
Saat ini waktunya Kezia keluar dari ruang dimensi, sebelum keluar Mao-mao mengingatkannya untuk menekan auranya,agar tidak diketahui orang.
Kezia menggendong Mao-mao dan mulai keluar dari ruang dimensi.
Wuusshh!
Tibalah Kezia menginjakan kaki di dunia luar, mulai sekarang Kezia akan dikenal sebagai Lie Mey Yui.
Saat ini Lie Mey Yui di hutan kematian yang berada di daerah Kerajaan Tang.
“Mao-mao kita sudah sampai di luar dan sekarang berada di hutan kematian. Tidak ada orang yang berani masuk hutan ini, kita cari arah keluar dari hutan ini sambil melihat-lihat mungkin ada yang menarik perhatianku”, kata Lie Mey.
Lie Mey Yui berjalan menyusuri hutan kematian yang sunyi dan mencekam. Hutan kematian terkenal banyak binatang buas termasuk beast dan hewan spiritual, sehingga hampir tidak ada orang yang datang ke hutan kematian kecuali mereka yang sedang mencari hewan beast atau hewan spiritual untuk dijadikan hewan kontrak.
"Toollloong..!" Terdengar suara minta tolong dari arah selatan.
Suara minta tolong terdengar seperti suara anak kecil.
Lie Mey Yui bergegas mencari arah suara tersebut, ia mencari di mana suara anak yang minta tolong. Arah suara semakin jelas dan mencari siapa yang minta tolong.
Nampak seekor rubah tergeletak di semak dengan bersimbah darah, rubah tersebut terluka parah dan kondisi sedang hamil tua yang sebentar lagi akan melahirkan.
"Tuan, tolong selamatkan anak saya dan tolong rawatlah dia, saya percayakan anak saya kepada tuan,” kata ibu rubah yang sudah hampir kehabisan nafas.
“Aku akan menyelamatkan kamu dan akan merawat anak kamu, tapi aku tidak tahu bagaimana cara menolong kelahiran anakmu,” jawab Lie Mey Yui.
“Aku akan mengorbankan intisari ku untuk melindungi anakku,” kata ibu rubah.
Muncul cahaya berwarna biru keluar dari dahi ibu rubah dan kemudian melesat ke dalam perutnya, tak lama ibu rubah berusaha melahirkan anaknya, tak lama bayi rubah lahir dan tubuhnya diselimuti sinar biru.
Kezia langsung mengambil bayi rubah dan menggendongnya.
“Tuan, saya serahkan anak saya! Rawat dia dan Terima kasih!” dengan sisa nafas terakhir ibu rubah berbicara, setelah selesai mengucapkan terima kasih ibu rubah menghembuskan napas dan meninggal.
Melihat hal itu Lie Mey Yui termenung,” kasih ibu tiada tara, rela mengorbankan nyawa untuk melahirkan anaknya, “ gumamnya
Lie Mey menghela napas dan menaruh bayi rubah di samping ibunya dan menggali lubang untuk mengubur ibu rubah.
Mao-mao duduk menjaga bayi rubah dan melihat Lie mengubur ibu rubah.
Bayi rubah putih yang sangat lucu dan bulu-bulunya halus, Lie Mey Yui mengelus-elus bayi rubah yang sedang tidur.
“Aku akan memberi nama bayi rubah dengan Xio-xio” kata Lie Mey Yui.
“Kamu bawa Xio-xio ke ruang dimensi dan bantu rawat dia,” kata Lie Mey pada Mao-mao
Mao-mao mengangguk dan menghilang bersama Xio-xio.
Terdengar suara dentingan pedang seperti orang bertarung.
Lie Mey Yui mengambil cadar dari cincin penyimpanan dan menggunakannya. Ia melihat ada seorang pria yang menggunakan topeng sedang bertarung melawan orang berpakaian hitam dan mukanya ditutup dengan kain hitam.
Kalau di lihat kasat mata pertarungan tidak imbang karena 1 lawan 8, namun pria bertopeng sangat kuat mampu mendesak 8 orang yang menyerangnya. Akan tetapi di saat 8 orang mulai terdesak tiba-tiba muncul seorang pria dengan mengendarai burung Elang hitam. Serangan yang tiba-tiba dengan melemparkan senjata rahasia, pria bertopeng itu masih bisa bertahan dan melakukan perlawanan. Namun kondisi tubuhnya terluka parah dan melemah karena senjata rahasia yang mengandung racun yang sangat ganas, ia mulai terdesak dan sebuah pedang datang menghampiri seolah akan menebas lehernya.
Kezia yang melihat hal itu langsung menyebarkan bubuk halusinasi yang ia ambil di ruang dimensi dan menyambar tubuh pria bertopeng tersebut.
Pertarungan berhenti, pria yang mengendarai burung elang berteriak, " Kurang ajar! Siapa yang mengganggu pertarunganku! Keluar!"
"Cepat cari, bunuh mereka! Mereka pasti belum menjauh,” perintah pria itu pada pasukannya.
Mereka semua melesat berpencar mencari buruan mereka.
Sementara Lie Mey Yui membawa pria bertopeng lari menuju gua dekat tempat di bertemu ibu rubah.
Kondisi pria itu tak sadarkan diri, Lie Mey Yui meletakan tubuh pria tersebut ke tanah. Sambil menggerutu,” ini cowok makan apa ya…? berat banget! untung aku Lie Mey Yui seorang kultivator, coba kalo Kezia di era 21, yang ada aku seret atau aku glundungin” gerutunya.
Ia mengecek nadi pria tersebut dan bergumam,” racun kalajengking merah, kalau tidak segera diobati hitungan jam pasti sudah tinggal nama. Racun hampir menyebar, beruntung belum sampai ke jantung. Wajah dan sekujur tubuh pria tersebut sudah membiru”.
Lie Mey mengambil air surgawi dan meminumkan pada pria itu, kemudian menidurkan kembali dan melepas baju atas pria itu.
Ia mengambil jarum pada cincin penyimpanan dan mulai menusukkan ke bagian-bagian vital kemudian mengaliri energi qi untuk menekan racun ke satu titik agar tidak menyebar ke jantung.
Setelah racun di tekan semua ke tangan pria tersebut, wajah pria dan tubuh berangsur-angsur kembali normal tidak kebiruan kecuali tangan pria itu langsung berwarna biru kehitaman.
Racun sudah sudah mengumpul di tangan pria tersebut, kemudian Lie Mey Yui mengambil pisau dari laboratorium ruang dimensi lalu menggores kelima jari pria tersebut untuk mengeluarkan darah yang bercampur dengan racun. Darah hitam dan bau keluar, tangan berangsur-angsur kembali normal.
Lalu Lie Mey memasukan pil pemurni jiwa ke dalam mulut pria tersebut.
Luka di dadanya sobek terlalu dalam, sudah diberi serbuk obat yang diambil bersamaan dengan pil pemurni jiwa kemudian ia membalut luka tersebut.
"Huft..! Akhirnya selesai sudah,” gumamnya dan tak sadar ia tertidur di samping pria itu karena terlalu lelah.
Suara khas di pagi hari membangunkan mimpi indah Lie Mey Yui, Ia membuka matanya dan terhenyak langsung duduk.
"Aduh, kenapa bisa ketiduran!".
" Eh, di mana itu cowok main pergi aja! Udah bagus di tolong, ngomong makasih kek, tokek kek, enggak! Jika tahu seperti ini, ogah baget nolongin pria itu! Huuh...! Ngeselin banget, gak ada rasa terima kasihnya, dasar wong edan..!," omel Lie Mey Yui karena kesal
“Masa bodohlah, yang penting aku sudah bantuin! Sekarang waktunya cuzz lagi..
Lie Mey Yui melompat-lompat menggunakan qigong dan sampailah di desa yang agak jauh dari hutan kematian. Ia berjalan menuju pasar untuk mencari tempat makan.