Maybe I Love You

Maybe I Love You
16. Terusik



“ibu pergi sekarang?” tanya Sena


“ibu harus pergi, ibu janji akan datang lagi dengan waktu yang lebih banyak untukmu.” Gadis itu mengangguk, ia dengan segera memeluk ibu dan ayahnya.


“Jaeha, jaga Sena aku percaya padamu.”


“aku akan menjaganya.”


Hwaran sengaja melarang Sena mengantarnya ke bandara, ia hanya ingin Sena menghabiskan banyak waktunya dengan Jaeha karena sebenarnya ia lah yang mengganggu waktu mereka berdua.


“kau mau pergi ke jembatan itu lagi?” mata Sena berbinar, ia tersenyum senang sembari mengangguk.


“kajja!”



“uuwwaaaaahhh!!” Sena benar-benar menyukai tempat ini, menurutnya malah lebih indah dari pemandangan di sekitar menara Eiffel. Jaeha pun ikut menikmati pemandangan malam di jembatan Togetsukyo ia merasa tenang melihat air yang mengalir dibawah jembatan begitu juga pemandangan pepohonan maple dan bukit di sekitar jembatan.


“aku tidak menyesal pergi bulan madu.” Ucap Sena tiba-tiba, membuat Jaeha meliriknya,


Sena menatap Jaeha dengan senyuman manisnya, “gomawo Jaeha.”


Entah sihir apa yang Sena keluarkan membuat Jaeha tak bisa melihat ke arah lain, ia seperti betah menatap Sena yang masih tetap tersenyum manis padanya. tangannya tiba-tiba terulur menyentuh pipi gadis itu membuat Sena sedikit kaget, tapi Sena sama sekali tidak berkutik sampai akhirnya tanpa sadar bibir Jaeha mencium lembut bibirnya.


Mata Sena membulat sempurna dengan ciuman tiba-tiba yang Jaeha berikan, tapi tak butuh waktu lama Sena ikut hanyut dalam perlakuan lembut Jaeha padanya. tanpa memaksa, tanpa terburu-buru Jaeha melakukannya dengan sangat lembut membuat gadis itu akhirnya memejamkan matanya, seolah Jaeha menyalurkan semua perasaan yang akhir-akhir ini membuatnya bingung dan tidak tenang, ia sadar apa yang ia rasakan tapi ia takut mengakuinya, begitu juga Sena ia tidak tau sejak kapan Jaeha mulai mengusik hatinya, semua terjadi begitu saja tapi ia tak mau mengakuinya karena Minho masih ada di dalam sana, dalam hatinya.


Sedangkan Minho disebrang jembatan terpaku melihat orang yang dicintainya kini berciuman dengan orang lain, ia sengaja menyusul Sena ke Jepang untuk menemuinya tapi malah seperti ini hasil yang ia dapatkan.


Minho mencoba tenang dan meyakinkan dirinya sendiri kalau Sena hanya terbawa suasana dan tidak akan melakukan hal yang lebih dari itu, Sena hanya mencintainya tidak dengan Jaeha. Merasa jengah dengan pemandangan dihadapannya, Minho lebih memilih pergi.


“mereka belum melakukannya?” nada suara Nyonya Park yang tinggi membuat Tuan Park menatap istrinya itu.


“ya ampun mereka itu! sebentar lagi mereka harus kembali..... ah~ aku menaruh sesuatu di laci kedua di dapur kau harus mencampurkannya dengan minuman mereka nanti malam.”


“ingat jangan sampai mereka curiga!”


“ada apa? kenapa kau terlihat kesal?” tanya Tuan Park begitu melihat istrinya selesai menelepon.


“mereka bahkan belum melakukannya,” gumam Nyonya Park


“melakukan apa?”


“itu, di sini mereka tidur di kamar terpisan dan sekarang pun di sana juga sama.”


“kau menyelidiki privasi mereka? dan kau pergi ke Jepang waktu itu ternyata untuk--”


“aku ingin segera memiliki cucu. Terpaksa aku harus melakukan jalan terakhir.”


“ckckckck, kau terlalu ikut campur. Nantinya mereka akan melakukannya juga kau hanya perlu sabar.”


“aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Mereka harus melakukannya, harus!”


Tuan Park hanya bisa geleng-geleng kepala dengan rencana Nyonya Park yang terlihat berlebihan.


**


Sejak ciuman malam itu atmosfir keduanya menjadi canggung, biasanya mereka selalu ramai berdebat kini mereka hanya diam dan sesekali saling mencuri pandang. Sena bahkan kurang betah berlama-lama di rumah.


“kau mau kemana?”


Jaeha melihat Sena sudah memakai pakaian rapihnya bersiap untuk pergi lebih tepatnya.


“aku ingin pergi jalan-jalan.” Sena kembali melangkah tanpa menatap Jaeha


“dengan Minho?”


Langkah Sena terhenti, kali ini Sena menatap Jaeha karena Jaeha tau ia akan pergi dengan Minho.


“apa kau mengikutiku? Apa kau tidak punya kerjaan lain?”


Pertanyaan langka yang tidak pernah diucapkan Jaeha sebelumnya, membuat Sena yakin ada yang salah dengan Jaeha.


“aku sudah ada janji dengan Minho. Lain kali saja!”


“apa karena—“


“aku pergi dulu!” Sena segera pergi sebelum kalimat Jaeha tuntas, gadis itu tau pertanyaan apa yang akan Jaeha tanyakan padanya. membahas ciuman itu membuat jantungnya masuk dalam keadaan kurang baik.


Minho mengajak Sena makan ramen, “ini salah satu restoran ramen terkenal di sini.”


“datang ke Jepang tidak makan ramen itu memang kurang lengkap rasanya.”


Sena memesan ramen kepiting salju karena ia sangat ingin makan kepiting. Tapi ingatannya kembali berputar pada malam itu saat Jaeha bertanding makan ramen pedas di Dotonbori, membuat dirinya tersenyum sendiri.


Minho heran melihat Sena senyum sendiri, “kenapa kau tersenyum?”


“ah, aku hanya senang karena bau ramennya enak!”


Serangan air liurnya mulai terjadi ketika semangkuk ramen itu ada di hadapannya, aroma khas ramen mulai menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya membuat gadis itu tersenyum senang.


sluuuurrpp!


“hmmmm~ ini sangat enak!”


“ini juga enak!” Minho menyuapi Sena ramen miliknya, membuat gadis itu memberikan kedua jempolnya.


Jaeha dengan setelan hitam-hitamnya memperhatikan mereka dari mobil, dia memiliki pekrjaan yaitu mengikuti Sena kemana gadis itu pergi dengan Minho. Ia sebenarnya tidak ingin melakukan tindakan ini tapi ia tidak tahan hanya berdiam diri saja sementara persaannya selalu ingin tau apa yang gadis itu lakukan.


“kenapa aku seperti ini?! apa yang terjadi denganku?”


Minho teringat percakapannya dengan Seolhyun semalam yang memberitahukan kalau Sora akan menjalani operasi transplantasi jantung sore ini.


“benarkah?!” tanya Sena tidak percaya


“hm, aku harap semuanya akan berjalan lancar.”


“syukurlah, akhirnya! Tapi kenapa dia tidak menghubungiku padahal ini berita penting.” Wajah Sena kembali murung


“mungkin dia lupa. Coba kau hubungi Seolhyun lebih dulu.”


“akhirnya! Ah aku benar-benar senang! Aku akan membelikan boneka panda yang besar untuknya.”


Jaeha mengikuti mereka ke sebuah toko boneka dia tidak pernah keluar dari mobilnya jika posisi mereka masih terlihat oleh kedua matanya.


Ia menunggu dengan sabar dalam mobil, sampai akhirnya Sena keluar membawa boneka panda besar dalam pelukannya.


“dia suka panda? Bukankah dia suka rillakuma?”


Jaeha menunduk ketika Sena melihat ke arah mobilnya, ia mendongak begitu mobil Minho pergi.


“kemana lagi mereka pergi?!” Jaeha menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju mengikuti mobil Minho.


Minho membawa Sena ke sebuah danau yang dikelilingi pegunungan dengan keindahan pohon-pohonnya yang berdaun orange terang.


Lagi-lagi Sena malah ingat kebersamaannya dengan Jaeha saat mereka menghadiri Festival Momiji Arashiyama di Kyoto, pamandangan yang ia lihat hampir mirip membuatnya kembali ingat dengan ciumannya malam itu.


Sena menggelengkan kepalanya pelan, “itu biasa terjadi, jangan dipikirkan lagi!” gumam Sena


“kau mengatakan sesuatu?” tanya Minho


“aku... aku hanya suka tempat ini. oppa benar-benar tau kesukaanku!”


Minho tiba-tiba memeluk Sena dari belakang membuat gadis itu tersentak kaget, “aku tau semuanya tentangmu, aku akan membuatmu bahagia jika kau bersamaku.”


Sena tersenyum mendengar perkataan Minho, ia tidak tau harus bicara apa karena ada perasaan lain yang membuatnya ingin lepas dari pelukan Minho. Biasanya ia akan nyaman jika Minho memeluknya tapi kali ini tidak, ia merasa kurang nyaman.


Jaeha mengepalkan tangannya perasaan ketidak sukaannya terhadap kedekatan Sena dan Minho kembali muncul, ia tidak ingin menganggap ini perasaan cemburu tapi ia mengakui dirinya memang terlihat seperti orang yang cemburu. Jaeha memilih pergi ia sudah tidak berniat lagi mengikuti mereka, ia memilih pergi ke perusahaan sekedar untuk melihat-lihat kondisi perusahaannya.