisa melupakan Minho.”
“aku memberitahukan kebenarannya setelah lamaran karena Sena menolak menikah dengan Jaeha, dia syok dia bahkan tidak mau keluar kamar sampai dia memilih kabur tapi untunglah Jaeha berhasil membujuknya kembali sampai akhirnya mereka menikah.”
“lagi pula itu adalah keingina mereka sejak dulu untuk menikah saat dewasa nanti. Dan aku tau Jaeha adalah pria yang baik untuk Sena.”
“aku juga merasakan itu saat berbicara berdua dengannya, dia terlihat begitu memperhatikan Sena sampai akhirnya aku terpengaruh dengan perkataanya. Dia tumbuh dewasa dengan cepat aku masih ingat dia digendong olehku saat baru berumur 4 bulan.” Hwaran tersenyum mengingat masa lalunya.
“kau tidak ingin menemui Mirae?”
“tidak sekarang bu, aku akan lebih dulu menemui Sena. Aku akan kembali lain kali dengan waktu yang lebih lama untuk bersama dengan kalian.”