Kezia Story

Kezia Story
BAB 62



Guys jangan lupa like dan koment... Makasi


Setelah kepergian Yuan, Mey Yui masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Tubuh dan pikirannya sangat lelah.


Tak terasa malam telah berganti pagi, terdengar suara keributan yang mengganggu tidur nyenyaknya Mey Yui.


“Berisik sekali! Siapa yang mengganggu tidur cantikku. Seperti gak ada kerja an saja,” omel Mey Yui sambil bangun tidurnya.


Mey Yui berjalan keluar dengan muka bantal ciri khas orang yang baru bangun dari tidurnya. Ia mencari tahu siapa yang pagi-pagi datang ke kediamannya dan membuat keributan.


“Yui’er jangan keluar! Mey Fang di depan sedang membuat kekacauan di depan,” Phu-phu mencegah Mey Yui keluar.


“Mau apa ondel-ondel pagi-pagi sudah datang ke sini membuat keributan. Seperti tidak punya pekerjaan saja, biarkan aku melihatnya. Kakak tenang saja,” ucap Mey Yui.


“Tapi... !” protes Phu-phu.


“Tenang, saja... aku bisa mengatasinya,” ucap Mey Yui sambil menepuk bahu Phu-phu.


Kemudian Mey Yui meninggalkan Phu-phu dan melihat apa yang sedang di lakukan Mey Yui.


“Hai ondel-ondel...! Pagi-pagi sudah teriak-teriak di sini. Apakah kamu tidak memiliki pekerjaan, ganggu tidur orang saja!” ucap Mey Yui sambil mengorek-ngorek telinganya seolah-olah banyak kotoran.


“Apa yang kau lakukan pada ibuku sehingga ayah menghukumnya!” teriak Mey Fang.


“Halo... kamu sehat? Ibumu di hukum ayah saja aku tidak mengetahuinya. Siapa yang memberitahumu jika penyebab ibumu di hukum adalah aku? Siapa.. siapa.. katakan! Jika benar ibumu di hukum ayah karena aku... itu sangat bagus dunk! Berarti ayah sekarang sudah sadar dan tidak lupa ingatan,” ledek Mey Yui.


“Sialan kau..! Katakan padaku apa yang sudah kau lakukan! Dasar gadis cacat rasakan seranganku!” Mey Fang bersiap menyerang Mey Yui dengan cambuknya.


Belum sempat Mey Yui menangkis serangan dari Mey Fang yang tiba-tiba. Sebuah pedang menebas cambuk Mey Fang yang hampir mengenai tubuhnya.


Mey Fang ingin marah karena ada yang menghalangi niatnya, namun saat ia melihat siapa yang menghadang serangannya. Ternyata jenderal Jun Ho yang menghadang cambuk Mey Yui.


“Ayah..!” ucap Mey Fang ketakutan karena ketahuan ayahnya.


“Apa yang kau lakukan!” bentak Jun Ho sambil menarik tangan Mey Yui agar berdiri di sampingnya.


“Kak Mey Yui yang memulai terlebih dulu! Dia menghinaku dan mengejekku, katanya aku hanya anak selir yang ibunya telah mengganggu keluarganya. Dia bilang jika ayah terlah berhasil di hasutnya agar membenci ibuku dan menghukumnya,” ucapnya berbohong.


Jun Ho menghela napas panjang, ia mengetahui apa yang terjadi. Ketika ia ingin mengunjungi putrinya melihat rombongan Mey Fang menuju rumah Mey Yui.


“Apakah benar yang kamu ucapkan? Kamu tidak berbohong?” tanya Jun Ho dengan tegas.


“Ayah... aku mengatakan dengan benar! Ayah harus percaya kepadaku,” jawab Mey Fang.


“Saat aku menghukum ibumu, aku belum bertemu dengan Yui’er,” ucap Jun Ho dengan santai tanpa membahasakan dirinya ayah.


“Aku tidak berbohong, yah!” jawabnya


“Kamu dan ibumu sama saja! Sudah seperti ini masih saja kamu berbohong!” ucap Jun Ho.


“Lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum aku emosi!” ucap Jun Ho lagi, ia benar-benar emosi. Ia kuatir tidak bisa menahan emosinya jika Mey Fang masih ada di sana.


“Ayah.. Kenapa aku harus pergi dari sini. Kenapa ayah membelanya?” ucap Mey Yui.


Mey Fang menangis karena dibentak oleh Jun Ho. Selama ini ia tak pernah dibentak atau diperlakukan kasar oleh Jun Ho. Hatinya sangat sakit dan dengan terpaksa meninggalkan tempat Mey Yui.


Setelah kepergian Mey Fang, Mey Yui mengajak Jun masuk ke dalam rumahnya.


“Yui’er, apakah ada yang terluka?” tanya Jun Ho sambil mengecek Mey Yui.


“Jangan kuatir, yah! Yui’er tidak apa-apa. Ayo kita masuk ke dalam! Apakah ayah sudah sarapan?” Mey Yui menggandeng tangan ayahnya masuk ke dalam rumah.


“Ayah belum sarapan dan ingin sarapan bersama dengan Yui’er,” ucap Jun Ho.


“Ayah mau sarapan di sini atau di tempat ayah?” tanya Mey Yui


“Makan di sini saja, ayah sudah memerintahkan pelayan untuk mengatar makanan di sini,” ucap Jun Ho.


Tak lama para pelayan datang membawa banyak menu makanan. Phu-phu membantu mereka menata masakan di meja. Setelah selesai menata para pelayan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


“Ayah masakan sudah di tata di meja, tapi maaf. Yui’er tadi belum sempat bersih-bersih diri,” ucap Mey Yui sambil tersenyum manja kepada ayahnya.


“Ayah sudah tahu kalo Yui’er baru bangun tidur langsung keluar karena Mey Fang yang telah membuat keributan di tempatmu. Tak masalah Yui’er belum mandi, putri ayah tetap cantik meskipun belum mandi,” balas Jun Ho


“Hahaha... ayah bisa saja. Jika ayah tak keberatan. Mari kita sarapan, cacing di perut Yui’er sudah menari-nari,” ucap Mey Yui sambil mengambilkan nasi ayahnya.


Jun Ho hanya tersenyum melihat tingkah putrinya. Ia sangat bahagia bisa sarapan bersama dengan putri kesayangannya. Sekarang putrinya sudah mau berinteraksi dengannya. Tidak seperti dulu ketika istrinya baru meninggal, Mey Yui selalu berteriak histeris jika melihat dirinya.


Itulah sebabnya Jun Ho meninggalkan Mey Yui di kediamannya dan ia memilih kembali ke perbatasan. Dan mempercayakan putrinya di bawah ke pengawasan selir Chu Min. Jun Ho berharap Chu Min bisa menyembuhkan trauma putrinya.


Selir Chu Min menyarankan Jun Ho untuk sementara tidak menemui Mey Yui. Atas saran Chu Min, Jun Ho setuju karena ia merasa ada benarnya jika Mey Yui bertemu dengannya akan semakin menggila seperti yang diucapkan selir Chu Min.


Namun hal itu hanyalah akal-akalan dari selirnya untuk menjauhkannya dari putrinya. Sejak di perbatasan dan ia sangat sibuk sehingga menyita waktunya. Tanpa ia ketahui jika putrinya di perlakukan tidak baik oleh semua penghuni kediamannya


Orang yang ia percaya untuk menjaga putrinya sudah diusir oleh selir Chu Min. Banyak pelayan dan prajurit setianya yang diusir oleh Chu Min jika tidak menurut perintahnya. Kediamannya benar-benar telah di kuasai oleh selirnya.


Jika saja saat ini ia tidak kembali agak lama di kediamannya. Ia tak akan mengetahui apa yang telah terjadi di sini.


Jun Ho larut dalam pikirannya, tanpa di sadari piring yang sudah terisi dengan makanan ia diamkan saja.


“Ayah... Ayo cepat dimakan! Jangan melamun saja,” ucap Mey Yui.


Jun Ho tersentak dan menganggukkan kepalanya, kemudian ia mulai makan bersama putrinya.


Tak lama Phu-phu datang menghampiri mereka. Untuk melaporkan sesuatu kepada Mey Yui.


“Nona, ada lima gadis yang datang ingin menemui nona,” lapor Phu-phu.


Mey Yui teringat ucapan Yuan yang akan mengirim pengawal untuknya selama Yuan tidak ada bersamanya.


“Katakan pada mereka untuk menunggu dulu, setelah selesai makan aku akan menemui mereka,” jawab Mey Yui.


Phu-phu menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Mey Yui yang sedang makan bersama ayahnya