
Pukul satu malam, Leon turun ke dapur untuk mengambil air minum. Ia melihat seseorang yang sedang berdiri di depan kulkas tengah mengambil sesuatu.
“Kau belum tidur, Jaeha?”
Jaeha pun melihat ke tempat asal suara, Leon sedang berjalan mendekatinya. “Belum Hyung.” Jaeha menutup pintu kulkasnya, Jahea mulai terbiasa memanggil Leon dengan panggilan Hyung. Padahal Leon tak pernah menyuruh Jaeha untuk memanggilnya dengan sebutan Kakak.
“Kakak sendiri kenapa belum tidur?”
“Terlalu banyak perkerjaan, dan rasa kantukku sendiri sudah lewat. Mera bertemu siapa tadi? Dia jadi muram setelah pergi jalan-jalan denganmu.”
“Minho. Minho benar-benar akan pergi ke Venesia.”
“Apa hanya dengan pukulan satu kali saja sudah cukup untukmu?”
Saat bertemu dengan Minho, Jaeha memberikan pukulan tinjunya pada Minho sebagai pelampiasan rasa marahnya, tapi hanya sekali.
“Aku tidak ingin masuk kantor polisi. Aku juga tidak ingin melampiaskannya secara terus menerus. Aku sudah menerima semuanya, jadi sekali pukul saja sudah cukup.”
“Lalu, sampai kapan kau akan menyamar menjadi Rico? Masih belum punya keberanian untuk jujur?”
Jaeha mengangguk, ia memang berubah menjadi seorang pecundang. Ia masih belum bisa mengetahui apakah Sena bisa menerimanya kembali atau tidak. Apa Sena bisa menerima kebohongannya lagi karena ia berpura-pura menjadi Rico atau tidak. Keinginannya untuk menyentuh Sena bahkan memeluknya semakin menjadi dan ia harus menahan itu semua.
“Baiklah, hanya bisa berkat kumpulkan keberanianmu. Tapi aku juga yakin, cepat atau lambat Mera akan sadar siapa dirimu sebenarnya.” Setelah mengatkan itu Leon pergi meninggalkan Jaeha di dapur.
Dalam cahaya lampu remang-remang, Jaeha melihat telapak tangannya. Ia kembali merasakan tendangan bayi dalam perut Sena saat tadi siang.
*Dalam perjalan pulang ke rumah Sena tertidur, saat mobil berhenti di lampu merah Jaeha memperhatikan perut Sena, ia ingin sekali menyentuhnya karena Jaeha sama sekali belum pernah menyentuhnya. Dirasa yakin Sena memang tidur dengan lelap, Jaeha pun menyentuh perut Sena secara pelan dan saat itu si bayi menendang membuat Jaeha tersenyum penuh haru. Ia bisa merasakan tendangan jagoan kecilnya untuk yang pertama kali.
“Ini Ayah.” Bisik Jaeha sambil membungkuk mendekati perut Sena, tendangannya semakin kuat setelah Jaeha mengatakan kalau dia Ayahnya. “Benar, ini Ayah sayang.” Jaeha benar-benar ingin menangis karena bahagia*.
“Ayah ingin menyentuhmu lagi, Nak.”
**
Setiap pagi yang dilakukan Jaeha sebelum keluar dari kamarnya untuk bertemu dengan Mera adalah memasang topeng wajah yang diberikan oleh Leon. Dengan adanya topeng inilah Jaeha bisa bertahan sampai sekarang berada di sisi Mera. Setelah semua tertutup tanpa celah Jaeha pun keluar dari kamar sebagai Rico.
“Apa Mera belum turun?” Tanya Rico pada salah seorang pelayan karena meja makan masih kosong karena biasanya Mera sudah ada di meja makan.
“Belum Tuan.” Leon memberitahu semua pelayan kalau Rico adalah Jaeha, adik iparnya.
“Aku akan membawakan sarapan ke kamarnya Mera, tolong disiapkan ya?”
“Baik Tuan.”
Rico berdiri di depan kamar Mera dengan membawa sarapan yang sudah disiapkan, ia pun mengetuk pintu lebih dulu. “Mera, sarapan sudah siap!” Rico kembali mengetuk pintu, “Mera?” masih tidak ada jawaban, Rico mulai sedikit panik. Ia pun meminta izin untuk masuk ke dalam kamar, untunglah pintunya tidak dikunci.
Saat membuka pintu Rico mendengar suara Mera yang sedang mengaduh kesakitan, dengan segera Rico berlari menghampiri Mera yang masih berada di atas tempat tidur. Meskipun panik tapi Rico berusaha tetap tenang.
“Ada apa? Mana yang sakit?”
“Kaki. Kakiku kram. Akh!”
Rico menyibak selimut yang menutupi kaki Mera, ia mulai menyentuh kaki kanan Mera dan memijitnya agar rasa sakitnya segera menghilang. “Ini akan sedikit sakit.” Rico terus memijit kaki Mera sampai Mera tak merasa kesakitan lagi.
“Terima kasih. Aku kesulitan untuk memijatnya.”
“Apa kau sering kram?” Rico masih memijit kaki Mera
“Pernah, tapi aku rasa ini yang paling sakit.”
“Masih sakit?”
“Mendingan. Sekali lagi terima kasih.” Mera kembali merasakan debaran jantungnya yang tidak normal, ia pun memperhatikan Rico yang masih memijat kakinya. Sentuhan tangan yang tidak terasa asing bagi tubuhnya, kenapa lagi-lagi ia merasa hal itu dari Rico? Apa karena Rico terlihat mirip seperti Jaeha?
Jujur saja sejak Rico muncul wajah Jaeha selalu saja datang tanpa di undang baik dalam mimpi atau pun saat Mera sedang dalam kondisi sadar. Diam-diam rasa rindu yang biasa saja kini semakin tak karuan. Kenapa Rico bisa jadi pemicunya?
Meski sudah lama berpisah, tapi Mera tak bisa melupakan rasa dari sentuhan tangan Jaeha. Sekarang Mera ingin Jaeha ada di sini.
‘Kenapa rasanya sama?’
Mera memejamkan matanya, ia menikmati sentuhan ini. Sentuhan yang sudah lama ia rindukan. “Apa kakimu sakit lagi?”
“Sakit, aku rasa jadi semakin sakit.”
“Aku akan memijatnya lagi sampai sembuh.” Saat akan memijat kembali Mera menyuruhnya untuk berhenti, ia meminta Rico untuk keluar dari kamarnya.
Rico tak bisa memaksa untuk tetap berada di sisi Mera, ia lebih memilih menuruti apa mau Mera dari pada Mera menjadi emosi. Saat Rico keluar dari kamar Leon muncul, “Kenapa kau tidak memeluknya?”
“Aku tidak bisa memeluknya.”
“Kau masih ragu untuk tidak segera jujur padanya?” Jaeha hanya diam, ia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia merasa tidak berguna, ia benar-benar seorang pecundang. Dari dulu sampai sekarang ia hanya seorang pecundang.
Mera turun saat menjelang makan siang, ia meminta maaf pad Leon karena tidak ikut sarapan bersama tadi pagi. Rico pun bergabung dengan Leon dan Mera untuk makan siang bersama.
“Tidak apa-apa. Sepertinya Ibu berencana akan menginap di sini sampai bayimu lahir.”
Mera menjadi terlihar sumringah, “Benarkah? Kapan Ibu akan datang?”
“Mungkin dua atau tiga hari lagi. Sebenatar lagi usia kandunganmu juga 9 bulan, belum lagi kadang kelahiran itu tidak sesuai dengan prediksi kan?”
“Kakak tau banyak, seperti sudah punya istri dan anak saja.”
“Kau memang selalu senang menggodaku. Oh iya, bukannya perelengkapan bayi masih kurang, kenapa kau tidak pergi membelinya bersama dengan Rico?”
Mera dan Rico saling bertatapan, Mera sendiri masih merasa malu karena tadi pagi ia sudah menangis dihadapan Rico. Pagi tadi benar-benar melow untuknya, ia tak bisa menahan air matanya di depan orang lain.
“Kakak juga ikut!”
“Kau jadi manja. Baiklah, tapi hanya sebentar. Aku harus pergi meninjau lokasi pabrik yang baru.” Mera pun tersenyum senang.
Setelah makan siang selesai mereka langsung pergi ke toko perlengkapan bayi. Leon lebih sering meninggalkan Rico dan Mera berdua, Leon hanya bertindak sebagai penonton dan kadang-kadang bertindak sebagai juri yang menentukan mana yang bagus atau tidak.
“Aku iri, aku jadi ingin cepat punya istri.”
“Kakak, kereta dorong yang ini bagus tidak?”
“Coba lihat yang sebelah kanannya?” Kata Leon sambil berjalan mendekati Mera.
Rico sendiri sangat berterima kasih pada Leon, ia juga bersyukur karena tidak salah memilik waktu itu. Dengan pilihannya ia kini bisa bersama dengan Mera meskipun dalam wajah Rico, ia juga bisa ikut berbelanja kebutuhan bayi dan banyak lagi yang tak bisa ia sebutkan satu persatu.
“Mera, Kakak harus pergi. Kalian lanjutkan saja belanjanya.” Leon menyerahkan kartu kredit miliknya, “Pergilah jalan-jalan, pulihkan moodmu, oke?”
Mera mengangguk, “Hati-hati di jalan Kak.”
Setelah puas berbelanja Mera mengajak Rico untuk singgah sebentar di taman, Mera ingin bersantai sebentar seperti apa yang disarankan oleh Leon.
“Aku akan membeli minuman.” Rico meminta Mera untuk menunggu.
Suara decitan burung yang hinggap diatas batang pohon membuat Mera sedikit tenang, hiruk pikuk suara kendaraan yang lewat berusaha untuk tak ia dengar. Ia mencari alasan kenapa tadi ia harus menangis di depan Rico, hanya karena sentuhannya yang terasa sama bukan berarti ia harus menangis. Ia sudah terbiasa menahan rindu tapi tetap saja ia terus menangis.
“Dia menendang. Dia suka musiknya.”
Perhatian Mera teralihkan pada sepasang suami istri yang sedang duduk di bangku disebrang Mera. Si perempuan sedang hamil besar seperti dirinya, si pria membenarkan headphone di kepala istrinya, mereka terlihat bahagia.
Mera bisa mendengar dengan jelas setiap percakapan mereka dan itu membuatnya iri, setiap perlakuan pria itu pada istrinya membuat Mera merasa iri dan sedih. Ia juga ingin seperti itu, kenapa pula ia harus melihat hal yang begitu menyedihkan baginya hari ini? Kenapa ia harus terus menangis padahal ia sudah sering seperti ini? Lagi-lagi air matanya menetes.
Rico melihat semuanya, ia melihat mera kembali menangis. ‘Aku ingin memelukmu, aku ingin membuatmu merasakan hal yang sama seperti orang lain. Tapi apa kau bisa menerimaku lagi?’
Mera melihat Rico yang berdiri tak jauh darinya, setelah menghapus air matanya Mera tersenyum kembali seakan tak terjadi apapun. Begitu juga dengan Rico, pria itu kembali berjalan menghampiri Mera sambil membawa minuman hangat.
“Maaf menunggu lama.”
“Kita pulang ya?” Rico mengangguk, mereka pun berjalan berdampingan menuju mobil.