
Sujin kini tengah duduk menunggu Sena sambil menyesap secangkir kopinya yang masih mengepul. Seperti apa yang di bicarakan oleh Hyunjae, Sujin ingin mengajak Sena untuk ikut hadir dalam perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya, karena Sena sudah dianggap seperti anak sendiri oleh kedua orang tuanya.
Kedua matanya memperhatikan seseorang yang baru turun dari mobil,
“siapa Helena?”
“chagia!” Hyunjae langsung berdiri begitu sadar kalau Sujin sudah kembali, ia bisa melihat kalau Sujin curiga padanya, Hyunjae memperkenalkan Dongha lebih dulu pada Sujin.
“sekarang jawab aku, siapa Helena?” Sujin mengucapkan nama Helena dengan penuh penekanan, Hyunjae dan Dongha saling menatap, bingung entah apa yang akan dia jelaskan pada Sujin, karena Hyunjae tau kalau Sujin bukan orang yang mudah percaya begitu saja. dan lagi Hyunjae tidak bisa bohong pada Sujin, Sujin akan tau jika dia berbohong.
“Helena, dia... dia mantan pacar Jaeha.”
“lalu? Kenapa kalian sampai menebak Jaeha akan memilih siapa? Sudah jelas Jaeha akan memilih Sena! Sena itu istrinya, sedangkan Helena adalah masa lalunya. Meskipun mereka menikah tanpa cinta, tapi aku yakin suatu saat nanti mereka akan saling mencintai! Masa lalu ya biarkan saja jadi masa lalu.”
“apa kau tiba-tiba datang bulan?” tanya Hyunjae karena Sujin tiba-tiba saja menjadi emosi, Dongha hanya menyimak.
“pertanyaanmu pada Dongha yang tidak masuk akal!”
“pertanyaanku masuk akal! Aku bisa menanyakan itu!”
“kenapa? kenapa harus bertanya seperti itu? apa Jaeha masih mencintai Helena? Atau jangan-jangan Helena sebenarnya pacar simpananmu tapi kau malah menjual nama Jaeha?!” Sujin melotot garang pada Hyunjae
“bukan! Aku tidak akan selingkuh darimu!”
“lalu apa? kenapa pertanyaan itu pantas untuk ditanyakan?”
Hyunjae hanya diam, ia sekali lagi melirik pada Dongha, tatapan matanya seakan berkata ‘bagaimana ini? apa aku harus memberitahunya?’ Dongha hanya mengangkat bahunya, ia juga tak tau.
“tapi kau jangan bicarakan rahasia ini pada Sena, jangan! Jangan memberitahunya! Kita jagan ikut campur urusan rumah tangga mereka. kau bisa berjanji padaku?”
“apa seserius itu? ini hanya soal mantan.”
“lebih dari soal urusan mantan. Berjanjilah padaku, kau hanya akan bicara seperlunya pada Sena, kau hanya akan bertanya seperlunya pada Sena setelah kau tau apa kenyataannya.”
“baiklah, aku janji.”
“sebenarnya... Helena dan Jaeha... mereka sudah menikah.”
“maaf aku datang terlambat.” Sena langsung duduk di hadapan Sujin yang sudah menunggunya.
“m-mwo? Menikah? Ini... ini... kalian hanya bercandakan?” Sujin menatap Hyunjae dengan tatapan tak percaya, ia ingin mendengar Hyunjae berkata kalau ini hanya lelucon tapi Hyunjae malah tak berkata apapun, ia hanya bisa menatap Sujin, ia langsung bisa mengerti arti tatapan tersebut.
“tapi... mereka pasti sudah berceraikan? Kalau sudah cerai... apa yang harus dipermasalahkan?”
Hyunjae menggeleng, “kami berdua jadi saksi di pernikahan mereka, harusnya kami bertiga, tapi Jongmin tidak bisa ikut. Setelah pernikahan itu kami baru tahu kalau Helena ternyata di jodohkan dengan orang lain, ia menikah dengan orang lain. Tidak ada yang tau soal pernikahan mereka, bahkan orang tua Jaeha pun tidak mengetahuinya, begitu juga orang tua Helena.”
Melihat Sujin yang terus menatapnya sedari tadi membuat Sena salah tingkah, ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Sujin agar temannya itu sadar!
“oh, Sena! Maaf tadi aku sedikit melamun.”
Sena menerima kopi yang ia pesan, “maaf membuatmu menunggu, dan lagi apa yang kau lamunkan?”
“ah, tidak ada. Hanya urusan kerjaan. Dan lagi, aku memang selalu menunggu sejak kau masih lajang. Aku pernah berniat
membiarkanmu menunggu tapi tetap saja aku yang datang duluan.”
“mianheyo, aku sedang kurang enak badan.”
“padahal kau bilang saja kalau kau sedang sakit, aku tidak akan mengajakmu untuk bertemu di luar. Kau diantar Jaeha?” sujin berusaha memancing Sena, ia melihat perubahan mimik wajah Sena ketika ia menanyakan Jaeha.
“tidak. Dia sibuk.”
“hubunganmu dengan Jaeha baik-baik saja kan?”
“wae?”
“kau tau sendiri, aku bisa merasakan kalau kau sedang dalam keadaan tidak baik. begitu juga sebaliknya. Kita sudah bersama cukup lama, aku tidak bisa membiarkanmu larut dalam masalahmu sendiri.”
“oh iya, apa yang ingin kau bicarakan?” Sujin tau Sena ingin mengalihkan topik pembicaraan mereka, Sujin harus sadar dan mengerti, mungkin Sena masih belum mau menceritakan masalahnya untuk sekarang. ia harus mengerti, tidak boleh memaksa.
“besok malam acara perayaan hari pernikahan orang tuaku, aku harap kau bisa datang. Eomma juga berharap kau bisa berkumpul dengan kami. tidak banyak orang yang datang, hanya keluarga saja. kau... bisa kan?”
“besok malam ya...?” Sena benar-benar tidak betah berada di rumah, ini bisa jadi salah satu alasan ia pergi dari rumah. Jika bisa ia ingin menginap di rumah Sujin untuk semalam saja. tapi itu tidak mungkin.
“bisa kan? kau juga bisa ajak Jaeha, dia kan suamimu. Keluargaku dan keluarga Jaeha juga punya hubungan bisnis yang baik.”
Sujin tak suka dengan situasi sekarang ini, ia seperti sedang bersama seseorang yang baru ia kenal. Seorang Kim Sena akan berbicara banyak hal agar situasinya terasa menyenangkan, selesai topik yang satu ia akan mencari topik yang lain, selalu berlanjut sampai tak terasa memakan waktu, sampai mereka tak ingat waktu. Tapi sekarang, seorang Kim Sena di hadapannya sedang melamun, hanya lebih banyak diam. Temannya itu bahkan sama sekali belum menyentuh kopinya. Sujin tak tahan ingin mengatakan yang sejujurnya pada Sena, tapi ia sudah berjanji pada Hyunjae, ia tidak bisa ingkar janji.
“Se—“
“Sujin.”
“oh, wae?”
“apa yang akan kau lakukan jika Hyunjae menyimpan rahasia besar darimu?” pandangan matanya masih tetap, menatap ke luar jendela, memperhatikan segala hal yang ia lihat meskipun tidak ada yang menarik, hanya orang-orang yang berjalan saling berlawanan arah.
Jantung Sujin berdegup kencang, ‘apa maksud pertanyaanmu itu Sena?’
“mungkin aku akan mencari tahu, rahasia apa yang dia sembunyikan dariku.”
“dan jika kau sudah tau? Apa yang akan kau lakukan?”
“aku akan bertanya, kenapa dia menyembunyikannya dariku. Aku akan meminta penjelasannya.” Ucap Sujin dengan hati-hati
“apa kau punya keberanian untuk bertanya? Bagaimana jika kau takut dengan kenyataannya? Kau sanggup menerimanya? Jika kau kehilangan dia bagaimana?”
“Sena, kenapa kau bertanya seperti itu? apa terjadi sesuatu?”
Sena akhirnya menatap Sujin, ia tersenyum, senyum yang menipu. “aku hanya bertanya.”
“Sena.” Sujin menggenggam tangan sahabatnya itu, ia menggenggamnya dengan sangat erat.
“please, katakan yang sejujurnya. Kau seperti bukan kau. Ini bukan Sena yang aku kenal. Kau tidak bisa menipuku, kau tau itu! aku mohon katakan ada apa, hm? Jangan membuatku khawatir.”
Bibir Sena bergetar, ia kembali menatap ke arah luar. Air mata itu mengalir begitu saja, tanpa bisa di tahan, tak tertahan.
“Sena...”
Hyunjae datang menjemput Sujin, “kau mau pergi ke mana dulu?” tanya Hyunjae begitu Sujin masuk ke dalam mobil.
“Jaeha.”
“mwo?”
“antarkan aku menemui Jaeha!”
“sayang, kau kenapa? kenapa kau ingin bertemu dengan Jaeha?”
Sujin kini menatap Hyunjae, “aku tidak bisa melihat Sena seperti ini! Jaeha sudah keterlaluan!”
“keterlaluan bagaimana?! Apa mungkin kau menceritakannya pada Sena?”
“aku tidak menceritakan apapun pada sena! Tapi aku rasa Sena sudah tau, aku rasa dia sudah tau soal Helena. Aku rasa dia lebih tau dari kita.”
“dia mengatakannya padamu?”
“dia tidak berkata apapun. Tapi dia menangis, aku tidak bisa melihatnya seperti ini! aku... aku merasa dia buka Sena yang aku kenal.” Sujin kini menitikkan air matanya
“bagaimana kau bisa seyakin itu kalau Sena sudah tau jika dia sendiri tak menceritakannya padamu?” Sujin akhirnya menceritakan apa yang Sena tanyakan padanya, bagaimana mungkin ia tidak curiga?
“mungkin saja itu masalah orang lain. Kau jangan asal tebak dulu!”
“lalu kenapa Sena yang harus menangis? Jika itu masalah orang lain dia akan cerita, tapi ini tidak!”
Hyunjae kini memeluk Sujin, ia menenangkan gadis itu. “tenang sayang, tenanglah, aku tau perasaanmu. Tapi aku mohon tenang.” Sujin mencengkram kuat baju Hyunjae untuk meredakan amarahnya, “kita bisa membantu, tapi ada batasnya. Kita tidak bisa bertindak terlalu jauh dalam masalah rumah tangga mereka, sebelum bertindak pun, kita harus memikirkannya dengan baik. jika kita bertindak semaunya, bisa jadi hanya akan memperburuk masalah atau bahkan menambah masalah yang baru.”
Sujin tak menjawab, tapi ia membenarkan apa yang di katakan Hyunjae. Ia hampir bertindak gegabah tanpa pemikiran yang matang.
“tenanglah, aku mohon. Kita berdoa agar semuanya baik-baik saja.”
“kau tidak akan membela Jaeha kan?”
“aku akan membela yang benar, aku akan berpihak pada yang benar. Walaupun Jaeha adalah sahabat baikku tapi jika ia salah, aku tidak bisa berpihak padanya. tidak akan.”
--------------##------------
makasih buat kalian yang udah setia buat menunggu dan baca juga ngasih dukungannya. terima kasih banyak 💕 oh ya kalo gak keberatan bisa cek karyaku yang satu lagi? judulnya Come To Me. siapa tau kalian suka sama jalan ceritanya 😊 makasih sebelumnya ya. semoga hari kalian menyenangkan 😄