Kezia Story

Kezia Story
BAB 75



Bun Ho tidak peduli dengan perasaan Cai Lin. Nuraninya sudah tak ada lagi, yang ada hanya kebencian pada istrinya.


Cai Lin sangat kecewa dan sakit hati, suaminya tak pernah menganggapnya.


“Hahaha...! Aku sangat puas! J*l*ngmu juga merasakan bagaimana sakitnya pria yang di cintai bercinta dengan wanita lain!” Ucap Cai Lin sambil tertawa.


“B*ngsat kau! Dasar pelscur! Kau sengaja merencanakannya!” Maki Bun Ho.


“Wen An kurung Cai Lin jangan biarkan ada yang menemuinya! Jika Ong’er tidak di temukan, aku akan memberimu pelajaran!” ucap Bun Ho.


“Aku tidak mau..! Berani sekali kau perlakukan aku seperti ini! Aku adalah istrimu, jangan sentuh aku. Lepaskan tangan kotormu,” teriak Cai Lin


“Cepat kau bawa Cai Lin ke ruang leluhur untuk memberi penghormatan kepada para leluhur dan menghafal aturan keluarga Qian,” teriak Bun Ho.


Wen An mengode anak buahnya untuk melaksanakan perintah tuan besarnya. Mereka menghampiri Cai Lin untuk membawanya ke ruang leluhur. Namun Cai Lin berontak dan melempari prajurit dengan barang-barang.


“Cepat tangkap Cai Lin dan seret dia ke ruang leluhur!” perintah Bun Ho yang sangat kesal melihat tingkah Cai Lin yang memberontak.


Cai Lin masih saja menolak, Bun Ho sudah tak sabar lagi kemudian ia menghampiri Cai Lin dan kemudian menamparnya.


“Kau menamparku! Kejam sekali kau kepada istrimu sendiri,” teriak Cai Lin dengan memegangi pipinya yang telah di tampar suaminya.


“Jika kamu mengikuti perintahku tanpa banyak perlawanan, aku tak akan menamparmu!” balas Bun Ho dengan cuek.


“Kenapa aku harus mengikuti perintahmu jika perintah itu untuk menghukumku! Kau menghukumku hanya karena j*l*ngmu. Ingat..! Aku istrimu dan aku adalah putri keluarga bangsawan kerajaan Tang.


“Prajurit cepat tangkap Cai Lin dan seret dia!” teriak Bun Ho kepada prajuritnya.


Tanpa basa basi lagi prajurit memegangi Cai Lin yang memberontak. Cai Lin di bawa oleh prajurit ke ruang keluhur untuk menjalani hukuman.


Setelah kepergian Cai Lin, Bun Ho kembali ke kediamannya. Sambil menunggu berita dari bibi Ong.


Sementara bibi Ong setelah meninggalkan kediaman Qian, ia mencari tempat untuk bersembunyi. Ia menyamar agar tidak di ketahui oleh anak buah Bun Ho.


Di mana pun ia berada jika tidak menyamar akan sangat mudah di temukan. Saat bibi Ong melalui jalanan sepi ia di hadang oleh gerombolan preman yang ingin merampoknya. Bibi Ong berusaha kabur dan melawan, namun kondisi tubuhnya yang belum pulih setelah keguguran. Dengan mudah dapat di taklukan.


Salah satu pria yang menghadang bibi Ong, membuka cadarnya dengan menyeringai menjijikan.


“Ternyata kau sangat cantik! Tidak rugi aku menghadangmu! Selain hartamu yang kami dapat, kami juga mendapatkan kenikmatan dari tubuhmu,” ucap pria itu sambil mengusap bibir dengan penuh napsu.


“Aku mohon lepaskan aku! Aku tidak memiliki banyak harta dan aku baru saja keguguran!” ucap bibi Ong memohon.


Namun para pria yang menghadang bibi Ong tidak peduli. Setelah menotok mereka hendak membawanya pergi. Namun mereka di kejutkan oleh anak panah yang melesat.


Beberapa bayangan hitam melesat menendang gerombolan pria tersebut.


“B*jing*n! Siapa kalian yang sudah berani mengusik kesenangan kami!” bentak ketua gerombolan tersebut.


“Kalian tak perlu mengetahui siapa kami! Serahkan wanita itu!” jawab pria berbaju hitam tersebut


“B*ngs*t kau! Aku bunuh kalian semua! Ayo bunuh mereka semua!” teriak ketua gerombolan tersebut.


Akhirnya pertarungan tak terelakkan, suara dentingan senjata mereka terdengar sangat keras.


Bibi Ong menyaksikan pertarungan tersebut, dia sudah menduga jika cepat atau lambat ia pasti di temukan.


Ia hanya bisa pasrah saja jika pengawal Bun Ho menemukannya.


“Apakah nyonya baik-baik saja?” tanya pria tersebut sambil membantu bibi Ong berdiri.


“Terima kasih, tuan! Tuan telah menyelamatkan saya!” ucap bibi Ong sambil menundukkan kepalanya.


“Sudah kewajiban kami untuk menyelamatkan nyonya, maafkan kami terlambat datang!” jawab pria tersebut.


“Sebaiknya nyonya kembali ke kediaman, tuan sudah menunggu kedatangan nyonya!” ucap pria itu lagi.


“Tolong jangan paksa saya untuk ke kediaman tuanmu. Aku ingin menenangkan diri,” balas bibi Ong.


“Ke mana nyonya akan pergi? Sangat berbahaya jika nyonya sendirian tanpa ada pengawal yang melindungi nyonya. Jika terjadi sesuatu pada nyonya, tuan besar akan murka,” ucap pria tersebut.


“Aku masih belum tahu hendak ke mana! Yang pasti aku tidak mau kembali lagi,” balas bibi Ong.


“Baiklah! Jika nyonya tidak ingin kembali ke kediaman Qian, nyonya harus ikut hamba ke tempat yang aman. Hamba akan mencarikan tempat untuk nyonya,” ucap pria tersebut kepada bibi Ong.


“Asal tidak kembali ke kediaman, aku akan mengikutimu,” ucap bibi Ong pasrah.


Bibi Ong merasa lebih baik ia mengikuti saran pengawal Bun Ho daripada ia sendiri tak tahu harus ke mana dan ia tak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi.


Akhirnya bibi Ong diantar oleh pengawal bayangan dengan menggunakan kereta kuda yang telah di siapkan oleh temannya. Salah satu dari mereka sudah memberi laporan kepada Bun Ho jika bibi Ong telah di temukan dan di bawa ke rumah yang sudah di siapkan Bun Ho.


Bibi Ong diantar ke rumah yang akan ia tempati. Sesampainya di rumah tersebut kusir kuda menghentikan keretanya di depan gerbang rumah tersebut.


Rumah yang di siapkan oleh Bun Ho untuk bibi Ong sangat besar dan indah. Awalnya jika mereka menikah, Bun Ho ingin menghadiahkan kepada bibi Ong. Namun semua tidak sesuai dengan rencananya.


Kereta kuda berhenti, bibi Ong turun dari kereta dengan di bantu oleh ketua pengawal.


“Silakan masuk, nyonya!” ucap ketua pengawal mempersilahkan bibi Ong.


“Terima kasih!” balas bibi Ong dan ia pun masuk ke dalam rumah tersebut.


DI dalam para pelayan dan prajurit yang menjaga di rumah bibi Ong berjajar menyambut nyonya pemilik rumah. Mereka semua memberi hormat kepada bibi Ong. Dan mempersilahkan bibi Ong untuk duduk.


“Apakah nyonya ingin makan? hamba akan menyiapkan makanan jika nyonya ingin makan,” tanya pelayan kepada bibi Ong.


“Aku belum lapar hanya saja aku ingin membersihkan tubuhku dan beristirahat,” balas bibi Ong.


Setelah mendapat jawaban dari bibi Ong, pelayan bergegas meninggalkan bibi Ong untuk menyiapkan air untuk mandi.


“Nyonya, hamba pamit undur diri! Jika nyonya menginginkan sesuatu silakan memberi perintah kepada pelayan,” ucap Ketua pengawal.


Bibi Ong hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ketua pengawal tersebut meninggalkan bibi Ong.


“Nyonya air sudah siap! Mari hamba antar ke kamar nyonya,” ucap ketua pelayan.


“Ya, aku sudah sangat lelah dan ingin cepat beristirahat!” balas bibi Ong.


Akhirnya mereka menuju kamar bibi Ong, setelah sampai bibi Ong membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk beristirahat. Ia sangat lelah, lelah pikirannya dan lelah tubuhnya tak sadar akhirnya ia pun terlelap.


*******


Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like dan komentarnya.🙏🙏🙏