Maybe I Love You

Maybe I Love You
59. Honeymoon ke 2



Setelah melalui perjalanan panjang di udara akhrinya Sena dan Jaeha sampai di bandara Frankfurt, setelah istirhat untuk sesaat mereka kembali melanjutkan penerbangan selama satu jam ke bandara Salzburg. Perjalanan panjang ini memang membuat Sena lelah, bahkan dari pertama lepas landas Sena langsung tertidur. Rasanya energinya begitu banyak terkuras, saat sedang hamil memang terjadi banyak perubahan padanya, padahal ia tidak seperti ini sebelumnya.


Begitu sampai di bandara Salzburg mereka langsung disambut oleh seorang supir yang akan mengantarkan mereka ke sebuah dermaga, karena mereka harus naik perahu boat untuk bisa sampai ke Desa Hallstatt.



Pemandangan menakjubkan membuat Sena enggan untuk berkdip. Pemandangan pegunungan Alpen yang menjulang tinggi, keindahan danau dengan air jernihnya yang luas serta angin pedesaan yang segar membuat Sena betah berlama-lama di perahu.


Jaeha sendiri begitu bahagia melihat Sena bisa sesenang ini, menyerahkan urusan pekerjaannya pada Suho dan wakilnya memang sepenuhnya tidak salah. Baginya ini merupakan pilihan yang tepat, apalagi dia sendiri sulit untuk memiliki waktu kosong yang lama.


Sena melihat seseorang sudah berdiri di dermaga desa menunggu mereka, seorang pria yang seumuran Ayahnya Jaeha tersenyum ramah begitu perahu menepi di dermaga. “Selamat datang di Desa Hallstatt.” Pria itu membungkuk seperti sapaan yang biasa digunakan warga Korea,


“Terima kasih sudah mau menerima kami di sini.”


“Tentu saja, mari menuju mobil.”


Saat berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka ke penginapan, Sena tak bosannya terus memandangi danau dan sekitarnya. “Apa kalian menyukai tempatnya?” Tanya pria yang bernama James tersebut.


“Di sini benar-benar indah, sangat indah.” Jawab Sena, “Aku senang bisa berlibur di sini.”


“Di sini sangat mengagumkan. Apa banyak warga Korea yang datang ke sini?” Tanya Jaeha


“Kebanyakan pada bulan April sampai September 80% dari turisnya adalah orang Asia terutama Koresa Selatan dan Tiongkok. Mereka mencari waktu yang bagus untuk datang berlibur di sini, tapi di bulan yang lain juga tidak kalah banyak. Kami sendiri tidak menyangka akan bisa menjadi desa wisata seperti sekarang.”


Sena memperhatikan setiap bangunan yang mereka lewati, bangungan dengan arsitekturnya yang bernuansa gothic dan baroque berpadu dengan gaya moderen membuat Sena merasa ada dalam negeri dongeng.


“Banyak yang bisa kalian kunjungi di sini, bekas tambang garam, melihat indahnya desa dari kereta gantung, menyusuri danau dengan perahu, dan masih banyak lagi. Saya sudah sediakan pamfletnya di tempat penginapan kalian, kalian bisa melihatnya dan memberitahu saya kemana tujuan kalian.”


“Terima kasih Paman.” Ucap Sena, “Tapi Paman jangan terlalu formal juga, karena Paman adalah teman Ayahnya Jaeha jadi Paman bisa menganggap kami sebagai anak Paman sendiri.”


“Baiklah kalau begitu, Sena, Jaeha. Oh, Kita sudah sampai.”


Saat Sena masuk ke dalam rumah, suasana hangat mulai terasa olehnya. Rumah yang biasanya ia lihat di dalam dongeng saat masih kecil kini ia bisa merasakannya sendiri, semua perabotan di sini sangat klasik dan terbuat dari kayu.


“Kalian bisa melihat danau dari sini.”


Paman James menyibak gorden yang menutup jendela, pemandangan danau yang luas dan jernih bisa terlihat jelas dari tempat Sena berdiri di dekat jendela. Ia pun merangkul lengan Jaeha dengan kuat saking senangnya, pria itu tidak tau kalau Sena bisa sesenang itu dengan alam. Kalau Jaeha jadi seorang petani pun Sena juga pasti akan mendukung keputusannya.


“Baiklah, kalian bisa istirahat dulu, kalian pasti lelah, kalau ada apa-apa kalian bisa menghubungiku.” Paman James menyerahkan selembar kertas kecil yang bertuliskan nomor teleponnya.


“Terima kasih Paman.”


Setelah mengantar paman James, Jaeha langsung kembali ke dalam rumah untuk menemui Sena, istrinya itu tak berpindah tempat satu inci pun. Jaeha pun berinisiatif untuk memeluk Sena dari belakang, “Sesenang itukah?”


Sena pun merasakan kehangatan dari pelukan Jaeha, “Eung! Aku sangat menyukai alam, aku mencintai alam! Terima kasih Jaeha!” Sena berbalik, ia kini memeluk tubuh Jaeha dengan erat membenamkan kepalanya di dada bidang pria itu.


“Kalau begitu aku mau minta hadiah.”


“Hadiah?” Sena pun menatap Jaeha yang kini tengah menunjuk bibirnya sendiri, Sena mengerti ia pun memberi ciuman singkat untuk Jaeha.


“Hanya segitu? Masih kurang lah.” Tanpa menunggu Jaeha langsung mencium bibir Sena membuat istrinya itu memeluk tubuhnya dengan erat,



Mereka pun hanyut dalam hangatnya keromantisan yang mereka ciptakan sendiri.


Selesai mandi sore Sena dan Jaeha pun bersiap untuk pergi ke restoran rekomendasi Paman James yang terkenal enak dan memiliki pemandangan yang indah untuk makan malam, karena Paman James sudah melakukan reservasi jadi mereka bisa langsung masuk dan mendapatkan tempat dengan mudah.


Meja yang mereka pesan berada di pinggir danau dengan hiasan lilin-lilin yang berjajar rapih membuat nuansa romantismenya semakin kental, tempat duduk yang nyaman, suasana romantis, pemandangan malam yang indah ditambah bintang-bintang dilangit yang menakjubkan membuat Sena benar-benar merasa sangat puas.


“Selamat makan!”


Kenikmatan dan kebahagiaan yang Sena rasakan hari ini membuat dia lupa dengan tujuannya, kesedihannya, semuanya terlupakan. Tak terbersit sedikitpun dalam pikirannya ini adalah saat-saat inda terakhirnya bersama Jaeha, kebahagiaan yang akan berakhir dengan kesedihan dan kesengsaraan yang penuh dengan luka, Sena... dia melupakan semua itu. Kebahagiaan yang terasa begitu nyata yang selalu ia dambakan, meski Jaeha tak pernah mengatakan kalau ia mencintai Sena, tapi saat ini Sena bisa merasa bahagia dan merasakannya meski Jaeha tak juga mengatakannya.


Satu atap, satu udara, tapi kebahagiaan sesungguhnya ia rasakan sekarang. Kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan terjadi karena awalnya ia sama sekali tak menyukai Jaeha, pertengkaran demi pertengkaran terjadi, rasa cinta dan sayang yang awalnya tak pernah ada lambat laun mulai tumbuh menjadi tak terbendung.


“Coba ini! Aaa~” Jaeha pun menyuapi Sena,


‘Saranghae, Jaeha.’


“Eum~~ dagingnya sangat lembut, sausnya juga menyatu dengan sempurna. Perfect! Coba juga punyaku, aaa~”


Tanpa pengganggu, tanpa beban, tanpa kecemasan, mereka benar-benar bebas dan dipenuhi dengan cinta. Sepanjang malam, tak ada yang memebuat mereka terganggu, mereka hanya menikmati cinta, kebersamaan, dan kehangatan. Cinta yang tak terucap, tapi bisa dirasakan.


Sena bangun lebih dulu, jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi. Sena memakai baju tidurnya sambil berjalan menuju jendela kamar, membuka tirai tipis yang menutupi jendela. Pemandangan indah yang terlihat oleh kedua indera pengelihatannya itu membuatnya tersenyum puas, ia kembali berbalik melihat Jaeha yang masih tertidur pulas, Sena pun mendekat dan memberikan morning kiss di pelipis Jaeha. Sambil menunggu suaminya itu bangun Sena memilih untuk membersihkan diri.


Saat Sena keluar dari kamar mandi rupanya Jaeha masih belum bangun, ia juga tidak tega harus membangunkan Jaeha yang terlihat begitu sangat nyenyak, Sena memilih pergi ke dapur untuk mempersiapkan sarapan saja.


Saat sudah sampai di dapur, “Tapi aku harus masak apa?” Ia membuka satu persatu pintu lemari gantung dan juga lemari Es yang ternyata kosong. “Semuanya kosong, tak ada apapun.”


Ting tong!


Sena pun membuka pintu, “Paman James!”


“Selamat pagi Sena!” Paman James menyerahkan kantong kresek yang ia bawa pada Sena, “Itu hanya roti, selai dan susu, jus juga ada. Aku baru ingat kalau tidak ada bahan makan di rumah kalian.”


“Terima kasih Paman, ini sangat membantu. Mau ikut sarapan sekalian Paman?”


“Tidak usah, paman sarapan di rumah saja. Nanti sekitar jam delapan Paman ke sini lagi menjemput kalian.” Sena mengangguk, “Oh iya, kalian ingin pergi ke mana dulu?”


“Eum, aku belum mendiskusikan itu, tapi sepertinya aku ingin pergi ke bekas tambang garam. Bukankah itu menjadi salah satu ciri khas dari desa ini?”


Paman James tersenyum, “Baiklah, kalian siap-siap saja.”


“Terima kasih Paman untuk sarapannya.”


“Sama-sama.”


Tepat setelah pintu tertutup ponsel Sena pun berdering, wajah cerianya berubah begitu melihat siapa yang menghubunginya.


“Hallo!”


...


“Lakukan. Dan sampaikan permintaan maafku, katakan juga kalau aku baik-baik saja.”


...


“Tidak ada waktu, aku tidak punya waktu. Aku mohon lakukan untukku, aku percaya padamu.”


...


“Eung, bye.”


‘Kebahagiaan apa yang bisa bertahan lama? Adakah kebahagiaan yang tak memerlukan proses? Apakah kebahagiaan dan penderitaan selalu berdampingan, seperti kata setelah hujan terbitlah pelangi yang indah? Adakah orang yang selalu hidup bahagia tanpa masalah? Jika ada, aku ingin. Bagaimana caranya?’